Descarga el libro gratis
11. Dianggap Pacar:)
Autor: DijeonieAilee terlihat sedang menikmati es krim yang baru saja Zuco beli di sebuah mini market di dalam mobil, dan juga beberapa makanan ringan. Ia terlihat sangat menikmati es krim miliknya sampai tak menyadari Zuco yang sedari tadi menatapnya dengan tersenyum manis.
"Pulang sekarang nih?" Tanya Zuco.
Ailee menganggukkan kepalanya. "Kamu mau diem terus di sini?"
Zuco terkekeh pelan. Ia pun mulai menyalakan mobilnya untuk meninggalkan mini market tersebut.
"Yooo! Teruuus!" Teriak seseorang dari arah belakang.
"Astaghfirullah!" Pekik Zuco yang berhasil mengalihkan perhatian Ailee.
"Ada apa?"
"Itu yaang, tukang parkirnya ngagetin aku. Tadi perasaan gak ada, deh... Heran aku." Jawab Zuco seraya mengikuti arahan tukang parkir yang tiba-tiba saja muncul dan mengagetkannya.
Ailee hanya tertawa pelan menanggapinya.
"Yaang, kamu ada uang receh gak? Buat bayar parkirnya." Tanya Zuco.
"Ada," jawab Ailee. "Ini," Zuco menerima uang 3 ribu dan memberikannya pada tukang parkir tersebut. Dan mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mengantarkan Ailee pulang.
"Nanti aku ganti yah uangnya," ucap Zuco.
"Gak usahlah, 3 ribu doang. Sekali-kali aku bantu bayar dong,"
"Ya aku gak enak aja, kan yang ngajak mampir ke mini market aku." Ucap Zuco.
Ailee menggelengkan kepalanya, "ya ampun, aku cuma bayar parkir doang. Selama pacaran kamu terus yang bayarin,"
Zuco melirik Ailee dan tersenyum penuh arti.
"Kenapa senyum-senyum?"
"Akhirnya di anggap pacar juga," ucap Zuco.
Ailee hanya menggelengkan kepalanya heran tak habis pikir, "girang banget..."
"Iya dong, biasanya aku doang yang nganggap hubungan ini." Ucap Zuco.
Ailee terdiam dan menatap Zuco dari samping, "jahat banget yah aku,"
Zuco menatap Ailee sekilas dan kembali menatap jalanan. "Jahat apa sih, kalau kamu jahat mana bisa aku jatuh cinta sama kamu." Ucap Zuco seraya mengangkat alisnya. "Iya gak?"
Ailee tersenyum tipis. "Buktinya tadi kamu keliatan sedih,"
"Kapan?"
"Tadi, pas bilang 'biasanya kamu doang yang nganggap hubungan ini'..."
Zuco terkekeh pelan. "Itu gak sengaja mhehehe..."
"Dih..."
"Yaang..." Panggil Zuco.
"Hm?"
"Peluk..." Rengek Zuco. "Yaang ih! Ayo..."
Ailee menatap Zuco untuk beberapa saat.
"Aduh, belum meluk aja udah jedag jedug! Woe... Gimana kalau udah meluk..." Gumam Ailee dalam dengan tangan kanan yang memegangi jantungnya.
"Yaang? Kok malah bengong sih,"
Ailee tersadar akan diamnya. Kemudian dengan perlahan ia menggeser posisi duduknya, kedua tangannya mulai terangkat untuk melingkari tubuh Zuco dari samping.
Hangat.
Nyaman.
Itu yang Zuco rasakan.
Sedangkan Ailee, ia terlihat memejamkan mata rapat-rapat, ia benar-benar tidak menyangka akan menuruti permintaan Zuco untuk memeluk tubuh pria itu.
"Yaang..."
"Hn?"
"Deg-degan banget sih, kamu sehat?" Tanya Zuco.
"Jangan banyak tanya deh, atau aku lepas nih pelukannya!" Ancam Ailee.
Zuco hanya tersenyum dan kembali fokus pada jalanan dan menikmati pelukan yang Ailee berikan.
"Aku lepas yah, pegel."
"Iya, lepas aja. Orang aku gak minta lama-lama,"
Ailee menatap Zuco dengan kesal. "Hah? Terus ngapain aku lama-lama meluk kamu?"
"Ya gak tahu, aku cuma minta peluk hahaha... Kamu kali yang keenakan."
BUGH!
Ailee memukul Zuco dengan tasnya. "Ish! Nyebelin....!" Geramnya. "Aku gak mau yah meluk-meluk kamu lagi!" Tambahnya.
"Marahnya gitu, ngancam-ngancam. Udah nyampe rumah nih, gak mau turun?"
Ailee menengok ke arah luar dan benar saja, mereka sudah sampai di depan rumahnya yang sederhana namun terlihat nyaman karena penataannya yang rapih.
Dengan masih merajuk, Ailee melepaskan sabuk pengamannya, kemudian turun dengan di susul oleh Zuco.
"Kakaaak!" Seru Kiran dari dalam rumah.
"Kenapa?" Tanya Ailee pada adiknya yang kini berdiri di hadapannya.
"Aku laper,"
Ailee mengangguk paham. "Di dapur gak ada telur atau apa gitu?" Tanya Ailee seraya masuk ke dalam rumah.
"Kiran!" Panggil Zuco.
"Iya, Kak?" Tanya Kiran.
Zuco memberikan makanan ringan yang dibelinya tadi bersama Ailee. "Makan ini dulu, okay?"
Kiran mengangguk senang, "iya Kak... Makasih yah Kak Zuco yang ganteng..." dan ia berlari masuk ke dalam rumah.
Zuco terkekeh pelan dan memutuskan untuk menemui Ailee di dalam.
"Yaang! Sayang!" Panggil Zuco seraya terus mengedarkan pandangannya dan berjalan ke dalam dapur.
"Bisa manggil nama gak? Adek aku bisa denger ka--" protes Ailee yang langsung di bungkam oleh ciuman yang tiba-tiba Zuco berikan kepadanya.
Ailee mendorong tubuh Zuco dengan sekuat tenaga, sampai akhirnya sendiri terdorong hingga menyentuh tembok. Ailee terlihat menghirup udara dengan rakus.
"Gila! Mau bikin mati anak orang, hah?!" Kesal Ailee, namun Zuco malah terkekeh gemas melihatnya. "Sesek anjir!"
Ailee memegangi dadanya yang berdetak dua kali lebih cepat. "Aah, ya tuhan..."
Zuco kembali mendekati gadis manisnya itu dan mengurungnya di antara kedua tangannya.
"Zuco please... Awas ih! Adek aku bisa liat..." Mohon Ailee dengan menahan dada Zuco agar tidak semakin mendekat dengan tubuhnya.
"Gak akan, percaya sama aku."
"Zuco, aku harus masak dulu!" Tegas Ailee yang sudah benar-benar kesal dengan tingkah menyebalkan kekasihnya itu.
Zuco pun menjauhkan tubuhnya dari hadapan Ailee dan membiarkan gadis itu melihat-lihat isi kulkasnya.
"Yah, gak ada apa-apa." Gumam Ailee seraya melipat kedua tangan di depan dada dan berpikir apa yang akan di masaknya.
Sedangkan Zuco, ia terlihat mengotak-atik ponselnya dan kembali menatap Ailee dengan tersenyum lembut.
"Yaang," panggil Zuco, namun Ailee tidak menyahutinya sama sekali, melirik pun tidak.
Zuco mengernyit heran, "is she mad at me?" Gumamnya karena tidak melihat Ailee bereaksi pada panggilannya.
"Yaang?" Lagi-lagi Ailee tidak menyahutinya.
"Ck. Ailee woy!"
"Hmm? Apaan sih?" Sahut Ailee yang terlihat tengah kebingungan.
Zuco berjalan menghampiri Ailee yang masih menatap isi kulkas dan membelakanginya. Dengan perlahan, Zuco melingkarkan lengannya dan memberikan Ailee sebuah 'back hug', Zuco kira Ailee akan marah, ternyata gadis itu hanya diam saja.
"Lagi ngapain sih?" Tanya Zuco yang membuyarkan lamunan Ailee.
Ailee memutar bola mata sebal seraya melepaskan pelukan Zuco. "Mau apa sih Zuco, hn? Seneng banget gangguin aku."
"Aku mau ngasih tahu kamu, kalau aku harus pulang. Aku pulang dulu yah,"
Ailee menganggukkan kepalanya. "Iya, hati-hati."
"Dih, udah gitu aja?"
Ailee mengernyit heran. "Ya aku harus apa?"
Zuco mencebikkan bibirnya, hal itu membuat Ailee tertawa pelan. "Mirip bebek tetangga aku, haha..."
Melihat itu Zuco ikut tertawa. "Kamu cantik kalau ketawa, ya udah, aku pulang yah... Dah sayang..."
"Gak bisa anter sampe depan yah, maaf..." Ucap Ailee.
Zuco mengangguk paham. Kemudian ia mengecup bibir Ailee sekilas, yang masih tetap membuat Ailee terkejut dan diam di tempat.
"Bisa langsung pergi gak? Modus mulu," heran Ailee.
Zuco terkekeh pelan. "Iya, aku pulang yah dah... Aku udah delivery makanan tadi, bentar lagi pasti sampe."
"Hah?"
"Udah tunggu aja, huh-hah mulu." Ujar Zuco. "Eh iya, nanti malem dandan yang cantik yah. Jam 8 aku jemput."
Ailee mengekori Zuco hingga ke halaman depan rumahnya. "Jemput ke mana sih?"
"Papah aku ngadain acara di rumah, udahlah kamu siap-siap aja, nanti aku jemput, okay?" Ujar Zuco.
Ailee memegang lengan Zuco yang hendak masuk ke dalam mobil. "Aku--aku gak bisa..."
Zuco mengernyit tidak suka. "Kenapa?"
"Aku--"
"Pokoknya aku akan tetep jemput kamu."
"Tapi--"
"Aku gak suka penolakan." Tekan Zuco.
"Zuco kamu gak bisa egois git--"
"Apa sih? Kenapa? Ada apa? Di rumah aku ada apa?"
Ailee terdiam dan menundukkan kepalanya.
"Kenapa nunduk? Liat aku."
Dengan perlahan Ailee kembali menatap Zuco yang terlihat kesal atas penolakannya. "Gak pa-pa, kamu harus ngertiin aku juga dong, aku malu... Di sana pasti bakalan banyak orang-orang terpandang yang--"
"Semua orang sama kali." Potong Zuco. "Lagian kamu ke sana karena aku yang minta, kamu ke sana buat aku, bukan buat tamu yang lain. Jadi kamu cuma butuh fokus ke aku."
Ailee mengangguk paham, "tapi a--"
"Apa lagi sayang? Hn?"
"Dress code nya?" Tanya Ailee.
"Kamu mau pake warna apa?" Tanya Zuco.
Ailee berpikir dan, "navy blue."
"Iya, itu dress codenya."
Ailee menatap Zuco tak percaya, kemudian pukul lengan Zuco dengan kesal. "Yang bener ih! Kesel banget aku ngobrol sama kamu. Gak pernah serius."
Zuco terkekeh pelan seraya mencubit pipi Ailee dengan gemas. "Kamu pake itu aja, nanti aku ikut. Yang lain terserah pake warna apa, yang penting kamu harus sama kayak aku." Ucapnya dengan mengerlingkan mata.
"Dih," Ailee tersenyum begitu saja.
"Aciee, blushing..."
"Apasih! Udah ah, sana pulang!" Ujar Ailee seraya mendorong Zuco masuk ke dalam mobil.
Dan beberapa saat kemudian, Zuco pun berlalu dari kediaman kekasihnya untuk pulang dan menemui Ayahnya yang sedang menyiapkan acara malam nanti.
Sedangkan Ailee, ia masih berdiri di depan rumah. Sampai akhirnya seorang kurir dari salah satu restoran berhenti di depan rumahnya.
Ailee tersenyum begitu saja. "Zuco... Makasih." Gumamnya dalam hati.
"Nona Ailee?"
Ailee menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ini pesanannya,"
"Baik pak, terima kasih..." Ucap Ailee, ia pun masuk ke dalam rumah dan memanggil adiknya untuk makan bersama.
Ailee terlihat menyiapkan makanannya di atas piring, sedangkan Kiran, ia sudah memakan makanannya di dalam box.
"Kakak beli?"
"Dari Kak Zuco," jawab Ailee.
"Kak Zuco baik, tadi juga ngasih aku jajanan."
Ailee mengernyitkan dahinya. "Serius?" Kiran mengangguk.
"Dia ish..." Ailee langsung meraih ponselnya.
To: Zuco
Makanan yang dari minimarket kamu kasih ke Kiran? Ck. Kamu itu yah, kan yang mau mampir ke minimarket kamu, kenapa makanannya di kasih ke adek aku...
Oh iya, kurir makannya udah sampe. Makasih yah, maaf sering ngerepotin...
Send.
Ailee terus memperhatikan ponselnya menunggu balasan dari kekasihnya namun tak kunjung ada notif pula.
"Aish... Pasti masih di jalan."
To: Zuco
Masih di jalan ya? Hati-hati.
Send.
Namun beberapa saat kemudian.
Cling!
From: Zuco
Iya sayang, ini aku lagi berhenti dulu.
Ailee mengernyit heran.
To: Zuco
Kenapa? Ada apa, kok berhenti? Gak ada apa-apa kan?
From: Zuco
Gak pa-pa sayang, gak usah khawatir:) mhehe... Seneng aja kamu chat duluan.
Ailee terkekeh pelan membaca balasan tersebut.
"Hadeuh, ni anak..."
To: Zuco
Hmm... Jalan lagi, hati-hati.
From: Zuco
Iya, sampai jumpa nanti malam...
Deg.
Ailee hampir saja melupakan hal itu. Akhirnya ia terdiam, memikirkan nanti malam.
Compartir el libro a
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Último capítulo
Zuco's Obsession (Indonesia) 42. Ailee cemburu?
Zuco's Obsession sudah mulai dikunci sayang... Dari part 13. Jadi jangan lupa kumpulin koin bonus, check in bonus tiap hari daaan Top up koin juga boleeeh mhehehe...Terima kasih buat yang udah komen dipetikan. Neol saranghae dah!!Jangan lupa kasih riviewnya lagi yaaah...Komentar seeebawel-bawelnya... Bintangnya juga...Untuk tanya-tanya update ini atau lain-lain. bisa lewat IG: ditanyxoulOkay? DM wattpad juga boleh.***Ailee tampak bersemangat melakukan pemanasan di lapangan. Saat ini kelasnya akan melakukan olahraga lompat jauh. Jika sudah melakukan itu, maka dirinya bisa langs
Zuco's Obsession (Indonesia) 41. Tercyduk
Terima kasih buat yang udah komen dipetikan. Neol saranghae dah!!Jangan lupa kasih riviewnya lagi yaaah...Komentar seeebawel-bawelnya... Bintangnya juga...Untuk tanya-tanya update ini atau lain-lain. bisa lewat IG: ditanyxoulOkay? DM wattpad juga boleh.*****Ailee menatap Zuco yang sedang menikmati cheese cake dan satu gelas cappucino. Kemudian ia memandang Dhara yang sedang menikmati Burger dan sodanya. Dan Ailee sendiri, ia memesan satu mangkuk ramyeon dan es teh."Kuahnya jangan dimakan." Ucap Zuco yang terlihat sedang mengecek ponselnya."Iyaaa..." Ailee tidak ingin ribut seperti semalam dan kemari
Zuco's Obsession (Indonesia) 40. Fighting
Jangan lupa kasih riviewnya yaaah... Hueeeh? Komentar seeebawel-bawelnya...Untuk tanya-tanya update ini atau lain-lain. bisa lewat IG: ditanyxoulOkay? DM wattpad juga boleh, tadi juga ada Salsa yang tanya kapan update Zuco.****Seperti biasa, Zuco datang menjemput Ailee. Namun selama perjalanan menuju sekolah, mereka sama sekali tidak membuka suara. Keduanya terdiam dan berusaha untuk mengabaikan satu sama lain.Bahkan hingga saat ini, saat istirahat. Ailee sama sekali tidak melihat Zuco, pria itu tidak menemuinya dan Ailee tidak berniat untuk mencari keberadaan kekasihnya itu. Ailee masih ingin Zuco yang meminta maaf kepadanya."Sar, gue mau ke perpus nih, mau minjem buku. Ikut gak?"Sara menggelengkan kepalanya. "Enggak ah, gue masih harus nyatet takut di cek."
Zuco's Obsession (Indonesia) 39. Arguing
Ailee tampak diam menatap Angga yang sedang dibantu oleh Sara memotong steik miliknya karena tangan kanan Angga masih terbungkus perban. Melihat perhatian yang diberikan Sara pada Angga membuat Ailee tenang dan berharap jika keduanya memang memiliki perasaan satu sama lain.Fyuhh...Ailee langsung mengalihkan pandangannya pada Zuco yang tiba-tiba saja menghembuskan nafas kasar."Ada apa?" Tanya Ailee.Zuco mendelik sebal. "Kamu suka sama Angga?"What?Pertanyaan itu membuat Ailee terkejut, bahkan Nayma, Sara dan Angga pun langsung menatap Zuco dengan terheran-heran. Pertanyaan itu sangat tiba-tiba."Ish, aneh." Ucap Ailee.Zuco menjauhkan makanannya dan melipat tangan di depan dada."Kamu yang aneh." Kesal Zuco."Apa sih Zuco? Kamu kenapa?" Bingung Ailee, ia pun tidak enak pada ketiga temannya yan
Zuco's Obsession (Indonesia) 38.
Ailee terdiam dan menatap Angga dengan tatapan marah. Dan Angga hanya tersenyum seraya mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Angga tahu bahwa Ailee akan marah jika mendengarnya seperti ini, karena Aileelah yang selalu melarang dirinya untuk kebut-kebutan bahkan lebih setuju Angga memakai sepeda untuk pergi ke sekolah dibandingkan dengan memakai motor."Gimana?" Tanya Ailee seraya berjalan menghampiri Angga yang duduk di atas ranjang rumah sakit.Kemudian Ailee duduk di tepi kanannya."Udah baikan,""Maksud gue, gimana rasanya nyium aspal? Mantap, gak? Semoga kapok deh,"Angga tertawa garing seraya melirik Nayma dan Sara yang berdiri di sisi kiri. "Kapok Lee, gak bakalan deh kebut-kebutan lagi."Ailee baru tersadar bahwa ruangan tempat Angga dirawat terpisah dari pasien lainnya, ia juga baru sadar bahwa Angga dibawa ke rumah sakit swasta yang tak murah."Si
Zuco's Obsession (Indonesia) 37. Sweet Talk
Sudah satu minggu berlalu, Ailee semakin banyak menghabiskan waktu bersama Zuco karena permintaan Zuco untuk menggantikan Nanny Sarnah dalam mengurus semua keperluannya. Sejauh ini tidak ada hal yang memberatkan tugas Ailee. Karena kalian tahu sendiri, Zuco memang selalu manja pada Ailee walau ada yang mengurusnya.Seperti saat ini, Zuco terlihat asik memeluk Ailee yang sedang menonton TV. Karena hari ini hari minggu, sudah dari pukul 10 pagi sampai sekarang pukul 1 siang, ia berada di kediaman tunangannya itu. Menemaninya yang merasa kesepian karena di rumah hanya ditemani asisten rumah tangga tetap dan harian, tukang kebun, juga supir. Lagi pula, Zuco sangat sulit untuk terbuka pada orang lain. Kecuali untuk Ailee, sejak pertama berjumpa, Zuco merasakan hal yang berbeda.~Chu...Zuco mengecup pipi Ailee dengan gemas."Diem deh, aku lagi nonton." Ailee berusaha menjauhkan wajahnya.
Zuco's Obsession (Indonesia) 24. Tunangan
Ailee melirik jam di dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 7 malam. Tinggal satu jam lagi untuk menunggu kedatangan Zuco dan keluarga berkunjung ke rumahnya. Saat ini Ailee sedang duduk di tepi tempat tidur dengan di temani Angga, Nayma dan juga Sara, teman sekelas di sekolah barunya
Zuco's Obsession (Indonesia) 23. Zuco dan keluhannya
Semoga suka...Jangan lupa vote dan comment...Hari yang dinantikan Zuco, hari dimana ia seharusnya menjadi pusat perhatian, berdiri dengan penuh semangat ditengah lapangan, kini hari itu tinggallah hari. Ia tidak bisa menunjukkan, membuktikan perma
Zuco's Obsession (Indonesia) 22. Melukai diri
Hai...Semoga suka?Jangan lupa vomment uhuk...Langkah Zuco membeku, menatap sang Ayah yang tertunduk menyembunyikan tangisan. Kemudian Kenan yang menatap lantai dengan tatapan kosong dan sebuah luka baru pada tulang pipinya. Dan Nela, I
Zuco's Obsession (Indonesia) 21.
Hayo, baca lagi gak? Ada yang ditambahin awowkk....Jangan lupa Vomment...Rooftop sekolah, saat ini Zuco sedang bersandar pada bahu Ailee di sebuah sofa di atas gedung sekolah mewah mereka. Dengan tangan yang saling bertautan, senyuma
