Download the book for free
04. Di Sebuah Bar, Keduanya Bertemu
Author: Psychopath TenderJulia turun dari motor besar milik Jacob dengan hati-hati. Pertama kali baginya naik ke boncengan motor seseorang. "Terima kasih banyak untuk hari ini," ucap sang gadis sambil tersenyum begitu kakinya sudah berpijak di tanah.
Jacob melepas helmnya, hanya untuk menatap wajah bersemu Julia yang terlihat begitu menggemaskan, ia tertawa. "Sama-sama," ucapnya seraya menatap sang gadis. Ia menaruh helmnya dengan posisi yang kurang tepat.
Julia tersenyum, tetapi begitu melihat helm sang pria berguling karena tak ditaruh dengan baik, ia refleks berseru, "Ah, AWAS! Helmmu hampir!" Julia buru-buru menangkap pelindung kepala Jacob tersebut sebelum menyentuh tanah beraspal yang keras. Ia lalu menaruhnya di tangki bensin yang berada di depan sang lelaki dengan hati-hati.
"Oh! Terima kasi—" Ucapan Jacob terputus saat Julia yang menundukkan kepalanya terpekik pelan, saat ujung dari tusuk rambutnya tersangkut di jaket hitam sang pria.
Entah karena apa benda berujung sebuah permata hijau atau batu giok itu bisa tersangkut di sana. Benar-benar merepotkan saja. Lain kali, Julia tak mau lagi memakai tusuk rambut yang menganggu seperti ini. Lagipula, ia tak suka bentuknya. Kuno.
"Sebentar, aku akan coba melepasnya," ucap Jacob.
Julia hanya diam saja saat pria dengan tinggi sekitar 183 cm itu menyentuh puncak kepalanya dengan lembut. Detak jantung sang gadis terpompa begitu cepat di dalam sana. Julia hanya bisa diam ketika Jacob kembali bersuara.
"Ah, tunggu sebentar, aku sedikit kesulitan menariknya," ucap Jacob sekali lagi, takut jika Julia merasa tak nyaman dengan posisi keduanya yang terasa begitu dekat.
"Sudah selesa—ah ...." Ucapan Jacob kembali terhenti saat kedua matanya menyaksikan helaian cokelat panjang milik Julia jatuh tergerai dengan indahnya.
Tusuk rambut Julia yang tadi Jacob lepas, rupanya membuat rambut sang gadis langsung jatuh dan membingkai wajah cantiknya yang berbentuk oval.
Tersentak karena kaget, membuat Julia buru-buru menutup wajahnya, merasa malu karena rambutnya terlihat berantakan di depan laki-laki yang ia sukai. Padahal dia sudah berdandan dengan rapi, agar terlihat menarik di pertemuan pertama mereka.
"Tidak, jangan menutup wajahmu," cegah Jacob sambil menangkap kedua tangan Julia, dan menurunkannya perlahan. Iris mata keduanya yang sama-sama berwarna cokelat gelap phn bertemu. Wajah mereka terasa begitu dekat. Bahkan Julia bisa merasakan embusan napas sang lelaki.
"Em, jujur ... aku lebih suka rambutmu yang tergerai bebas seperti ini." Jacob menurunkan lengan Julia secara perlahan. Tatapan keduanya masih terhubung dan tak terputus sedari tadi. Lelaki itu lalu tersenyum miring, bentuk wajahnya yang agak lonjong terlihat begitu tirus. "Kau terlihat lebih cantik."
Julia merasa napasnya tersendat di tenggorokan, pujian Jacob terngiang secara terus-menerus di dalam otaknya. Lelaki itu mengatakan bahwa Julia cantik, ia tidak sedang bermimpi, kan? Julia merasa senang sekali.
Gadis itu lalu menatap keseluruhan penampilan Jacob dan ia baru menyadari jika Jacob memakai anting magnet di telinga kanannya. Terlihat begitu tampan dan seksi.
Keduanya sama sekali tak mengubah posisi selama beberapa saat, hingga dering telepon masuk membuyarkan pikiran masing-masing. Julia refleks memalingkan wajah, tangan keduanya yang sudah terlepas membuat gadis itu menundukkan kepala. Sambil mengelus jejak sang lelaki yang tertinggal di lengannya.
Gadis itu hampir berpikiran untuk tidak akan pernah membersihkannya, tetapi itu hanya khayalannya semata.
Jacob terlihat buru-buru merogoh celananya, dan saat itu pula Julia tersenyum melihatnya. Rupanya telepon masuk tersebut berasal dari ponsel Jacob. "Dari siapa?" tanya Julia ingin tahu sambil mendekatkan wajah ke arah sang Youtuber idolanya.
Jacob yang sedang mengetik pesan karena teleponnya mati begitu ia hendak mengangkatnya, langsung terlonjak kaget saat Julia berbicara di sebelah wajahnya. Lagi-lagi napas keduanya begitu dekat.
"Ah, ini dari adik laki-lakiku. Dia memintaku untuk segera pulang dan menjaga rumah karena ia hendak pergi ke suatu tempat," jawab Jacob seraya menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
Julia terlihat tidak enak dengan Jacob, pria itu sampai dicari oleh adiknya, dan itu berarti ... Jacob sangatlah sibuk, pikir sang gadis. "Tak apa, kau pulang saja duluan. Kau sudah berbaik hati mengantarku ke dekat halte bus ini," jawabnya sambil tersenyum manis."
Jacob melirik sang gadis, sedikit terpana melihat Julia menyunggingkan senyum yang begitu menawan. Kemudian, akhirnya ia menghela napas pelan. "Harusnya aku mengantarkanmu sampai rumah, Julia. Bukan di sini," ucapnya tak enak hati.
"Ah, tak apa kok." Mendapat gelengan kepala dari Julia, membuat Jacob kembali menghela napas perlahan. Semoga gadis itu baik-baik saja. "Baiklah. Hati-hati di jalan ya," pesannya kepada sang gadis. "Aku pergi dulu."
"Ya, kau juga!" ucap sang gadis seraya melambai ke arah Jacob.
Julia tak pernah mendapatkan perlakukan istimewa dari lawan jenis sebelumnya, hatinya bimbang. Mereka berdua akan berpisah, dan entah mengapa ia tak rela pria itu pergi meninggalkannya begitu saja.
Apa ia harus jujur sekarang? Julia menggigit bibir bawahnya, suatu kebiasaan saat ia kebingungan atau dilanda perasaan cemas.
"Ja-Jacob! Tunggu sebentar!" seru Julia pada akhirnya. Ia telah mengambil keputusan yang akan menentukan kisah hidupnya. Pria yang dipanggil namanya oleh sang gadis menoleh, sebelum sempat mengenakan helm. "Ya?" sahutnya.
Julia menarik napas sebentar, lalu mengembuskannya kembali. Sebelum berkata dan mengutarakan semuanya, ia tatapi kedua mata Jacob dalam-dalam. Jacob yang sedari tadi memperhatikan, hanya diam saja menyaksikan bungkamnya sang gadis.
"Aku ... sepertinya aku ...." Ucap Julia terbata-bata. Begitu sulit baginya untuk berterus terang. Julia mencoba sekali lagi. "Jacob, sepertinya aku benar-benar menyukaimu."
Memang terlalu cepat, tetapi Julia tidak ingin menunggu lebih lama lagi dari ini.
Julia tidak bisa lagi memendam perasaannya lebih lama kepada pria itu. Dua bulan sudah cukup baginya untuk menyandarkan hati pada Jacob. Jujur saja, ia takut ada gadis yang lebih dulu maju dan berterus terang kepada pria itu. Jacob kaget, ia benar-benar terkejut dengan pengakuan Julia. Gadis itu langsung menundukkan kepala seusai melontarkan isi hatinya.
Hening yang terjadi cukup lama membuat Julia langsung berspekulasi buruk. Mungkinkah Jacob menolaknya? Gadis itu tak henti-hentinya melantunkan harapan, berharap perasaannya tersampaikan kepada pria idamannya. Tiba-tiba saja ia merasakan ada kehangatan yang mendekapnya, serta aroma maskulin yang kelak akan selalu ia puja.
Julia menengadahkan wajah perlahan, matanya sontak terbelalak. Jacob tengah memeluknya erat sekarang. "Aku senang mendengarnya, terima kasih dan maaf," tutur Jacob dengan lirih.
Pikiran buruk langsung menghantui kepala Julia. Apa dugannya benar? Lelaki itu akan menolaknya. "Maaf untuk apa?"
Jacob langsung melepas pelukannya, lalu berkata, "Karena sudah membiarkanmu mengucap itu lebih dulu dariku."
Julia tercengang. Apa maksud Jacob? Mungkinkah perasaannya terbalas? Secepat itukah?
"Harusnya aku yang mengucapkan hal itu padamu, Julia." Ucapan Jacob membuat gadis yang sebelumnya murung kembali ceria. "Benarkah? Ja-jadi, apa tanggapanmu?" tanya sang gadis memberanikan diri.
Jacob menepuk-nepuk kepala Julia yang lebih pendek darinya. "Aku terima perasaanmu," jawabannya langsung membuat Julia memekik bahagia. Jacob kembali membawanya dalam pelukan hangat, di bawah halte bus yang sepi karena hujan baru saja reda.
Sesederhana itu. Tak peduli siapa yang mengucapkan lebih dulu, selama kita masih memiliki kesempatan untuk menyatakan, maka beranikan saja.
+++
Di sebuah bar yang sepi dari pengunjung—karena buka di siang hari—terlihat seorang pria berjas rapi sedang duduk sendirian di salah satu meja paling ujung, jauh dari pintu masuk.
Dari penampilannya mulai atas sampai ke bawah, semua bermerek. Rambutnya disisir rapi ke belakang, di lengan kirinya terdapat jam tangan Rolex keluaran terbaru, sepatunya berlabel Testoni Dress dengan harga selangit. Kumis tipis menghiasi filtrum sang lelaki, menambah daya tariknya yang terlihat mematikan.
Putra sulung keluarga Peterson tersebut duduk diam mengamati orang-orang yang berlalu lalang dari kaca jendela yang ada di sebelahnya. Tak ada ekspresi yang ia tunjukkan selain tatapan dingin yang menusuk. Ia tak henti-hentinya melirik jam di tangan. Tampaknya, ia sedang menunggu seseorang.
"Halo!" sapa seseorang dengan ramah. Louis—pria berkumis tipis meliriknya dengan alis yang naik sedikit. "JR?" tanyanya kepada seorang lelaki yang baru saja menyapanya. Pria muda berjas hitam yang berdiri tak jauh darinya tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya perlahan.
Louis memberi isyarat kepada sosok tersebut untuk duduk di depannya. "Kau salah satu anggota AcO?" tanya Louis langsung ke inti pembicaraan, ia tak ingin berbasa-basi dengan orang asing. Lelaki yang dipanggil JR hanya tertawa menanggapinya. Sesaat kemudian, ia menjawab, "Tentu, aku salah satu dari mereka. Apa kau sedang ingin membutuhkan jasaku?"
Louis diam dan mengambil sesuatu dari bawah kakinya. JR menatap sebuah koper berwarna cokelat gelap yang baru saja ditaruh oleh Louis di atas meja dengan tatapan bertanya. "Apa ini?"
Louis dengan sigap menjawab pertanyaannya, "Ada sejumlah bayaran jika kau berhasil membunuh gadis yang aku ingin kau melenyapkannya untuk selamanya."
JR terlihat antusias. Ia menarik koper yang disodorkan kepadanya, lalu memeriksa isinya dengan saksama. Wajahnya langsung berseri, hingga lesung pipinya terlihat. "Hanya itu saja permintaanmu, Kak?" tanya lelaki berinisial JR kepada seseorang yang telah memberinya tugas.
Louis mengangguk. "Ya, dan aku ingin kau membuatnya menderita," ucapnya datar, ia lalu merogoh saku dan mengambil ponsel, hingga tak lagi memperhatikan lelaki yang sedari tadi sibuk menatapnya. "Dia harus dibuat sangat, sangat, sangat menderita. Kalau perlu, siksa dulu dia sebelum membunuhnya secara perlahan. Mengerti?"
"Siap, dimengerti, Kak." Louis lantas memandang JR dengan tatapan tidak suka. "Berhenti memanggilku dengan panggilan itu. Aku bukan kakakmu," tegasnya memberi tahu. JR tertawa terbahak-bahak.
"Ah ... maafkan aku, tetapi itu sudah menjadi prosedur di organisasi kami," jawab JR dengan tenang. "Organisasi kami menganggap pelanggan adalah 'Kakak' yang harus dihormati. Tak peduli apa status dan jenis kelaminnya, selama mereka telah menyewa jasa kami."
Louis mendengkus pelan.
"AcO, huh? Organisasi dunia hitam yang bekerja menawarkan jasa untuk menculik dan membunuh seseorang," terang Louis terkesan menjelaskan. Matanya beradu dengan iris cokelat terang lelaki muda di depannya. "Hng, aku mengharapkan hasil yang memuaskan darimu."
JR merapikan mantel kulit berwarna cokelat tua miliknya sebelum berdiri dan tersenyum miring kepada Louis. "Tentu, aku akan mulai melaksanakan rencana ini secepatnya," jawab JR sambil mengeluarkan kacamata hitam dari dalam saku. "Kupastikan kau tidak akan pernah menyesal untuk ini."
Louis tampak acuh. "Aku tak pernah menyesal untuk menghukum gadis yang fotonya ada di dalam koper itu," ujarnya angkuh. JR lagi-lagi tersenyum dan merapikan kerah bajunya yang berwarna putih.
"Aa ... seorang gadis? Kau suka sekali menyiksa perempuan ya," tukas JR dengan gaya bicara yang terdengar berbeda dari sebelumnya. Pemuda yang terpaut beberapa tahun dari Louis itu pun menaruh tangan di dada, dan permisi dari hadapan Louis secepatnya.
Setelah hanya tersisa dirinya seorang di sana, Louis pun menyeringai. Adrenalin luar biasa memenuhi dadanya yang telah lama sesak karena dipenuhi kebencian.
"Tunggulah ajalmu, Adik Kecilku," gumamnya sambil memandang ke luar jendela. Ini akan jadi semakin menarik ke depannya, pikir Louis sebelum beranjak pergi dan meninggalkan uang di atas meja bar.
+++
Seorang gadis berambut cokelat panjang terlihat sedang bersenandung riang di atas kasur empuk miliknya. Ia menatap langit-langit kamar yang dicat dengan warna putih susu. Dia adalah putri dari keluarga Peterson yang tengah kasmaran—Julia.
Julia saat ini sedang dalam keadaan yang berbunga-bunga, tak menyangka jika usahanya mendekati Youtuber kesukaannya selama kurang lebih dua bulan membuahkan hasil yang manis. Lelaki itu menerima perasaannya minggu lalu, dan itu berarti ... Jacob juga menyukainya.
Betapa gugupnya Julia hari itu saat mengungkapkan perasaannya kepada Jacob, tetapi beruntung perasaannya berbalas saat lelaki itu memeluknya dengan erat. Julia langsung terkikik geli saat mengingat lelaki pujaannya yang bersikap sangat manis.
Ponselnya yang ada di atas meja berdering lama, tanda sebuah telepon masuk. Bergegas Julia turun dari ranjang dan meraihnya. "Dari Jacob," bisiknya kegirangan. Julia lantas membawa tubuhnya kembali ke ranjang dan berbaring dengan nyaman sebelum mengangkat panggilan suara dari sang kekasih. "Halo?"
Selamat pagi, Sayang.
Julia langsung tersipu saat mendengar panggilan manis dari Jacob. Ia lalu mengatakan kepadanya bahwa penampilan lelaki itu sama sekali tak cocok dengan panggilan tadi, dan sang kekasih hanya tertawa terpingkal-pingkal di seberang telepon sana.
Keduanya lalu berbincang banyak hal, seolah tidak pernah kehabisan topik pembicaraan.
"Jack," panggil Julia disela pembicaraan mereka. Jack adalah singkatan nama sang kekasih yang dibuat sendiri oleh Julia. Jacob menyahutinya dengan gumaman, 'Hmm?'
Jantung Julia kembali berdegup kencang. "Semoga ... hubungan kita akan berakhir membahagiakan, tanpa ada duka dan air mata."
Tanpa Julia ketahui, Jacob yang mendengarkannya tersenyum dan mengaminkan dalam hati. "Tentu. Berjanjilah untuk tak saling menyakiti."
Lelaki itu tiba-tiba teringat dengan ucapan seorang pria yang sudah ia anggap keluarganya sendiri. Pria itu berkata kepada Jacob untuk menikmati hidup apa pun yang terjadi, karena masa tidak akan pernah terulang, dan Jacon berharap ... dengan adanya gadis yang ia sayangi ini, ia bisa melewati hidup dengan jalan yang jauh lebih baik lagi dari sebelumnya.
Ya, semoga saja.
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 37. Bad News
Tak ada seorang pun yang bisa menebak kemana perginya seseorang dari rumah. Kecuali mereka ada memberitahukan kepergian mereka kepada orang-orang terdekat sesaat sebelumnya, atau meninggalkan teka-teki di atas tempat tidur. Hal itu pulalah yang menjadi teka-teki kepergian Julia Peterson dari rumahnya yang kini mendadak dipadati oleh orang-orang yang penasaran dengan kehadiran mobil polisi di rumah besar tersebut. "Huu ... tolong, Pak Polisi! Tolong ... tolonglah aku, tolong bantu kami mencari anakku .... Anakku Julia!" Meggan bersimpuh di atas lantai dengan wajah yang terhalangi oleh kedua tangannya. Menutupi wajah memerah yang basah karena air mata. "Kumohon! Tolonglah! Bantu aku mencari anakku! Hu hu hu.... Julia!" Suasana di kediaman keluarga Peterson tampak ramai oleh orang-orang yang datang karena rasa pena
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 36. Be Panic!
"Aku masih merasa sedikit ngantuk," ucap Charlie sambil menarik kursi di meja makan. Meggan, sang istri pun datang membawakannya secangkir kopi dan menaruhnya di hadapannya. Charlie menatap kopi dan wanita yang puluhan tahun lalu dinikahinya ini secara bergantian. "Terima kasih, Sayang." Siapa yang menyangka, jika kedua orang ini dulunya menikah bukan karena cinta melainkan perjodohan yang sudah diatur oleh kedua orang tua masing-masing. Meggan dan Charlie tak pernah terlibat dengan perasaan seperti cinta. Mereka menikah karena paksaan dari kedua orang tua yang sama-sama menginginkan kekayaan dari keluarga yang berbesan dengannya. Saat awal pernikahan pun, tak terdengar adanya ucapan manis yang romantis keluar dari bibir keduanya. Seolah memang tak ada cinta di antara mereka. Namun, kini semua telah berbeda. Keduanya sekarang bak pecinta ulung yang
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 35. Worries
Tak menunggu sampai hari Sabtu tiba, pasangan suami istri dari keluarga Peterson telah kembali dari luar negeri pada hari Kamis pagi. Sepertinya, Meggan dan Charlie sudah benar-benar merindukan rumah dan anak-anak kesayangan mereka. Teman lama yang sudah mereka anggap keluarga sendiri pun, sempat meminta untuk bertemu di kediaman mereka setelah kepulangan keduanya dari perjalanan bisnis. Walau tiba di pagi hari buta, tampaknya hal itu tak membuat mereka lupa menghubungi putra kesayangan mereka, Louis, untuk menjemput mereka di bandara. Mereka sudah menyiapkan banyak sekali buah tangan yang pasti akan disukai oleh anak gadis kecil kesayangan mereka, Julia. Tentu saja oleh-oleh yang mereka bawa ini hanya untuk Julia seorang, sebab mereka tahu, Louis bukan anak yang suka meminta barang-barang bagus dari mereka. Jadi, tak ada salahnya jika mereka hanya pergi membelikan barang-barang bagus s
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 34. Meet
Orang-orang sering mengatakan, apa saja akan dilakukan oleh orang-orang jika segala sesuatu itu menyangkut dengan masalah uang. Alat tukar yang bisa dipakai untuk membeli sesuatu itu pun menjadi daya tarik orang di masa sekarang. Tidak, bahkan dulu pun, semua orang saling berlomba mengumpulkan uang yang banyak. Sama halnya dengan dua orang sahabat baiknya Javier, kedua orang itu langsung bergerak cepat ketika mendengar tentang adanya bayaran. Pemuda itu mengernyit seketika. "Masalah uang saja, kalian berdua langsung secepat kilat ya?" kekehnya sambil tertawa kecil. Sesaat kemudian, ponsel di dalam sakunya pun berdering dengan sangat nyaring. Sampai-sampai raut wajahnya pun berubah seketika. "Kenapa?" Daniel bertanya, lalu mendekat ke arah sahabatnya. Dengan malas, Javier mengangkat ponsel dan memperlihatkan siapa sang penelepon. "Orang berengsek itu menghubungiku sekarang," ucapnya data
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 33. Emily's Tears 2
Keceriaan yang terpancar di wajah tiga orang remaja yang sama-sama memiliki usia yang berbeda-beda itu memang suatu pemandangan yang teramat langka di kediaman Emily yang dirasa cukup sepi. Terutama dari apa yang dirasakan oleh kedua orang tua Emily ketika melihat anak perempuannya bisa tertawa lepas saat berada di tengah-tengah para sahabatnya yang saat itu sengaja berkunjung ke rumah mereka. Mengintip dari sela-sela pintu yang terbuka sedikit, memang bukan tindakan yang terpuji, apalagi di beberapa negara, mengintip bisa dikategorikan sebagai aksi kriminalitas. Akan tetapi, rasa penasaran kedua orang tua dari seorang anak remaja yang tumbuh pesat memang tak bisa dibendung begitu saja. Larissa memeluk lengan kokoh sang suami, bersandar pada pundak lelaki yang telah ia nikahi belasan tahun silam dengan raut wajah sendu. Nasib malang yang menimpa putri kesayangan mereka sama sekali tak b
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 32. Emily Tears
"Ehhh?! Kenapa kau malah menangis, Emi?" Javier panik, saat melihat Emily menyeka pipinya yang mendadak basah. Buru-buru pemuda 17 tahun itu menyeka air mata yang tersisa dengan ibu jarinya secara hati-hati. "Aku sudah sering mengatakannya padamu, jangan pernah menangis lagi!" "Kau tahu? Aku tidak suka melihat air matamu! Kau boleh bersedih, tapi jangan menangis seperti ini di depanku!" Emily menggeleng pelan, ia gigit bibirnya perlahan. "Aku ... aku tidak tahu apakah Jacob masih ingin bersamaku atau tidak," bisiknya lirih. "Aku senang kau berkata seperti itu, Javi. Aku senang sekali. Aku sudah berjanji padamu untuk tidak lagi menangis di depanmu, tapi aku malah menangis lagi. Maafkan aku, Javi." Raut wajah Emily kembali sendu. Air matanya kembali menitik jatuh. "Tapi, kakakmu sudah memiliki orang lain di sisinya, Vi. Apa yang bisa kulakukan selain
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 19. The Mysterious Things
"Wah, Javi! Aku tak menyangka, jika master kita yang baru itu adalah kau!" ucap Mark seraya memeluk sahabat sejak taman kanak-kanaknya itu dengan erat, ia ikut merasa bahagia sekaligus bangga atas pencapaian yang pemuda Leckner itu dapatkan. &n
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 18. New Master
Mark terkesiap seketika, mulutnya menganga begitu lebar. Ia segera menoleh ke samping dan menyikut Javier berulangkali. "Hei! Hei! Javi, ternyata itu kau? Hebat sekali, Javi!" ucapnya terdengar antusias. Bahkan melebihi apa yang tengah Javier rasakan kini.
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 17. Secret Mission
"Javi, kau sudah menyiapkan bahan video kita hari ini?" Jacob berjalan menghampiri meja kerja adiknya. Lengan panjang kaos biru tuanya ia lipat sampai siku, kemudian ia bersedekap di depan dada setelah tiba di depan sang adik. "Sudah," j
CAN'T L'Héritière (INDONESIA) 16. Akhir Pekan Bersama Orang Tercinta
Jacob tengah bersiap-siap di dalam kamarnya untuk kencannya bersama Julia yang entah sudah berapa kali mereka berdua lakukan bulan itu. Untuk yang ke sekian kalinya, ia akan kembali menjemput Julia di taman Testa. Rencananya hari ini, mereka berdua akan pergi makan-mak
