Wird geladen
Startseite/ ALLE /PLAYMATE ( INDONESIA )/06 - Ambisi

06 - Ambisi

BebbyShin
"Veröffentlichungsdatum: " 29.09.2020 22:30:00

KOMEN

SAMA REVIEW

KUYYYY...

🌹🌹🌹🌹🌹

'WHAT? Treasure? Harta

karun? Pria

dengan

suara

besar

itu? Apa

tidak salah?' pikir Sally.

'Mendengar

suaranya

saja

menjijikan, bagaimana

melihat

orangnya

langsung. Ewh- aku infeel

seketika,' batin Sally.

"Wow... wow... wow! Huh- menyenangkan sekali rasanya, pulang liburan, melihat meja makan penuh hidangan serta jejeran para pembantu ditambah Mommy dan Daddy yang selalu segar seperti daun selada ini," ucapan Roland seperti orang mabuk. Pria itu memasukkan beberapa lembar daun selada hijau segar ke dalam mulutnya.

"Duduk dan makanlah dengan benar, Roland," ajak Alamanda pada pria yang sedang menggoda salah satu maid yang berdiri paling dekat dengannya.

"Yes, Madam Alamanda," kata Roland dan pria itu duduk diam menikmati makan malamnya.

Sally yang menunduk memperhatikan penampilan pria itu dari belakang. Ia mendeteksi harga outfit yang dikenakan pria itu. Memang terbukti jika pria itu adalah anak dari seorang miliarder ah- mungkin triliuner, karena sepertinya Mr Robert sangat kaya, sama dengan orangtuanya.

Kemeja, celana pendek, sepatu, semuanya adalah barang-barang dari merek terkenal yang harganya tidak main-main. Tapi yang membuat Sally penasaran adalah kenapa pria itu memakai pakaian seperti itu. Apa sebenarnya pekerjaan pria itu dan bagaimana rupa wajahnya.

"Aku baru saja membeli sebuah pulau baru di dekat sini," ucap Roland dan seketika dentingan garpu dan pisau berhenti.

Sally yang berada di sana ikut penasaran dengan ucapan pria itu. Ia cukup khawatir jika pulau yang dimaksud adalah pulau impiannya.

"Kau membeli pulau lagi?" kaget Alamanda.

Roland hanya mengangguk santai.

"Berapa harganya?" tanya Robert tenang.

Roland tampak berpikir sejenak. "Hmm- entahlah, tapi ku rasa tidak begitu mahal, hanya $45juta," ucap Roland sambil mengunyah kembali steak miliknya.

Alamanda melotot terkejut, Robert berhenti mengunyah dan menatap lekat putranya.

"Pulau apa yang kau beli?" tanya Robert penasaran.

"Northern Aegean Island," jawab Roland santai.

"WHATTT!" pekik Sally spontan.

Seluruh orang yang ada di sana melirik ke arahnya, termasuk Alamanda, Robert dan Roland.

"Maaf," lirih Sally.

Alamanda menatap Sally sinis. Sedangkan Robert dan Roland kembali memakan makanan mereka.

'Dasar keparat! Itu pulau impianku, pria brengsek!' umpat Sally dalam batinnya.

"Kau menghamburkan uang hanya untuk membeli pulau seharga itu. Kau bahkan baru saja membeli pulau beberapa hari lalu dan harganya juga fantastis," omel Alamanda.

Roland tertawa mendengar omelan ibunya.

"Hei, Mom. Kau tenang saja, uang anakmu ini tidak akan habis. Lagi pula, aku tidak mengganggu uang jatah bulananmu. Aku sudah tidak tahu harus aku kemanakan semua uangku," ucap Roland terkekeh dan ditanggapi oleh pijitan pelipis Alamanda.

"Aku akan mendesain semua pulau milikku agar menjadi pulau yang komersil. Aku akan membangun resort indah dan mewah. Itu akan kembali menjadi pundi uangku yang semakin tidak akan habis. Benarkan, Dad?" Roland meminta pembelaan dari Robert.

"Hmm... aku tidak bisa melarangmu karena bukan menyangkut uang milikku," kata Robert.

"Ya, tentu saja. Maka dari itu, lusa aku akan mengadakan pesta di kapal pesiar baruku. Aku mau membawa lima belas maid selama lima hari berlayar," ucap Roland sambil melirik deretan maid di belakangnya.

Sally sendiri yang mendengar ucapan itu memutar bola matanya malas.

🌹🌹🌹🌹🌹

"Aku berharap aku terpilih untuk ikut berlayar bersama Tuan muda," ucap Amor ketika mereka sedang membersihkan meja makan.

Pikiran Sally tidak berada di tempatnya. Ia memikirkan bagaimana caranya untuk membeli pulau impiannya yang baru saja dibeli oleh anak majikannnya, cih, majikan- menjijikan sekali kalimat itu.

"Hei, Elley, kau mendengarkanku, bukan?" Amor menyikut lengan Sally dan menatap rekan kerjanya itu dengan tatapan malas.

"Aku tidak peduli," kata Sally tak acuh.

Amor mendelik kesal. "Sepertinya kau butuh tidur, kau terlihat mengerikan, Elley,"

Sally memandang langit-langit kamar kecilnya. Ia bahkan tidak bisa memejamkan mata semenit pun. Kasur terlalu tipis, tidak ada bantal bulu angsa seperti biasanya, tidak ada selimut tebal mewahnya, tidak ada toilet di dalam kamar sempit ini.

"Ini bahkan seperti tempat tinggal tikus dibanding tempat tidur manusia. Errrgh! Aku tidak bisa tidur," Sally memilih untuk ke luar kamar dan pergi ke kulkas khusus maid di dapur khusus pula. 

Di sana ia mendengar suara pria menelepon.

"Ya, kita bisa

bernegosiasi

tentang

pembangunan resort di beberapa pulau pribadiku,"

"Aku tidak

ingin

menjualnya

kembali. Aku sudah

jatuh

cinta

pada

ketiga pulau itu,"

"Minggu

depan

mungkin aku akan kembali

berjelajah

untuk

membeli dan mengawasi

pembangunan resort baru di kepulauan

Maladewa,"

"Ya memang aku semakin kaya karena sering

membeli

properti

seperti

itu. Semuanya

benar-benar

memberiku

keuntungan

berkali-kali lipat,"

"Aku ingin

pembangunan villa mewah di Bali dan raja ampat

segera di realisasikan,"

Sally membulatkan mata ketika mendengar percakapan anak majikannya itu. Sally pikir, pria itu tentu bukan sembarangan pria. Ia adalah salah satu pengusaha sukses dibidang properti dan investasi. Wanita itu harus mencari cara agar misinya tidak sia-sia apalagi gagal.

Siluet tubuh pria itu di bawah cahaya bulan begitu menawan. Kepulan asap rokok membuat pria yang wajahnya tidak terlihat itu begitu gentle. Entah apa yang ada di otak Sally sekarang, padahal ia sama sekali belum pernah memandang atau melihat secara langsung seorang Roland Filemon, tapi ia sudah bisa mengatakan menarik hanya karena siluet tubuh dan kepulan asap rokoknya.

Sally memilih untuk masuk kembali ke kamarnya dan memainkan ponsel bututnya yang sama sekali tidak membantu menjernihkan pikirannya. Alhasil, sepanjang malam ia habiskan terjaga.

Pagi ini ia telah bersiap dengan seragam yang paling dibencinya. Matanya sedikit cukup sembab dan kepalanya sedikit pusing karena tidak tidur semalaman. Ia mematut wajah cantiknya di cermin, mempoles kantung matanya dengan make up yang ia bawa secara diam-diam.

Tiap kali ia berjalan dan berdiri di barisan para maid, Sally terlihat seperti seorang model yang sedang persiapan photoshoot. Beberapa maid berbisik-bisik tentangnya, jangan tanya bagaimana tanggapan wanita itu. Ia hanya diam, tidak peduli sama sekali seakan menulikan kedua telinganya. Pujian seperti itu sudah biasa ia dapatkan dari orang lain sepanjang hidupnya.

"Elley, kau kerjakan apa yang aku perintahkan dengan benar. Jangan sampai terjadi seperti kemarin, kau lengah. Di sini bukan tempat untuk melamun. Kau mengerti?" ucap kepala asisten rumah tangga di sana.

Sally hanya diam sambil memutar bola matanya malas. Ia benci diatur, ia juga tidak suka diperintah. Ia biasa berkuasa dan memerintah.

"Aku pikir jika Tuan muda melihatmu, ia akan tertarik padamu," ucap Amor disela pekerjaan mereka membersihkan ruangan.

Sally hanya memainkan kemoceng di tangannya, sama sekali tidak berminat untuk membersihkan tempat itu.

"Aku tidak berminat dia melihatku," jawab Sally sekenanya.

"Kau belum saja melihatnya dari dekat. Tidak ada yang tidak tergiur dengan pesonanya. Apalagi tubuh kekarnya, dada bidang, lengan berotot, benar-benar layak seperti dewa yunani," puji Amor dan Sally hanya menggeleng sambil mengibas-ibaskan kemocengnya.

"Kalian dibayar untuk bekerja. Membersihkan rumah, bukan untuk bergosip, bersantai seperti saat ini," omel Alamanda tiba-tiba.

Baik Sally maupun Amor terkejut dengan kehadiran madam Alamanda di belakang mereka secara tiba-tiba. Keduanya sontak menunduk dan menutup rapat mulutnya.

"Dan kau- siapa namamu?" tunjuk Alamanda ke arah Sally.

"Namaku Elley, Madam," jawab Sally sekenanya.

"Tidak perlu berdandan pada saat bekerja. Aku tidak suka melihat babu bermake up di sini. Kau mengerti!" ucap Alamanda sinis.

Kedua telapak tangan Sally mengepal. Ia menahan geram akibat mulut wanita tua bangka di hadapannya ini. Jika saja ia sekarang menjadi Sally Beatrice bukan Elley James, maka sudah dipastikan Sally akan menampar mulut pedas Alamanda dengan telapak tangannya.

"Saya tidak bermake up, Madam," jawab Sally berani.

Alamanda melotot tidak percaya ketika mendengar jawaban dari pelayan barunya itu.

"Kau berani menjawab ucapanku? Ah- kau benar-benar tidak sopan," murka Alamanda.

"Saya hanya menjawab apa yang Madam katakan tadi, agar tidak ada kesalahpahaman diantara kita. Saya tidak ingin Madam mengatakan sesuatu hal yang tidak saya lakukan. Saya hanya memberi penjelasan, tidak bermaksud kurang ajar," ucap Sally panjang lebar.

Amor yang berdiri di samping Sally menatap kagum teman barunya itu. Hanya Sally, pelayan di rumah itu yang berani menjawab ucapan Madam Alamanda.

"Kau--, begitu menyebalkan," kesal Alamanda. Wanita paruh baya itu memilih untuk pergi meninggalkan Sally dan juga Amor dengan rasa kesal yang memuncak.

"Elley, kau benar-benar keren. Kau orang pertama yang berani menjawab ucapan madam Alamanda. Biasanya kami hanya diam menunduk, tidak berani berkata apapun saat kami dituduh melakukan sesuatu yang tidak kami lakukan. Kau berbeda, keren," puji Amor penuh kesungguhan.

Sally menatap kepergian Alamanda dengan raut wajah datar.

"Aku hanya menjelaskan," kata Sally.

"Tapi, kau keren. Aku bangga bisa berteman denganmu," Amor memeluk lengan Sally erat sambil tersenyum lebar.

Amor dan Sally dipanggil oleh kepala pelayan, mereka berdua pikir karena kejadian tadi namun, ternyata mereka salah.

"Kalian berdua akan ikut pada rombongan lima belas maid yang akan berlayar bersama Tuan Roland,"

Amor berjingkrak heboh sedangkan Sally sendiri terlihat malas.

'Harusnya aku bahagia

bisa

ikut

rombongan

pelayan

ini, aku jadi

bisa

mencari

kelemahan

pria

itu agar mau menjual

pulaunya

pada Daddy,' batin Sally.

"Aku hanya ingin memberi tahu itu. Kau- Elley, aku ingin kau membersihkan kamar 102. Biar aku bisa melihat kinerjamu seperti apa sendirian," perintah Dominic dan Sally melotot terkejut.

"Se- sendirian?" tanyanya ragu. Dominic mengangguk tegas dan Amor memberinya semangat dengan mengancungkan jempolnya ke arah Sally.

"Kau pasti bisa, Elley!" Amor menyemangati.

🌲🌲🌲🌲🌲

Kaki jenjang Sally bergerak melangkah menuju kamar 102. Kamar tersebut kabarnya jarang dipakai, tapi harus rutin dibersihkan. Sally mendesah sebelum ia masuk ke dalam kamar tersebut.

Ini adalah perdana ia melakukan pekerjaan seorang maid sendirian, biasanya jika bergabung dengan yang lain, ia hanya berdiri mengamati sambil memegang kemoceng kesana kemari tanpa ikut serta membersihkannya.

Langkah kaki Sally terhenti saat ia sampai di depan pintu kamar tidur. Dari luar ia mendengar suara desahan atau semacam suara menggigil seorang pria. Ia tidak tahu apakah hanya halusinasi atau dari sumber kamar yang berbeda, sebab yang ia tahu jika kamar ini tidak berpenghuni.

Tubuh Sally bergemetar begitu pun dengan tangannya keluar keringat dingin saat ingin membuka kenop pintu. Ia takut, tapi juga penasaran.

Matanya terbelalak saat mendapati seorang pria sedang mendesah menunduk sambil memainkan - entahlah.

"OH MY GOD!" desis Sally tertahan.

Sally mengamati apa yang terjadi di sana dan sampai pada akhirnya ia berpikiran gila.

'Aku harus

bisa

menakhlukan

pria

itu

dengan cara apapun. Aku pasti

bisa,' batin Sally.

Wanita itu segera pergi dari sana mencari keberadaan Amor. Ia membutuhkan bantuan teman sejawatnya itu.

🌹🌹🌹🌹🌹

SAMPE

KETEMU

PART

DEPAN

Ngapain

sih kira-kira 😛😛😛😛

Ngapain sih kira-kira 😛😛😛😛        

Möchten Sie wissen, wie es weitergeht?
Weiterlesen
Vorheriges Kapitel
Nächstes Kapitel

Buch teilen mit

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Aktuellstes Kapitel

PLAYMATE ( INDONESIA )   40 - Roland yang Misterius

Shin izin gak update dulu yah, becoz mau keluar kota lagi. Jadi, gak punya waktu buat fokus nulis. Menuju detik-detik ending ??Kira-kira misteri apa yang belum kebongkar di cerita ini? Hayo loh? Jangan lupa Komen dan REVIEW nya yah ? Happy Reading gaisss gaiss! ?????

PLAYMATE ( INDONESIA )   39 - Perseteruan Sengit

Hallo, gaisssss masih inget Shin gak? wkwkwkwk ???Shin datang bawa pasangan ajaib! Bikin seneng Shin sama keramean komen kalian dong

PLAYMATE ( INDONESIA )   38 - Pengakuan

Hai semuaJangan lupa kalo keluar rumah tetap pake masker yah.Jaga kesehatan selalu

PLAYMATE ( INDONESIA )   37 - Berkencan

Full part buat Mas Jam dan Mbak SandwichSemoga berkesanJangan males komen sebanyak-banyaknya di part ini ????Part didedikasikan untuk semua ROSA's Sq

PLAYMATE ( INDONESIA )   36 - Welcome, Mr. Roland Filemon

Banjirin dengan komen kalian part ini! Happy Reading gaisssh

PLAYMATE ( INDONESIA )   35 - Oh My God!

YANG BELOM KASIH REVIEW, AYO AYO KASIH REVIEWNYA!!!JANGAN LUPA BOOM KOMEN YAHHappy reading semuanya!

PLAYMATE ( INDONESIA )   18 - Jamur

Naik turun, tarik ulur dulu macem main y

PLAYMATE ( INDONESIA )   17 - Tidak Mungkin

Part paling panjang sepanjang sejarah nulis Play

PLAYMATE ( INDONESIA )   16 - Rencana Selanjutnya

PLAYMATE ( INDONESIA )   15 - Tidak Terduga

Happy Reading

Weitere Kapitel
Buch herunterladen
GoodNovel

Buch kostenlos herunterladen

Download
Suchen
Bibliothek
Stöbern
RomantikAlternativgeschichteUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+
Kurzgeschichten
LiebeskummerGeheimnisModerne StadtApokalypse-Überleb1enshort-Science-FictionLiebesroman0
ErstellenVorteile für Autor:innenWettbewerb
Beliebte Genres
RomantikAlternativgeschichteUrbanWerwolfMafiaSystem
Kontaktieren uns
Über unsHilfe & VorschlägeGeschäft
Ressourcen
Apps herunterladenVorteile für Autor:innenInhaltsrichtlinieTop-SuchanfragenFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Folge uns
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Nutzungsbedingungen|Datenschutz