Memuat
Beranda/ Semua /I Was Never YOURS (INDONESIA) /Scene 5

Scene 5

Penulis: Rose Marberry
"Tanggal publikasi: " 2020-09-02 10:42:34

Joko.

Nama yang begitu menganggu Cheryl. Apa benar begitu? Jika itu kenyataan, apa Cheryl bisa menerima nama itu. Atau Sandra berbohong, jika Joko itu nama orang tua si tampan.

Hari ini, Cheryl nekat lagi ke fakultas Teknik. Demi pujaan hati.

Cheryl ingin menanyakan langsung ke sang empunya, jika benar, Cheryl akan pikir-pikir lagi, untuk menerima kekurangan nama lelaki itu. Tapi Cheryl yakin, bukan itu namanya. Penampilannya, bukan orang biasa. Cheryl bisa melihat, tampilan Juna a.k.a Joko, seperti orang kaya.

Mawar jengah, dan sudah lelah dengan pengejaran dan kegigihan Cheryl, namun hasilnya nihil. Sebenarnya, Mawar sudah tahu namanya. Namun, ia malas memberitahu Cheryl. Biarkan saja, agar Cheryl berusaha lebih keras lagi, walau ujungnya ia yang disusahkan.

Mawar memakan kacang berbalur coklat dengan tak berselera. Mereka bolos mata kuliah Essay Writing. Kebetulan yang mengajar Mam Nani. Seorang dosen cantik, yang menjadikan Cheryl mahasiswa kesayangan. Mam Nani, sering memberi Cheryl uang dan selalu memberi nilai lebih pada Cheryl. Padahal Cheryl terkenal pemalas di kelas. Dan Cheryl bukanlah, mahasiswa otak encer, namun gadis seperti cacing kepanasan ini, tak pernah menyadari jika ia memiliki kekurangan. Malah, Mawar mahasiswa yang aktif di kelas.

Cheryl dan Mawar menunggu di bangku pohon pinus seperti biasanya, yang sudah dibuat bangku dari semen, dengan meja berbentuk bundar.

Cheryl menyeruput yogurt dengan lesu, sambil menopang kepalanya.

"Demi apa, hari-hari kuliah gini terus." Kilah Mawar.

"Dengar ya, Mawar, melati, semuanya busuk. Ini akan kita jadikan kenangan yang takkan kita lupa sampai tua. Apalagi, nanti aku jadikan, bahan cerita buat obrolan di ranjang nanti, sama suami." Otak Cheryl sudah berkelana ke masa depan. Bagaimana Joko menjadi suaminya. Dan mereka berbagi cerita bersama semasa muda. Cheryl akan bercerita, bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan suaminya nanti. Cheryl tentu akan ingat, karena ada Meredith yang selalu mendengar keluh kesah Cheryl, dan menyimpan buku itu hingga tua.

"Aelah, bahasa lu, ketinggian. Aku juga yang disusahkan." Mawar mendengus kesal.

"Jadi Mawar nggak ikhlas?" Tanya Cheryl dengan mendramatisasi keadaan. Ia pura-pura memasang wajah melas.

"Basi!" Mawar menarik rambut Cheryl. Jengah, melihat tingkah temannya.

"Sialan!" Cheryl menepis tangan Mawar. Yang ada, Mawar menarik rambut sahabatnya kuat. Tak terima dengan perlakuan Mawar, Cheryl membalas dengan menarik rambut Mawar kuat. Keduanya, saling menarik rambut masing-masing lawan.

"Kau nggak tahu, aku itu lebih cantik dari Mawar." Ujar Cheryl berapi-api.

Mawar tersenyum meremehkan Cheryl, layaknya si antagonis yang bisa berbicara dalam hati. "Gue juga cantik! Bahkan, cantikkan aku kemana-mana."

"Aku cantik tujuh turunan."

"Cewek cantik, tapi dada rata, biasanya nggak laku di mata cowok." Bisik Mawar. Ya, Mawar memiliki kelebihan badan yang nyaris sempurna bagi idaman lelaki. Cheryl sempat melirik ke buah dadanya yang rata. Benar-benar rata.

Cheryl menjadi panas, Mawar sering membanggakan dirinya.

"Sialan!" Maki Cheryl. Ia menarik rambut Mawar kuat, tarikan Mawar juga tak kalah kuat.

"Aw... sakit."

"Mampus, rasakan!" Cheryl menarik rambut Mawar lagi. Keduanya saling menatap penuh permusuhan. Keadaan memanas, Mawar mengirimkan sinyal api, begitu juga Cheryl ingin menyemburkan api ke sahabatnya.

Kekuatan dari mana, Cheryl berhasil membanting Mawar ke tanah. Badan Cheryl lebih kurus dari tubuh Mawar yang semok.

"Jahat kau! Lihat aja, aku akan implan payudara."

"Hahaha, implan itu, isinya cuman air." Emosi dengan ejekan Mawar, Cheryl menarik sekuat mungkin.

"Aww... udah-udah." Teriak Mawar.

"Dek?"

Deg! Cheryl berbalik, dan rupanya aksi bar-bar mereka, disaksikan banyak orang. Cheryl merapikan bajunya, dan mengelurkan tangannya ke sahabatnya untuk bangun.

Cheryl menepuk-nepuk bajunya. Dan ia bisa melihat sang pujaan hati berada di kerumunan itu, menatapnya dengan tatapan kosong. Aish, gagal.

Mawar merapikan rambutnya, dan bajunya dari kotoran yang menempel di bajunya. Mawar bisa melihat, tatapan Juna hanya tertuju padanya. Apa ia boleh geer?

"Abang!" Pekik Cheryl, ketika melihat sang pujaan hati berbelok arah.

"Cheryl kan?" Cheryl mengangkat alisnya. Ada mahasiswa dari jurusan lain yang mengenalnya. Sebenarnya ia tak asing dengan wajahnya, tapi lupa nama.

"Iya."

"Abang, Essam. Lupa ya? Kita kan dulu satu sekolah." Cheryl nyegir. Dia cepat lupa orang, hanya ingat sekilas wajahnya. Cheryl payah mengingat nama orang, apalagi semua nama ia pelesetkan.

"Oh iya." Ingatan Cheryl kembali ke masa lalu, ah Essam ini kakak kelas waktu SMP, ketika Cheryl yang masih kelas VII dan banyak kakak kelas yang menyatakan rasa suka padanya, namun Cheryl tidak pernah menanggapi. Cheryl tak pernah jatuh cinta selama hidupnya, dan ini pertama kalinya ia jatuh cinta. Tapi sepertinya, ia harus berdarah-darah dulu, berhasil.

Bola terang muncul di kepala Cheryl. Bukannya mereka satu fakultas, berarti?

"Ah, iya. Cheryl ingat, abang yang dulu itu. Ya-ya ingat." Cheryl menjadi sok akrab.

"Oh iya, abang sekelas sama Joko?" Mawar menutup mulutnya. Ia nyaris tertawa keras. Demi apa, Cheryl begitu bodoh dan polos?

"Joko siapa?" Essam heran. Sejak kapan, di kelasnya ada nama Joko? Joko Tingkir? Joker?

"Joko kawan abang."

"Siapa ya? Nggak ada namanya Joko di kelas." Sandra sialan! Ingin rasanya, Cheryl menyiram wajah Sandra yang menyebalkan itu pakai air keras.

"Itu loh bang, yang paling ganteng di kelas."

"Abang lah." Cheryl tertawa. Essam bukannya jelek-jelek bangat, tapi ia bukan type Cheryl. Dan bukan mereka yang Cheryl harapkan. Hanya si Joko itu, yang berhasil membuat hati Cheryl berbunga-bunga.

"Kalau ganteng, semua ganteng. Kan teknik, rata-rata cowok semua."

"Pokoknya yang ada huruf J." Mawar akhirnya membuka suara. Takkan menemukan titik terang, jika keogeban Cheryl melampui batas.

"Juna?" Mawar mengangguk. Juna? Nama yang begitu indah. Mendengar namanya saja, semakin membuat Cheryl jatuh cinta. Apalagi Juna menjadi miliknya.

"Yes, Juno. Abang sekelas kan?" Essam mengangguk.

"Iya. Oh iya, kalian tadi kenapa? Pasti rebutan cowok ya?" Cheryl tertawa keras. Mawar melihat Cheryl, tiba-tiba ia terdiam. Apa jadinya seandainya Cheryl tahu, apa yang ia rasakan sekarang, mereka menyukai satu orang. Dan, sekarang Mawar mengubur perasaannya jauh-jauh.

"Ahaha. Teori dari mana bang? Tahu nggak, Mawar sukanya sama yang tua. Yang muda dia nggak suka." Essam tersenyum. Cheryl yang dewasa, terlihat semakin memukau. Tawa dan suara Cheryl, dan keceriaannya, membuat siapa saja bisa jatuh cinta padanya.

"Oh iya, boleh minta nomor HP abang?" Cheryl tersenyum penuh setan. Modus boleh bukan? Dengan begini, jalan menuju pelaminan semakin mudah. Maksudnya, jalan menuju pelukan sang pujaan hati, semakin terbuka lebar.

"Ah, harusnya abang yang minta nomor Cheryl."

Lelaki itu tersenyum. Dan mengeluarkan ponselnya. Cheryl menyebutkan nomor ponselnya.

"Langsung kirim pesan ke Cheryl ya bang."

"Oh iya, makasih ya bang." Cheryl menarik tangan Mawar segera pergi dari sana. Satu langkah, sudah terbuka. Tinggal menunggu langkah selanjutnya.

Mawar berlari ke arah kelasnya. Tadi mereka bolos dengan alasan ijin ke toilet. Semoga saja, tas itu tak dibuang.

______________________________

Kelas telah bubar, dan teman-teman kelas Cheryl membentuk koloni masing-masing dan kebayankan memilih ke kantin.

Mawar dan Cheryl duduk di belakang fakultas, tepat di bawah pohon ketapang.

Benar saja, sudah ada pesan yang masuk.

E : save, Essam.

C : Abang, kalian lagi belajar ya?

Tak berselang lama, pesan itu sudah dibaca dan dibalas.

E : iya.

C : Juna belajar juga?

E : iya.

C : kirim salam ke Juno. Bilang belajar yang serius, biar cepat lamar aku hihihi.

Cheryl nyegir, ia membayangkan wajah tampan Juna, yang sedang serius belajar.

E : Juno? Joko?

C : hehehe, typo bang. Aku lebih suka manggil Juno.

E : Mau abang fotoin Juna?

Cheryl semakin cekikikan. Semesta sedang mendukungnya sekarang. Di rumah, ia boleh merasakan neraka. Yang penting di kampus ia berbahagia. Apalagi ada sang pujaan hati.

C : Boleh XD

Picture recieved.

Terlihatlah, gambaran seorang lelaki yang sedang serius memperhatikan penjelasan dosen. (Gambarnya ghoib. Wkwkwk)

Padahal gambar yang dikirim, gambar keadaan satu kelas. Cheryl langsung memasang story di sosial media milliknya.

Pujaan hati serius bangat elah. Jangan fokus ke mereka, fokus padaku saja.

#sedangberbunga #indahnyajatuhcinta #masadepan #menanti

Mawar yang melihat Cheryl berubah jadi manusia narsis, seketika ingin muntah. Mawar khawatir, kehaluan Cheryl berlebihan, dan akhirnya sahabatnya kecewa. Hidup Cheryl sudah kelam, jangan sampai nasib percintaannya sama.

F : ditunggu kabar baiknya.

Mawar membalas pesan itu. Cheryl tak menghiraukan dan sibuk berbalas pesan dengan Essam.

C : boleh dong, minta nomor Juno ^^

E : Juna....

Rasanya Cheryl ingin menari zumba, demi keberhasilannya.

Cheryl langsung menyimpan kontak itu dengan nama : masa depan, ayah dari anakku, pangeran berkuda poni.

"Demi apa, aku udah dapat nomornya."

"Seriusan?" Cheryl dengan bangga pamer nama alay itu. Mawar memutar bola matanya. Ia ingin Cheryl bahagia, tapi Mawar takut, suatu hari Cheryl dikecewakan.

"Yaudah kirim pesan sekarang." Perintah Mawar, ia penasaran bagaimana respon Juna. Apa lelaki itu melayani Cheryl?

"Ckckck. Dia pasti romantis bangat. Kenapa nggak dari dulu aja." Cheryl menggigit tasnya dengan gemas. Membayangkan, wajah tampan Juna yang terkekeh karena gombalan recehnya. Cheryl mengehentak-hetakkan kakinya.

"Ah... Mawar, kayaknya aku nikah muda deh. Kalau udah jadian, aku nggak mau pacaran lama-lama langsung lamaran aja." Ingin Mawar mengetuk kepala Cheryl pakai sepatu mahal yang ia pakai. Bagaimana mungkin, Cheryl si cacing kepanasan, sudah berpikir jauh ke arah sana. Mengurus dirinya saja, belum benar.

"Iyain biar cepat."

"Ah... aku senang." Cheryl memeluk Mawar dengan sangat erat.

"Yaudah, kirim pesan sana." Kesadaran Cheryl kembali. Ia memgambil ponselnya dan mengirim pesan ke pangerannya yang berkuda poni.

"Kayak mana bilangnya?" Cheryl bingung, untuk memulai chat bersama gebetan. Dirinya tak pernah menyukai orang dulu. Biasanya, banyak pesan dari banyak lelaki random yang ingin berkenalan dengannya.

"Hai masa depan. Aku ramal, sepuluh tahun lagi, akan ada anak kecil yang memanggilku Ibu dan memanggil kamu ayah." Celutuk Mawar asal. Cheryl mengerucutkan bibirnya.

"Hai, aku Cheryl. Si cantik dan menawan, yang membuatmu bertekuk lutut."

"Mending yang aku punya."

"Ok, Hai aku Cheryl. Kamu Juna 'kan? Junawan dari doa-doaku." Cheryl dan Mawar tertawa bersama, betapa konyolnya mereka.

"Aha! Tenang, dedek Cheryl ini, otaknya selalu encer dan cerdas."

C : hai, aku Cheryl. Yang kemarin nggak sengaja megang tytyd kamu. Masih ingat 'kan?

"Anjir... Cher. Kenapa harus bawa tytyd?"

"Biar dia langsung ingat." Cheryl nyegir.

"Yang ada cowok malah ilfeel. Ah, ogeb lo kelewatan." Omel Mawar. Ia yakin, Juna langsung merinding, ada cewek cantik yang berotak mesum seperti itu. Harusnya Cheryl malu, dan tak perlu mengungkit kejadian gila itu. Namun, sahabatnya yang tak beres, malah mengungkit masalah yang merusak reputasi dan harga dirinya sebagai wanita.

"Pasti dia senyum mesem. Gue kan cantik." Cheryl mengibaskan rambutnya. Entah kenapa, Cheryl begitu yakin, Juna juga jatuh cinta pada pandangan pertama seperti dirinya.

Ting!

Bunyi pesan masuk. Cheryl yakin, itu dari pangeran berkuda poni. Karena sebelumnya, telah ia setting nada dering khusus.

J : tytyd? Maaf, Kamu salah orang, aku nggak pernah skidapap.

Wajah Cheryl langsung turun ke bawah. Asli malu!

_____________________________

Ikutin terus, kebodohan Cheryl. Emak pengen buat, karakter cewek yang tak tahu malu, dan ogebnya kelewatan macem Cheryl.

E : Mawar, bilangin teman lu. Malu emak, nulis lu, masih kecil otaknya dah mesum -_-

M : dih, gue nggak pernah temanan ama dia.

C : ah... aku direbutin. Tapi moonmaap, dedek Cheryl cuman mau babang Juno.

(Emak dan Mawar langsung boker)

See you <3

Ingin tahu kelanjutannya?
Lanjutkan Membaca
Bab Sebelumnya
Bab selanjutnya

Bagikan buku ke

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Bab terbaru

I Was Never YOURS (INDONESIA)    Scene 37

Berlari secepat cheetah. Bergerak selincah ular, melompat sejago kelinci.Mawar berlari memegangi, gaun pengantin yang belum ia ganti. Juna hanya mengikuti Mawar dari belakang. Tak meyangka, istrinya begitu gesit."Yang tungguin." teriak Juna. Saat, Mawar tak peduli pada kehadiran orang-orang di sekitarnya. Bahkan, ia merasa dejavu, saat mengejar Cheryl dulu. Ya Tuhan, musibah apalagi?Mawar berlari dengan menenteng sepatunya, mengangkat gaunnya dan berlari di manapun rumah sakit berada. Ia merasa sangat trauma. Karena kepergian Cheryl, Mawar seperti antipati terhadap rumah sakit. Kalau boleh, seumur hidupnya ia tak perlu berhubungan dengan rumah sakit. Kalau boleh lagi, melahirkan nanti, Mawar ingin melahirkan sendirian."Sayang.." tegur Juna dengan napas ngos-ngosan, akhirnya berhasil menggapai tangan Mawar. Memang tenaga Mawar, tenaga kuda."Udah, jangan panik. Kita cari angkot, atau ta

I Was Never YOURS (INDONESIA)    Scene 36

"Satu ... Dua ... Tiga ...""Huwahh .... Dea dapat anjirr." heboh semua orang, saat penangkapan buket bunga pernikahan. Sang pengantin bertepuk tangan bahagia, hari yang dinantikan telah tiba. Tuhan telah menyatukan dua insan yang telah menemukan tulang rusuk mereka, dan dua cucu anak Adam bersatu dalam perkawinan. Mawar dan Juna begitu kompak dan bahagia dengan hari ini, hari istimewa yang takkan mereka lupakan dalam sejarah hidup keduanya. Hari keduanya bersatu, dalam ikatan suci pernikahan.Gadis itu memakai dress pernikahan dengan gaya empire. Gaun polos dengan pilihan satu warna, terkesan sederhana, tapi tetap terlihat elegant."Mantap-mantap kita yang." gurau Mawar sambil tertawa. Juna mengamit lengan Mawar, ia tak meyangka usianya masih cukup muda untuk menikah, tapi ketika sudah memahami sifat masing-masing, Juna akhirnya tahu, Mawar tempat terakhirnya berlabuh.Kedua pengantin meninggalkan semua o

I Was Never YOURS (INDONESIA)    Scene 35

1 tahun berlalu."Anak mami yang cantik, setahun itu rasanya cepat, lambat, menyiksa, kelam, terpendam. Tidak menyangka, kamu pergi untuk selamanya. Setahun berlalu, tapi mami tak pernah lihat senyuman kamu kecuali hanya dalam mimpi. Bahkan, udah jarang mami mimpi. Kenapa? Udah nggak rindu mami lagi? Udah bahagia disana?" Delisha masih bersungut sambil curhat, di kuburan Cheryl."Ah, mami masih belum ikhlas. Tapi ... Hari ini, dengan segala kelemahan, mami datang untuk pertama kalinya kesini. Ini bukan hal yang mudah nak. Tapi, perlahan mami bisa bangkit. Kamu pergi, tapi penyesalan terdalam dari kami semua takkan pernah kami lupa sama kami menyusulmu. Mami tahu, kamu pernah menyebut, mami sebagai mami yang kejam di muka bumi ini." air mata itu tak berhenti mengalir, bahkan semakin deras seperti air terjun Niagara. Padahal, Delisha sudah berjanji untuk melupakan semuanya, tapi kembali lagi ke kuburan, sama seperti kembali megingat memori l

I Was Never YOURS (INDONESIA)    Scene 34

"Menimbang, bahwa berdasarkan fakta-fakta, diperoleh selama masa persidangan dari keterangan saksi-saksi, maupun keterangan terdakwa beserta barang bukti yang ada, diketahui pada hari Sabtu, tanggal 21 November sekitar pukul 11.34, berdekatan antara persimpangan jalan Garuda menuju jalan Elang terdakwa Komar mengendarai kendaraan roda empat, telah menabarak seorang perempuan bernama Cheryl Anastasia yang sedang menyeberang jalan ---"Mawar langsung keluar ruang dari persidangan, tak sanggup mendengar lebih lanjut. Membuat dirinya makin terpuruk dan hancur disaat bersamaan. Harusnya ia ada, disana untuk menemani Juna, karena laki-laki itu yang menjadi saksi hingga berlanjut sampai persidangan hari ini, dan putusan bersalah.Delisha juga ikut, tapi tak berani masuk ke dalam, wanita hanya menunggu di luar, dengan kain selempang yang menutupi kepalanya, pakaian ciri khas orang sedang berduka.Mawar menutup mulutnya, dan langsu

I Was Never YOURS (INDONESIA)    Scene 33

Tiga Minggu, Mawar berani mengunjungi makam sahabatnya. Tiga Minggu terakhir adalah masa terberatnya, masa-masa ia berada ada hidup yang paling bawah. Kepergian Cheryl membawa duka yang mendalam bagi semua orang yang ditinggalkan.Sekarang, perkumpulan mereka tak lagi seperti dulu. Semuanya tak lagi sama, hanya ada kekosongan yang mereka rasakan.Mawar sedang berjongkok di depan makam Cheryl, sambil menerawang kosong. Tak ada yang ia buat, selain terduduk dalam waktu yang tak bisa ia tentukan kapan ia bisa menerima takdir kejam ini.Cheryl Anastasia.Seorang gadis periang, dengan menyimpan banyak luka di hatinya. Tapi, ia bertingkah konyol demi menghibur orang lain."Berapa lama nggak jumpa?" tanya Mawar sambil memegang nisan tersebut. Ya, matanya masih bengkak menangis terus siang dan malam. Terkadang, Mawar terbangun di tengah malam dan menangis seperti orang gila, membuat semua keluarga

I Was Never YOURS (INDONESIA)    Scene 32

"Cewek bego, cewek tolol." maki seorang cowok di atas kuburan basah tersebut. Laki-laki itu mengusap air mata di sudut matanya masing-masing. Ya, semua orang tak menyangka atas kepergian Cheryl. Kepergian gadis itu begitu tiba-tiba membuat siapa saja tak percaya, bahwa gadis bar-bar itu tak lagi bernapas di bumi tapi memiliki alam sendiri."Woi cewek bego bangun lah. Jangan bikin semua orang sedih, aku tahu kau juga sedih, tapi kau mampu menghibur orang lain dengan tingkah konyolmu. Bangun, dan hibur semua orang. Dan biarkan aku yang menghiburmu saat kamu sedih." laki-laki itu tersenyum kecut dan memalingkan wajahnya. Masih tercium jelas, bau tanah yang masih basah. Saat semua orang bubar dan ia baru berani mendekati makam tersebut."Woi cewek bego bangun Juleha. Kau bahkan belum tahu, kalau aku adalah the one bukan Juna. Bangun Juleha, bahkan aku mau dipanggil bujang lapuk terus, bangun cewek bego." maki Aldo lagi. Ia merasa menyesal, ken

I Was Never YOURS (INDONESIA)    Scene 31

"Anakku ..." teriakan Delisha kembali menyadarkan Juna. Cowok itu langsung berlari ke kerumunan orang-orang, dan melihat bagaimana darah itu membanjiri jalanan. Tubuh putih Cheryl sudah penuh dengan darah. Kaos berwarna kuning pudar tersebut sudah bercampur banyak darah. Saat melihat tu

I Was Never YOURS (INDONESIA)    Scene 30

Orang bilang pertemuan itu sesuatu yang mereka tunggu-tunggu. Orang bilang pertemuan itu momentum sakral yang membuat hati siapa saja membuncah bahagia, terharu atau menangis sedih karenanya.Cheryl hanya terduduk disana, sambil memegang minuman dingin dan beberapa dess

I Was Never YOURS (INDONESIA)    Scene 29

"Jadi abang tahu ini?" tanya Cheryl dengan suara nyaris hilang. Juna hanya mengangguk."Jadi kita saudara?" Juna hanya menanggapi dengan tertawa kecil.Cheryl lega, walau ia belum bisa menerima begitu saja semuanya. Bagaimana mungkin, orang yang ia naks

I Was Never YOURS (INDONESIA)    Scene 28

Cheryl tetaplah Cheryl. Keras kepala. Walau Delisha mati-matian menahan Cheryl agar jangan dekat dengan Juna, gadis itu tetap pada pendiriannya. Cheryl tak terlalu mengharap Juna jadi kekasihnya. Dekat dengan Juna dan lelaki itu tersenyum padanya setiap saat tanpa ada unsur paksaan menj

Bab Lainnya
Unduh Buku
GoodNovel

Unduh Buku Gratis di Aplikasi

Unduh
Cari
Pustaka
Pencarian
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Cerita Pendek
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
MenulisKeuntungan PenulisLomba
Genre Populer
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Hubungi kami
Tentang kamiHelp & SuggestionBisnis
Sumber
Unduh AplikasiKeuntungan PenulisKebijakan KontenKata kunciPencarian PopulerUlasan bukuFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Komunitas
Facebook Group
Ikuti kami
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Syarat Penggunaan|Kebijakan Privasi