loading
Home/ All /Behind The Heirs (Indonesia)/Chapter 11 : Full of emotion

Chapter 11 : Full of emotion

Author: Nhana
"publish date: " 2020-10-22 12:50:27

PLAK

Satu buah tamparan yang sangat keras berhasil Wendy layangkan di pipi mulus putranya. Emosinya kini sudah berada pada puncaknya. Setelah mendengar informasi tentang keributan yang terjadi di kantor Dareen, Wendy bergegas menemui putranya.

Dan disinilah mereka sekarang, di ruangan Daeen yang kedap suara bersama Wenda dan juga Dara. Keadaan mereka tampak kacau, tak ada satupun dari mereka berempat yang baik-baik saja. Terutama Dareen. Dareen masih tampak linglung, dia belum sepenuhnya menerima jika yang baru saja terjadi adalah sebuah kenyataan bukan mimpi apalagi halusinasi.

Dareen masih tidak bergeming dari tempatnya. Tamparan keras sang ibu tidak seberapa dengan rasa sakit yang kini menghimpit dadanya. Rasanya, hatinya seperti di remas. Bagaimana tidak, pertemuannya dengan seseorang yang dicarinya selama 15 tahun terakhir jutru berlangsung dengan cukup tragis.

Wenda juga sama, sekujur tubuhnya masih lemas tak bertenaga. Tidak dia sangka kalau hari ini akan tiba, hari yang paling diantisipasi olehnya. Ingin rasanya dia menangis dan meraung sejadi-jadinya namun keberadaan Dara di sampingnya membuat Wenda harus mati-matian agar tidak terlihat lemah.

Dara sejak tadi hanya diam saja, dia memilih untuk menududukkan dirinya diujung sofa dengan menekuk kedua lututnya. Tatapannya begitu kosong, terlihat sekali jika dia masih syok.

"Kau! Aku tidak pernah mengajarimu untuk menjadi anak yang brengsek Dareen Tucker! " Teriak Wendy dengan emosi yang masih menggebu-gebu. Matanya terlihat memerah akibat menahan tangis yang hampir saja pecah.

"Dulu kau hampir saja merusak persahabatan ku dengan Jessica. Dan sekarang? Sekarang apalagi DAREEN! Kau benar-benar brengsek sialan! Kenapa kau menyakiti mereka hah?! " Maki Wendy sambil memukul-mukul dada putranya.

"I-ibu. Maafkan aku. " Dareen menjatuhkan kedua lututnya dan memohon ampun.

"Bangun brengsek. Bukan padaku kau seharusnya memohon maaf. " Wendy menyingkirkan tangan Dareen yang berusaha menyentuhnya.

"A-aku tidak tahu jika itu adalah Anna. " Dareen sedikit membela dirinya.

Wendy memutar bola matanya tajam. "Kau benar-benar ingat membuatku muda mati Dareen. " Murka, itulah yang Wendy rasakan sekarang. "Bagaimana bisa kau menyakiti Anna dan juga Khesa, padahal yang mereka katakan adalah benar. " Kembali Wendy menaikkan suaranya.

"A-aku----. " Dareen berniat menanggapi ucapan ibunya, namun Wendy sudah lebih dulu memotong. "Lagi-lagi kau membela mereka dengan buta dan mengulang kesalahan yang sama. "

"Dara anakku ibu. Aku tidak bisa mendengarnya di hina seperti itu, dia tidak tahu apa-apa. Terlebih aku sudah katakan jika aku tidak tahu itu Anna. " Dareen kali ini berani membela diri lebih terang-terangan.

"Lagi, lagi, dan lagi kau membelanya mati-matian. " Wendy menunjuk Dara. "Kau membelanya, tapi kau menyakiti Esa. Kau bahkan melayangkan tinju mu padanya. Padahal mereka sama-sama anakmu. " Teriak Wendy yang sudah berada di ujung kesabarannya.

"A-apa maksud ibu dengan Khesa itu anakku? " Tanya Dareen terbata dan begitu terkejut. Begitupun dengan Wenda dan Dara.

"Kau masih belum juga sadar hah? Kau tidak menangkap apa yang Anna katakan? Kau tidak dungu Dareen. Jelas sekali kalau Anna sudah mengungkap siapa Esa sebenarnya "

"Esa anakku? " Tanya Dareen pada dirinya sendiri seperti orang bodoh.

"Ya, dia anakmu. Anak yang tidak pernah kau ketahui keberadaannya. Anak yang harus hidup tanpa seorang ayah. Anak yang sejak dalam kandungan sudah dikucilkan karena perbuatan mu. Anak yang tidak punya kesempatan untuk memiliki teman karena dosa yang dilakukan ayahnya. Anak yang masih bisa tersenyum seberapapun kehidupan menyakitinya. Anak yang dibesarkan oleh kasih sayang dan perjuangan ibunya, anak yang sangat dicintai ibunya. Dan sekarang kau menyakitinya! " Tangis Wendy pecah. Setiap kali dia mengingat dan membayangkan kehidupan Anna dan Esa hatinya perih, mantan menantu dan cucunya selama ini sudah melalui masa-masa yang sangat sulit. Terlebih orang yang menyebabkannya adalah putranya sendiri.

"Dan kau! Kau disini hidup dengan nyaman. Memanjakan putrimu yang satunya lagi dengan kasih sayang dan harta yang lebih dari berkecukupan. "

"I-ibu." Lirih Dareen. Isakan tangis mulai terdengar dari bibirnya.

"Sekarang kau sudah jelas Dareen Tucker? Sudah puas hah? Dan sekarang kau tidak lagi punya kesempatan. Anna sudah mengatakan bahwa hari ini kau sudah mati. " Wendy kemudian melangkah mendekati Wenda dan Dara.

"Kau! " Tunjuk Wendy kepada mereka berdua. "Sekarang kau tahu kenapa aku tidak pernah bisa memberimu kasih sayang. Semua karena ibumu. Ibu dan ayahmu adalah seorang pendosa dan kau terlahir karena kesalahan mereka. " Wendy berteriak marah kepada Dara.

"Cukup! " Teriak Wenda. "Aku dan Dareen memang salah, tapi jangan pernah menyalahkan Dara, dia tidak tahu apa-apa. " Entah mendapat keberanian dari mana Wenda berani berteriak kepada Wendy.

"Jika saja kau tahu diri, semua tidak akan terjadi. Sudah jelas hubungan kalian salah, tapi kau masih saja berada diantara mereka. Seharusnya kau tinggal bersama suami dan anakmu dengan nyaman. Bukan malah kembali dan mencoba menempati posisi di samping Dareen dan Dara. " Wendy bertambah geram karena perlawanan Wenda.

"Karena aku ibunya. Aku berhak berada di sampingnya dan melindunginya. " Wenda memeluk Dara yang sedang menangis tersedu.

"Aku juga seorang ibu, sialan. Aku ibu dari Dareen, dan aku tahu kebahagian putraku hanya ada bersama istri dan anaknya. Dan kau! Kau hadir merusak semuanya, kau merampas hak Anna dan juga Khesa. "

"Cukup! Sekarang kalian semua keluar dari ruangan ku! " Bentak Dareen sambil bangkit dari posisinya dan membanting pintu ruang khusus di dalam ruang kerjanya.

Wendy, Wenda dan Dara seketika terdiam.

✿✿✿✿✿

"H-hai. " Sapa seorang bocah bongsor yang sedang duduk di samping Esa.

"Hai juga Do. " Jawab Esa ramah.

"Emm, Esa maaf baru menyapamu sekarang. " Elfredo atau yang biasa dipanggil Edo itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Esa terkekeh pelan. "Iya, kau sombong sekali. Kita berada di kelompok yang sama tapi baru kali ini kita berbicara. "

"Itu karena aku tidak tahu harus berkata apa. " Edo tersenyum menampakkan gigi putihnya yang rapi.

"Ck, kau ini lucu sekali. " Esa mencubit pipi Edo gemas. Meskipun mereka berada di grade yang sama, nyatanya Edo setahun lebih muda darinya.

"Aku baru tahu jika kita bersaudara. "

Esa pun mengangguk. "Aku juga. Ternyata paman Edwin sepupuan dengan mama. " Mereka sekarang tengah berada di kamar Edo, lebih tepatnya di studio musik pribadi milik anak itu.

Esa tidak pernah tahu, jika Edo yang dia kenal sebelas-duabelas cueknya seperti Jenny, nyatanya anak itu sangat ramah dan seorang yang jenius musik pantas saja dia masuk kelas percepatan.

Berbeda dengan Esa dan Edo yang sedang mengakrabkan diri, Edwin dan Hana justru masih dilanda kekhawatiran akibat Anna yang masih belum juga sadarkan diri.

"Bagaimana ini kak, aku takut kak Anna kenapa-kenapa. " Hana mengigit kuku jarinya sambil terus berjalan bolak-balik mengitari tempat tidur yang digunakan oleh Anna.

"Han, tenanglah. Anna akan baik-baik saja, dia hanya syok. " Edwin juga sama. Dia begitu khawatir, hanya saja dia tidak menunjukannya seperti Hana. Edwin juga sudah menghubungi kedua orang tua Anna, mengatakan bahwa Anna dan Esa ada di rumahnya namun tidak mengatakan keadaan sesungguhnya dan apa yang sudah terjadi.

Anna menggeliat pelan. Perlahan dia membuka matanya dan berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya. Ketika manik matanya terbuka dengan sempurna, kening Anna mengernyit mendapati pemandangan asing yang menyambutnya. "Aku dimana? " Tanyanya dengan suara parau.

"Kak! " Teriak Hana spontan dari tempat duduknya begitu mendengar suara Anna.

"Anna, kau sudah sadar? " Tanya Edwin dengan lega.

Anna mengangguk lemah. "Aku dimana kak Edwin? "

"Kau ada si rumah kami kak." Jawab Hana dengan senyum lega melihat Anna telah sadar.

Anna menatap Hana dengan dalam, dia baru sadar jika lelaki itu sejak tadi bersamanya. "Astaga Hana? Itu benar kau? " Anna menutup mulutnya tak percaya.

"Iya kak, ini aku Hana " Hana mengangguk dan segera memeluk Anna. "Kemana saja kau kak. Hiks, aku rindu. Kau jahat sekali. " Cerca Hana dengan tangisan yang sudah membanjiri pipinya.

"Aku juga merindukanmu han. Maaf kak berhenti menghubungimu. " Anna menyesal karena telah membuat sahabat kecil kesayangannya menangis.

Hana mengurai pelukan mereka. "Tidak apa-apa kak, selama kaka baik-baik saja aku sudah senang. "

"Kau masih Hana-ku yang paling baik. " Anna menghapus air mata Hana yang terus mengalir.

"Kak, dimana Esa? " Tanya Anna begitu menyadari ia tidak melihat anaknya.

"Esa ada di kamar Edo. " Jawab Edwin yang mengerti ada nada kekhawatiran dalam pertanyaan Anna.

"Edo anakku kak. Mereka ada di kelas yang sama, jadi tidak perlu khawatir. " Jelas Hana menjawab raut kebingungan Anna.

"A-apa Esa baik-baik saja? "

"Dia baik Na. Esa baru saja selesai makan bersama Edo. Dan sekarang mereka sedang bermain musik di kamar. " Edwin mengusap kepala Anna dengan sayang.

"Sekarang kakak makan dulu ya? Aku takut kak Anna kenapa-kenapa. " Hana menggenggam tangan Anna khawatir.

Anna menggeleng pelan. "Aku tidak lapar Han. " Tolak nya dengan halus.

"Semuanya akan baik-baik saja Anna. Mulai sekarang, aku dan Anna akan melindungi kalian. Kau dan Esa akan menjadi tanggung jawabku mulai sekarang. " Edwin membawa Anna kedalam pelukannya. "Maaf karena begitu terlambat menemukan kalian. "

Hana tersenyum melihat interaksi kedua saudara tersebut. Inilah yang membuat Hana dulu jatuh cinta pada Edwin. Edwin sangat lembut dan penuh kasih sayang, meskipun sifat receh dan lawaknya terlalu dominan.

"Kakak, harus makan ya sekarang. Kak Anna harus tetap sehat dan kuat untuk menghadapi mereka. Mulai sekarang kita akan bertarung. " Hana tertawa canggung begitu mengatakan hal-hal yang sedikit berlebihan. Tapi Anna justru tersenyum senang dan mengangguk setuju.

✿✿✿✿✿

Raiden menghela nafas berkali-kali, sejak membawa Wenda pulang. Istrinya itu tidak hanya berdiam diri di pojok ruangan tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia tidak menangis, tidak juga melakukan apapun. Hanya duduk diam dengan pandangan kosong.

"Papa, mama kenapa? " Tanya Jinu yang sejak tadi memperhatikan ibunya.

"Mama sedang ada masalah. Jinu masuk kamar ya, nanti papa panggil untuk makan malam. " Raiden mengecup puncak kepala anaknya dengan lembut.

"Baiklah. " Jinu pun pergi meninggalkan ayahnya. Usia Jinu saat ini adalah 13 tahun, dia terpaut 2 tahun dengan Dara tapi dia sangat dewasa dan pengertian sama seperti ayahnya. Dia tidak pernah keberatan saat ibunya lebih banyak menghabiskan waktu dengan kakak tirinya. Dia juga tidak pernah mengeluh jika sang ibu terus menerus membanggakan Dara dihadapannya.

Selain Anna, ada Raiden yang sebenarnya juga merupakan korban. Namun dia terlalu baik dan pengertian. Dia menikahi Wenda saat kondisi Wenda tengah hamil anaknya Dareen. Keluarga Dareen yang menolak Wenda dengan keras membuat Raiden iba dan tetap melanjutkan pernikahan mereka, padahal saat itu hatinya juga tengah terluka. Bagaimana mungkin tidak, dua minggu sebelum menjelang pernikahan dia justru mendapati calon istrinya tengah mengandung anak orang lain.

Raiden mendampingi Wenda selama masa kehamilan, dia juga tidak keberatan saat sesekali Dareen berkunjung dan menghabiskan waktu bersama istrinya. Bukan berarti dia tidak sakit hati, hanya saja dia berusaha mengerti posisi Dareen yang ingin bertanggung jawab terhadap anaknya. Karena satu hal yang dia tahu, Dareen tidak pernah mencintai Wenda. Sampai tiba saat dimana Wenda melahirkan dan menyerahkan anaknya kepada Dareen. Saat itulah Raiden baru memiliki Wenda sepenuhnya dan mengahdirkan Jinu di dunia.

"Sudah saatnya kalian menyelesaikan semuanya. " Ucap Raiden dengan tatapan yang tak lepas dari Wenda.

"A-aku tidak tahu harus bagaimana Rai. " Jawab Wenda pelan.

"Temui dia. Kalian perlu bicara. Anna sudah terlalu lama menderita. Mungkin penjelasan kalian akan sedikit mengurangi beban di hatinya, walaupun mendapatkan maaf darinya adalah hal yang mustahil. " Raiden memberikan saran kepada Wenda. "Terlebih setelah apa yang terjadi kemarin. Kurasa kalian sudah menutup pintu maaf darinya. "

"Dia pasti sangat membenciku. " Gumam Wenda.

"Tentu saja. Dan itu wajar. "

"Rai---. " Ucapan Wenda lemah.

"Sudahlah, aku harus membuat makanan. Jinu pasti sudah kelaparan. " Kemudian Raiden meninggalkan Wenda yang kembali terisak. Bukannya tidak mau menenangkan, tapi Raiden memberi kesempatan kepada Wenda untuk merenung.

*

*

*

- T B C -

With Love : Nhana

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 40 : Invitations to live together

Anna mengepalkan tangannya saat Dareen mengatakan dirinya akan membawa Esa pulang dan menjadikan Jane sebagai dokter pribadinya. Anna tahu ini demi kebaikan Esa, tapi kenapa harus Jane? Dan kenapa juga Jane harus tinggal bersebelahan dengan rumah tempat Anna dan Dareen tinggal dulu."Kenapa tidak dokter Hoya?" Tanya Anna kepada Dareen."Dokter Hoya terlalu sibuk Anna. Sebelumnya aku juga sudah berbicara dengan dia, dan dia sendiri malah menyarankan Jane." Jawab Dareen lembut. "Kamu tenang saja. Jane orangnya baik, dan juga sangat nyaman untuk diajak berbicara. Kita bisa mempercayakan Esa padanya, Esa mungkin akan lebih nyaman dengannya.""Kau yakin?" Tanya Anna lagi. "Dia masih sangat muda," Sebenarnya Anna tidak masalah, hanya saja dia takut. Takut jika apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan. Terlebih saat mendengar kata nyaman yang Dareen ucapkan.Dareen tersenyum, dia memaklumi Anna yang masih terlihat ragu. "Jane mungkin terlihat seperti masih muda,

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 39 : Like a premonition

Dareen menghela nafas berkali-kali. Pikirannya penuh dan juga beban di pundaknya terasa semakin berat. Kepalanya tertunduk lesu dengan nafas yang sedikit tidak beraturan. Esa masih tidur setelah diberikan obat penenang. Sedangkan Anna sendiri belum kembali dari pemeriksaannya. Dan tidak tahu menahu tentang kejadian yang dialami putranya.Sebuah tangan dengan jari-jari lentik menyodorkan sekaleng kopi kepada Dareen. Pria itu mendongak dan tersenyum ketika melihat siapa yang memberinya kopi, dengan segera dia mengambil dan membuka tutup kaleng tersebut."Terima kasih." Dareen mengangkat kaleng tersebut dan menenggak isinya sekaligus."Kau tampak sangat frustasi tuan."Dareen hanya tersenyum menanggapi. "Kau selalu melihatku dalam keadaan seperti ini Jane. "Jane membalas senyuman Dareen dan kini ikut duduk di sampingnya. Kebetulan mereka sedang berada di koridor rumah sakit tepat di depan kamar rawat Esa."Benar juga. Setiap kali kita

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 38 : Esa's pas

Pagi-pagi sekali Anna sudah bolak-balik kamar mandi karena mual. Sudah seminggu ini dia baik-baik saja dan tidak merasakan mual, tapi pagi ini perutnya kembali tidak enak.Dareen yang baru bangun segera menyusul Anna ke kamar mandi dan memijat tengkuknya. "Keluarkan saja Anna.""Tidak ada yang bisa di keluarkan lagi kak." Keluh Anna dengan suara yang lemas."Kalau begitu duduk dulu yuk, aku akan mengambilkan air hangat." Dareen memapah Anna setelah laki-laki itu mengangguk setuju.Anna duduk sambil memegangi perutnya yang mulai bergejolak tak nyaman. Kehamilannya yang sekarang terasa lebih melelahkan ketimbang pada saat Esa dulu."Nak tenang ya. Mama kelelahan jika harus terus bolak-balik ke kamar mandi." Dareen sedikit mengelus perut rata Anna, iya hanya sedikit karena dia tak

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 37 : Jenny's fiancee

Jesfer dan Anna kini berada di sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit. Sebelumnya mereka sudah lebih dulu meminta ijin kepada Esa, di sana juga ada Dareen sehingga Anna tidak merasa khawatir harus meninggalkan putranya. Lagipula Anna berniat tidak akan lama, hanya ingin berbicara berdua dengan Jesfer."Aku minta maaf karena pergi tanpa mengabari mu." Jesfer lagi-lagi meminta maaf untuk kesekian kalinya."Sudahlah. Aku juga tidak mempermasalahkan itu Jes." Anna menghela nafas. "Aku lebih penasaran dengan alasanmu pulang."Jesfer sedikit memainkan jari-jari tangannya diatas meja. Jelas dia tidak lagi bisa menyembunyikan apapun dari Anna. "Aku sedikit stress." Jawab Jesfer pada akhirnya."Ada masalah apa?"Jesfer tampak berpikir. Dia ragu harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak. "Emm, pekerjaan dan beberapa hal yang terjadi belakangan ini."Anna menatap Jesfer dengan lekat. "Katakan lebih jelas. Aku tahu kau me

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 36 : The other side of Esa

Anna menatap Esa penuh harap, sejak sejam yang lalu dirinya tidak berhenti membujuk Esa agar menghubungi Jesfer. Sedangkan Esa terus menolak dengan alasan dia tidak ingin bicara dengan siapapun, padahal kenyataannya Esa hanya merasa tidak enak dengan Dareen. Bagaimanapun di sana ada Dareen yang menatap Anna dengan tatapan terluka."Ayolah Esa, mama khawatir dengan keadaan Jesfer." Anna kembali merengek sambil memegang tangan Esa."Mama, aku tidak mau. Lagipula paman Jesfer mungkin sedang sibuk."Anna menggeleng cepat. "Tidak, jika Jesfer sibuk dia pasti masih sempat mengangkat panggilan dari mama."Lagi-lagi Esa memilih untuk melihat kearah D

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 35 : Playing the victim

Jung Jesfer, seorang anak laki-laki yang teramat tampan, manis dan juga cerdas. Begitu kesan pertama semua orang saat pertama kali bertemu dengan nya, termasuk Wendy. Hampir setiap tahun Wendy berkunjung ke makam suaminya dan sekaligus menjenguk Jesfer serta ibunya.Yoona memperkenalkan Wendy kepada Jesfer sebagai sahabatnya. Dan Jesfer kecilpun percaya itu. Namun seiring berjalannya waktu, Jesfer mulai menyadari jika Wendy bukan hanya sekedar sahabat ibunya.Jesfer menemukan semua biaya sekolahnya dibayar oleh Wendy. Awalnya Jesfer selalu bertanya-tanya kenapa ibunya selalu memasukan dia ke sekolah yang elit dengan biaya pendidikan yang mahal. Karena jika melihat kondisi ekonomi ibunya, Jesfer yakin ibunya akan keteteran. Yoona tidak miskin, hanya saja dia bukan orang kaya yang bisa mengeluarkan uangnya tanpa harus berpikir besok bagai

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 26 : Who?

Edo mengetuk-ngetukkan jari tangannya di atas meja. Sementara tangan lainnya dia gunakan untuk menopang dagu.Selama 30 menit, suasana masih juga canggung. Jinu yang duduk bersebrangan dengannya terus menundukkan kepala. Kedua tangannya dia tautkan untuk menghilangkan rasa gugup."A

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 25 : Something wrong

PRANGJinu tersentak, dan tanpa sengaja menjatuhkan gelas yang di pegangnya begitu Raiden mengatakan bahwa Edo menitipkan salam untuknya."Kau tidak apa? " Tanya Rai yang ikut terkejut.

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 24 : Suspiciousness

Tidak seperti biasa, sudah beberapa hari ini Wenda tampak berubah. Dia mulai kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Hanya saja ada perbedaan dari sebelumnya, Wenda terlihat lebih peduli dan perhatian terhadap Jinu. Tidak a

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 23 : Their Feelings

Anna segera menyelesaikan urusannya di toilet, entah kenapa tiba-tiba perasaanya tidak tenang. Dengan langkah cepat dia segera kembali ke kamar rawat Esa.

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy