loading
Home/ All /Nanny to Mommy (Indonesia)/Batch 5 : Paksaan Ilona

Batch 5 : Paksaan Ilona

Author: Rose Marberry
"publish date: " 2020-09-02 09:38:20

"Kok, Bunda nggak pernah lihat, kamu bawa pasangan ya bang? Apa adopsi bayi juga kurang? Apa perlu, bunda cari cewek juga nih?" Dennis menghembuskan napas gusar. Minggu pagi yang cerah, rencana ingin menghabiskan waktu dengan bersantai, atau memanjakan diri, dengan pergi gym, atau berenang untuk meregangkan otot-ototnya. Malah, diundang sang raja hutan ke rumah, alhasil ia harus membiasakan telinganya mendengar kata-kata ini setiap saat.

Dennis sedang duduk di teras samping rumahnya, dengan sang Papah yang juga duduk di depannya. Dan sang bunda yang masih segar dan cantik, sedang memakai masker sepagi buta ini, tapi sudah sibuk masalah jodoh.

"Udahlah bun. Yang penting Dennis udah ada tanggung jawab sekarang." Jawab Darren menenangkan istrinya. Ia tahu, wanita yang telah ia kenal puluhan tahun ini sangat ambisius orangnya.

"Oh tidak bisa! Bunda mau gendong cucu sekarang, bunda mau punya banyak cucu." Dennis hanya diam, dan memilih meminum tes panas yang disediakan sang bunda.

"Kalau Nana mau nikah, duluan aja." Jawab Dennis pasrah. Ya mau bagaimana, hatinya mati rasa. Rasa itu telah dibawa pergi, dan takkan pernah dibalikan oleh sang pemilik.

"Eh, abang ngomongnya." Tegur Ilona. Dan Darren yang dibuat pusing, jika sudah begini, sang istri takkan mengalah, walau sama anak sendiri.

"Papahmu punya anak umur 23 tahun, jangan mau kalah. Abang udah telat lima tahun. Entar, abang nggak bisa lihat anak sekolah lagi."

"Bunda nggak mau tahu, bulan depan nggak ada, bunda pasangin dengan Alena, kawan Nana." Dennis hanya diam. Ia tak punya ekspektasi apa-apa tentang pasangan, yang ia tahu, bertanggung jawab pada bayi merah yang tinggal di rumahnya. Jujur, Dennis nyaman bersama Azyan, namun bersama, entahlah, hati Dennis masih mati karena kejadian di masa lalu. Walau, ia suka perhatian pada gadis itu, bukan berarti membuat hati Dennis berpindah. Tidak segampang itu.

Puluhan tahun ia menyimpan perasaan untuk orang yang sama, dan orang itu tak pernah mengetahui apa yang ia rasakan. Rasanya sangat menyakitkan, tapi Dennis belajar ikhlas, agar menemukan kebahagiaannya sendiri, walau ia tak terlalu memikirkan masalah hati akhir-akhir ini, perhatian Dennis terlalu berfokus pada bayi merah tersebut.

"Sama Bella aja bang." Celutuk Ilona asal, tanpa peduli pada perasaan orang lain. Kompak ayah dan anak itu langsung terbatuk, Ilona tanpa dosa memandang kedua lelaki yang ia sayangi itu bergantian.

"Anak orang masih kecil."

"Eh, Bella pintar loh. Lihat, dia nggak punya pengelaman aja, biar ngurus bayi merah. Bunda aja dulu, nggak bisa langsung ngurus kamu. Bunda nggak bisa handle sendirian, tapi Bella luar biasa, dia yang belum pernah melahirkan aja, bisa telaten gitu, ngurus baby." semuanya terdiam. Jika diungkit masa lalu, orang yang merasa paling bersalah adalah Darren. Karena kegoisan mereka, ia harus merelakan, dan tak melihat perkembangan anak-anaknya hingga besar. Beruntung, si kembar ia yang menurunkan sendiri tangannya mengurus mereka.

"Jarang loh bang, ada perempuan seperti itu. Sebenarnya, apalagi yang abang tunggu? Bentar lagi, umur udah kepala tiga. Minimal anak udah TK." Dennis menyugar rambutnya, dan memilih makan ubi rebus yang bundanya siapkan.

"Nantilah bunda." sahut Dennis malas

"Ya, nggak bisa dong. Cari ibu buat Baby Danish, bayi itu pertumbuhannya cepat, satu tahun aja udah tahu segala macam dunia, apalagi udah bisa ngomong. Apa abang nggak pusing, tiap hari anak nanya punya Ibu nggak. Pikirkan bang, bunda maksa nih, biar abang nggak kesepian, hidup ini untuk berpasangan, kalau abang kayak gini, masa tua abang kesepian, abang pasti nyesal, kenapa tak mikir pasangan, biar ada teman pas tua. Macam bunda, kalau dulu bunda tak mikir itu, bunda pasti hidup bebas terus, dan udah tua gini, pasti nyesal. Tapi, anak bunda rame, dan bunda senang, rumah rame. Makanya, nambah anggota biar makin rame." semua ucapan Ilona tersebut, hanya diucapkan dalam satu kali tarikan napas. Benar-benar wanita itu.

"Lagian nih ya--"

"Udah bun. Apa nggak putus tuh napas." Darren mengambil jemari istrinya dan mengenggam kuat, mengalirkan kehangatan. Hanya Darren yang bisa menghentikan aksi nekat istrinya.

"Papah juga. Setiap dikasih tahu anak, pasti gitu. Apa salahnya nekan dikit, biar dia bisa mikir! Lihat nih semua anaknya, abang yang tak peduli pada lingkungan, Nana yang merenggek terus mau nikah, belum lagi si kembar yang kelahi terus." Darren hanya diam, ketika sang raja hutan sudah mengeluarkan taringnya, semua orang akan terdiam.

"Abang balek dulu." Dennis menyambar kunci mobilnya dam berdiri.

"Abang! Bunda suruh kesini, biar omongin masalah ini!"

"Ya." Sahut Dennis cuek. Laki-laki itu masih berdiri, siap mendengar siraman rohani lainnya dari sang bunda.

"Minggu depan, kalau nggak ada keputusan dari abang, bunda akan atur pertemuan kalian. Jangan ya-ya aja. Pokoknya, kali ini harus turutin!" Dennis mengangguk dan menyalami bundanya dengan sopan dan mencium pipi wanita cerewet itu, sekaligus memeluk ayahnya sebentar.

"Papah tuh, terlalu biarkan-biarkan! Kan lihat jadinya gitu, nggak mau tahu, pokoknya abang harus nikah secepatnya." Dennis masih mendengar suara bundanya, yang masih mengelegar.

Ia hanya diam, karena tak bisa memutuskan apa-apa.

_____________________________

Dennis hanya berkeliling kota. Niat hati, ingin menyenangkan diri, tapi mood tadi sudah hilang ke dasar jurang, karena omelan bundanya.

Dennis memasuki mobilnya ke sebuah cafe, dan memasuki cafe tersebut. Ia sudah janjian.

Dan seorang wanita cantik dan modis menunggunya disana. Hari ini, gadis itu memaki dress ngembang berwarna hitam, cat kukunya bahkan juga berwarna hitam, bahkan, lipstiknya berwaran hitam dan dandanan smokey eyes, ditambah gadis itu memakai fascinator berwarna hitam, menambah kesan horor dan misterius pada gadis itu. Alunan musik yang lembut dan syahdu, mengiringi Dennis menuju gadis tersebut.

"Lama nunggu?" Seloroh Dennis, mendudukan bokongnya di kursi kayu tersebut. Gadis itu masih mengetik di ponselnya. Dennis hanya diam, dan memperhatikan keadaan sekitar, masih sepi keadaan cafe, sekarang baru pukul 9.

"Jadi, ada apa?" Tanya Dennis, ketika ia tak kunjung mendapatkan jawaban, ketika gadis itu mengajak ketemu di cafe.

"Apa bunda bilang?" Tanya Ilana pada abangnya.

"Nggak ada." Ilana mengepalkan tangannya. Kalau menabok abang sendiri, tak berdosa ia sudah menampar abangnya bolak-balik.

"Ih abang! Nana tuh udah dikejar mau nikah, dan abang dengan entengnya bilang gitu. Tahu gitu, biar Nana lahir duluan." geram Ilana.

"Yaudah, masuk lagi perut bunda sana."

"Abang!" Teriak Ilana. Ia tak peduli, jika sekarang mereka bukan berada di rumah. Ilana dan Dennis memang lebih dekat dibanding dengan kedua adik kembar mereka, karena perbedaan umur yang cukup jauh.

"Jadi mau apa?"

"Ya, abang cari cewek nikah. Abang udah punya anak, nggak baik anak tumbuh tanpa ibu. Kasih sayang seorang ibu itu sangat vital, anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu itu bahaya. Seorang anak bisa tumbuh tanpa sosok figur ayah, tapi figur ibu? Nggak bisa bang!"

"Ok!"

"Oke doang bang?!" teriak Ilana lagi tak percaya. Demi apapun, keyboard di otak Dennis sepertinya hanya terdiri dari kata-kata tadi saja. Bagaimana caranya, Bunda dan Papahnya membuat Dennis? Kenapa ia begitu tak peduli pada dunia?

"Bang please, Nana tuh mau nikah. Tapi nenek kita kolot bangat, masak anak cewek dibiarkan jadi perawan tua. Nana nggak mau jadi perawan tau, abang nggak tahu ya, Nana tuh dari kecil udah target, sebelum umur 25 udah nikah." Ilana menarik rambutnya. Bahkan fascinator mahal itu hampir lepas.

"Yaudah nikah aja." Dennis memanggil waitress dan memesan jus jeruk. Berhadapan dengan Ilana harus butuh yang segar-segar, karena kata-kata gadis itu begitu menyebalkan.

"Abang bego! Mana bisa, ih abang! Bodo amat, jangan salahin Nana kalau kawin lari." Ilana meletakan kedua tangannya di dada. Andai ia tak punya keluarga unik seperti ini, Ilana tak perlu bersusah payah, menunggu abangnya yang jadi manusia paling tak peka, di galaksi Bima Sakti.

"Padahal Nana tahu." ujar Dennis lirih. Ilana yang tadinya memasang wajah marah langsung melunak, gadis itu menatap abangnya tak simpati.

"N-Nana tahu bang. Tapi abang nggak mungkin, terus terpuruk, karena masa lalu yang nggak bisa abang dapatin. Tujuan Nana bukan semata-mata Nana ngebet kawin, tapi demi abang. Nana tahu betul perasaan abang, sudah saatnya melupakan."

Kedua saudara kandung itu, mulai larut dalam pembicaraan yang serius. Bunda Dennis tak pernah tahu, apa yang menimpa putra sulungnya, hanya Ilana yang tahu, bagaimana abangnya menganggung semua ini sendirian.

"Kalau diingat-ingat sedih ya bang." Tanpa sadar, air mata Ilana telah meleleh. Andai Dennis mau, Ilana bisa meminjamkan pelukan buat lelaki itu, kalau seandainya Dennis butuh pelukan hangat. Tapi, Dennis adalah manusia yang tak tahu cara berekspresi.

"Mungkin abang bisa kesana, lihat keadaan." Dennis menggeleng. Itu sama saja bunuh diri namanya, ia tak sanggup. Ia belum siap, menerima kenyataan pahit yang ia alami. Dennis tak siap, mendapat pukulan yang lain. Katakanlah ia lelaki pengecut, tapi itu memang dirinya sejak puluhan tahun yang lalu.

"Seandainya abang biarkan Nana bilang, tapi abang bilang nggak usah." Pikiran Dennis kembali dihempaskan ke masa lalu. Saat dia hanya seorang anak laki-laki pendiam yang tidak mempunyai teman, walau masih berlaku sampai sekarang. Tapi Dennis merasa, hidupnya sekarang lebih baik dbandingkan terdahulu. Apa gadis itu, masih menerima dirinya jika sudah tahu keadaan Dennis begini?

Dennis hanya memperhatikan jemarin lentik Ilana dengan cat kuku berwarna hitam itu memutar cangkir berisi, milo panas tersebut. Dennis hanya diam. Ia kembali ditampar kenyataan. Bahwa takdir menentukan, bahwa mereka tak bisa bersatu.

"Kalau abang mau, kita bisa kesana."

"Jangan dulu." Ilana mengerti. Dennis butuh waktu, entah sampai kapan lelaki itu bisa menerima semuanya.

"Bagaimana kabar Baby Danish?" Ilana mengalihakn topik pembicaraan. Dennis tersenyum simpul, walau Ilana begitu bar-bar bahkan kasar, tapi gadis itu tempat paling enak diajak curhat. Ilana sangat mengerti dan pandai, bagaimana cara menenangkan hati lawan.

"Biasa aja."

"Bilang kek, udah tumbuh gigi, tumbuh rambut, bola matanya tambah besar." timpal Ilana sewot. Jika tak berbicara dari hati ke hati seperti ini, Dennis akan menjadi paling menyebalkan, dan Ilana sudah mengenal abangnya luar dalam, karena mereka selalu bersama.

"Menurut abang, bagaimana Bella itu?"

"Biasa aja." Ilana mengurat dadanya. Keyboard Dennis harus diupgrade biar ada kosa kata baru saat proses pengetikan di otak Dennis, bukan kata itu-itu sana yang keluar dari mulutnya.

"Maksud Nana, mungkin dia benar-benar bisa jadi ibu sambung buat Danish. Dia begitu keibuan, dewasa juga, sabar, jadi mungkin dia bisa menerima abang apa adanya." Dennis menhembuskan napas gusar. Kenapa sepagian ini, pembahasan mereka terlalu berat?

"Abang nggak tahu Nana. Masih dihantui masa lalu, fokus abang sekarang bagaimana biar Danish cepat besar." Ilana mengangguk setuju, walau ia akan terus membujuk abangnya agar mencari pasangan.

"Mungkin abang bisa tahap perkenalan dulu. Kan satu rumah, abang bisa lihat gimana orangnya. Tapi, bagusnya nyari yang udah tahu Baby Danish, takutnya ada yang nggak bisa terima bayi merah itu. Abang harus cari ibu sambung buat Baby Danish."

"Gimana Alena?" Dennis teringat kata bundanya tadi. Alena, entah bagaimana model makhluk satu itu, Dennis tak bisa melihat wanita lain cantik, kecuali perempuan di keluarganya. Bagi Dennis, wanita paling cantik, tetap bundanya yang mejadi nomor satu.

"Jangan bilang, bunda yang nyuruh?" tuduh Ilana. Dennis mengangguk. Ilana menarik napas panjang, Alena teman dekatnya, jadi ia tahu persis bagaimana sifat temannya.

"Dia baik, cantik, dewasa, pengertian.  Semua kriteria mantu idaman, dapat. Tapi, Nana ragu kalau dia bisa ngurus anak atau bisa terima Baby Danish. Ok, suka bayi itu subjektif. Maksud Nana, kalau udah nikah dan dia tak pande urus anak. Selama ini, kami hanya tahu belanja, memanjakan diri, sibuk gonta-ganti pasangan. Kalau punya anak sendiri, beda karena ikuti naluri, nah ini, anak orang, Nana khawatir bang." Dennis mengangguk mengerti. Ini juga yang jadi permasalahannya. Jika, ia mencari pasangan yang sudah klop dengannya, bagaimana mereka menganggap Baby Danish. Bayi merah itu, nomor satu bagi Dennis.

"Feeling Nana selalu nyuruh Bella. Gadis itu sederhana, kata Ai, dia juga pintar di kelas, abang bisa punya anak yang cerdas, bukan yang pandai dandan, tapi yang pande ngurus kotoran anak." tanpa sadar, Dennis menyingungkan senyuman, mengingat bagaimana telaten Azyan mengurus Baby Danish. Gadis itu bertingkah seperti sudah berpengelaman puluhan tahun mengurus anak, padahal Baby Danish bukan darah dagingnya, ia hanya pengasuh yang begitu mengurus anak. Jika mengurus anak sudah biasa, tentu mengurus suami tentu bukan hal yang berat bagi Azyan. Gadis itu menjadi calon istri yang masuk kriteria, walau gadis itu tak secantik Ilana, maupun hebat dalam mengurus diri. Tapi, kepribadiannya membuat semua orang jatuh cinta.

"Kalau abang mau, abang bisa ajak Bella kesana. Mana tahu, hati abang lebih condong ke Bella." goda Ilana.

"Sembarang." Ilana akhirnya tertawa, bisa melihat kembali senyum yang terbit di wajah abangnya. Karena, wajah abangnya tadi, begitu kusut.

"Saran aja. Siapa tahu, abang jumpa dsn dapat hidayah, persunting Bella jadi Mommy Danish."

Dennis menggeleng. "Nggak segampang itu." Ilana mengangguk.

"Yaudin, pikirkan yang Nana bilang tadi. Abang perlu berdamai dengan masa lalu, coba lihat-lihat bagaimana Bella itu." Ilana menyambar tasnya yang berwarna hitam. Dan heels 12 centi tersebut, berbunyi mengisi lantai cafe dan meninggalkan cafe tersebut. Dennis hanya memandang adiknya menjauh. Andai, dulu ia bukan laki-laki pengecut, semuanya takkan menjadi beban seberat ini.

Dennis pulang, dan tanpa sadar roda empat itu mengiringnya ke tempat yang sangat ia hindari setahun belakangan ini, namun perlahan kakinya memasuki pekarangan tersebut, dan mencoba berdamai dengan masa lalunya.

"Maaf, satu tahun nggak muncul. Semoga kamu masih ingat sama aku."

_________________________________

Hayo... itu siapa? Apa itu mantan istri bg denis?

Menurut kalian, sebenarnya Dennis punya istri gak?

See you :*

Feel free to leave comment and rate.

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB - Mereka Pergi

Kecewa.Azyan kecewa pada Ilona yang melakukan semuanya tanpa menunggu persetujuan dari dirinya. Bukankah ia belum menjawab ide yang Ilona rencanakan? Walau Azyan memang tak punya jawaban, seperti maju salah, mundur salah. Lebih baik ia kabur dan menghindar agar tak lagi memikirkan semua hal ini.Azyan memperhatikan anak semata wayangnya yang sibuk memasukan jari-jari kaki dalam mulut dengan badan gempal karena gemuk dan terlihat makin mengemaskan. Danish adalah bayi paling mengemaskan, tapi perjuangan untuk mendapatkan bayi ini begitu susah.Azyan berbaring kembali dan mengelus-elus kepala Danish sayang. Harusnya ia menjumpai Ilona dan menyatakan keberatannya, bukan sepihak seperti ini, karena masa depannya dipertaruhkan disini, memangnya Ilona mau Danish tak punya ayah karena Dennis akhirnya jatuh cinta pada Alena? Oh sialan! Memikirkan ini Azyan tak sanggup.Azyan mengangkat Danish dan meletakan bayi it

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 14 - Plan B dan Kecewanya Azyan

"Saya seperti kau menyerah. Ini tidak berjalan dengan baik. Hidup bersama, ada anak, tapi abang memang nggak ingat apa-apa."Azyan tersedu sambil menggeleng, mengadu pada Ilona, sambil mengendong Danish. Bayi yang sudah berumur empat bulan. Azyan mengira, setelah 4 bulan Dennis akan sadar dari amnesia dan sadar siapa dirinya. Nyatanya semua terasa asing di mata Dennis. Laki-laki itu tetap menganggap Azyan seorang pengasuh bukan ibu dari anaknya."Bunda punya ide yang lebih bahaya lagi. Tapi nggak tahu, Bella setuju atau nggak?" kata Ilona sambil memegang tangan mungil Danish yang berusaha memasukan tangannya dalam mulut bayi itu. Azyan langsung memandang nenek Danish. Wanita yang sangat berperan besar dalam kelangsungan hidupnya. Tapi anaknya yang sakit, tak ingat apa-apa tentang dirinya, membuat Azyan ingin menyerah dan membawa Danish pergi sejauh mungkin agar Dennis tak menemukan mereka kembali. Dan laki-laki itu tahu, arti kehilangan.

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 13 - Perjuangan Azyan

Azyan bolak-balik, sambil memegang perutnya. Kontraksi. Peluh mulai membasahi wajahnya, walau ia masih bisa menahan semuanya dan sedikit beraktivitas. "Biasanya disuruh jangan makan. Puasa dulu, tapi sekarang masih lama, Bella makan aja dulu." Azyan hanya meringis memegang perutnya. Penantiannya telah tiba, tapi banyak banyak hal yang ia pikirkan. Terutama, bagaimana nasib anaknya setelah ini, karena Dennis sama sekali tak mengingatnya. Bahkan, jadi nanny juga, Azyan tak bisa menjamin ini akan berhasil. Apa ia bisa berpura-pura di depan semua orang, jika ia adalah pengasuh untuk anaknya sendiri? "Udah jangan banyak mikir yang aneh-aneh. Fokus ke kandungan, setelah keluar, semua kesakitan ini hilangnya dengan sendirinya. Ini nggak bohong, dan ini disebut keajaiban." Azyan duduk di atas atas kursi, memandang kosong ke arah salad buah di atas meja. Sakitnya bisa ia tahan, karena belum terlalu intens. Walau saatnya datang

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 12 - Nanny To Mommy

"Akhirnya, libur juga kita." Ilene memeluk lengan Azyan yang hanya diam.Perutnya makin membesar, sudah 7 bulan atau 32 minggu. Membuat Azyan lebih cepat merasa lelah dan juga wajahnya begitu pucat. Ia mengalami anemia."Habis ini, Bella akan fokus pada kehamilan dan juga kelahirannya." Azyan tak perlu menanggapi, karena memang ia masih marah pada dua kembar tersebut. Ia belum bisa berdamai, beruntung ia melewati masa-masa sulit."Wah, kebetulan aku lagi dapat duit hehehe. Tenang, bukan uang haram. Aku mau traktir." ujar Darris tiba-tiba sudah bergabung sambil nyegir.Ilene langsung melotot pada adiknya. "Bukan dia. Tapi abang." rasanya seperti pertahana Azyan runtuh. Tapi ia berpura-pura tegar. Jantung Azyan berdetak lebih cepat, rasanya mau copot. Gadis itu menelan ludahnya gugup, matanya sudah memanas. Ia merindukan bau itu, baju Dennis yang beberapa bulan lalu, sudah hilang baunya karena ia gosokan di

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 11 - Kepingan Puzzle Yang Hilang

"Bunda mohon, tolong pikirkan ini. Bagaimana kamu mau merawat anakmu, jika kamu sendirian. Gimana kalau malam-malam perutnya mules." Azyan hanya menunduk, beribu cara Ilona membujuknya, beribu cara juga ia menghindar."Kehamilan Bella sudah lima bulan, sebentar lagi banyak drama yang keram, tak bisa gerak leluasa. Pokoknya hamil itu banyak drama, dan memang harus ada yang mendampingi tak bisa hidup sendiri kayak gini."Ilona mengantarkan Azyan mencari kontrakan terbaru. Azyan benar-benar menghilang dari kehidupan mereka. Harusnya, Azyan menjadi tanggung jawab mereka, namun gadis itu keras kepala, ditambah Dennis punya penyakit. Ah, semuanya terasa serba salah."Ya, Bella berhak marah. Tapi, pikirkan kondisi anaknya." Azyan hanya mengangguk.Dan Ilona kewalahan, bagaimana mengatur semua ini. Azyan sudah sakit hati dan kecewa, Dennis juga butuh penanganan. Dan dua anak kembarnya sudah mendapatkan hukuman mer

Nanny to Mommy (Indonesia)   FB 10 - Hukuman untuk Si Kembar

"Teman kamu baik bangat Ai. Dia mau bantuin kamu merawat Abang."Semua orang terdiam, tidak dengan hati Azyan yang retak seribu. Pegangan Azyan pada kursi roda itu melemah. Gadis itu urung mendorong kursi roda Dennis. Hari ini, Dennis keluar dari rumah sakit, setelah dua Minggu dirawat walau ia belum bisa berjalan normal, jadi Dennis hanya bisa beraktivitas dengan menggunakan kursi roda."Ayo." ajak Ilene pada Azyan yang hanya diam. Kata sederhana itu, meluluhkan pertahanan dan kesabaran Azyan. Rasanya Azyan ingin berlari sejauh mungkin, dan tak seorang pun dapat menemukannya dan ia bebas melakukan segala perasaannya, tanpa ia menutupi semuanya."Abang boleh ajak kawan ke rumah?" tanya Ilene pada abanganya. Dennis hanya mengangguk. Tapi, Azyan hanya berjalan dengan lemah mengikuti dua bersaudara itu dari belakang. Setelah ini, ia hanya perlu menghilang dari kehidupan lelaki ini dan amnesia seperti Dennis, dan melupakan apa ya

Nanny to Mommy (Indonesia)   Batch 21 : Misi Dimulai

Azyan masih merasakan, berada di dalam mimpi. Tapi, sesuatu yang berat menghimpit perutnya, membuat ia kesulitan bernapas.Sesuatu yang berat itu meloncat-loncat di perutnya. Azyan ingin mengamuk, tapi ketika melihat putra semata wayangnya yang duduk di perutnya membuat

Nanny to Mommy (Indonesia)   Batch 21 : Terjebak Nostalgia

"Udah kayak terpaksa gitu senyumnya." tegur Darris di samping Azyan.Malam ini Danish yang jadi bintang. Bayi itu dioper sana-sini, semua orang berebutan ingin mengendong Danish. Dan Azyan, hanya seorang remahan yang harus sadar diri dia itu siapa.Azya

Nanny to Mommy (Indonesia)   Batch 20 : Teori Dennis

Alena kewalahan menangani Danish. Bayi itu menangis keras. Entah kelaparan atau karena mengantuk. Padahal sudah dibawa susu miliknya. Azyan sedang kuliah, Alena inisiatif membawa Danish agar proses pendekatan, dan sekalian mengukur baju untuk bayi itu.Alena sedang dudu

Nanny to Mommy (Indonesia)   Batch 19 : Rindu Tapi Gengsi!

Jika kamu menyetil ego seorang lelaki. Maka, kamu akan berurusan dengan sifat tak peduli.Azyan menahan sesak di dada. Entah kenapa, ia menyesal telah melukai ego Dennis begitu dalam. Walau lelaki itu tidak marah, tapi dari sikapnya, Dennis memang mengambil tindakan, ti

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy