Unduh Buku Gratis di Aplikasi
4. Selamat
Penulis: MiafilyLuna menjambak rambutnya sendiri, merasa kesal dengan kenyataan yang ia hadapi. Dari tiga wawancara yang ia ikuti, hanya satu yang lolos. Kabar buruknya adalah, Luna lolos di perusahaan pertama yang ia ikuti wawancaranya. Kenapa bisa Luna menyebutnya sebagai kabar buruk? Tentu saja bukan karena bidang perusahaannya, melainkan karena adanya Dominik sebagai bos besar di sana. Jelas Luna merasa keberadaan Dominik di sana sebagai ancaman. Dominik yang hadir dengan kesan misterius yang tanpa sadar membuat Luna mengambil langkah mundur.
Hanya saja, Luna sama sekali tidak bisa mundur dari pekerjaan yang sudah berada di depan matanya. Karena sebelumnya, pemilik restoran sudah menghubungi Luna dan mengatakan jika dirinya sudah mendapatkan pengganti pelayan restoran serta mengizinkan Luna untuk bekerja di luar. Pemilik restoran memang mengetahui Luna sudah mengirimkan lamaran dan bahkan mendapatkan panggilan untuk wawancara. Karena mendapatkan perkiraan jika Luna akan mendapatkan pekerjaan tersebut, pemilik restoran pun memutuskan untuk mencari pekerja baru.
Luna mengusap wajahnya kasar, lalu menatap langit-langit kamarnya yang usang. Sekarang, ia benar-benar binguna. Ia dilemma. Namun jika dirinya tetap seperti ini, Luna tidak akan makan. Luna pun memutuskan bangkit dari posisinya. Luna pada akhirnya sudah mengambil keputusan. Dia tidak bisa terus lari dari masalah. Luna akan menghadapinya. Toh, Luna yakin jika dirinya tidak akan lagi bertemu dengan Dominik atau para petinggi perusahaan, secara Luna sendiri melamar untuk posisi yang jelas tidak akan bersinggungan langsung dengan para petinggi.
Dengan memikirkan kemungkinan tersebut, suasana hati Luna pun sedikir membaik. Setidaknya, saat ini Luna bisa memantapkan hatinya untuk berangkat bekerja. “Ya, aku harus semangat. Aku yakin, kemarin adalah pertemuan terakhirku dengan pria itu!” seru Luna semangat. Apa lagi, kemarin saja Luna mendengar jika Dominik di Indonesia hanya untuk memeriksa kemajuan perusahaan cabang. Itu berarti, Dominik hanya akan di Indonesia dalam beberapa hari dan akan kembali ke negara asalnya. Luna sendiri yakin, pasti sekarang Dominik sang bos besar itu sudah kembali ke negaranya. Luna benar-benar berharap hal itu terjadi.
Luna menghela napas panjang dan melihat jam dinding. “Hah, selamat datang di dunia yang melelahkan,” bisik Luna lalu segera bangkit dan menyiapkan diri sebaik mungkin.
Tentu saja Luna ingin memberikan kesan baik di hari pertama dirinya bekerja. Apalagi, tiga bulan pertama termasuk ke dalam masa percobaan. Jika Luna berhasil memberikan kontribusi yang baik dalam pekerjaannya dan tidak membuat kesalahan, Luna pasti bisa menjadi karyawan tetap. Tentunya itu adalah hal yang Luna harapkan. Ia ingin menjadi karyawan tetap, agar kehidupan ekonominya bisa lebih stabil dan dirinya hanya perlu melakukan satu pekerjaan untuk memenuhi semua kebutuhannya.
Karena itulah, Luna berharap jika pilihan yang ambil bisa berjalan lancar. Luna benar-benar berharap jika Tuhan mendengar doanya ini, dan mengabulkan doanya untuk dijauhkan dari Dominik. Saat doa tersebut terkabul, maka Luna benar-benar bisa bernapas lega karena setidaknya ia sudah dijauhkan dari sumber masalah yang kemungkinan di masa depan akan membuatnya terjerumus pada lubang yang tak akan pernah bisa ia tinggalkan.
***
Luna menggenggam tali tas selempang yang ia kenakan untuk mengendalikan emosi yang berkecamuk dalam hatinya. Bagaimana dirinya tidak merasa emosi, saat tahu jika ternyata dirinya tidak mendapatkan meja dan kursi di divisi yang seharusnya. Benar, perusahaan sengaja tidak menyediakan kursi serta meja, yang berarti ada sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan perkiraan Luna. Saat Luna merasa gelisah, Luna pun dikejutkan dengan tepukan pada bahunya.
“Nona Luna Hevda?” tanya sosok laki-laki bertubuh tinggi besar dengan senyuman ramahnya. Wajah pria itu tampak familier bagi Luna. Sepertinya Luna pernah melihatnya.
“Ya, itu saya,” jawab Luna pelan.
“Perkenalkan, saya Harry. Bisakah Nona mengikuti saya?” tanya pria tersebut sembari memberikan isyarat.
Luna pun tidak memiliki pilihan lain untuk mengikutinya. Saat mengikuti langkah demi langkah pria itu, Luna pun mengingat di mana dirinya pernah melihat pria ini. Luna melihatnya di ruang wawancara. Bukan sebagai penguji, tetapi sebagai seseorang yang tampak mencatat sesuatu disudut ruangan sembari mengamati dengan kedua netranya yang tajam. Luna pun berusaha untuk menekan perasaan gelisah yang kini merayapi hatinya. Tentu saja Luna merasa penasaran, sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Saat ini pun, Luna bisa merasakan kini punggungnya menjadi sasaran tatapan penuh tanda tanya dan penuh rasa ingin tahu. Namun, Luna tahu jika mereka semua juga tidak berani untuk menunjukkan rasa ingin tahu mereka dengan terang-terangan. Luna benar-benar ingin menggerutu. Belum juga apa-apa, kini Luna sudah menjadi pusat perhatian. Sudah dipastikan jika dirinya akan menjadi bahan perbincangan di kalangan rekan kerjanya. Luna hanya berharap jika dirinya bisa segera mendapatkan meja dan kursi untuk melaksanakan pekerjaannya yang sesungguhnya.
“Nona, silakan masuk,” ucap Harry menyadarkan Luna untuk segera masuk ke dalan lift.
Luna masuk dan mencoba untuk tetap tenang dan berpikiran positif saat melihat Harry ternyata akan membawanya ke lantai paling atas. Lantai yang tentu saja di mana pun perusahaannya akan ditempati oleh para petinggi perusahaan. Saat itulah Luna bertanya, “Apa ada hal yang salah? Kenapa saya dipanggil Direktur?”
Harry tidak memberikan jawaban yang diinginkan oleh Luna, dan hanya menyuguhkan sebuah senyuman manis. Keduanya tiba di lantai yang Harry tuju, dan Luna pun segera diarahkan untuk menuju sebuah pintu yang berukuran cukup besar. Harry mengetuk pintu dan berkata, “Nona Luna sudah tiba, Tuan.”
Harry pun menatap Luna dan berkata, “Silakan masuk Nona. Tuan sudah menunggu di dalam.”
“Anda tidak masuk?” tanya Luna merasa agak ragu jika dirinya harus masuk ke dalam sendirian.
Rupanya, kegelisajan Luna tersebut terbaca oleh Harry. Saat itulah Harry mengulum senyum dan berkata, “Tidak perlu merasa cemas, Nona. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Silakan masuk.” Harry pun membukakan pintu untuk Luna.
Tentu saja, Luna tidak memiliki pilihan lain, selain masuk ke dalam ruangan tersebut. Namun, begitu pintu yang ia lewati tertutup, dan membuatnya terkurung di dalam ruang mewah tersebut, rasa menyesal datang begitu cepatnya. Ya, Luna menyesal karena dirinya mau-mau saja masuk, tanpa mengetahui apa yang akan terjadi. Luna pun menatap sebuah meja berukuran besar dengan sebuah punggung kursi yang memunggunginya. Luna mengernyitkan keningnya dan bertanya, “Permisi. Apa Anda mencari saya?”
Tidak ada sahutan dalam beberapa saat. Sebelum kursi tersebut berputar dan menunjukkan siapa yang duduk di sana. Luna tersentak saat melihat netra biru langit yang langsung menghujam dirinya. “Ka-kamu?” tanya Luna tidak percaya.
“Ya, ini aku,” jawab Dominik sembari menyunggingkan seringai tipis dan bangkit dari duduknya.
Tentu saja langkah yang dilakukan oleh Dominik membuat Luna merasa was-was. Rasanya Luna ingin berbalik pergi, tetapi ia sadar jika dirinya saat ini berhadapan dengan pimilik perusahaan. Luna pun memperbaiki sikapnya dan bertanya kembali, “Jadi, ada keperluan apa Tuan memanggil saya?”
“Kenapa bertingkah sopan seperti ini? Bukankah malam itu kau melarikan diri begitu saja saat aku sapa?” tanya Dominik dengan nada mencemooh.
“Saat itu saya terkejut. Saya terbiasa melarikan diri saat merasa terkejut,” jawan Luna jelas-jelas berbohong.
“Begitukah? Karena terkejut? Bukan karena kau merasa takut padaku?” tanya Dominik lagi sembari mengambil langkah mengikis jarak antara dirinya dan Luna.
Tentu saja hal itu membuat Luna panik, ia memunudurkan dirinya hingga punggungnya menempel begitu lekat pada daun pintu. Dominik yang melihat hal tersebut tidak menyia-nyiakan hal tersebut dengan mengungkung Luna menggunakan kedua tangannya. “Sepertinya, daripada dibilang terkejut, kau lebih terlihat takut. Seperti saat ini. Bukankah kau merasa takut padaku? Apa ini ada hubungannya dengan perkataanku malam itu?” tanya Dominik dengan suara rendahnya yang membuat Luna bergetar oleh rasa takut dan sensasi aneh yang berpadu menjadi satu.
Luna berhasil mengendalikan dirinya sendiri dan balik bertanya dengan suara yang tentu saja berusaha ia kendalikan agar tidak bergetar sama sekali, “Apa yang Anda maksud? Saya tidak mengerti dengan apa yang Anda maksud. Tolong mundur, atau saya bisa salah berpikir dengan menganggap jika Anda tengah berusaha melecehkan saya.”
Dominik menyeringai dan berkata, “Ah, tidak. Aku tidak tengah mencoba melecehkanmu. Aku hanya ingin merasakan bibirmu.”
Belum juga Luna bereaksi, salah satu telapak tangan Dominik menyusup ke bagian belakang kepala Luna dan menarik Luna mendekat sebelum meraup bibir Luna yang tampak begitu menggoda. Untuk beberapa detik Luna tampak mematung. Ia benar-benar terkejut dengan serangan yang diberikan oleh Dominik, dan tidak memiliki kesempatan untuk bereaksi karena Dominik sudah lebih dulu melepaskan bibirnya. Dominik menyeringai dan mengusap bibir bawah Luna sembari berkata, “Manis.”
Saat itulah Luna meledak dan menendang kaki Dominik dengan keras. Hal tersebut rupanya berhasil memukul mundur Dominik. Luna menyeka bibirnya sendiri dengan ekspresi jijik, sementara Dominik berdiri dengan menguarkan aura yang dominan. Dominik berkata, “Karena aku sudah memastikannya, maka aku sudah mengambil keputusan. Selamat, kau diterima sebagai sekretarisku. Besok, kita pergi ke Rusia.”
Bagikan buku ke
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Bab terbaru
The Hottest CEO (Bahasa Indonesia) 33. Untuk Terakhir Kali (21+)
Dominik mengusap pipi Luna yang terasa dingin. Setelah Dominik menemukan Luna di tepi jalan, Luna segera dibawa oleh Dominik kembali ke kediaman Yakov. Tentu saja, Dominik sudah memanggil orang yang kompeten untuk memastikan jika kondisi Luna baik-baik saja. Dominik jelas merasa sangat cemas, apalagi dengan kondisi Luna saat dirinya ditemukan. Luna mengenakan pakaian yang rusak parah, dengan jas milik pria yang melindungi pakaiannya tersebut. Tentunya, Dominik harus memastikan jika Luna belum disentuh oleh pria mana pun. Jika hal itu terjadi, tentu saja Dominik harus menangani kondisi Luna yang pastinya memburuk, baik itu fisiknya, maupun mentalnya.Namun syukurlah, Luna tidak mengalami luka selain pada wa
The Hottest CEO (Bahasa Indonesia) 32. Kenyataan
Lalu tubuh yang menimpa Luna disingkirkan dengan mudah. Mayat itu kini tergeletak di atas lantai dengan kepala hancur dan darah yang tercecer di mana-mana. Luna yang awalnya berpikir seseorang yang menolongnya itu adalah Dominik, seketika terkejut saat menyadari pemikirannya yang salah. Luna segera menutupi dadanya dan memanggil orang itu dengan bibir bergetar, “Ignor.” Ignor yang mendengar Luna memanggilnya dengan lirih, mau tidak mau menyeringai pad
The Hottest CEO (Bahasa Indonesia) 31. Ignor
Luna terbangun dan sadar jika dirinya tengah dalam penyandraan. Dengan kondisi kaki dan tangan yang terikat dan mulut yang dilakban, siapa pun pasti bisa menyimpulkan hal itu dengan mudah, bukan? Meskipun ini bukanlah situasi yang baik-baik saja, tetapi Luna berusaha untuk menenangkan diri. Setidaknya, Luna tidak boleh terlihat seperti orang yang ketakutan, karena ketakutannya nanti pasti dengan mudah dimanfaatkan oleh orang yang sudah menculiknya ini. Luna merasa jika keadaan selalu tidak pernah berpihak padanya. Bahkan, saat Luna menjalankan kesehariannya seperti orang normal saja, Luna tetap terseret dalam masalah seperti ini. Luna menggerakkan sedikit tubuhnya yang memang terikat erat pada kursi yang ia tempati. Luna memang belum bisa menebak siapa yang sudah menculik dan menyekapnya ini, tetap
The Hottest CEO (Bahasa Indonesia) 30. Nyonya Menghilang
Hingga malam, Luna sama sekali tidak bisa beristirahat. Padahal, tubuhnya sendiri sudah menjerit meminta untuk istirahat. Namun, otak Luna terus mengulang kejadian mengerikan di mana dirinya melukai seseorang bahkan membuat orang itu mati. Luna melirik kotak berisi pisau berlumur darah kering yang ia simpan di atas nakas. Semuanya bagai mimpi buruk bagi Luna. Sejak awal, keputusan Luna untuk ikut ke Rusia. Seharusnya, Luna mendengarkan suara hatinya dan mengikuti firasatnya. Jika dirinya tidak terjebak dalam tipu muslihat Dominik, Luna tidak mungkin sampai berada di titik ini. Luna tidak mungkin terbawa arus dan menjadi seorang penjahat sama halnya dengan Dominik.Luna mendengar deru mobil, lalu melirik jam dinding. Ini jam satu pagi, dan Dominik baru kembali dari urusan pe
The Hottest CEO (Bahasa Indonesia) 29. Dimulai
Setelah hampir dua minggu menghabiskan waktu bulan madu berkeliling dari satu negara ke negara lainnya, tibalah saat di mana Dominik dan Luna kembali ke Rusia. Ternyata, ada beberapa hal yang terjadi di Rusia, dan mendesak Dominik untuk segera kembali ke negerinya itu. Walaupun enggan mengakhiri acara bulan madunya secepat itu, tetapi Dominik tidak memiliki pilihan lain, selain melakukannya, karena ia tidak bisa mengabaikan pekerjaannya lebih lama daripada itu. Luna sendiri sama sekali tidak keberatan harus menyelesaikan rangkaian bulan madu mendadaknya. Ia merasa lelah dengan perjalanan tidak berujung itu, dan memilih untuk kembali dengan pekerjaannya sebagai sekretaris Dominik.Setelah tiga hari beristirahat, saat ini Luna sudah kembali aktif bekerja di perusahaan, dan menyadari jika selama ini Harry yang men
The Hottest CEO (Bahasa Indonesia) 28. Fontana
“Sepertinya, rencana kita hari ini kita urungkan saja,” ucap Dominik tiba-tiba membuat Luna yang sudah merapikan diri menatap penuh tanda tanya pada sang suami yang tampak tampan dengan setelan kasualnya.“Tapi kenapa?” tanya Luna tidak mengerti. Padahal, sejak kemarin Dominik tampak begitu antusias untuk mengajak Luna mengunjungi tempat-tempat wisata yang terkenal di Roma. Namun, mengapa ketika hari berganti dirinya berubah seperti ini? Itu jelas menjengkelkan bagi Luna yang telah sudah bersiap dengan gaun musim panasnya yang tentu saja sangat cocok untuk menikmati waktu di luar ketika cuaca tengah panas-panasnya.Jelas, penampilan Luna tampak manis dengan rambut yang sengaja Luna ikat tinggi-tinggi menjadi satu. Tentu saja, ketika Luna bergera
The Hottest CEO (Bahasa Indonesia) 25. Luna yang Pegal
Luna tidak bisa menutup mulutnya saat melihat hamparan keindahan bak negeri dongeng di depan matanya. Sebelumnya, keindahan di Paris jelas sudah memanjakan matanya. Keindahan di mana Luna seperti d
The Hottest CEO (Bahasa Indonesia) 24. Bayaran
Luna membuka matanya dan terlihat linglung karengan kamar di mana dirinya bangun, tampak berbeda dari kamar di mana dirinya tidur sebelumnya. Semakin bingunglah Luna sa
The Hottest CEO (Bahasa Indonesia) 23. Menempa Luna
Luna sama sekali tidak mengatakan apa pun, saat Dominik menggantikan gaunnya menjadi gaun tidur yang tentu sa
The Hottest CEO (Bahasa Indonesia) 22. Mati
“Selamat datang, Tuan dan Nyonya terhormat. Terima kasih karena kalian sudah menghadiri acara pelelanga
