Download the book for free
Chapter 6
Author: Tatiana Hseberat menunggu kepastian, hari kamis adalah hari yang terberat untukku. Aku rasa mahasiswa lain juga merasakan hal yang sama denganku. Pasalnya pak Samsul, dosen yang setiap ngajar dikelas selalu bikin spot jantung. Gimana nggak spot jantung, mendadak setiap menyampaikan materi pak samsul kadang-kadang berteriak dengan lantang, terus diakhir materi siapa yang tertangkap ngelamun pasti bakalan ditanya gini "kamu kalau hidup dikubur dimana?"
pertanyaan yang menjebak konsentrasi nggak sih? kan kalau masih hidup kenapa harus dikubur. Nah buat mereka yang emang lagi ngelamun, ini justru jadi jebakan betmen, terus disorakin sekampung deh, maksudnya se isi kelas.
aku fikir kelas hari ini berjalan biasa aja, tidak seperti yang sudah-sudah. Pak samsul dalam mode normal, maksudnya sejauh setengah menit jam pelajaran, pak samsul menerangkan materi masih dengan nada suara yang normal. Aku yang tengah sibuk mencatat apa yang beliau terangkan tiba-tiba kaget,"IKAN PAUSNYA PADA MAMPUS" teriak pak samsul dengan nada suara yang melengking. Jantungku terasa mau copot saking kagetnya, dan gendang telingaku protes karena menerima tekanan suara sebesar itu.
semua mata mahasiswa melotot, suasana menjadi kaku dan tegang, itu pertanda kalau pak samsul mendapatkan mangsanya hari ini. Dan saat itu spidol yang dipegang pak samsul menunjuk reno. Sontak kini semua mata beralih menatap reno, dan keluarlah mantra sakti dari pak samsul "kamu kalau hidup dikubur dimana?" tanya pak samsul, menyatukan kedua alisnya, biar wajahnya terlihat sangar.
aku bisa pastikan, didalam hati semua mahasiswa yang ada dikelas pasti meledek reno, seperti 'Hidup dia berakhir', kira-kira begitulah kalimat yang mungkin diucapkan mereka dalam hati. Karena aku sendiri mengucapkan kalimat itu didalam hati. Sejauh ini reno belum kena imbas sih ditegur pak samsul, meskipun teman-temannya sudah mengisi list teguran pak samsul.
"terus kalau hidup, yang nguburin siapa pak?" jawab reno tenang, kami melongo dengan sempurna. Dia baru saja membalikkan pertanyaan pak handoko, alih-alih merasa deg degan, dari pancaran wajahnya reno malah merasa puas, berhasil menjahili balik pak samsul
"Mana ada yang nguburin orang hidup" jawab pak samsul percaya diri. Situasi semakin memanas, layaknya lomba debat yang sedang beradu argumen untuk memenangkan pendapat. aku menggeleng-gelengkan kepala tidak menyangka, Reno mentalnya terbuat dari apa sih?mengapa bersikap santai?apa urat rasa takutnya kececer disuatu tempat?
"Kalau gitu mana ada orang hidup dikubur pak" antusias, dengan wajah songongnya reno menjawab. Sejenak pak samsul terdiam, sepertinya sekarang giliran beliau menerima spot jantung karena mendapatkan mangsa yang berulah
"Nama kamu siapa?" tanya pak samsul, merubah topik pembicaaraan
"Reno pak"
"nama panjangmu?" lagi pak samsul bertanya
"Renooooooooo pak" jawab reno cengengesan. Aku dan yang lainnya menahan tawa, melihat ekspresi reno memonyongkan bibirnya.
"NAMA LENGKAP KAMU MAKSUD SAYA" teriak pak samsul lantang, meremas dengan geram spidol yang ia pegang sendiri
"Oh dikira bapak suruh saya panjangin nama. Reno Aryanto pak" tegas reno memperkenalkan namanya
"Kamu saya kasih tugas khusus, cuman buat kamu, saya liat kamu ngelamun selama saya menerangkan materi"
"loh? saya nggak ngelamun pak, buktinya saya bisa jawab pertanyaan bapak kan!, cetakan wajah saya emang udah dari sononya pak, makanya sering dikira ngelamun, mau operasi plastik nggak ada uang saya pak, belum lagi saya harus,,,"
"eeh,eehhh kok kamu jadi curhat. Udah jangan membantah saya, dan jangan mengeluh apa-apa lagi" pinta pak handoko mengusaikan perdebatan yang bagi kami, itu sangat mengocok perut. Nggak waras sih Reno, Asli
****
"MASAK AIR BIAR MATANG" ucap rani yang berdiri diatas kursi kantin, sembari memegang sendok garpu ditangannya, menunjuk kesembarang arah dengan sendok itu
"Kamu kalau hidup siapa yang nguburin?" tunjuk rani kearah monik. Sontak monik ikut naik keatas kursi dan memasang wajah lugunya
"hidupku sehari-hari sudah berasa mati pak, gebetanku menghilang seperti ditelan bumi, persoalan yang sulit aku pecahkan hanyalah rumus matematika" Monik ketularan pecicilan Rani.
"hahahahaha, ih malu eh. turun nggak? rann malu ran?" ucapku, berharap monik dan rani berhenti mengenang yang baru saja terjadi. Mereka mepraktekkan apa yang baru saja dilakukan pak samsul dan reno. Ahh urat perutku sudah menegang sempurna karena tidak berhenti tertawa
"maaf ya kak,maaf ya bang,maaf ya dek, maaf mereka bukan teman saya, heheh beneran saya nggak kenal mereka" ucap Laura sembari cengar-cengir, karena memang penghuni kantin yang lain sudah melirik laura dan rani heran.
Laura memukul pantat mereka satu persatu, dengan terpaksa mereka harus turun dari kursi dan duduk dengan anggun " Mak kita galak kan nik?" ucap rani dengan ekspresi yang dibuat-buat, hal itu disambut dengan anggukan setuju dari monik
"Reno beneran kacau nggak sih? dia mungut mental keberanian darimana sih? jadi pengen punya mental kayak gitu" tanyaku, usai tawaku berhenti. meskipun aku masih merasakan geli diperutku, sepertinya ususku pun ikut menjailiku didalam sana
"ya memang ada sih beberapa cowok tipikal kayak reno, santai tanpa beban. Nggak terlalu mikirin masalah" jawab Laura. Ya sepertinya laura sudah mengenal bermacam-macam sifat cowok.
"coba aja gw kayak dia, pas ibuk kos nagih uang kos gw bakalan santai ngejawab, dompetku pun berteriak buk, karena nggak ada isinya, ibuk kasihanilah rakyat kecil ini" sahut monik. Demi ayam jantan yang nggak bakalan bertelur, Monik ekspresinya ngeselin banget. Masih sempatnya curhat sambil ngelawak
"hahahah, rame tau kelas gegara humornya dia" ucapku antusias
"kemaren yang dibilang lucu si Aldi, sekarang yang dibilang humoris si Reno. Lo ngelirik mereka berdua nih ceritanya?" goda rani, menatapku sembari menyipitkan matanya. percayalah tatapan rani kala matanya sipit seperti itu, sangat menyebalkan
"Yee bukan cuman gw kali ran yang menilai gitu, emangnya lo nggak ikutan ketawa kalau sireno sama gerombolannya bikin ulah?" aku mengelak
"Iya sama aja sih, nggak Aldi ataupun Reno kan mereka hidup dikubu yang sama. sifat mereka nggak bakalan jauh beda sih" Laura membelaku. Aku bersorak girang mendapatkan pembelaan, dan sekaligus senang bakso pesananku datang. Ini bakso yang paling enak menurutku, sering banget aku pesan setiap kali ke kantin. sebenarnya makan bakso terlalu sering nggak sehat, tapi yaudahlah ya. Demi memuaskan gairah lidah dan isi perut.
"Bakso mulu?lama-lama pipi lo kayak bakso, terus gw suruh abang baksonya bikin bakso dari pipi lo" cerocos rani.
"ih lo becanda nya kok horor gitu sih ran, gw mau makan nih" keluhku. Selera makan, aku mohon kamu jangan ngambek, kita buang rasa ngeri, dan makan sesuka hati. Jangan pedulikan omongan deterjen.
Pada akhirnya bakso itu mendarat diperutku, sebenarnya hari itu tugas lumayan banyak, cuman masih bisa dikasih ruang lah ya, karena waktu ngumpulin tugas minggu depan. Dari sekian kerusuhan yang aku alami hari itu, tiba-tiba terbesitlah kalimat yang hanya didengar oleh fikiranku, soalnya aku berbicara di dalam hati
'kenapa akhir-akhir ini Aldi jarang kasih kabar ya, Biasanya dia yang paling rusuh nge BBM duluan. Hmmmm???'
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Toxic Relationship (Indonesia) Chapter 22
Kedatangan Aldi diluar dugaanku, mengingat aku dan aldi sempat saling berdebat. Dengan keras dia melarangku untuk dekat dengan reno. Tapi ia bertingkah tidak seperti seorang pria. Dia membuatku untuk tetap menyukainya tapi tidak berani memegangku. Itu tidak adil. Jika dia bisa dekat dengan wnaita lain seperti devi, mengapa aku tidak bisa dekat dengan pria lain. lagipun aku dan reno dekat karena memang aku nyaman berteman dengannyasebisa mungkin aku menengakan situasi, reno ditemani yang lain duduk disisi api unggun yang berbeda, sementara aku duduk disebelah aldi. berharap suasana hati aldi tidak merusak suasana yang sudah aku dan yang lain dapatkan dari reno malam ini
Toxic Relationship (Indonesia) Chapter 21
"Kalau ada apa-apa lo kabarin gw ya?" ucapku pada reno sembari menunggu rani datang menjemputku. Hari itu keadaan reno sudah jauh lebih baik. Hanya menunggu luka-lukanya pulih. Suster juga memberi kabar kalau reno bisa pulang segera. "iya bawel.""lo udah ketinggalan banyak mapel kuliah""iya nay, nanti gw belajar sendiri""anak laki mana doyan belajar" sindirku. Re
Toxic Relationship (Indonesia) Chapter 20
"Enggak kok, ini udah mau pulang. Iya iya, bye" ucapku menutup telfon. Aku lupa waktu ketika sibuk mencari bahan-bahan untuk lomba novelis. sampai aku tidak sadar langit sudah berganti menjadi malam. Rani yang menelfonku sudah protes tidak menentu, mengingat waktu saat itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.Sebenarnya tidak ada masalah jika aku keluar sendirian, hanya saja rani takut terjadi sesuatu padaku, karena aku menyetir mobil sendirian.aku menyalakan musik DJ di mobilku, ya ada sedikit rasa sunyi yang aku rasakan. Badanku bergoyang mengikuti irama musik, aku masih menikmati musik sampai diperjalanan aku terpekik dan membuatku berhenti mendadak.
Toxic Relationship (Indonesia) Chapter 19
Hari itu terlihat perbedaan yang sangat jelas antara Reno dan Aldi. Mereka memang saling sapa, masih dengan keadaan yang biasa-biasa saja disatu kelas. Tapi aku bisa merasakan perubahan diantara mereka. Mereka tidak se akrab dulu. Mereka berteman namun aku rasa ikatan yang mereka jalani tidak lagi seperti sahabat.Baik aldi maupun reno berubah haluan, jika tadinya mereka sangat dekat. Kini mereka memilih teman mereka yang lain untuk jadi dekat. Kebiasaan rasa penasarankupun muncul. sebenarnya aku tidak ingin ikut campur urusan mereka. Apalgi para cowok-cowok punya caranya sendiri untuk menyeesaikan masalah diantara mereka bukan.
Toxic Relationship (Indonesia) Chapter 18
Sepertinya kehidupan perkuliahanku tidak akan semulus alur cerita di film-film. Banyak hal yang terjadi begitu saja. Hari ini kelas dihebohkan dengan pertengkaran yang tak pernah disangka. Bahkan akupun yang menoton secara lansung perdebatan sengit diantara mereka tidak mengira ini terjadi. Reno dan Aldi sedang berdebat tentang sesuatu yang tidak kami pahami. Mereka saling berteriak satu sama lain, meskipun mereka sama-sama cowok, tapi tidak ada adegan pukul-pukulan"udah yah, bocah banget sih" teriak ketua kelas. suasana dikelas menjadi hening seketika. Reno dan Aldi saling bertatapan sengit. kemudian mereka berdua memutuskan pergi keluar kelas dengan kompaknya
Toxic Relationship (Indonesia) Chapter 17
“nay, nayyy” ucap rani yang datang tiba-tiba menghampiriku ke kelas.“kenapa ih?” tanyaku heran. Pasalnya rani pergi keluar kelas untuk ke toilet, namun lihatlah sekarang ia datang dengan nafas yang tersengal-sengal menghampiriku“ini” rani meletakkan sebuah brosure diatas meja. Aku melirik brosure itu. tertera disana mengenai lomba menulis. Sontak mataku berbinar dan dengan antusias nya merebut lembaran brosure dari tangan rani“kapan?diamana? gimana ca
Toxic Relationship (Indonesia) Chapter 10
Aldi bagaikan jelangkung tampan, dia datang tanpa diundang dan pulang tanpa diantar. Ah kalian jangan berfikiran horor. aku sedang membahas pangeran yang baru saja menetas.
Toxic Relationship (Indonesia) Chapter 9
Geli diperut. Kalau sedang jatuh cinta ada perasaan geli diperutku, intinya bakalan bisa bikin aku tertawa terus. mau ada kejadian lucu atau enggak, tetap bakalan ketawa. Aku dud
Toxic Relationship (Indonesia) Chapter 8
Sudah tiga puluh menit semenjak kelas pertamaku dimulai, Dosen yang mengajar pelajaran pertama pagi itu membuat kita harus memasang pendengeran esktra. Beliau berbicara deng
Toxic Relationship (Indonesia) Chapter 7
Gorengan mang edang itu gorengan terenak yang pernah aku coba, beruntung sekali rasanya dia jualan di sekitar rumah. gorengannya menjadi cemilan wajib garis kreas ala aku. s
