loading
Home/ All /Hanna (Bukan Gadis Biasa)/3. Murid Pemberani

3. Murid Pemberani

Author: MikaArayu
"publish date: " 2020-10-15 00:46:18

Author POV

Hanna, gadis itu memang mudah akrab. Belum 2 jam dia menempati kelas barunya, tapi dia sudah pandai menarik perhatian teman barunya yang langsung menyapanya seolah sudah kenal lama.

Kebanyakan kaum cowok yang menyapanya. Tapi cewek-ceweknya juga lumayan banyak kok yang suka sama sosok Hanna. Meskipun ada beberapa spesies perempuan yang mendelik sinis dan iri sih, tapi Hanna gak peduli.

Bodo amat! Kalo kata Hanna.

Layaknya di Saruna Bakti, Hanna tetap menjadi murid baik hati dan low profil. Tapi ini baru hari pertama, di hari selanjutnya entah apa yang akan terjadi?

Cuman Hanna yang tahu apa yang akan dilakukannya nanti!

"Kamu mau ke kantin?" tawar Bintang, teman sebangku sekaligus teman baru untuknya.

Hanna menoleh, dia baru saja memasukkan peralatan tulisnya ke dalam laci meja selepas bel istirahat dibunyikan.

"Boleh. Kebetulan perut gue udah laper nih," angguk Hanna nyengir lantas beranjak dibarengi Bintang.

Dua gadis itu mulai melangkah meninggalkan kelas. Tepat di ambang pintu, langkahnya diadang oleh salah seorang cowok yang penampilannya begitu urakan.

"Hai, Manis ... ngomong-ngomong, kita belum kenalan," ucapnya sambil mengamati Hanna yang justru hanya balas menatapnya datar.

"Bias, kamu minggir deh! Jangan ganggu kita," cicit Bintang mengusir tapi cowok itu gak menanggapi.

Sudah Bintang duga.

Tatapannya tetap ia fokuskan kepada Hanna. Gadis cantik yang berhasil membuat matanya gak bisa fokus melihat objek lain di sekitar Hanna. It means, Bias tertarik sama Hanna.

"Gimana kalo kita ngantin bareng, Manis? Gue mampu traktir lo apapun yang mau lo makan nanti, asalkan elo--" kalimat Bias menggantung, matanya menelusuri tubuh mungil Hanna dengan sorot nakal, "... Mau kencan sama gue sepulang sekolah nanti!"

Duagh.

Hanna menendang kemaluan milik Bias tanpa diduga siapa pun. Cowok itu langsung mengaduh dan memegangi wilayah fatalnya. Rasa ngilu dan mual langsung menjalar di sekujur tubuh. Wajahnya bahkan terlihat memerah seperti orang yang sedang menahan sakit.

"Itu sebagai tanda perkenalan gue buat cowok mesum kayak lo!" sembur Hanna garang, lalu menarik Bintang melewati tubuh jangkung Bias yang masih membungkuk kesakitan.

Beberapa pasang mata saling melirik, bisik-bisik kian terdengar. Namun hal itu sama sekali tidak mengusik Bias yang masih mengerang kesakitan. Dia hanya fokus pada 'anu'nya yang baru saja ditendang kasar oleh si anak baru yang pemberani.

Sementara itu, Hanna dan Bintang tengah berjalan menuju kantin.

"Sumpah! Aku gak nyangka loh, Han ... kalo kamu bisa ngelakuin itu sama Bias," Bintang masih takjub menyaksikan pemandangan tadi.

Pasalnya, selama ini belum pernah ada kaum perempuan satu pun yang berani melawan Bias jika sedang dirayunya. Tapi Hanna, dengan statusnya sebagai murid baru justru gak merasa takut sama sekali untuk memberikan sedikit pelajaran pada si playboy mesum akut itu.

Kalo aja Hanna sekolah di sini sejak awal, mungkin cowok macam Bias bakalan pada tobat mainin cewek sesuka hati. Batin Bintang di tengah rasa kagumnya.

---

"Kok, kantin ini sepi ya?" tanya Hanna di tengah suapan terakhir. Seingatnya, kantin di sekolah lamanya gak pernah sepi jika waktu istirahat tiba.

Maklumlah, kantin Saruna Bakti kan selain tempatnya luas banget dan bikin nyaman semua pengunjung, jajanannya juga lezat-lezat. Jadi gak ada seorang siswa pun yang mampu menahan hasrat ingin ngantinnya. Apalagi kalo pas kebetulan ada siswa dermawan yang mau traktir, kantinnya pasti langsung didrop deh.

Uh! Hanna jadi kangen sama suasana kantin Saruna Bakti.

Untuk mengenyahkan rasa lapar, Hanna memesan gado-gado superlezat sesampainya di kantin tadi. Biar gak selezat bikinan mpok Zaitun di Saruna Bakti, tapi Hanna cukup puas kok dengan bumbu racikan si pengolahnya.

Bintang yang anteng mengaduk-aduk es campur pun mendongak, "Maksud kamu?" 

Hanna mengelap mulut dengan tisu yang tersedia. Setelah menyingkirkan piring kosong tak bersisa dari hadapannya ia pun mengedarkan pandangannya sekilas.

"Kantin ini terlalu sepi buat ukuran sekolah elite. Emangnya anak-anak yang lain pada makan di mana kalo jam istirahat kayak gini?" tukas Hanna sekaligus bertanya.

Bintang pun menghentikan kegiatan mengaduk es campurnya. 

"Oh, dari dulu juga kantin ini emang selalu sepi kayak gini kok, Han. Cuman beberapa orang aja yang mau makan ke sini. Tapi aku lebih suka makan di sini daripada di kantin utama. Selain suasananya yang adem, makan di sini pun gak akan direcoki kakak-kakak kelas yang suka gangguin juniornya." tutur Bintang tersenyum, sementara Hanna mengernyit bingung.

Jadi ada kantin lagi selain ini. Pantas aja di sini lebih sepi, mungkin kebanyakan siswa makan di kantin utama kali ya. 

"Emangnya kenapa?" tanya Bintang menatap teman barunya itu.

"Ah? Enggak," gelengnya, "Lain kali, lo temenin gue makan di kantin utama juga ya!" pinta Hanna dan sukses membuat raut Bintang menegang mendengarnya.

Temenin Hanna makan di kantin utama? Itu sama aja kayak--

"Hei! Lo kenapa?" tegur Hanna menepuk bahu Bintang.

Gadis itu pun tersadar, "Ah? Em ... enggak. Ya udah, kita balik ke kelas aja, yuk! Kayaknya bentar lagi juga jam istirahatnya abis...." ajak Bintang cepat sebelum Hanna bertanya-tanya lagi soal fasilitas kantin utama yang enggan dibahasnya.

---

Suasana kelas 11 Ipa 1 sangat hening dan mencekam. Itu semua akan terjadi jika jam pelajaran matematika dimulai. Bukan karena pelajarannya yang terlalu rumit dijabarkan, melainkan efek bawaan guru yang mengajarnya.

Hanna cukup jengah dengan keadaan kelas yang sunyi seperti di gedung tua. Dia pun merasa muak dengan cara mengajar guru matematikanya yang teramat monoton. Hal itu sukses membuat Hanna terus menguap dan tak bisa menahan rasa kantuk yang menyerang.

Dapat dipastikan, mata Hanna sangat berat sekarang. Kalau ada kasur ajaib di dalam kelas, mungkin Hanna adalah orang pertama yang akan menempatinya. Hanna gak bisa membiarkan rasa ngantuknya semakin mendera.

"Pak!" seru Hanna mengacungkan tangan.

Pria tambun berkumis baplang di depan kelas pun menoleh seraya menatap Hanna tajam.

"Ada apa?" sahut Pak Isak--nama guru itu--ketus.

Hanna langsung berdiri di tempatnya. Bintang mendongak, mencoba untuk memperingatkan teman sebangkunya itu untuk duduk kembali. Tapi Hanna tetaplah Hanna, dia seakan gak mau ambil pusing dengan cara mengabaikan peringatan yang Bintang tunjukkan.

"Cara mengajar Bapak bikin saya cepet ngantuk, Pak! Boleh izin ke toilet?" izin Hanna terang-terangan.

Semua mata tertuju ke arahnya. Mereka takjub, baru kali ini ada murid yang berani berkata terang-terangan seperti itu di jam pelajaran Pak Isak yang terkenal dengan kegalakannya.

"Toilet?" Pak Isak membeo, dia menaikkan sebelah alis tak percaya "Tidak! Saya tidak mengizinkan kamu pergi dari kelas ini," larangnya tegas.

"Kenapa? Saya cuma mau cuci muka saja, apa salahnya? Gak ada UUD larangannya juga saya pikir!" bantah Hanna mulai kesal.

Dia ingin sekali mencabuti kumis baplangnya secara paksa.

"Saya bilang tidak, ya tidak! Cepat duduk atau saya--"

"Makasih atas izinnya!" potong Hanna berani, lalu dia melenggang menuju pintu keluar. Membuat semua murid berdecak takjub tak percaya. 

Namun hal itu tidak berlaku untuk gurunya, alih-alih takjub dia malah murka karena larangannya sudah ditentang oleh murid baru tersebut.

"JANGAN HARAP KAMU BISA MASUK LAGI DI PELAJARAN SAYA ANAK BARU!" teriak Pak Isak menggelegar namun tak dihiraukan oleh Hanna.

Gadis itu malah berjalan santai meninggalkan kelas. Sampai akhirnya ia berhenti sendiri sambil menepuk jidat.

"Mampus! Gue kan gak tau arah toilet di sebelah mana," rutuknya sesaat, tapi dia pun mengangkat bahu seraya melanjutkan langkah.

Hanna bukan orang bisu, dia bisa bertanya pada murid lain yang berkeliaran di luar kelas.

---

Hanna merasa segar setelah air dingin di dalam keran berhasil mengusir rasa kantuknya. Dia menyibakkan rambut sebahunya sekilas. Kini dia pun berjalan meninggalkan toilet, berniat untuk kembali ke kelas meski sebelumnya sudah dilarang untuk mengikuti pelajaran Pak Isak lagi.

Peduli amat! Hanna masuk buat menyerap ilmunya, kalo pun gurunya itu marah dan melaporkan ke kepala sekolah. Hanna tinggal membela diri saja dan berbicara sesuai fakta yang ada. Toh, Pak Fero juga akan mengerti jika sudah mendengarkan penjelasan Hanna.

Di tengah langkah menuju kelas, tiba-tiba seseorang dengan berani menarik tangan Hanna dan menyeret tubuh mungilnya ke belakang gedung sekolah. Sampai di sana, tangan Hanna pun dilepas.

"Apa-apaan sih--ELO?" mata Hanna membulat tatkala melihat sosok yang amat sangat dibencinya selama ini.

Dia Devano, pentolan Bimantara yang memiliki wajah tampan pujaan para kaum hawa di setiap penjuru Bimantara.

"Hai?" tangan Dev melambai, "Gue pikir kabar yang gue denger itu cuman gosip tanpa bukti, tapi setelah gue berhadapan langsung sama lo ... sekarang gue baru percaya dan...." Dev menggantungkan kalimatnya.

Ia memundurkan posisinya satu langkah sebelum akhirnya ia kembali berucap, "....Welcome to the my land, Mrs Devil!" diiringi dengan gerakan kedua tangan yang merentang lebar.

Hanna meludah muak melihatnya. Darahnya mulai mendidih naik ke ubun-ubun. Apalagi senyuman iblis yang Dev pamerkan, menyebabkan Hanna untuk ingin sekali ia menonjok rahang cowok itu sampai mengeluarkan darah segar bercucuran. 

Tapi Hanna mencoba untuk meredam keinginannya, dia harus bersabar. Ini bukan waktu yang tepat untuk melancarkan serangannya!

Kita tunggu tanggal mainnya. Gue pastiin, muka sok tampan lo itu bakal susah buat sekadar tersenyum lagi sama siapa pun! Tunggu aja pembalasan gue, iblis sialan.

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Hanna (Bukan Gadis Biasa)   18. Sebuah Tantangan

Jreng~ Aku di sini Di atas awanAku tertawan paras cantik rupawanTak jemu-jemu, aku memandangIngin ku merayu dengarkan aku berlagu....Dev melantunkan sebuah lagu dengan petikan gitar di tangan. Saat ini dia sedang duduk di atas kursi tepat di tengah lapangan yang sepertinya memang sudah dipersiapkan secara matang sebelum memanggil semua penonton yang masih sesama penghuni SMA BIMANTARA juga. Pekikan tertahan dari para siswi penggemar pentolan Bimantara itu tak dapat disembunyikan lagi. Mereka semua bahkan merasa kalau saat ini Dev sedang menyan

Hanna (Bukan Gadis Biasa)   17. Pengacau

Bel jam istirahat berdering nyaring. Selepas BuAnke mengakhiri pembahasan fisikanya selama dua jam penuh, beliau pun kini mengemasi peralatan mengajarnya dan melenggang meninggalkan kelas 11 IPA 1. Seketika, semua murid pun ikut berhamburan keluar kelas. Ada juga beberapa orang yang hanya duduk diam di bangku masing-masing. Entah karena malas kemana-mana atau bisa jadi mereka sedang bokek. “Hanna, kamu mau ke kantin?” tanya Bintang seusai mengemasi alat tulisnya ke dalam laci meja. Hanna lantas mengangguk, ia pun baru saja selesai merapikan buku dan bolpoinnya ke dalam laci meja juga, “Mau dong. Lo gimana? Kalo mau ke kantin juga, kita bareng aja sekalian....” ajak Hanna semangat.

Hanna (Bukan Gadis Biasa)   16. Panca

AUTHOR POV"ARGHTT!!" Panca mengerang kesakitan ketika rusuknya diinjak kasar oleh cowok berambut spike yang berseragam berbeda dengan dirinya.Setelah melewati perkelahian sengit yang membuat dirinya harus kalah, kini Panca pun terkapar tak berdaya di bawah kaki si penyerang."Kenapa? Sakit, eh?" Tanya cowok berambut spike itu semakin menekan rusuknya dengan ujung sepatu sport yang ia pakai, sehingga membuat Panca kembali menjerit tertahan tak bisa melawan."Uhuk uhuk," dia terbatuk, sakitnya bukan main ia rasakan.Sungguh! Dia memerlukan bantuan seseorang saat ini. Setidaknya Dev, ya Panca membutuhkan Dev di saat seperti ini."Cih! Ini bahkan gak ada apa-apanya dibanding sama penghianatan lo terhadap gue," ujarnya seraya membungkuk dan kembali mencengkeram kerah seragam Panca yang sudah dinodai bercak darah.

Hanna (Bukan Gadis Biasa)   15. Flashback

Author Pov Kota kembang, Bandung.Pagi itu terlihat dua anak manusia tengah berboncengan di atas motor matic sang lelaki yang berperan sebagai pengendara. Sementara seorang gadis berambut panjang sebahu berada di belakangnya sebagai penumpang setia di setiap paginya.Selain hari Sabtu dan Minggu, setiap pagi sebelum jarum jam bertengger ke angka 7, dua insan manusia berseragam putih biru itu selalu bersama-sama menaiki matic hitam-putih milik sang lelaki. Berangkat bersama menuju sekolah swasta elite menengah pertama yang terletak di pusat kota Bandung."Han, sepulang sekolah nanti kamu ada acara gak?" Teriak lelaki bernama belakang Abraham itu pada gadis yang duduk di belakangnya."Kayaknya enggak deh, emang kenapa?" Tanya balik Hanna, gadis berambut lebat sebahu itu.Devano Abraham, dia mengulas senyum kecil di balik helm yang membungku

Hanna (Bukan Gadis Biasa)   14. Cowok Kampret

Dev Pov Gue cuma berusaha buat pasang muka biasa saja di depan Hanna. Setelah insiden gue cium dia di depan warung tadi dan berujung dengan sorakan menggoda dari sebagian pengunjung warung angkringan ini, gue akhirnya berhasil juga bikin Hanna jadi cewek penurut. Paling enggak, dia gak berani menentang perkataan gue lagi kayak di awal. Muehehe.Dengan tundukan kepala dan muka merah padamnya yang menahan malu bercampur emosi, dia pun gak menolak lagi pas gue ajak dia buat tetep makan di warung angkringan ini. Gak ada pilihan lain. Karena sebelumnya, gue sudah buat sedikit kehebohan di lahan orang. Jadi, mana mungkin kalau kita langsung pergi gitu aja, kan?And then, saat ini gue lagi memandang cewek mungil bermuka galak itu yang lagi melahap makanannya penuh napsu. Gue rasa, dia membayangkan makanan itu dengan wujud gue deh. Soalnya, pandangan tajam bercampur sorot pembunuh yang ia tujukan gak p

Hanna (Bukan Gadis Biasa)   13. Warung Angkringan

Langit biru sudah bergantikan senja. Jarum jam sudah bertengger di angka 6 petang. Gadis berambut sebahu itu masih setia berjalan sendiri menelusuri trotoar jalanan yang dilalui para pejalan kaki. Sejumlah mobil, motor dan sebagainya berlalu lalang di arealnya masing-masing. Tapi hal itu tidak membuat Hanna tertarik sama sekali, dia justru sedang terlarut dalam lamunannya.Lamunan kecil yang berkaitan dengan masa lalunya, di mana dulu dia begitu akrab dengan lelaki itu. Saking akrabnya, dia sampai tidak mau berjauhan barang seinci pun dengan partner incrime-nya tersebut semasa masih tinggal di kota kembang dulu.Namun rupanya, keakraban yang terjalin di antara keduanya malah membuat sang partner menyalahartikan kedekatan mereka saat itu. Dalam sekejap, hubungan persahabatan keduanya pun tercerai berai karena tindakan sang partner yang kelewat batas. Dan karena hal itu, Hanna pun menjadi ben

Hanna (Bukan Gadis Biasa)   12. Berkeliling Mall

Author Pov Dua pasang manusia itu kini tengah berjalan-jalan mengelilingi mall. Bintang yang didampingi Adam berjalan di depan dan Hanna yang dibarengi Dev memilih untuk berjalan di b

Hanna (Bukan Gadis Biasa)   11. Bertemu lagi?

Hanna Pov Aku dan Bang Milo sedang dalam perjalanan menuju rumah Juna. Beberapa saat yang lalu, aku dijemput Bang Milo di sekitar jalan yang tak jauh dari SMA Bimantara. Dan kini, mot

Hanna (Bukan Gadis Biasa)   10. Pembalasan Hanna

Dev Pov Gue berjalan menelusuri lorong sekolah. Kayak biasa, banyak cewek genit yang mencoba menyapa gue. Tapi, gue abaikan sapaan gak penting mereka. Pagi ini mood gue bener-bener lagi beranta

Hanna (Bukan Gadis Biasa)   9. Terperangkap di sarang iblis

Author PovTerdampar di sarang iblis. Di luar hujan deras. Berniat pulang pun tidak diizinkan. Alhasil? Hanna terdampar di kasur Queensize Zola yang berseprai motif cewek banget. Berbaring tengkurap

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy