loading
Home/ All /Behind The Heirs (Indonesia)/Chapter 10 : Its You

Chapter 10 : Its You

Author: Nhana
"publish date: " 2020-10-21 23:15:21

Anna tidak mengurungkan diri untuk mengantarkan berkas tersebut kepada pemilik hotel Produce tersebut. Beruntung dia lebih dulu bertemu dengan Edwin dan mengetahui tentang semuanya dari sepupunya itu. Edwin juga yang membantu Anna agar berkas yang dia bawa sampai ke tangan Dareen tanpa harus bertatapan langsung dengannya.

Tapi keberuntungan Anna hanya sebatas itu. Setelahnya dia mendapati Esa tengah menikmati waktu istirahat dengan bercanda gurau bersama Dara di ruang rapat yang kosong. Dara bahkan sesekali terlihat memasukkan snack kedalam mulut Esa, meski Esa terus berusaha menolaknya.

Anna geram, sangat. Pasalnya dia sudah menyuruh Esa maupun Dara untuk tidak berdekatan, tapi ternyata mereka mengabaikan itu. Kekesalannya bertambah saat Anna mendapat informasi jika Esa kembali dikucilkan akibat rumor tentang asal-usulnya. Dan dari pengakuan Esa, dia hanya menceritakannya pada Dara.

Dengan langkah cepat Anna memasuki ruangan tersebut yang memang pintunya terbuka. "Apa yang kalian lakukan di sini? " Geram Anna yang membuat Esa dan Dara terkejut.

"P-papa/Paman" Jawab Esa dan Dara bersamaan.

"Jawab Esa!! " Desis Anna yang terlihat marah.

"Aku sedang mengerjakan tugas sekolah, kebetulan ruangan ini kosong. Jadi Esa dan Dara menggunakannya sekalian untuk istirahat juga. "

"Yang papa lihat tidak seperti itu. Kau dan dia hanya tertawa bersama lalu kau menyuapi Esa tanpa tahu malu. " Tunjuk Anna kepada Dara.

"M-maaf kan aku paman. " Dara menundukkan kepalanya karena takut dan malu.

"Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak dekat-dekat dengan Esa. Tapi kau masih saja menempel padanya. Apa kau menyukai Esa? " Tanya Anna dengan tatapan yang sangat tajam.

"Papa, cukup! " Esa sedikit menaikan nada suaranya.

"Ya, aku menyukai Esa paman. " Jawab Dara dengan yakin. Kali ini tidak dengan suara yang bergetar.

Esa terkejut, matanya melotot tak percaya. Sedangkan Anna, jangan di tanya. Matanya nyaris keluar, dan rahangnya jatuh begitu saja. Ternyata yang dia takutkan benar adanya.

"Kau! Berani sekali kau menyukai putraku. " Anna marah, emosinya sudah berada di puncak kepala.

Anna tidak membenci Dara, meskipun tidak bisa dipungkiri setiap kali dia melihat Dara hatinya berdenyut nyeri dan membandingkannya dengan kehidupan Esa selama ini. Sejak awal Anna bertemu Dara, dirinya merasa tidak nyaman dengan tatapan anak itu. Tatapannya pada Esa jelas sekali adalah tatapan memuja. Anna tidak bodoh, untuk mengetahui bahwa Dara menyukai putranya. Rasa suka yang tidak boleh ada diantara mereka. Beruntung Esa tidak menunjukkan apapun, jika saja Anna melihat hal yang sama di mata Esa, mungkin sekarang dia akan gila.

"Apa salah aku menyukai Esa paman? " Tanya Dara yang entah mendapat keberanian dari mana untuk berbicara seperti itu pada Anna yang jelas-jelas menentangnya.

"Salah! Dan itu tidak boleh terjadi sampai kapanpun. " Jawab Anna yang masih diliputi emosi.

"Papa sudah cukup, kita tidak boleh ribut disini. " Esa berusaha menenangkan ibunya.

Wenda yang entah sejak kapan berada di sana segera masuk dan menampar Anna.

PLAK

"Apa yang sudah kau lakukan pada anakku? Berani sekali kau berteriak padanya? " Teriak Wenda kepada Anna.

PLAK

Satu tamparan keras berhasil mendarat di wajah mulus Wenda. "Kau, ajari anakmu agar tahu diri. "

"Kau laki-laki sialan, beraninya dengan perempuan. Dan berani sekali kau memukulku dan mengatai anakku. " Wenda menggeram marah dengan kedua tangan yang sudah terkepal.

"Oh, aku lupa. Pantas saja anaknya tidak tahu diri, karena ibunya pun begitu. " Sindir Anna dengan tatapan meremehkan.

"APA? Apa katamu? Tidak tahu diri? Yah kau benar-benar menguji kesabaran ku rupanya. " Kali ini Wenda mendorong tubuh Anna hingga membentur tembok. Wenda sedikit terkejut karena tubuh pria yang dia dorong ternyata cukup lemah.

"Jangan pernah sekalipun menghina anakku, atau kau akan berurusan denganku. " Desis Wenda sambil mencengkram rahang Anna.

Anna dengan keras menyingkirkan tangan Wenda dari wajahnya. "Aku tidak tertarik dengan kalian, apalagi berurusan denganmu. Jika saja anakmu itu mau bekerja sama dan mendengarkan kata-kataku. "

Dara yang melihat pertengkaran antara ibunya dengan ayah Esa hanya bisa menundukkan wajahnya semakin dalam.

"Dengar! Aku juga tidak tertarik dengan anakmu. Tapi aku bukan orang tua yang egois sepertimu, aku mencintai putriku dan aku menghormati pilihannya untuk berdekatan dengan siapapun termasuk anakmu. " Emosi Wenda semakin memuncak, pasalnya dia mengenal Esa sebagai anak baik tapi kenapa ayahnya sangat mengesalkan.

"Dia tidak boleh berdekatan dengan anakku. Dara tidak boleh menyukai Esa. " Teriak Anna yang membuat Esa dan Dara terkejut. Dara bahkan hampir menangis.

"Seharusnya kau merasa terhormat, karena anakku menyukai anakmu yang tidak jelas asal-usulnya itu. " Wenda tersenyum miring.

"Terhormat? Dan apa kau bilang tadi, tidak jelas asal-usulnya? Kau bercanda hah?! " Teriak Anna yang kini menjadi lebih emosi dari pada Wenda.

"Cih, kau pikir aku tidak tahu? Esa itu hanya memiliki orang tua tunggalkan? Dia anak haram. " Wenda tertawa puas karena sudah melihat gurat kemarahan dalam wajah Anna. Ya, yang menyebarkan rumor disekolah tentang Esa adalah Wenda bukan Dara. Wenda melakukannya untuk membalas perbuatan Anna akibat penghinaan yang dia terima tempo lalu dari ibu Dareen.

"Kau sepertinya perlu kaca. Setidaknya Esa bukan anak yang terlahir dari hubungan gelap bersama suami orang lain. " Kali ini Anna yang tersenyum meremehkan. Wenda dan Dara seketika menegang sempurna. Tatapan khawatir Wenda segera beralih kepada Dara yang saat ini tengah menggigit bibirnya dengan air mata yang sudah menggenang.

"M-mom apa maksudnya ini? " Tanya Dara dengan terbata dan siap untuk meledakkan tangisnya.

"D-Dara sayang, t-tidak seperti itu. Tolong jangan dengarkan dia. " Wenda segera menghampiri Dara dan memluknya.

BRAK

Suara gebrakan meja baru saja terdengar dan mengagetkan semua orang yang tengah bersitegang dalam ruangan tersebut.

"Kau! " Tunjuk seseorang yang baru saja datang itu kepada Anna. "Apa yang kau katakan barusan? " Ucapnya datar dan dingin dengan tatapan membunuh.

Anna menelan ludahnya kasar, dan segera menetralkan perasaannya. "Apa yang kau ingin dengar dariku? " Tantang Anna dengan tatapan nyalang.

"Kau bilang apa barusan sialan?! " Dareen, pria yang baru saja menggebrak meja itu kini tengah mencengkram kerah baju Anna. Anna yang saat itu tengah menggunakan kemeja dan celana bahan panjang hanya menjinjitkan kakinya akibata tarikan yang cukup kuat dari Dareen di lehernya.

"Kurasa kau tidak tuli. " Desis Anna dengan tajam.

"Kau! Sekali lagi kau mengusik mereka dan mengatakan hal-hal yang tidak berguna, maka aku akan dengan senang hati mengirim mu ke neraka. " Ucap Dareen yang belum mau melepaskan cengkraman nya.

Anna menepis tangan Dareen dengan kuat, namun tidak berhasil. Akhirnya dia pun memalingkan wajahnya dan membuang ludah di samping Dareen. "Cih, kau masih sama saja selalu membela mereka mati-matian. " Pertemuan Anna dengan Dareen setelah 15 tahun lamanya harus dimulai dengan pertengkaran.

Dareen yang tidak mengerti perkataan Anna barusan justru menjadi semakin geram dan hampir melayangkan pukulan sebelum ucapan Anna membuatnya membeku di tempat. "Bahkan sampai kehilangan istrimu pun kau tidak peduli. " Anna terkekeh meremehkan.

Wenda membulatkan matanya, entah kenapa perkataan pria yang sejak tadi bertengkar dengannya itu terus saja mengarah kepada masa lalu, kepada seseorang yang sudah dia lupakan. Ah lebih tepatnya yang berusaha Wenda lupakan.

"Kau! " Dareen semakin mendesis tajam. "Tahu apa kau sialan! " Bentak Dareen yang sudah semakin dikuasi amarah apalagi setelah mendengar isakan dari Dara.

Dareen melayangkan satu pukulan, namun tangannya berhasil di tahan oleh Esa yang sejak tadi hanya diam dan mengamati situasi yang terjadi.

"Jangan pernah kau sentuh mama-ku. " Desis Esa yang masih mencengkram kuat pergelangan tangan Dareen. Dareen dan semua yang berada di ruangan terdiam, mereka tidak mengerti kenapa Esa tiba-tiba Esa memanggil ayahnya dengan sebutan mama bukan papa.

"E-Esa. " Ucap Anna dan Dara bersamaan.

"Mama, mama tidak apa-apa kan? " Esa panik begitu mendapati lebam di wajah ibunya.

"Kau! Kau sudah menyakiti ibuku ku sialan! " Esa membentak Dareen tepat di hadapannya.

"Apa maksudmu dengan ibumu? " Tanya Dareen

"Kau! Kau benar-benar tidak punya sopan santun. Berani sekali kau membentak atasanmu. " Teriak Wenda.

"Sopan santun? Aku tidak harus melakukannya kepada seorang bajingan dan juga seorang yang murahan. " Jawab Esa.

BUGH

Satu pukulan keras berhasil menghantam wajah tampan Esa dan membuatnya tersungkur ke lantai.

"Khesa! " Teriak Anna.

"D-dad, jangan lakukan itu. " Ucap Dara lemah.

Anna segera menghampiri Esa dan memeluknya. "Astaga sayang, kau tidak apa-apa? " Panik Anan. Anna memeluk Esa dengan kuat dan mulai terisak.

Esa tersenyum dan menyeka darah di sudut bibirnya. "Mama. " Ucap Esa sambil memegang kedua tangannya. "Katakan padaku, apa mereka orangnya? " Tanya Esa dengan tatapan lembut namun sangat dalam.

"Sa. " Lirih Anna. "Esa berjanji satu hal pada mama sayang. Kau, k-kau tidak boleh menyukai Dara. " Anna meremas tangan Esa dengan kuat. "Tidak, tidak. Kau harus bersumpah tidak akan pernah jatuh cinta padanya. " Anna menggelengkan kepalanya dengan cepat.

Tiga pasang mata yang ada di ruangan tersebut hanya menatap mereka dengan penuh tanda tanya. Terutama Dara, manik matanya sudah sangat gelap oleh air mata. Dara sudah jatuh cinta pada Esa, dan sekarang tidak ada lagi harapan untuknya. Ayahnya Esa ah maksudnya ibunya sudah meminta putranya bersumpah atas namanya.

Esa tidak menanggapi pertanyaan sang ibu. "Benar mereka ma? Mereka yang membuat kita seperti ini? Mereka yang sudah membuat mama menderita? " Tanya Esa kepada Anna.

Anna menggigit bibirnya dengan keras dan menganggukan kepalanya. "Ya mereka. "

"Kalau begitu, aku bersumpah tidak akan pernah jatuh cinta pada Dara. Dan aku juga bersumpah akan membalas semua perbuatan mereka. "

"Apa maksudmu? " Teriak Wenda tidak terima. "Aku dan Dareen tidak pernah merasa menyakiti siapapun, apalagi Dara. Anakku tidak pernah sama sekali. "

"Sayang sekali. Padahal aku sempat menyukai Esa. Tapi ayahmu kurang waras, dan dia berhasil mencuci otakmu. " Kali ini Dareen yang bersuara.

Esa melotot tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dareen. Baru saja dia akan menerjang pria itu dengan pukulan, Anna telah lebih dulu menghentikannya dengan menarik tangan Esa.

Anna berdiri dari posisinya semula. "Benarkah? Benarkah kalian tidak pernah menyakiti siapapun? " Tanyanya dengan suara yang terdengar lirih dan kecewa. Perlahan langkah kaki Anna membawa tubuhnya mendekati mereka.

Begitu jarak antara dirinya dan Dareen sudah cukup dekat. Anna menghela nafas berat. "Kalau kalian merasa tidak menyakiti siapapun, maka dia tidak akan pernah ada. " Tunjuk Anna kepada Dara.

Wenda dan Dareen semakin di buat terkejut oleh setiap penuturan Anna.

"Mama." Ucap Esa mengingatkan.

Anna kembali melanjutkan perkataannya. "Dan dia, dia tidak akan pernah hidup sendirian. " Kali ini jari telunjukknya mengarah kepada Esa.

"Aku membawanya selama 9 bulan dalam perutku. Berjalan sendirian menyusuri sepanjang jalanan kota tanpa kendaraan dan tidak punya tujuan. Terkadang aku juga kelaparan, namun tidak punya uang untuk membeli makanan. Tidak ada pula yang mau memberiku pekerjaan. Sedangkan seseorang diluar sana tengah hidup dalam rumah yang megah bersama selingkuhan dan anak mereka. Dan Khesa, dia bahkan tidak pernah tahu bagaimana rasanya susu ibu hamil. Memikirkannya saja kadang membuatku hampir gila. "

Anna menatap Esa sangat dalam dan menghampirinya. "Ingin rasanya aku mengakhiri semua penderitaan dan juga hidupku. Namun gerakannya di dalam perutku membuatku tersadar, bahwa ada jiwa yang harus ku kulindungi, ada jiwa yang membutuhkan kasih sayangku. Ada kehidupan yang menantiku di dalam sana. Hingga tiba saatnya dia lahir dan memanggilku mama. "

Anna kemudian melanjutkan ceritanya. "Aku membawanya jauh dari kehidupanku sebelumnya. Membesarkannya dengan kasih sayang dan cinta yang kupunya. Dia adalah satu-satunya hartaku yang berharga. "

Kemudian Anna melanjutkan perkataannya. "Dan sekarang, kau menyakitinya! " Tunjuk Anna kepada Dareen. "Kau menyakiti anakku brengsek. " Teriak Anna dengan histeris, membuat semua orang yang tidak sengaja melewati ruangan tersebut berbalik untuk melihatnya.

Dareen dan Wenda berjalan mundur. Entah kenapa lutut mereka tiba-tiba lemas. Mereka belum sepenuhnya bisa mencerna perkataan Anna. Namun mereka tahu kemana arah tujuan pembicaraan tersebut.

"K-kau siapa sebenarnya. " Tanya Wenda dengan terbata.

"Kau--. " Lirih Dareen, namun sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, Anna telah terlebih dahulu memotong.

"Aku mempertaruhkan segalanya. Termasuk kebebasanku dan juga harga diriku. Aku bahkan harus menentang kodratku. " Anna melepaskan wig yang dia kenakan di hadapan Wenda dan Dareen. Kemudian melemparkannya asal. Tidak hanya itu, Anna juga menghapus make up tipis dari wajahnya.

BRUK

Wenda ambruk seketika. "K-kau. " Ucap Wenda terbata tidak percaya.

Dareen mengeratkan pegangannya pada ujung meja akibat lututnya yang lemas. "A-Anna. " Dareen berkata lirih.

"Mama, sudah cukup. Kita hentikan sekarang ya? " Bujuk Esa kepada Anna. Dia sudah tidak sanggup melihat ibunya yang begitu memaksakan diri untuk kuat.

Anna menangkup wajah Esa dengan kedua tangannya. "Esa dengarkan mama, mulai sekarang kau anak yatim. Ayahmu baru saja mati. " Air mata kembali mengalir dari kedua sisi wajah Esa begitupun Anna.

Sedangkan ketiga orang yang berada di ruangan itu masih terlihat syok dan tidak mampu mengucapkan satu patah katapun.

"JOANNA! " Teriak Edwin yang baru saja masuk kedalam ruangan. Melihat Esa dan Anna terluka, Edwin mendesis tajam kearah Wenda dan juga Dareen. "Kalian benar-benar sampah. Akan aku pastikan kalian membalas semua perbuatan kalian terhadap sepupuku dan juga anaknya. " Setelah itu Edwin membawa Anna dan Esa untuk pergi dari sana.

*

*

*

- T B C -

With Love : Nhana

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 40 : Invitations to live together

Anna mengepalkan tangannya saat Dareen mengatakan dirinya akan membawa Esa pulang dan menjadikan Jane sebagai dokter pribadinya. Anna tahu ini demi kebaikan Esa, tapi kenapa harus Jane? Dan kenapa juga Jane harus tinggal bersebelahan dengan rumah tempat Anna dan Dareen tinggal dulu."Kenapa tidak dokter Hoya?" Tanya Anna kepada Dareen."Dokter Hoya terlalu sibuk Anna. Sebelumnya aku juga sudah berbicara dengan dia, dan dia sendiri malah menyarankan Jane." Jawab Dareen lembut. "Kamu tenang saja. Jane orangnya baik, dan juga sangat nyaman untuk diajak berbicara. Kita bisa mempercayakan Esa padanya, Esa mungkin akan lebih nyaman dengannya.""Kau yakin?" Tanya Anna lagi. "Dia masih sangat muda," Sebenarnya Anna tidak masalah, hanya saja dia takut. Takut jika apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan. Terlebih saat mendengar kata nyaman yang Dareen ucapkan.Dareen tersenyum, dia memaklumi Anna yang masih terlihat ragu. "Jane mungkin terlihat seperti masih muda,

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 39 : Like a premonition

Dareen menghela nafas berkali-kali. Pikirannya penuh dan juga beban di pundaknya terasa semakin berat. Kepalanya tertunduk lesu dengan nafas yang sedikit tidak beraturan. Esa masih tidur setelah diberikan obat penenang. Sedangkan Anna sendiri belum kembali dari pemeriksaannya. Dan tidak tahu menahu tentang kejadian yang dialami putranya.Sebuah tangan dengan jari-jari lentik menyodorkan sekaleng kopi kepada Dareen. Pria itu mendongak dan tersenyum ketika melihat siapa yang memberinya kopi, dengan segera dia mengambil dan membuka tutup kaleng tersebut."Terima kasih." Dareen mengangkat kaleng tersebut dan menenggak isinya sekaligus."Kau tampak sangat frustasi tuan."Dareen hanya tersenyum menanggapi. "Kau selalu melihatku dalam keadaan seperti ini Jane. "Jane membalas senyuman Dareen dan kini ikut duduk di sampingnya. Kebetulan mereka sedang berada di koridor rumah sakit tepat di depan kamar rawat Esa."Benar juga. Setiap kali kita

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 38 : Esa's pas

Pagi-pagi sekali Anna sudah bolak-balik kamar mandi karena mual. Sudah seminggu ini dia baik-baik saja dan tidak merasakan mual, tapi pagi ini perutnya kembali tidak enak.Dareen yang baru bangun segera menyusul Anna ke kamar mandi dan memijat tengkuknya. "Keluarkan saja Anna.""Tidak ada yang bisa di keluarkan lagi kak." Keluh Anna dengan suara yang lemas."Kalau begitu duduk dulu yuk, aku akan mengambilkan air hangat." Dareen memapah Anna setelah laki-laki itu mengangguk setuju.Anna duduk sambil memegangi perutnya yang mulai bergejolak tak nyaman. Kehamilannya yang sekarang terasa lebih melelahkan ketimbang pada saat Esa dulu."Nak tenang ya. Mama kelelahan jika harus terus bolak-balik ke kamar mandi." Dareen sedikit mengelus perut rata Anna, iya hanya sedikit karena dia tak

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 37 : Jenny's fiancee

Jesfer dan Anna kini berada di sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit. Sebelumnya mereka sudah lebih dulu meminta ijin kepada Esa, di sana juga ada Dareen sehingga Anna tidak merasa khawatir harus meninggalkan putranya. Lagipula Anna berniat tidak akan lama, hanya ingin berbicara berdua dengan Jesfer."Aku minta maaf karena pergi tanpa mengabari mu." Jesfer lagi-lagi meminta maaf untuk kesekian kalinya."Sudahlah. Aku juga tidak mempermasalahkan itu Jes." Anna menghela nafas. "Aku lebih penasaran dengan alasanmu pulang."Jesfer sedikit memainkan jari-jari tangannya diatas meja. Jelas dia tidak lagi bisa menyembunyikan apapun dari Anna. "Aku sedikit stress." Jawab Jesfer pada akhirnya."Ada masalah apa?"Jesfer tampak berpikir. Dia ragu harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak. "Emm, pekerjaan dan beberapa hal yang terjadi belakangan ini."Anna menatap Jesfer dengan lekat. "Katakan lebih jelas. Aku tahu kau me

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 36 : The other side of Esa

Anna menatap Esa penuh harap, sejak sejam yang lalu dirinya tidak berhenti membujuk Esa agar menghubungi Jesfer. Sedangkan Esa terus menolak dengan alasan dia tidak ingin bicara dengan siapapun, padahal kenyataannya Esa hanya merasa tidak enak dengan Dareen. Bagaimanapun di sana ada Dareen yang menatap Anna dengan tatapan terluka."Ayolah Esa, mama khawatir dengan keadaan Jesfer." Anna kembali merengek sambil memegang tangan Esa."Mama, aku tidak mau. Lagipula paman Jesfer mungkin sedang sibuk."Anna menggeleng cepat. "Tidak, jika Jesfer sibuk dia pasti masih sempat mengangkat panggilan dari mama."Lagi-lagi Esa memilih untuk melihat kearah D

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 35 : Playing the victim

Jung Jesfer, seorang anak laki-laki yang teramat tampan, manis dan juga cerdas. Begitu kesan pertama semua orang saat pertama kali bertemu dengan nya, termasuk Wendy. Hampir setiap tahun Wendy berkunjung ke makam suaminya dan sekaligus menjenguk Jesfer serta ibunya.Yoona memperkenalkan Wendy kepada Jesfer sebagai sahabatnya. Dan Jesfer kecilpun percaya itu. Namun seiring berjalannya waktu, Jesfer mulai menyadari jika Wendy bukan hanya sekedar sahabat ibunya.Jesfer menemukan semua biaya sekolahnya dibayar oleh Wendy. Awalnya Jesfer selalu bertanya-tanya kenapa ibunya selalu memasukan dia ke sekolah yang elit dengan biaya pendidikan yang mahal. Karena jika melihat kondisi ekonomi ibunya, Jesfer yakin ibunya akan keteteran. Yoona tidak miskin, hanya saja dia bukan orang kaya yang bisa mengeluarkan uangnya tanpa harus berpikir besok bagai

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 34 : Healing

Lagi, Anna terbangun dari tidurnya dengan Dareen yang berada di sebelahnya. Bukan hanya sekali, tapi ini sudah lebih dari tiga kali semenjak Esa di rawat Dareen selalu tidur di kursi samping ranjang yang Anna tempati dengan kepala bertumpu pada ranjang tersebut.Anna meringis, sedikit iba

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 33 : Sexual Harassment

Seketika hening menyelimuti ruang tunggu mereka begitu ucapan sang dokter yang terlampau pahit keluar begitu saja dari mulutnya.Wenda refleks berjalan mundur dan menutup mulutnya terkejut begitupun de

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 32 : Apology

Anna menangis tersedu di kamarnya, pikirannya benar-benar kacau. Semua yang dilakukannya terasa salah. Tak pernah sekalipun dia punya niatan untuk membunuh ataupun membuang anaknya. Meski dia berkata demikian pada Dareen, kenyataannya dia sendiri ragu

Behind The Heirs (Indonesia)   Chapter 31 : Flashback

Dareen termenung di balkon kamarnya, tangannya menggenggam sebuah pigura foto miliknya bersama Dara. Sejak kepulangan Anna dan juga Esa, Dareen mengurung dirinya di kamar. Berkali-kali Wendy dan Dona memintanya untuk keluar dan makan, namun Dareen tak

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy