loading
Home/ All /Behind The Heirs (Indonesia)/Chapter 1 : Breakfast

Chapter 1 : Breakfast

Author: Nhana
"publish date: " 2020-10-17 22:06:22

Joanna Michelle atau yang akrab dipanggil Anna, tidak pernah tahu jika pernikahan justru membawa kesengsaraan untuknya. Seorang pria yang menjanjikan dia bahagia seumur hidupnya ternyata justru memberinya luka yang mungkin akan dia ingat sepanjang usia.

Tidak hanya itu, keadaan kembali memaksanya untuk meninggalkan keluarga dan orang-orang terdekatnya. Membawa semua beban kehidupan seorang diri tanpa ada seorang pun yang menemani.

Pernikahan yang baru berjalan 2 bulan harus berakhir begitu saja tanpa penjelasan. Tapi semua itu hanya cerita lalu, sekarang Anna telah memiliki kehidupan baru bersama seorang putra yang selalu memanggilnya mama.

Sama seperti hari-hari biasanya setiap pagi di rumah Anna, dia selalu disibukkan dengan kegiatan membuat sarapan dan beberapa pekerjaan ringan rumah tangga. Tidak banyak yang Anna lakukan sebenarnya, karena untuk sebagian besar urusan rumah tangga juga sudah ada pembantu yang mengerjakannya.

Anna memang tidak kaya, tapi hidupnya berkecukupan. Dia punya toko kue dengan beberapa karyawan dan satu asisten rumah tangga yang sangat membantunya. Penghasilan dari tokonya lebih dari cukup untuk biaya hidup, biaya pendidikan dan juga gaji karyawan-karyawannya.

"Pagi ma, apa tidur mama nyenyak?" Sapa seorang anak laki-laki yang baru saja menuruni tangga dan bergabung di meja makan. Siapa lagi kalau bukan putranya.

"Pagi juga sayang. " Jawab Anna yang masih fokus menyajikan sarapan untuk dirinya dan sang putra. "Tidurku selalu nyenyak. " Sebuah senyuman hangat hangat Anna berikan untuk putra tersayangnya. 

"Tomo Ojisan2 kemana? Tumben sekali sejak pagi tidak kelihatan. "

"Tomo ojisan sudah berangkat duluan ke toko, karena harus membeli beberapa bahan pokok roti yang sudah habis. " Jelas Anna yang cukup untuk membuat anaknya manggut-manggut mengerti.

"Sa, kamu bergadang lagi? " Tanya Anna saat tanpa sengaja matanya bertemu dengan dengan wajah sang putra. 

"Aku tidur kok ma, hanya saja sebentar. " Esa tersenyum kaku, dia mengerti ibunya

nya selalu khawatir setiap kali mendapati besarnya kantung mata yang menghiasi wajah tampannya.

"Mama kan sudah bilang, belajar sewajarnya saja sayang. Kamu sudah pintar dan sudah sangat membanggakan. Jadi jangan memaksakan diri untuk selalu menjadi yang terbaik dalam segala hal. " Anna membelai wajah putranya dengan penuh kasih sayang. Diusap nya kantung mata yang sedikit lebih besar dari kemarin itu.

"Aku tidak apa-apa. Mama tidak perlu khawatir. " Khesa balas tersenyum hangat untuk menghilangkan kekhawatiran sang ibu.

Khesa Devano adalah anak yang Anna lahirkan dan besarkan seorang diri di Jepang. Khesa tumbuh dengan menyaksikan perjuangan serta kerja keras sang ibu, sejak dirinya kecil dan keluarganya tidak punya apa-apa hingga sekarang saat kehidupan ekonomi keluarganya sudah menjadi lebih baik. Hal itu lah yang membuatnya selalu berusaha melakukan yang terbaik di segala bidang, terutama akademik. Dia ingin menjadi anak yang bisa dibanggakan oleh ibunya.

Anna tidak pernah meminta putranya untuk melakukan semua itu, tapi pendidikkan yang dia terapkan nyatanya mampu membuat sang putra tumbuh menjadi anak yang diharapkan oleh semua orang tua. Bahkan tidak jarang membuat iri para orang tua dari teman-teman sekolahnya. 

"Cepat habiskan makanannya, setelah ini mama akan mengantarmu ke sekolah. "

Khesa mengangguk. "Okey. Oh iya ma, aku akan mulai berangkat ke Bristol minggu depan. " Ucap Khesa yang membuat ibunya secara otomatis menghentikan kegiatan mengunyah makanannya.

"Secepat itu? Aku belum diberi tahu oleh pihak sekolahmu. " Anna tampak berpikir. Ada raut khawatir yang ditunjukkan wajahnya.

"Suratnya akan diberikan hari ini. Aku juga sudah memisahkan beberapa pakaian yang akan dibawa ke sana. "

Anna mendesah pelan. Sepertinya hari yang paling di antisipasi olehnya datang dengan cepat. "Tidak bisakah di batalkan saja? Mama benar-benar khawatir. " Anna mengelus tangan putranya dengan lembut, berharap agar putranya memahami keresahan hatinya. Dari sekian banyak negara yang rekomendasikan oleh sekolahnya, kenapa putranya harus memilih Inggris? Dan dari sekian banyak kota di Inggris, kenapa harus Bristol? Kenapa tidak London saja? Bukankah London adalah kota pelajar terbaik di dunia?

"Maafkan aku ma, kali ini aku harus pergi. Ini kesempatan terbaik untukku, dengan aku belajar di Bristol, itu bisa membantu memperbesar peluangku untuk bisa kuliah di salah satu Universitas yang ada London nanti. "

"Kalau memang begitu, kenapa kau tidak mengambil di London saja sekarang? bukankah itu lebih membantu? Kau bisa sekalian berkunjung ke Universitas-Universitas impianmu itu. " Anna sepertinya masih belum setuju dengan keputusan putranya.

"Oh ayolah ma, aku belum punya keberanian untuk itu. Kemampuanku masih jauh dari kata cukup untuk bersaing dengan teman-temanku di seluruh Jepang. Lagipula kenapa dengan Bristol? Bukankah London dan Bristol sama saja? Sama-sama berada di Inggris. " Argumen Khesa untuk pertanyaan ibunya.

"Tidak apa-apa. Mama hanya khawatir. " Anna mendesah pelan.

"Bristol atau kota manapun itu, intinya aku tetap pergi dan tetap akan berada jauh dari mama selama satu tahun kedepan. Mama tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja. " Khesa tahu ibunya terlalu khawatir karena ini akan menjadi kali pertama dia pergi jauh dari sang ibu untuk  waktu yang cukup lama.

"Kau tidak tahu kehidupan di sana seperti apa sayang, kau bahkan baru 15 tahun. Bristol tidak semudah yang kau pikirkan. " Ucap Anna lembut.

Khesa menatap ibunya serius. "Aku tahu, oleh karena itu mama pindah kesini. Bristol tempat mama lahir dan dibesarkan, jadi tolong ijinkan aku kesana meski hanya sekali. Aku berjanji aku hanya akan belajar di sana. Mama tidak perlu khawatir karena di sana juga kan ada nenek dan kakek. " Khesa berusaha meyakinkan ibunya untuk kesekian kali.

Anna sendiri sebenarnya sadar, putranya sudah melakukan yang terbaik untuk sampai di tahap ini. Meski dia sangat khawatir, tapi dirinya tidak ingin egois dan menghalangi mimpi sang anak. Tapi masalahnya, kenapa harus Bristol? Anna jelas tidak ingin kembali ke negera tempat kelahirannya itu.

"Baiklah, aku mengijinkan. Tapi, aku akan menyusul setelah semua pekerjaan disini selesai. " Anna tersenyum hangat dan mengusap kepala putranya. Khesa juga hanya balas mengangguk, dia setuju jika ibunya ikut karena percuma juga menolak toh ibunya pasti akan tetap menyusul. 

Tidak apa-apa Anna. Semua akan baik-baik saja. Esa juga akan baik-baik saja. Monolog Anna dalam hati.

✿✿✿✿✿

Bristol

"Dad, sekolah Dara akan segera melakukan praktik kerja lapangan bulan depan. " Ucap seorang anak perempuan yang kini tengah menikmati sarapan pagi bersama ayahnya.

Ayahnya mengangguk mengerti. "Bagus dong, dengan begitu kamu berada dalam pengawasan daddy lebih lama. "

"Kenapa begitu? Dara kan nanti akan praktik nya di perusahaan pilihan sekolah, jadi sama saja dengan Dara sekolah. Sama-sama tanpa daddy. " Jelas Dara. 

"Siapa yang bilang? Kamu akan praktik di hotel milik daddy. " Ucap sang ayah tegas. 

Dara melirik ayahnya sekilas. "Tidak mau! " Tolaknya cepat. "Lagipula hotel daddy kan tidak pernah menerima siswa PKL, bahkan mahasiswa magang pun tidak diperbolehkan. "

"Kenapa harus di hotel lain? Hotel milik daddy tahun ini juga menerima PKL dan semua itu karena kamu Dara. " Jelas sang ayah.

"Tapi Dara tidak mau diperlakukan istimewa. Hampir semua karyawan daddy mengenal Dara. " Dara menatap ayahnya serius. 

Sang ayah hanya terkekeh pelan. "Tidak ada yang akan mengistimewakan kamu di sana princess. " Ayahnya mengelus kepala sang anak dengan lembut. "Daddy akan mengatur semuanya. Bahkan jika perlu daddy sendiri yang akan langsung turun tangan membimbing kalian. "

Dara memutar bola matanya malas. "Aku yakin daddy tidak punya waktu untuk itu. Jadi berhenti bersikap posesif. "

"Daddy hanya khawatir dengan keadaanmu Dara, daddy tidak mau kamu kelelahan apalagi sampai sakit. "

"Tapi dad, Dara kan sudah besar jadi pasti bisa jaga diri dengan baik. " Lagi-lagi Dara protes.

Dareen, sang ayah hanya meletakkan jari telunjuknya di depan bibir putrinya dan menggeleng pelan. "Tidak ada penolakan sayang, daddy sudah memutuskan semuanya. "

Dara pun hanya mendesah pelan. Dia merasa ayahnya selalu berlebihan jika menyangkut dirinya. Padahal dia sudah besar sekarang tapi ayahnya memperlakukannya lebih dari pada ke anak kecil. Hey, usia Dara sekarang sudah 15 tahun. Meski kadang Dara merasa risih tapi akhirnya dia pasrah dan selalu menerima keputusan sang ayah. Dara sadar, semua yang dilakukan ayahnya hanya demi kebaikannya karena kondisinya sekarang. "Baiklah dad. "

Dareen tersenyum lembut, Dara memang sering protes tapi pada akhirnya dia tetap jadi penurut. 

"Dad, hari ini Dara pulang telat ya. "

Dareen mengangkat kedua alisnya meminta penjelasan Dara. "Kenapa?"

"Aku akan pergi menemani mommy belanja. " Dara tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.

"Hah, baiklah. Tapi ingat, jangan pulang terlalu larut dan katakan pada mommy mu untuk tidak mengajarkan hal-hal aneh. " Dareen memperingatkan putrinya.

"Ayolah dad, tentu saja tidak. Lagipula kita juga akan pergi bersama Jinu. Daddy kemusuhan sekali dengan mommy. Padahal kan dulu kalian saling mencintai. " Dara tertawa tanpa dosa. Tidak memperhatikan ekspresi wajah Dareen yang sudah berubah menjadi kaku.

Dareen menghela nafas berat, pandangannya berubah sendu. 

Aku tidak pernah mencintainya. Aku tidak pernah mencintai mommy mu Dara. Batin Dareen. 

✿✿✿✿✿

"Selamat pagi tuan Yuta. " Ucap seorang karyawan saat seorang pria memasuki toko kue miliknya.

"Pagi juga Mia. Kau selalu semangat seperti biasa. " Puji pria yang bernama Yuta tersebut pada Mia salah satu karyawannya yang sangat rajin.

"Hai Yuta, kau sudah datang rupanya. " Sapa Tomo yang baru saja keluar dari dapur. "Aku sudah membeli bahan-bahannya, kau hanya perlu membuat adonan seperti biasa, dan kali ini aku yang akan memanggang. " Lanjut Tomo yang masih sibuk dengan beberapa kantung belanjaan.

"Baiklah. " Jawab Yuta dengan suara dalam dan berat, khas seperti laki-laki lalu berjalan melewati Tomo yang terdiam ditempatnya. Tomo masih saja tidak terbiasa dengan nada bicara Yuta, mungkin karena Yuta adalah seorag perempuan jadi terkadang Tomo merasa geli sendiri.

Na Yuta atau yang orang-orang panggil dengan Yuta, nyatanya dia adalah Joanna Michelle atau Anna seorang wanita yang telah melahirkan seorang putra. Namun sejak 15 tahun lalu, orang-orang Jepang disekitarnya mengenal Anna sebagai seorang pria yang membesarkan putranya tanpa seorang istri. Anna merubah penampilan nya setelah dia melahirkan Khesa. 

Keputusan ini tidak dia ambil begitu saja. Semua dengan pemikiran yang matang, Anna tahu di negara tempat tinggalnya sekarang ,seorang perempuan yang memiliki anak akan mendapat banyak kesulitan terlebih dia adalah orang tua tunggal. Sebagai negara dengan budaya kerja keras, jam kerja yang panjang dan dedikasi terhadap pekerjaan yang tinggi sering kali menganggap jika kehadiran anak atau pasangan akan mengganggu karena anak akan menjadi prioritas utama dan dedikasi ke pekerjaan akan menjadi nomer sekian. Semua itu menjadi hal yang tidak bisa Anna abaikan, bagaimanapun dia harus punya pekerjaan dan menghasilkan uang untuk kelangsungan hidup dirinya dan juga sang putra. Dan sebagai perempuan, tentu hal itu akan menjadi hal yang sulit.

Di Jepang Anna bisa leluasa memulai hidup baru karena tidak ada siapapun yang mengenalnya. Sehingga penyamaran dirinya akan lebih aman. 

Untuk berada pada kondisinya sekarang, Anna tidak mendapatkannya dengan mudah. Dia kesulitan mendapat pekerjaan karena kurangnya pengalaman dan tidak ada ijazah, belum lagi dia juga harus merawat Khesa dalam waktu yang bersamaan. Setelah berubah menjadi pria pun Anna beberapa kali harus berganti pekerjaan terutama jika pekerjaan tersebut berhubungan dengan kemampuan fisik. Meskipun penampilannya seorang pria, tapi tetap saja Anna adalah wanita. 

Beruntung Anna bertemu dengan Tomo seorang pemuda Jepang yang bersedia menerima dan menjadi teman dekatnya selama ini. Membantunya mendapatkan pekerjaan hingga sekarang mereka sudah punya toko kue bersama. Sebenarnya tidak hanya Tomo yang membantu Anna dan juga tahu identitas aslinya, tapi ada satu orang lagi. Seorang pria tampan yang tidak pernah absen datang ke toko kue milik mereka.

"Selamat pagi tuan Sean. " Sapa Mia ramah. Iya, seorang pria lain yang tahu Anna bukan seorang laki-laki adalah Sean, saudara sepupunya Tomo.

"Pagi Mia, aku pesan menu sarapan seperti biasa. Dan tolong diantarkan oleh pemilik toko ini. " Jawab Sean dengan senyuman hangat di wajah tampannya.

Mia mengedipkan sebelah matanya. "Okey, pesanan akan segera tiba. " Setelahnya Mia dan Sean tertawa pelan bersama. Mereka memang sudah sangat akrab. 

Tidak berselang lama, pesanan Sean pun datang yang dibawakan langsung oleh Anna. "Berhenti datang kesini dan mengangguku. " Gerutu Anna, kemudian meletakan pesanan Sean dan duduk di kursi yang berhadapan dengan pria itu.

Sean hanya terkekeh. "Yuta-kun sedang merajuk. "

"Hentikan itu. " Anna memutar bola matanya bosan.

Sean tertawa pelan. "Ini alasan kenapa aku selalu kesini, aku suka melihat wajah kesalmu." Anna tahu kalau Sean sedang menggodanya.

"Kau benar-benar kurang kerjaan. " Anna segera berdiri, namun lengannya ditahan oleh Sean. "Temani aku sarapan dulu. "

"Aku sibuk. " Jawab Anna ketus.

"Ayolah, sebentar lagi kan kita akan jarang bertemu. " Rajuk Sean dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.

"Hah. " Anna menghela nafas panjang dan memilih mengalah untuk duduk kembali. "Makanlah. " Ucap Anna dengan ekspresi yang masih kesal. "Jangan merindukanku saat aku tidak disini. "

"Kau akan kembali kan? " Tanya Sean yang mulai serius.

"Tentu saja. " Jawab Anna tanpa ragu. "Aku di sana hanya untuk menemani Esa. " Tambah Anna.

"Syukulah. " Jawab Sean singkat.

"Aku akan kembali bagaimana pun itu. " Ucap Anna yakin. 

Jalau bisa aku akan kembali lebih cepat. Aku tidak akan berlama-lama di sana. Tidak juga dengan Esa. Batin Anna.

Anna mungkin berharap kepergiannya hanya sementara dan akan kembali secepat mungkin, tapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Belum lagi di Bristol selain tempat kelahirannya, semua orang yang dia kenal keluarga, teman, termasuk mantan suaminya berada disana.

*

*

*

- T B C -

With Love : Nhana

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 40 : Invitations to live together

Anna mengepalkan tangannya saat Dareen mengatakan dirinya akan membawa Esa pulang dan menjadikan Jane sebagai dokter pribadinya. Anna tahu ini demi kebaikan Esa, tapi kenapa harus Jane? Dan kenapa juga Jane harus tinggal bersebelahan dengan rumah tempat Anna dan Dareen tinggal dulu."Kenapa tidak dokter Hoya?" Tanya Anna kepada Dareen."Dokter Hoya terlalu sibuk Anna. Sebelumnya aku juga sudah berbicara dengan dia, dan dia sendiri malah menyarankan Jane." Jawab Dareen lembut. "Kamu tenang saja. Jane orangnya baik, dan juga sangat nyaman untuk diajak berbicara. Kita bisa mempercayakan Esa padanya, Esa mungkin akan lebih nyaman dengannya.""Kau yakin?" Tanya Anna lagi. "Dia masih sangat muda," Sebenarnya Anna tidak masalah, hanya saja dia takut. Takut jika apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan. Terlebih saat mendengar kata nyaman yang Dareen ucapkan.Dareen tersenyum, dia memaklumi Anna yang masih terlihat ragu. "Jane mungkin terlihat seperti masih muda,

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 39 : Like a premonition

Dareen menghela nafas berkali-kali. Pikirannya penuh dan juga beban di pundaknya terasa semakin berat. Kepalanya tertunduk lesu dengan nafas yang sedikit tidak beraturan. Esa masih tidur setelah diberikan obat penenang. Sedangkan Anna sendiri belum kembali dari pemeriksaannya. Dan tidak tahu menahu tentang kejadian yang dialami putranya.Sebuah tangan dengan jari-jari lentik menyodorkan sekaleng kopi kepada Dareen. Pria itu mendongak dan tersenyum ketika melihat siapa yang memberinya kopi, dengan segera dia mengambil dan membuka tutup kaleng tersebut."Terima kasih." Dareen mengangkat kaleng tersebut dan menenggak isinya sekaligus."Kau tampak sangat frustasi tuan."Dareen hanya tersenyum menanggapi. "Kau selalu melihatku dalam keadaan seperti ini Jane. "Jane membalas senyuman Dareen dan kini ikut duduk di sampingnya. Kebetulan mereka sedang berada di koridor rumah sakit tepat di depan kamar rawat Esa."Benar juga. Setiap kali kita

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 38 : Esa's pas

Pagi-pagi sekali Anna sudah bolak-balik kamar mandi karena mual. Sudah seminggu ini dia baik-baik saja dan tidak merasakan mual, tapi pagi ini perutnya kembali tidak enak.Dareen yang baru bangun segera menyusul Anna ke kamar mandi dan memijat tengkuknya. "Keluarkan saja Anna.""Tidak ada yang bisa di keluarkan lagi kak." Keluh Anna dengan suara yang lemas."Kalau begitu duduk dulu yuk, aku akan mengambilkan air hangat." Dareen memapah Anna setelah laki-laki itu mengangguk setuju.Anna duduk sambil memegangi perutnya yang mulai bergejolak tak nyaman. Kehamilannya yang sekarang terasa lebih melelahkan ketimbang pada saat Esa dulu."Nak tenang ya. Mama kelelahan jika harus terus bolak-balik ke kamar mandi." Dareen sedikit mengelus perut rata Anna, iya hanya sedikit karena dia tak

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 37 : Jenny's fiancee

Jesfer dan Anna kini berada di sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit. Sebelumnya mereka sudah lebih dulu meminta ijin kepada Esa, di sana juga ada Dareen sehingga Anna tidak merasa khawatir harus meninggalkan putranya. Lagipula Anna berniat tidak akan lama, hanya ingin berbicara berdua dengan Jesfer."Aku minta maaf karena pergi tanpa mengabari mu." Jesfer lagi-lagi meminta maaf untuk kesekian kalinya."Sudahlah. Aku juga tidak mempermasalahkan itu Jes." Anna menghela nafas. "Aku lebih penasaran dengan alasanmu pulang."Jesfer sedikit memainkan jari-jari tangannya diatas meja. Jelas dia tidak lagi bisa menyembunyikan apapun dari Anna. "Aku sedikit stress." Jawab Jesfer pada akhirnya."Ada masalah apa?"Jesfer tampak berpikir. Dia ragu harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak. "Emm, pekerjaan dan beberapa hal yang terjadi belakangan ini."Anna menatap Jesfer dengan lekat. "Katakan lebih jelas. Aku tahu kau me

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 36 : The other side of Esa

Anna menatap Esa penuh harap, sejak sejam yang lalu dirinya tidak berhenti membujuk Esa agar menghubungi Jesfer. Sedangkan Esa terus menolak dengan alasan dia tidak ingin bicara dengan siapapun, padahal kenyataannya Esa hanya merasa tidak enak dengan Dareen. Bagaimanapun di sana ada Dareen yang menatap Anna dengan tatapan terluka."Ayolah Esa, mama khawatir dengan keadaan Jesfer." Anna kembali merengek sambil memegang tangan Esa."Mama, aku tidak mau. Lagipula paman Jesfer mungkin sedang sibuk."Anna menggeleng cepat. "Tidak, jika Jesfer sibuk dia pasti masih sempat mengangkat panggilan dari mama."Lagi-lagi Esa memilih untuk melihat kearah D

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 35 : Playing the victim

Jung Jesfer, seorang anak laki-laki yang teramat tampan, manis dan juga cerdas. Begitu kesan pertama semua orang saat pertama kali bertemu dengan nya, termasuk Wendy. Hampir setiap tahun Wendy berkunjung ke makam suaminya dan sekaligus menjenguk Jesfer serta ibunya.Yoona memperkenalkan Wendy kepada Jesfer sebagai sahabatnya. Dan Jesfer kecilpun percaya itu. Namun seiring berjalannya waktu, Jesfer mulai menyadari jika Wendy bukan hanya sekedar sahabat ibunya.Jesfer menemukan semua biaya sekolahnya dibayar oleh Wendy. Awalnya Jesfer selalu bertanya-tanya kenapa ibunya selalu memasukan dia ke sekolah yang elit dengan biaya pendidikan yang mahal. Karena jika melihat kondisi ekonomi ibunya, Jesfer yakin ibunya akan keteteran. Yoona tidak miskin, hanya saja dia bukan orang kaya yang bisa mengeluarkan uangnya tanpa harus berpikir besok bagai

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 26 : Who?

Edo mengetuk-ngetukkan jari tangannya di atas meja. Sementara tangan lainnya dia gunakan untuk menopang dagu.Selama 30 menit, suasana masih juga canggung. Jinu yang duduk bersebrangan dengannya terus menundukkan kepala. Kedua tangannya dia tautkan untuk menghilangkan rasa gugup."A

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 25 : Something wrong

PRANGJinu tersentak, dan tanpa sengaja menjatuhkan gelas yang di pegangnya begitu Raiden mengatakan bahwa Edo menitipkan salam untuknya."Kau tidak apa? " Tanya Rai yang ikut terkejut.

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 24 : Suspiciousness

Tidak seperti biasa, sudah beberapa hari ini Wenda tampak berubah. Dia mulai kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Hanya saja ada perbedaan dari sebelumnya, Wenda terlihat lebih peduli dan perhatian terhadap Jinu. Tidak a

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 23 : Their Feelings

Anna segera menyelesaikan urusannya di toilet, entah kenapa tiba-tiba perasaanya tidak tenang. Dengan langkah cepat dia segera kembali ke kamar rawat Esa.

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy