loading
Home/ All /The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)/3. Diam

3. Diam

Author: Miafily
"publish date: " 2020-09-14 21:18:57

Bara tersenyum saat dirinya kini duduk berhadapan dengan Makaila yang tampak menunduk dalam. Ternyata, Makaila memutuskan untuk bungkam dan tidak mengatakan pada ibunya perihal Bara yang tak lain adalah seorang pembunuh yang aksinya membuat Makaila mengalami trauma berat. Tentu saja Bara merasa puas dengan keputusan yang diambil oleh Makaila ini. Namun, Bara tentunya tidak melupakan sandiwara seperti apa yang tengah ia perankan. Apalagi saat ini, Edelia ternyata mengawasi bagaimana cara mengajar Bara. Ini memang proses belajar mengajar pertama bagi Bara dan Makaila.

Edelia sengaja kembali memperpanjang cutinya agar bisa mengawasi proses belajar Makaila. Serta memastikan apakah Bara memang sesuai dengan apa yang ia dengar dari pihak penyalur tenaga pendidikan. Bara tentu saja menyadari apa yang dipikirkan oleh Edelia, dan tentu saja dirinya sama sekali tidak merasa terkejut atau merasa panik. Karena Bara memang sudah memperkirakan apa yang akan terjadi, dan perkiraan Bara tepat sekali. Buktinya, saat ini saja Edelia tengah mengawasinya yang memang tengah mengulang beberapa pelajaran dasar sewaktu sekolah menengah atas yang memang terlupakan oleh Makaila yang sudah dua tahun absen dari kegiatan belajar.

Edelia tentu saja merasa puas dengan apa yang dilakukan oleh Bara. Ia juga merasa bangga dengan Makaila yang sudah berani dan tetap melanjutkan untuk mau belajar, meskipun kemarin dirinya sempat pingsan karena merasa terkejut dan panik dengan pertemuan pertamanya dengan Bara. Makaila dan Bara kini tengah berada di dalam kamar Makaila yang memang cukup luas dan nyaman untuk dijadikan tempat belajar. Keduanya duduk lesehan beralaskan karpet bulu yang lembut, dengan sebuah meja rendah yang bisa digunakan tempat belajar yang nyaman bagi Makaila. Merasa jika dirinya tidak perlu mengawasi lagi, Edelia bangkit dan berkata, “Lanjutkan acara belajarnya. Mama ke dapur dulu ya, Mama mau menyiapkan buah potong untuk camilanmu dan Pak Bara.”

“Tidak perlu repot-repot,” ucap Bara dengan nada ramah dan senyum tipis khas dirinya. Senyuman yang Edelia yakin sudah berhasil membuat puluhan bahkan ratusan wanita jatuh hati padanya. Visual Bara memang tidak perlu diragukan lagi.

Namun, Edelia yang mendengar perkataan itu tertawa dan berkata, “Tentu saja sama sekali tidak merepotkan. Tidak perlu khawatir.”

Lalu, Edelia pun ke luar dari kamar putrinya dan menutup pintu rapat-rapat. Saat itulah, Makaila merasakan hawa dingin yang mencekam. Ia juga merasakan tekanan rasa takut yang semakin menjadi saja dari waktu ke waktu. Sementara itu, Bara kini memainkan bolpoin mahal yang ia pegang. Tentu saja, Bara bisa dengan mudah membaca apa yang tengah dipikirkan dan apa yang tengah dirasakan oleh gadis di hadapannya ini. Perlu dua tahun penuh, Bara menyiapkan segala hal guna bertemu dan menjebak gadis ini agar tidak lagi bisa melarikan diri darinya. Bukan karena Bara atau anak buahnya kurang berkemampuan untuk melakukan hal tersebut. Namun, Bara memang menyiapkannya sematang mungkin, dan menentukan waktu yang paling tepat untuk melakukan semua rencananya.

Satu bulan yang lalu

Bara duduk di sebuah kursi yang berada tepat di samping jendela usang. Berbeda dengan setelah kesehariannya yang selalu mengenakan setelan jas atau kemeja formal, dirinya kini menggunakan jakel kulit berwarna hitam, serta celana jins yang senada. Rambutnya yang biasanya tertata rapi, dan tidak diijinkan untuk ke luar dari barisannya, kini dibiarkan begitu saja dengan beberapa helai yang jatuh di atas keningnya. Namun, tampilannya yang tampan sama sekali tidak berkurang. Ia malah seakan-akan membawa pesona yang berbeda daripada saat dirinya mengenakan setelah formal.

Tentu saja berbeda. Saat dirinya mengenakan setelah formal, Bara jelas terlihat begitu berwibawa dengan kerampanan selayaknya aristrokat yang berpendidikan dan berkelas. Namun, ketika dirinya mengenakan setelan kasual yangn terkesan serampangan, Bara membawa pesona seorang berandalan yang tidak kenal aturan. Bara terlihat bebas, tetapi membawa tekanan yang lebih kuat daripada saat dirinya mengenakan setelan formal yang menunjukkan sisi seriusnya.

Bara mengamati lalu lalang pejalan kaki yang memang berjalan di trotoar di hadapang bangunan usang yang saat ini tengah ia singgahi. Bara melirik pada seorang pria yang kini sudah berdiri di sampingnya. Bara pun bertanya, “Apa kamu sudah menyiapkan semua yang aku minta?”

Sosok pria bernama Fabian tersebut mengangguk dan menyerahkan sebuah amplop cokelat pada Bara. Tentu saja Bara menerimanya dan tanpa permisi membukanya dan mengeluarkan apa yang menjadi isinya. Ternyata, ada puluhan lembar kertas yang berisi data diri dan beberapa hal yang berkaitan dengan sosok yang memang selama dua tahun ini selali diawasi oleh Bara. “Sepertinya, apa yang Bos perkirakan memang benar. Bulan kemarin, psikater yang menangani gadis itu mengonfirmasi jika ia bisa berinteraksi dengan orang asing. Karena itulah, ibunya sudah mulai mencari guru privat untuk putrinya yang memang ingin melajutkan pendidikannya secara homeschooling,” jelas Fabian saat Bara sibuk membaca apa yang  tertulis di atas kertas.

“Apa dia tidak lagi berusaha pindah?” tanya Bara saat menatap alamat di mana sosok yang ia targetkan tinggal.

“Tidak Bos. Sepertinya, dia memang sudah merasa yakin jika dirinya tidak akan pernah ditemukan,” jawab Fabian yakin. Tentu saja, Fabian merasa yakin karena dirinya sendiri sudah mengawasi sosok itu sejak lama.

Mendengar apa yang dikatakan oleh Fabian, Bara pun tidak bisa menahan diri untuk meledakkan tawanya. Tawannya yang keras bergema di ruangan tua yang jelas usang dan agak mengerikan tersebut. Di tambah dengan suasana remang-remang, lengkaplah sudah nilai mengerikan ruangan tersebut. Namun, Fabian sama sekali tidak berpikir jika hal itu perlu untuk dirasa mengerikan. Fabian sudah menyaksikan tingkah Bara yang lebih mengerikan daripada ini, dan tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan suasana mengerikan yang saat ini tengah menguar memenuhi ruangan tua ini.

Bara menatap tajam potret sosok cantik yang terlihat tengah menonton acara yang tengah ditayangkan di layar televisi. Sebagai seseorang yang ahli dalam bidang pengintaian, dan dunia bayang-bayang, Bara jelas tahu jika potret tersebut di ambil dari sisi gedung yang berhadapan dengan gedung di mana si gadis ini tinggal. Bara pun menyeringai tajam. “Bodoh, kau sungguh bodoh Makaila. Kau pikir, aku akan melepaskanmu setelah kau melihat apa yang seharusnya tidak boleh kau lihat? Bangunlah dari mimpimu, karena mimpi burukmu yang sesungguhnya baru saja akan datang,” bisik Bara mengerikan.

Bara menyeringai dan berbisik pada Makaila yang kini tampak begitu ketakutan di hadapannya, “Jangan menunjukkan rasa takutmu ini di hadapan ibumu. Karena jika sampai dirinya curiga, dan membuatku tidak lagi menjadi guru privatmu, aku akan pastikan jika ada kepala yang hancur saat itu juga.”

Bertepatan setelah Bara mengucapkan hal tersebut, Makaila mengangkat wajahnya yang semula menunduk, karena mendengar suara pintu yang terbuka. Tentu saja, itu adalah Edelia yang membawakan camilan untuknya dan Bara. Edelia tersenyum melihat putrinya yang terlihat sudah tidak terlalu takut atau panik saat berhadapan dengan orang asing. Tentunya Edeli merasa bersyukur dan merasa keputusannnya memilih Bara untuk menjadi guru privat bagi Makaila adalah keputusan yang sangat tepat. Edelia memunggungi Bara ketika dirinya menyajikan camilan dan minuman.

“Wah, sepertinya Makaila cukup menyukai Pak Bara. Lihatlah, Makaila bahkan tidak terlihat panik atau gugup,” ucap Edelia sembari menyusun camilan di sisi meja yang memang tidak digunakan untuk menyimpan buku.

Edelia terus saja mengocehkan pujian sampai tidak sadar, jika kini Bara tengah menodongkan moncong senjat api di belakang kepanya. Namun, Makaila yang berada di seberang Bara tentu saja bisa melihat hal itu dengan jelas. Seketika wajah Makaila pucat pasi. Bara benar-benar mengerikan, dan sudah dipastikan jika Bara memang penjahat kelas kakap yang bahkan tidak merasa canggung serta merasa takut walaupun dirinya membawa senjata api seperti itu ke mana pun dirinya pergi. Makaila mulai bergetar ketakutan. Bara yang melihat hal itu menyeringai dan memberikan isyarat dengan jari telunjuknya untuk bungkam.

Bara pun menggerakkan bibirnya dan berbisik tanpa suara, “Diam, dan ibumu akan selamat.”

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   50. Akhir yang Manis

Makaila terlihat begitu bahagia saat mendengar kabar dari Harry jika ibunya hari ini sudah diperbolehkan untuk pulang dan sebentar lagi akan tiba di kediaman Yakov. Saat ini saja, Makaila berusaha untuk melangkah dengan cepat. Ia tidak ingin sampai ibunya lebih dulu tiba, sebelum dirinya tiba di depan pintu untuk menyambut kepulangannya. Sedikit banyak, Makaila merasa bersalah karena dirinya tidak bisa menemani sang ibu yang selama beberapa minggu ini memang dirawat secara intensif di rumah sakit.Hal ini terjadi, karena Bara dan Harry sama-sama melarang Makaila untuk ke luar dari kediaman Yakov, apalagi untuk mengunjungi Luna yang memang dirawat di

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   49. Kenyataannya

Luna merapikan gaun sederhana yang ia kenakan. Perempuan satu itu tampak begitu senang mengenakan pakaian seperti ini, setelah sekian lama dirinya hanya menggunakan pakaian pasien. Benar, hari ini Luna sudah diperbolehkan untuk pulang. Karena itulah, Luna sama sekali tidak ingin membuang waktu lebih lama untuk segera bersiap untuk pulang. Ia ingin segera pulang dan bertemu dengan putrinya.Tentu saja, Luna ingin melepaskan kerinduannya pada sang putri yang sudah lama tak ia temui. Selama dirinya dirawat di rumah sakit, Makaila memang tidak diperbolehkan untuk menjenguk terlalu sering. Bahkan, Makaila hanya bisa menjenguk satu kali. Tentu saja, hal t

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   48. Insting

Bara membenarkan letak selimut yang menutupi tubuh Makaila. Setelah itu, Bara mencium kening Makaila dengan lembut sebelum bangkit dan meninggalkan Makaila yang tentu saja semakin tenggelam di alam bawah sadarnya. Bara tentunya tidak meninggalkan Makaila begitu saja tanpa penjagaan. Meskipun Makaila berada di kediaman Yakov, yang tak lain adalah kediaman ayahnya sendiri, tetapi Bara tetap harus memberikan keamanan berlapis mengingat kejadian demi kejadian buruk yang datang silih berganti dalam kehidupan Makaila. Bara menutup pintu kamar Makaila dan menatap Fabian dan beberapa pengawal yang berasal dari kediaman Yakov sendiri, serta para pengawal bawahan Bara.

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   47. Lebih dari Berhak

Makaila terlihat begitu terburu-buru dan melangkah cepat setengah berlari. Namun, Bara yang menggandeng tangannya dengan lembut menahan tangan Makaila dan berkata, “Pelan-pelan saja. Toh, kita sudah berada di rumah sakit. Sebentar lagi kau bisa bertemu dengan ibumu. Sekarang, lebih baik perhatikan langkahmu dengan baik.”Makaila yang mendengarnya dengan patuh memelankan langkah kakinya. Hal tersebut membuat Bara mengulum senyum dan menanamkan sebuah kecupan pada pelipis Makaila dengan lembut. “Gadis pintar,” puji Bara lalu menghela Makaila untuk melangkah kembali.

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   46. Selamat

Makaila tersentak. Ia tebangun dari tidurnya dan duduk di tengah ranjang dengan tubuh bergetar hebat dan keringat yang membasahi kening serta pelipisnya. Belum juga Makaila menormalkan penglihatannya, Makaila sudah lebih dulu merasakan serangan mual yang sangat. Hal itu terjadi saat dirinya mengingat kejadian di mana darah segar yang terciprat pada wajahnya disusul dengan aroma karat amis yang pekat terasa di ujung hidungnya. Makaila membekap mulutnya sendiri dan berusaha untuk menggerakkan kakinya yang terasa lemas. Namun, Makaila jelas-jelas merasa sangat kesulitan.Untungnya, seseorang datang dan membantu Makaila dengan menggendong tubuh Makaila

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   45. Tembakkan Pertama

“Kau ingin menjadikannya simpananmu? Maka lakukanlah! Tapi masih bisakah kau melakukannya saat sudah berada di neraka?” tanya Bara dengan wajah penuh kemurkaan dan aura mengerikan yang menguar di sekujur tubuhnya yang kekar. Pria yang menjambak rambut Makaila menoleh pada sumber suara, dan tidak bisa menahan dir

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   32. Latihan Menembak

Yafas berdiri di dekat pintu masuk gedung kantor di mana Edelia bekerja. Ia memang sengaja datang untuk bertemu dengan Edelia. Beberapa hari ini, Yafas memang berusaha untuk m

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   31. Perayaan

Edelia tampak duduk di kursi kerjanya. Saat ini adalah waktu istirahat makan siang, dan semua rekan kerja Edelia sudah tidak ada di kantor karena sibuk dengan urusan mengisi p

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   30. Dominik

“Kita mungkin rekan bisnis, tetapi aku sama sekali tidak senang saat pria mana pun menatap wanitaku sepertimu.”

The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)   29. Dominik

Edelia mengikat rendah rambut tebal Makaila, lalu menyelipkan sebuah jepitan cantik yang kema

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy