Download the book for free
Chapter 2 : A flash of the past
Author: NhanaDareen masih berkutat dengan berkas-berkas penting di kantornya. Dia sengaja lembur dan pulang telat, karena Dara anaknya juga tidak ada di rumah dan mungkin tidak akan pulang.
Raiden, sekertaris sekaligus orang kepercayaan Dareen yang hendak pulang dan melihat ruangan atasannya masih menyala menghentikan langkahnya. Dengan penasaran dia mengetuk pintu ruangan tersebut untuk memastikan kalau si pemilik ruangan memang masih ada.
Selang beberapa detik setelah pintu di ketuk, terdengar suara sahutan dari dalam. "Masuk. " Ternyata Dareen memang masih ada di dalam. Dan tanpa menunggu lama, Rai pun memutar kenop pintu dan masuk kedalam.
"Ada apa Rai?" Tanya Dareen setelah melihat sekilas kearah Raiden dan kembali memusatkan perhatiannya lagi kepada pekerjaannya.
"Hm. Tidak ada. Hanya penasaran apa yang membuatmu masih di kantor sampai selarut ini. " Jawab Rai yang kemudian memilih untuk duduk di sofa.
"Ada pekerjaan yang belum selesai. Dan juga di rumah tidak ada orang. "
"Pekerjaan? Apa tentang anak-anak yang akan PKL itu? "
"Begitulah, aku sedang menyusun kriteria tertentu untuk bisa PKL di hotel kita. " Jawab Dareen sambil menunjukkan layar komputernya kepada sahabatnya itu.
"Kenapa kamu harus mengurusi hal seperti ini Dareen? Kita bahkan tidak pernah menerima pegawai magang, apa ini karena Dara? "
"Ya. Aku ingin memantau semua aktivitas Dara selama PKL, selain untuk memastikan keadaanya aku juga ingin melihat seperti apa kemampuan Dara dalam bekerja. Bagaimanapun Dara adalah calon penerus ku. " Jelas Dareen.
"Aku tahu. Tapi Dar kurasa kau terlalu membatasi ruang gerak Dara. Meskipun kau khawatir, tapi Dara juga butuh waktunya sendiri. "
"Aku melakukan semuanya demi kebaikan Dara, dan Dara juga tidak menolak keputusanku. "
"Itu karena kau memaksanya. "
"Aku tidak. " Jawab Dareen cepat.
"Tidak secara langsung. " Raiden menghela nafas lelah. Dareen memang tidak akan bisa diajak kompromi jika sudah menyangkut putrinya.
"Dara belum pulang? " Tanya Rai mengalihkan pembicaraan sambil melihat-lihat isi ruangan Dareen tanpa minat. Tentu saja, karena dia setiap hari berada di sana dan sudah tahu persis seperti apa isi ruangan tersebut.
"Kau tahu sendiri, jika dia dan Wenda sudah pergi mana pernah mereka ingat jalan pulang. " Dareen terkekeh pelan. Sepertinya suasana hatinya kembali pulih saat membicarakan kedekatan Dara bersama ibunya.
"Kau benar. " Jawab Rai sekenanya. Kali ini dia setuju dengan Dareen
"Kudengar kali ini Jinu juga ikut. "
"Sepertinya iya, karena dia tidak menghubungiku seharian ini. " Rai memainkan ponsel dan memastikan kalau anaknya itu memang tidak mengirimkannya pesan.
"Mereka sepertinya memang sedang menikmati waktu bersama. "
"Kau masih mencarinya? " Tanya Rai tiba-tiba.
Dareen yang mendengar pertanyaan Raiden sontak mengangkat kepalanya guna bertatapan langsung dengan sang lawan bicara. "Aku sudah berhenti tahun lalu. "
"Kenapa? " Raiden kembali bertanya karena penasaran.
"Aku tidak pernah mendapatkan apapun. " Jawab Dareen singkat. Setelah menjeda kalimatnya beberapa saat, Raiden kembali melanjutkan perkataan nya. "Sejak dia pergi, orang tuanya juga pindah. Dan dari informasi yang aku terima, dia tidak pernah bertemu dengan orang tuanya lagi. " Dareen menghela nafas dalam.
Raiden mengangguk paham. "Mungkin orang tuanya menutupi dimana keberadaan dia. Mereka cukup punya kuasa untuk itu. "
"Bisa saja. Tapi semuanya terlalu sempurna. Tidak ada sedikitpun jejak yang tertinggal. Selama bertahun-tahun aku melakukan pencarian, sampai sekarang tidak ada satupun petunjuk yang mengatakan dimana keberadaannya. " Dareen meletakkan pulpen ditangannya dan berjalan menghampiri Raiden di sofa.
"Menurutmu, kehidupan seperti apa yang mungkin sedang dia jalani sekarang?" Raiden menerawang jauh, menatap atap kantor dengan pandangan lelah.
"Entahlah. Dia seorang perempuan yang baik, lemah lembut dan sangat pintar. Kurasa dia akan memiliki kehidupan yang baik. " Jawab Dareen tidak yakin dan ikut menerawang jauh mengingat sekelebat bayangan tentang seseorang yang menjadi topik pembicaraan mereka.
"Jika dulu kau sempat menjelaskan, apa mungkin dia akan memberimu kesempatan?" Obrolan mereka terus berlanjut. Dengan Raiden yang bertanya karena penasaran dan Dareen yang menjawab sebisanya.
"Mungkin tidak. Bagaimanapun aku bersalah. " Dareen menarik nafas panjang.
"Dan jika saat itu dia memberimu pilihan, maka siapa yang akan kau pilih? Atau kau mungkin punya opsi lain? "
Raiden menggeleng pelan. "Entahlah. Tapi kurasa kau sudah tahu jawabannya. " Dareen mendengus pelan.
"Tapi kau mencintai dia. " Balas Raiden dengan penuh penekanan.
"Wenda sedang mengandung anakku, jika kau lupa. " Balas Dareen mengingatkan.
"Hah, masa lalu kita memang benar-benar rumit. Tapi yang sampai saat ini terikat dengan masa lalu itu hanya kau Dareen. "
"Itu karena aku belum menjelaskan semuanya. Aku belum sempat meminta maaf. " Lirih Dareen yang terdengar begitu dalam dan penuh makna.
"Pernahkah kau berpikir dia sudah berkeluarga? " Pertanyaan Raiden kali ini sedikit ragu, bagaimana pun ini akan menjadi topik yang sensitif untuk sahabatnya. "Maksudku, seperti kita sekarang. Kau, aku dan Wenda, kita semua sudah punya kehidupan masing-masing. " Jelas Raiden.
Dareen terdiam, dia tahu apa yang dikatakan sahabatnya kemungkinan besar bisa terjadi. Mengingat ini sudah 15 tahun lamanya. Tapi hati kecilnya masih berharap, semua masih sama walaupun itu jelas tidak mungkin.
Ingatannya kembali pada hari itu, hari dimana seseorang yang katanya dia cintai melangkah pergi dengan tatapan terluka. Tidak ada air mata di sana, hanya gurat kecewa dan kesedihan yang tampak jelas menghiasi wajah manisnya.
Langkahnya terlihat begitu rapuh, perlahan tapi pasti tubuh kurus nan tinggi miliknya melewati pintu pagar milik kediaman mereka. Saat itu, Dareen rasanya ingin mengejar perempuan yang berstatus sebagai istrinya itu, namun keadaan tidak memungkinkan. Wenda tengah mengalami pendarahan dan nyaris keguguran.
Mengabaikan fakta bahwa istrinya baru saja terluka karena fakta kehamilan Wenda dan pergi meninggalkan dia, dengan langkah tergesa, Dareen justru membawa Wenda kedalam mobil untuk segera pergi ke rumah sakit. Tindakan Dareen saat itu tidak sepenuhnya salah, karena bagaimanapun ada nyawa yang harus menjadi prioritasnya.
Tak jauh dari rumah meraka, mobil yang Dareen bawa melewati istrinya begitu saja yang tengah berjalan gontai. Melalui kaca spion mobil, Dareen dapat melihat bahwa sang istri baru saja meneteskan air mata begitu dia melintas di hadapannya.
Dareen tidak tahu, jika keputusannya untuk memprioritaskan Wenda dan kandungannya saat itu, justru membuatnya kehilangan sang istri. Bukan hanya sekedar perceraian tapi istrinya benar-benar menghilang sepenuhnya dari kehidupannya dan dari kehidupan semua orang yang dikenalnya.
Maafkan aku Anna. Satu kata yang selalu di rapalkan Dareen setiap harinya.
✿✿✿✿✿
Anna tengah membantu putranya untuk mengemasi barang-barang bawaannya. Meski dengan berat hati, tetap saja Anna hanya seorang ibu yang akan selalu menuruti keinginan sang anak terlebih jika keinginan tersebut bukan sesuatu hal yang buruk. Anna akan mendukung pilihan putranya.
"Selama mama belum sampai ke Bristol, kamu jangan merepotkan nenek dan kakek disana. " Ucap Anna sambil melipat baju-baju Esa kedalam koper.
"Siap ma, aku akan menjadi anak baik untuk nenek juga. " Esa tersenyum meyakinkan ibunya.
Anna pun membalas senyuman anaknya dengan lembut. "Jangan pergi ke mana-mana dulu. Biar nanti mama yang akan menunjukkan tempat -tempat bagus di Bristol kepadamu. "
"Mama sudah 15 tahun tidak pernah ke sana. Bristol pasti telah berubah. Aku melihat di internet jika Bristol sudah menjadi kota tujuan semua orang selain London. "
"Meski begitu, mama tetap lebih tahu darimu. " Bela Anna tidak mau kalah.
"Iya, iya. Aku tahu. " Esa mengiyakan begitu saja, karena jika dia terus membalas ucapan sang ibu maka bisa dipastikan pembicaraan ini akan menjadi sangat panjang, dia tahu ibunya tidak pernah mau kalah dan selalu lebih kekanakan darinya.
Anna tersenyum penuh kemenangan. "Ah mama pasti akan merindukan momen seperti ini. " Anna mengusap kepala putranya yang sedang tiduran.
Esa memutar tubuhnya dan tidur menyamping menghadap sang ibu, dengan senyuman manis miliknya dia menatap sang ibu dengan begitu dalam.
"Ma, jangan seperti ini ya? Aku jadi merasa bersalah. " Ucap Esa dengan sedih.
Anna terkekeh pelan. "Maafkan mama, aku pasti berlebihan lagi ya padahal kan penerbangan kita hanya berbeda seminggu. Dan di sana kita akan tetap tinggal bersama. "
"Nah itu tahu. " Kali ini giliran Esa yang terkekeh.
Esa kembali memutar tubuhnya, kini menjadi tidur terlentang. Matanya bergerak menerawang langit-langit kamar.
"Ma. " Panggilnya dengan lembut dan tenang.
"Hmm. " Gumam Anna.
"Apa Bristol tempat yang indah? " Tanya Esa yang masih menatap langit-langit kamarnya.
Anna naik ke tempat tidur dan berbaring di samping anaknya. Mengusap pelan wajah sang anak dan menyingkirkan poni yang menutupi sebagian besar dahinya.
"Ya, Bristol tempat yang indah. Tapi bagi mama, tidak ada tempat yang lebih indah selain bersamamu. " Anna kemudian memeluk Esa dengan erat. Anna tidak berbohong, karena baginya Esa adalah dunianya.
"Jika Bristol itu indah, kenapa mama pindah kesini? " Pertanyaan tersebut keluar begitu saja.
Anna menghela nafas dalam. "Terkadang kita bertemu kondisi yang mengharuskan kita pergi. " Terlihat sekali jika Anna berusaha tersenyum memaksakan.
Esa terdiam, dirinya kini sudah dewasa, dan sudah bisa memikirkan banyak kemungkinan. Diantaranya alasan ibunya pindah ke Jepang dan tidak pernah kembali ke Bristol lagi. Selain itu, alasan ibunya hidup berpura-pura menjadi seorang pria pasti karena ada hubungannya dengan masa lalu. Meski Anna selalu mengatakan perubahannya untuk membuat Esa nyaman dan tidak dikucilkan, nyatanya Esa tidak bisa menelannya bulat-bulat.
"Mama, aku mencintaimu. Sangat. " Ucap Esa dalam pelukan ibunya. "Tapi, bolehkah kali ini saja aku bertanya tentang masa lalu? " Suara Esa pelan namun penuh dengan keseriusan.
Anna mengurai pelukannya dan menatap manik sang anak yang terlihat penuh harap. Dengan helaan nafas berat dan penuh kewaspadaan, Anna hanya bisa mengangguk pasrah.
"Boleh aku tahu siapa papa? " Tidak ingin berbelit-belit dan memberi kesempatan ibunya untuk beralasan lagi, Esa akhirnya bertanya sesuatu yang seumur hidupnya menjadi hal yang paling ingin dia ketahui.
Anna berubah gusar dan tanpa sadar menggigit bibirnya. Mungkin ini sudah saatnya. Putranya tahun ini berumur 15 tahun, dan sudah masuk SMA. Tetap disembunyikan pun pertanyaan itu akan terus menerornya seumur hidup.
"Mama akan menceritakan sesuatu, tapi setelah ini Esa harus berjanji untuk tidak pernah membenci siapapun. Dan mama berharap Esa justru mau melupakan semuanya. " Anna mencium kening anaknya
Esa tersenyum, lalu mengangguk.
"Papa mu adalah orang Brisol. Tapi, mama sendiri tidak tahu dimana dia berada sekarang. Entah masih disana, atau sudah pindah. Entahlah. " Anna menghela nafas sejenak dan melanjutkannya. "Dia juga mungkin tidak tahu dimana kita. "
"Apa dia tidak pernah ingin tahu bagaimana kabarku? Atau setidaknya penasaran dan bertanya dimana kita sekarang. " Tanya Esa masih dengan ekspresi tenang.
Anna kembali terdiam, dia bingung bagaimana harus mengatakannya. "Dia tidak pernah tahu kalau kamu ada. " Desah Anna lemah.
Esa mengernyitkan keningnya, dia tidak mengerti maksud perkataan ibunya.
"Jika ada seseorang yang harus Esa benci, maka mama lah orangnya. " Lanjut Anna. "Mama berpisah dengannya disaat kami belum tahu jika ada kamu hadir di dalam perutku"
Esa menggigit bibirnya, entah kenapa tiba-tiba matanya terasa panas. Dia mulai mengerti sedikit-demi sedikit apa yang diceritakan oleh ibunya. "Kenapa? " Tanya Esa. "Meskipun sudah berpisah, bukankah masih bisa bicara apalagi untuk hal seperti itu. " Esa sedikit menaikan suaranya, pertanda emosi sudah mulai mengusai dirinya. Ini pertama kalinya Esa bicara keras kepada ibunya, tapi Anna mengerti.
"Esa kecewa hm? Karena hanya bisa hidup dengan mama? " Tanya Anna masih berusaha untuk tenang.
"B-bukan begitu, tapi bukankah seharusnya mma memberi tahu papa meskipun kalian sudah bercerai? "
"I-itu karena------- " Anna memejamkan matanya. Menyiapkan diri untuk mengatakan luka masa lalunya.
---ada perempuan lain yang tengah mengandung anaknya. " Jawab Anna pada akhirnya kalimat itu keluar dari mulutnya. Kalimat yang untuk pertama kalinya dia ucapkan kepada sang putra setelah sekian lama terpendam. Butuh keberanian yang besar bagi Anna untuk bicara, tapi dia tahu putranya berhak tahu agar tidak menyalahkannya karena memilih untuk membesarkan Esa seorang diri.
Esa terhenyak, pikirannya mendadak kosong. Sesuatu yang tidak diduga menghantam dadanya begitu telak. Ternyata selama ini ibunya menyimpan sesuatu yang begitu menyakitkan. Esa pun mulai terisak, rasa bersalah memenuhi hatinya kala merasakan air mata sang ibu jatuh di wajahnya. Dan untuk pertama kalinya juga Esa menangis didepan Anna. Selama ini, Esa selalu menjadi anak yang kuat dan tidak pernah menunjukkan kesedihan apapun kepada sang ibu. Tapi hari ini menjadi pengecualian.
"Maafkan aku ma, aku berjanji setelah ini aku tidak akan pernah bertanya apapun lagi tentang dia. " Dia, itulah panggilan baru Esa terhadap ayahnya. Dia enggan memanggil paa pada seseorang yang sudah memberi luka pada ibunya, malaikat penolongnya.
Anna mencium pipi kiri kanan Esa bergantian. "Kau berhak tahu sayang, dan aku juga berjanji akan membuatmu bahagia meski hanya kita berdua. " Anna kembali membawa Esa kedalam pelukannya. "Kita lupakan semua masa lalu, hanya ada mama dan kamu disini sebagai Khesa Devano putra Joanna Michelle. "
Dan malam itu pun mereka habiskan bersama. Anna menemani Esa tidur dengan memeluknya sepanjang malam.
*
*
*
- T B C -
With Love : Nhana
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 40 : Invitations to live together
Anna mengepalkan tangannya saat Dareen mengatakan dirinya akan membawa Esa pulang dan menjadikan Jane sebagai dokter pribadinya. Anna tahu ini demi kebaikan Esa, tapi kenapa harus Jane? Dan kenapa juga Jane harus tinggal bersebelahan dengan rumah tempat Anna dan Dareen tinggal dulu."Kenapa tidak dokter Hoya?" Tanya Anna kepada Dareen."Dokter Hoya terlalu sibuk Anna. Sebelumnya aku juga sudah berbicara dengan dia, dan dia sendiri malah menyarankan Jane." Jawab Dareen lembut. "Kamu tenang saja. Jane orangnya baik, dan juga sangat nyaman untuk diajak berbicara. Kita bisa mempercayakan Esa padanya, Esa mungkin akan lebih nyaman dengannya.""Kau yakin?" Tanya Anna lagi. "Dia masih sangat muda," Sebenarnya Anna tidak masalah, hanya saja dia takut. Takut jika apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan. Terlebih saat mendengar kata nyaman yang Dareen ucapkan.Dareen tersenyum, dia memaklumi Anna yang masih terlihat ragu. "Jane mungkin terlihat seperti masih muda,
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 39 : Like a premonition
Dareen menghela nafas berkali-kali. Pikirannya penuh dan juga beban di pundaknya terasa semakin berat. Kepalanya tertunduk lesu dengan nafas yang sedikit tidak beraturan. Esa masih tidur setelah diberikan obat penenang. Sedangkan Anna sendiri belum kembali dari pemeriksaannya. Dan tidak tahu menahu tentang kejadian yang dialami putranya.Sebuah tangan dengan jari-jari lentik menyodorkan sekaleng kopi kepada Dareen. Pria itu mendongak dan tersenyum ketika melihat siapa yang memberinya kopi, dengan segera dia mengambil dan membuka tutup kaleng tersebut."Terima kasih." Dareen mengangkat kaleng tersebut dan menenggak isinya sekaligus."Kau tampak sangat frustasi tuan."Dareen hanya tersenyum menanggapi. "Kau selalu melihatku dalam keadaan seperti ini Jane. "Jane membalas senyuman Dareen dan kini ikut duduk di sampingnya. Kebetulan mereka sedang berada di koridor rumah sakit tepat di depan kamar rawat Esa."Benar juga. Setiap kali kita
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 38 : Esa's pas
Pagi-pagi sekali Anna sudah bolak-balik kamar mandi karena mual. Sudah seminggu ini dia baik-baik saja dan tidak merasakan mual, tapi pagi ini perutnya kembali tidak enak.Dareen yang baru bangun segera menyusul Anna ke kamar mandi dan memijat tengkuknya. "Keluarkan saja Anna.""Tidak ada yang bisa di keluarkan lagi kak." Keluh Anna dengan suara yang lemas."Kalau begitu duduk dulu yuk, aku akan mengambilkan air hangat." Dareen memapah Anna setelah laki-laki itu mengangguk setuju.Anna duduk sambil memegangi perutnya yang mulai bergejolak tak nyaman. Kehamilannya yang sekarang terasa lebih melelahkan ketimbang pada saat Esa dulu."Nak tenang ya. Mama kelelahan jika harus terus bolak-balik ke kamar mandi." Dareen sedikit mengelus perut rata Anna, iya hanya sedikit karena dia tak
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 37 : Jenny's fiancee
Jesfer dan Anna kini berada di sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit. Sebelumnya mereka sudah lebih dulu meminta ijin kepada Esa, di sana juga ada Dareen sehingga Anna tidak merasa khawatir harus meninggalkan putranya. Lagipula Anna berniat tidak akan lama, hanya ingin berbicara berdua dengan Jesfer."Aku minta maaf karena pergi tanpa mengabari mu." Jesfer lagi-lagi meminta maaf untuk kesekian kalinya."Sudahlah. Aku juga tidak mempermasalahkan itu Jes." Anna menghela nafas. "Aku lebih penasaran dengan alasanmu pulang."Jesfer sedikit memainkan jari-jari tangannya diatas meja. Jelas dia tidak lagi bisa menyembunyikan apapun dari Anna. "Aku sedikit stress." Jawab Jesfer pada akhirnya."Ada masalah apa?"Jesfer tampak berpikir. Dia ragu harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak. "Emm, pekerjaan dan beberapa hal yang terjadi belakangan ini."Anna menatap Jesfer dengan lekat. "Katakan lebih jelas. Aku tahu kau me
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 36 : The other side of Esa
Anna menatap Esa penuh harap, sejak sejam yang lalu dirinya tidak berhenti membujuk Esa agar menghubungi Jesfer. Sedangkan Esa terus menolak dengan alasan dia tidak ingin bicara dengan siapapun, padahal kenyataannya Esa hanya merasa tidak enak dengan Dareen. Bagaimanapun di sana ada Dareen yang menatap Anna dengan tatapan terluka."Ayolah Esa, mama khawatir dengan keadaan Jesfer." Anna kembali merengek sambil memegang tangan Esa."Mama, aku tidak mau. Lagipula paman Jesfer mungkin sedang sibuk."Anna menggeleng cepat. "Tidak, jika Jesfer sibuk dia pasti masih sempat mengangkat panggilan dari mama."Lagi-lagi Esa memilih untuk melihat kearah D
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 35 : Playing the victim
Jung Jesfer, seorang anak laki-laki yang teramat tampan, manis dan juga cerdas. Begitu kesan pertama semua orang saat pertama kali bertemu dengan nya, termasuk Wendy. Hampir setiap tahun Wendy berkunjung ke makam suaminya dan sekaligus menjenguk Jesfer serta ibunya.Yoona memperkenalkan Wendy kepada Jesfer sebagai sahabatnya. Dan Jesfer kecilpun percaya itu. Namun seiring berjalannya waktu, Jesfer mulai menyadari jika Wendy bukan hanya sekedar sahabat ibunya.Jesfer menemukan semua biaya sekolahnya dibayar oleh Wendy. Awalnya Jesfer selalu bertanya-tanya kenapa ibunya selalu memasukan dia ke sekolah yang elit dengan biaya pendidikan yang mahal. Karena jika melihat kondisi ekonomi ibunya, Jesfer yakin ibunya akan keteteran. Yoona tidak miskin, hanya saja dia bukan orang kaya yang bisa mengeluarkan uangnya tanpa harus berpikir besok bagai
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 34 : Healing
Lagi, Anna terbangun dari tidurnya dengan Dareen yang berada di sebelahnya. Bukan hanya sekali, tapi ini sudah lebih dari tiga kali semenjak Esa di rawat Dareen selalu tidur di kursi samping ranjang yang Anna tempati dengan kepala bertumpu pada ranjang tersebut.Anna meringis, sedikit iba
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 33 : Sexual Harassment
Seketika hening menyelimuti ruang tunggu mereka begitu ucapan sang dokter yang terlampau pahit keluar begitu saja dari mulutnya.Wenda refleks berjalan mundur dan menutup mulutnya terkejut begitupun de
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 32 : Apology
Anna menangis tersedu di kamarnya, pikirannya benar-benar kacau. Semua yang dilakukannya terasa salah. Tak pernah sekalipun dia punya niatan untuk membunuh ataupun membuang anaknya. Meski dia berkata demikian pada Dareen, kenyataannya dia sendiri ragu
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 31 : Flashback
Dareen termenung di balkon kamarnya, tangannya menggenggam sebuah pigura foto miliknya bersama Dara. Sejak kepulangan Anna dan juga Esa, Dareen mengurung dirinya di kamar. Berkali-kali Wendy dan Dona memintanya untuk keluar dan makan, namun Dareen tak
