Download the book for free
4. Devano Abraham
Author: MikaArayuAuthor Pov
"Welcome to the my land, Mrs Devil...."
Dev, cowok itu menunjukkan seringaian iblisnya. Berharap gadis di hadapannya memiliki rasa takut karena melihatnya di depan mata. Namun sepertinya, Hanna tidak gentar melihat salah satu amunisi yang Dev tunjukkan.
Alih-alih takut, gadis di hadapannya justru malah mengangkat dagu berani menatap Dev sengit. Seperti apapun keadaannya, Hanna memang tidak akan pernah takut pada musuh bebuyutannya itu. Bahkan dihadapkan dengan seribu orang semacam Dev pun, Hanna akan sanggup meladeninya.
Dev menarik kembali rentangan tangannya. Ia memajukan lagi langkahnya hingga kini tubuh tegapnya berada tepat di hadapan Hanna. Gadis itu harus sedikit menengadah karena tubuh Dev lebih tinggi darinya. Maklum, tubuh Hanna yang mungil hanya mampu mencapai bahu si cowok itu saja.
"Selamat datang di Bimantara. Gue harap, lo akan betah ya bersekolah di sini," tukas Dev tak lepas dari seringaian khasnya. Sementara Hanna, kedua tangannya justru sudah terkepal kuat di masing-masing sisi tubuh.
Betah pala lo! dumel Hanna dalam hati.
Ingin sekali rasanya ia menghajar cowok menyebalkan itu, tapi lagi-lagi Hanna harus bersabar sampai saatnya tiba. Tapi kapan? Entahlah. Hanya Hanna dan Tuhan saja yang bisa menentukan.
---
Saruna Bakti? Ya. Sekolah elite yang sudah lama menjadi sekolahan musuh bebuyutannya. Tapi itu dulu, karena mulai hari ini, musuhnya itu justru malah berada di dalam daerah kekuasaannya.
Keberuntungan yang sangat menyenangkan bukan?
Saat mendengar Hanna telah dipindahalihkan ke Bimantara, Dev awalnya sedikit tidak percaya. Akan tetapi, ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Dev pun akhirnya percaya kalau takdir indah yang Tuhan berikan itu memang tidak pernah main-main. Kehadiran gadis mungil itu sepertinya akan membuat hari-hari Dev lebih bersemangat dan menyenangkan. Keberadaan Hanna di sekolah yang sama, membuat Dev terus tersenyum puas tanpa bosan.
Meskipun berbeda angkatan, tapi itu bukan sebuah masalah bagi seorang Dev. Dengan adanya gadis itu, Dev merasa dunianya akan jauh lebih bersinar.
"Bos?" Dev tersadar dari pikirannya, ia lantas menoleh ke belakang.
Panca. Salah satu kaki tangannya setelah Adam, dia mencondongkan sedikit badannya ke depan. Mulutnya mendekati telinga Dev, ia pun membisikkan sesuatu pada pimpinan geng yang diikutinya itu.
"Keadaan Adam udah membaik. Apa lo mau nengok ke rumahnya?" seperti itulah bisikan Panca.
Dev langsung berbalik setengah badan. Itu kabar baik untuknya!
Tanpa mempedulikan guru sejarah yang tengah menerangkan di depan kelas, Dev pun berniat untuk mencari tahu lebih jelas perihal berita yang Panca sampaikan. Dev sangat antusias ingin mendengarkan kelanjutan kabar baik yang Panca ungkapkan sesaat lalu.
"Terus, apa dia udah boleh dijenguk?" tanya Dev, sepertinya dia tidak sabar ingin melihat keadaan partner sehidup-sematinya itu.
Panca mengangguk, "Menurut kabar dari Okan sih, katanya Adam udah bisa dijenguk. Orangtuanya juga ngebolehin kita dateng ke rumah sakit tempatnya dirawat," ujar Panca detail.
Senyuman lega pun tersungging di bibir Dev. "Baguslah, pulang sekolah nanti kita rame-rame jengukin Adam. Sekalian ada yang mau kita bahas di sana!" intruksi Dev serius. Panca mengangguk. Tapi detik selanjutnya, pandangannya terarah lurus ke belakang Dev.
"Kenapa lo?" tanya Dev mengernyit.
Belum sempat Panca menjawab, sebuah tepukan ringan sudah mendarat di pundaknya. Dev spontan berbalik dan mendapati Shena, guru sejarahnya sedang berkacak pinggang dengan tatapan berang menghunus tajam.
"Devano Abraham...." geram wanita berambut sepundak itu.
Dev pun memberikan cengiran lebarnya tanpa merasa berdosa sama sekali. "Iya, Bu? Saya hadir di depan Ibu," jawabnya santai tanpa beban.
"Perhatikan ke depan atau kamu saya keluarkan sekarang juga!" perintah Shena memberikan pilihan.
Tanpa rasa takut, Dev mengerutkan kening seolah berpikir. Sejurus kemudian, ia pun memamerkan deretan giginya kembali yang putih bersih tanpa noda--kayak tagline iklan di tv, pfft.
"Saya pilih option pertama dong, Bu. Kan, saya anak baik. Hehe...." lontarnya enteng, seenteng mencomot gorengan Mang Dudi di kantin sekolah.
Mendengar jawaban ringan sejenis yang Dev utarakan, Shena pun menghela napas. Sejujurnya, ia sudah sangat lelah dalam menghadapi kelakuan murid seperti Dev, namun apa boleh buat? Shena hanya bisa mengusap muka tanpa mampu bertindak lebih lanjut.
---
Tak lupa, anak buah yang lainnya pun segera dikabari oleh Panca. Dev berniat mengajak mereka semua untuk menjenguk Adam. Sayangnya, hanya sebagian saja yang bisa ikut, karena katanya yang lain sedang ada urusan pribadi yang tidak bisa mereka batalkan. Dev pun memaklumi.
"Semuanya udah kumpul?" tanya Dev pada Panca.
Yang ditanya pun mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mengabsen siapa saja yang akan ikut bersama Dev ke rumah sakit. Setelah yakin dengan hitungannya, Panca lantas kembali melihat Dev.
"Semuanya udah lengkap, Bos. Ada 15 orang yang akan ikut," ujar Panca.
Dev mengangguk,"Oke, lebih baik kita berangkat sekarang!" komando Dev.
Dan ketika deru mesin dari harley davidson hitam milik Dev sudah berbunyi, anak buahnya pun serentak ikut menghidupkan mesin motornya masing-masing.
Perjalanan dipimpin Dev, semuanya turut mengikuti dari belakang. Menimbulkan suara bising mesin motor yang memekakkan telinga seluruh penghuni Bimantara yang baru saja muncul dari koridor.
"Ya ampun! Berisik banget sih kayak di arena balapan," komentar Hanna kesal sekeluarnya ia dari koridor.
"Udah biasa, Han...." sahut Bintang terkekeh.
"Tapi bikin telinga gue congean nih kalo kayak gitu caranya!" keluh Hanna gak terima sehingga membuat bibirnya mengerucut sebal.
Bintang hanya geleng-geleng sembari mengusap punggung Hanna. Bagi Bintang dan murid Bimantara lainnya, hal seperti itu sudah menjadi makan siang rutin yang harus diterima oleh telinga mereka.
Jika ada yang berani menegur atau apapun itu, maka hidupnya akan dibuat tak tenang oleh pentolan Bimantara yang terkenal dengan seringai iblisnya. Siapa lagi kalau bukan Devano Abraham. Cowok tampan sejuta pesona yang mampu membius kaum hawa dalam sekejap mata.
----
Pasca dihajar dan dibikin KA-O oleh gadis semungil Hanna, kondisi Adam pun akhirnya membaik. Meskipun belum bisa dikatakan sembuh, tapi setidaknya Adam sudah melewati masa rawannya.
"Jadi, si cewek iblis itu sekolah di Bimantara?"
Dev mengangguk, saat ini dia sedang duduk di kursi sisi kanan ranjang Adam. Sementara Panca berdiri santai di belakang Dev. Anggota yang lainnya? Mereka berjaga-jaga di luar ruangan dan separuhnya lagi izin pulang karena ada urusan mendadak.
Adam merasa tersanjung karena kawan-kawannya menyempatkan diri untuk menjenguknya. Meskipun tidak lama, tapi Adam sangat bersyukur memiliki teman yang solid seperti mereka. Terutama Devano, sahabat karibnya sejak di bangku SMP.
Mendengar kabar Hanna pindah sekolah ke Bimantara. Tangan kanan Adam yang gak dililit selang infus tampak mengepal. Dia bersumpah untuk membalas perlakuan gadis itu jika sudah sembuh nanti.
"Lo gak usah khawatir, Dam ... soal cewek itu biar gue sama Panca aja yang urus. Lo fokus aja dulu sama tahap penyembuhan lo!" ujar Dev seolah tahu apa yang tengah dipikirkan Adam.
Adam lantas mengangguk pelan, dia belum bisa bergerak sesuka hati. Badannya masih sakit bahkan seperti nyaris remuk, kepalanya dibebat perban dan kaki kanannya digips akibat terkena tendangan maut dari Hanna saat tawuran tempo hari. Menyebabkan tulang dalamnya sedikit retak dan menggeser.
"Terus apa rencana lo, Dev?" tanya Adam menatap, dia adalah satu-satunya anggota bandit yang diperbolehkan memanggil Dev tanpa embel-embel 'Bos'.
Dev tercenung beberapa saat. Jemarinya mengetuk dagu selagi berpikir. Sampai saat ini, Dev juga belum tahu apa yang akan ia lakukan terhadap gadis tangguh seperti Hanna. Di matanya, Hanna itu adalah iblis cantik yang cukup sulit untuk ditaklukan. Apalagi perihal hati, rasa benci yang tertanam di hati Hanna, seakan sudah cukup tebal menyelimuti sisi lembut hatinya.
"Untuk masalah itu gue belum punya ide apapun. Tapi lo jangan ikut mikir ... biar gue yang atur semua. Lo harus sembuh, karena tanpa kehadiran lo ... formasi kita gak lengkap, Bro!" tutur Dev tulus.
Adam menyungging senyum tipis di bibir. Untuk kesekian kalinya, Adam kembali bersyukur bersahabat dengan Dev.
---
Hanya satu orang yang memanggilnya dengan sebutan itu. Dev menoleh ke arah sofa dan langkahnya langsung belok menghampiri sang adik manisnya. Zola Abraham.
"Yes, My Little sist...." sahut Dev seraya mengecup kening Zola penuh sayang.
Dev pun mengempaskan bokong ke atas sofa, tepat di sebelah Zola yang kayaknya lagi asyik nonton acara televisi yang kurang Dev mengerti.
"Zola dengar, katanya Hanna dipindahin papanya ke sekolah Kak Deva, ya?" lontar Zola penasaran.
Dev menoleh menatap adiknya, "Kamu tau dari siapa?"
"Emm ... dari Kak Milo," jawab Zola pelan.
Dev menegakkan duduknya seketika. Dia memiringkan duduknya agar bisa menghadap Zola. "Milo? Kamu dideketin dia?" selidik Dev menatap tajam.
Zola menggeleng sedikit takut, pasalnya kakaknya ini sangat benci pada kakak Hanna. Jadi, Zola harus hati-hati dalam membahas soal Milo--lelaki yang disukainya selama ini.
"Dek, jawab dong!" desak Dev tak sabar.
"Eng--enggak kok, Kak. Kak Milo gak deketin Zola. Cuma tadi kebetulan aja kita papasan di kantin, terus Zola tanya duluan deh Kak Milo nya ... bagaimana pun juga, Zola juga kan pengin tau kabar tentang sahabat Zola, Kak...." jelas Zola jujur.
Mendengarnya, Dev pun menghela napas lega. Dia hanya tidak suka kalau sampai adik satu-satunya yang dia sayangi didekati oleh Milo. Walaupun Milo adalah kakak dari Hanna, tapi Dev sudah terlanjur tidak suka pada lelaki itu. Tersimpan dendam di dalam hatinya untuk Milo.
"Kak Deva, kok pertanyaan aku yang tadi gak dijawab sih?" rengek Zola mengguncang lengan Devano.
"Emangnya Hanna gak bilang langsung sama kamu?" tanya balik Dev menoleh lagi.
Zola menggeleng, "Enggak. Zola nanya lewat line sama WA juga Hanna gak ngebales...."
"Iya, Kakak lihat tadi di sekolah Hanna emang pindah ke Bimantara. Kakak aja sampe kaget pas tau dia dipindahin ke sekolah Kakak...." cetus Dev tersenyum miring. Lantas, ia merebahkan kepala ke kepala sofa sambil menatap langit-langit ruang tengah yang digantungi lampu hias.
Hanna, cewek itu susah banget gue taklukin.
Dev membuang napas kasar, ia memejamkan mata sambil berharap rasa lelah segera lenyap dari dalam dirinya. Dan cowok itu pun berdoa, semoga suatu saat nanti rasa benci di hati cewek itu bisa terkupas secara perlahan.
"Dengan begitu ... i will got you, Mrs Devil!" bisiknya bertekad, membuat Zola mengernyit heran ketika tanpa sengaja melihat kakaknya seperti bergumam sendiri.
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Hanna (Bukan Gadis Biasa) 18. Sebuah Tantangan
Jreng~ Aku di sini Di atas awanAku tertawan paras cantik rupawanTak jemu-jemu, aku memandangIngin ku merayu dengarkan aku berlagu....Dev melantunkan sebuah lagu dengan petikan gitar di tangan. Saat ini dia sedang duduk di atas kursi tepat di tengah lapangan yang sepertinya memang sudah dipersiapkan secara matang sebelum memanggil semua penonton yang masih sesama penghuni SMA BIMANTARA juga. Pekikan tertahan dari para siswi penggemar pentolan Bimantara itu tak dapat disembunyikan lagi. Mereka semua bahkan merasa kalau saat ini Dev sedang menyan
Hanna (Bukan Gadis Biasa) 17. Pengacau
Bel jam istirahat berdering nyaring. Selepas BuAnke mengakhiri pembahasan fisikanya selama dua jam penuh, beliau pun kini mengemasi peralatan mengajarnya dan melenggang meninggalkan kelas 11 IPA 1. Seketika, semua murid pun ikut berhamburan keluar kelas. Ada juga beberapa orang yang hanya duduk diam di bangku masing-masing. Entah karena malas kemana-mana atau bisa jadi mereka sedang bokek. “Hanna, kamu mau ke kantin?” tanya Bintang seusai mengemasi alat tulisnya ke dalam laci meja. Hanna lantas mengangguk, ia pun baru saja selesai merapikan buku dan bolpoinnya ke dalam laci meja juga, “Mau dong. Lo gimana? Kalo mau ke kantin juga, kita bareng aja sekalian....” ajak Hanna semangat.
Hanna (Bukan Gadis Biasa) 16. Panca
AUTHOR POV"ARGHTT!!" Panca mengerang kesakitan ketika rusuknya diinjak kasar oleh cowok berambut spike yang berseragam berbeda dengan dirinya.Setelah melewati perkelahian sengit yang membuat dirinya harus kalah, kini Panca pun terkapar tak berdaya di bawah kaki si penyerang."Kenapa? Sakit, eh?" Tanya cowok berambut spike itu semakin menekan rusuknya dengan ujung sepatu sport yang ia pakai, sehingga membuat Panca kembali menjerit tertahan tak bisa melawan."Uhuk uhuk," dia terbatuk, sakitnya bukan main ia rasakan.Sungguh! Dia memerlukan bantuan seseorang saat ini. Setidaknya Dev, ya Panca membutuhkan Dev di saat seperti ini."Cih! Ini bahkan gak ada apa-apanya dibanding sama penghianatan lo terhadap gue," ujarnya seraya membungkuk dan kembali mencengkeram kerah seragam Panca yang sudah dinodai bercak darah.
Hanna (Bukan Gadis Biasa) 15. Flashback
Author Pov Kota kembang, Bandung.Pagi itu terlihat dua anak manusia tengah berboncengan di atas motor matic sang lelaki yang berperan sebagai pengendara. Sementara seorang gadis berambut panjang sebahu berada di belakangnya sebagai penumpang setia di setiap paginya.Selain hari Sabtu dan Minggu, setiap pagi sebelum jarum jam bertengger ke angka 7, dua insan manusia berseragam putih biru itu selalu bersama-sama menaiki matic hitam-putih milik sang lelaki. Berangkat bersama menuju sekolah swasta elite menengah pertama yang terletak di pusat kota Bandung."Han, sepulang sekolah nanti kamu ada acara gak?" Teriak lelaki bernama belakang Abraham itu pada gadis yang duduk di belakangnya."Kayaknya enggak deh, emang kenapa?" Tanya balik Hanna, gadis berambut lebat sebahu itu.Devano Abraham, dia mengulas senyum kecil di balik helm yang membungku
Hanna (Bukan Gadis Biasa) 14. Cowok Kampret
Dev Pov Gue cuma berusaha buat pasang muka biasa saja di depan Hanna. Setelah insiden gue cium dia di depan warung tadi dan berujung dengan sorakan menggoda dari sebagian pengunjung warung angkringan ini, gue akhirnya berhasil juga bikin Hanna jadi cewek penurut. Paling enggak, dia gak berani menentang perkataan gue lagi kayak di awal. Muehehe.Dengan tundukan kepala dan muka merah padamnya yang menahan malu bercampur emosi, dia pun gak menolak lagi pas gue ajak dia buat tetep makan di warung angkringan ini. Gak ada pilihan lain. Karena sebelumnya, gue sudah buat sedikit kehebohan di lahan orang. Jadi, mana mungkin kalau kita langsung pergi gitu aja, kan?And then, saat ini gue lagi memandang cewek mungil bermuka galak itu yang lagi melahap makanannya penuh napsu. Gue rasa, dia membayangkan makanan itu dengan wujud gue deh. Soalnya, pandangan tajam bercampur sorot pembunuh yang ia tujukan gak p
Hanna (Bukan Gadis Biasa) 13. Warung Angkringan
Langit biru sudah bergantikan senja. Jarum jam sudah bertengger di angka 6 petang. Gadis berambut sebahu itu masih setia berjalan sendiri menelusuri trotoar jalanan yang dilalui para pejalan kaki. Sejumlah mobil, motor dan sebagainya berlalu lalang di arealnya masing-masing. Tapi hal itu tidak membuat Hanna tertarik sama sekali, dia justru sedang terlarut dalam lamunannya.Lamunan kecil yang berkaitan dengan masa lalunya, di mana dulu dia begitu akrab dengan lelaki itu. Saking akrabnya, dia sampai tidak mau berjauhan barang seinci pun dengan partner incrime-nya tersebut semasa masih tinggal di kota kembang dulu.Namun rupanya, keakraban yang terjalin di antara keduanya malah membuat sang partner menyalahartikan kedekatan mereka saat itu. Dalam sekejap, hubungan persahabatan keduanya pun tercerai berai karena tindakan sang partner yang kelewat batas. Dan karena hal itu, Hanna pun menjadi ben
Hanna (Bukan Gadis Biasa) 12. Berkeliling Mall
Author Pov Dua pasang manusia itu kini tengah berjalan-jalan mengelilingi mall. Bintang yang didampingi Adam berjalan di depan dan Hanna yang dibarengi Dev memilih untuk berjalan di b
Hanna (Bukan Gadis Biasa) 11. Bertemu lagi?
Hanna Pov Aku dan Bang Milo sedang dalam perjalanan menuju rumah Juna. Beberapa saat yang lalu, aku dijemput Bang Milo di sekitar jalan yang tak jauh dari SMA Bimantara. Dan kini, mot
Hanna (Bukan Gadis Biasa) 10. Pembalasan Hanna
Dev Pov Gue berjalan menelusuri lorong sekolah. Kayak biasa, banyak cewek genit yang mencoba menyapa gue. Tapi, gue abaikan sapaan gak penting mereka. Pagi ini mood gue bener-bener lagi beranta
Hanna (Bukan Gadis Biasa) 9. Terperangkap di sarang iblis
Author PovTerdampar di sarang iblis. Di luar hujan deras. Berniat pulang pun tidak diizinkan. Alhasil? Hanna terdampar di kasur Queensize Zola yang berseprai motif cewek banget. Berbaring tengkurap
