Download the book for free
Chapter 14
Author: Iestie AdjaSore hari Kayla sudah berada di stasiun Tugu Yogyakarta ditemani Dicky. Mereka berdua berdiri bersandar tembok menunggu jam kereta prameks ke Kutoarjo. Dengan mengenakan celana jeans pendek dan t-shirt merah membuat Dicky terlihat lebih muda.
“Nanti di Kutoarjo dijemput kan? “
“Iya pak, nanti mas Dika yang jemput katanya. Kalau mau ikut juga ayo...” ledek Kayla.
“Kamu ya, tahu nanti malam aku ada kerjaan bilang suruh ikut.” Jawab Dicky
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Sorry, this is my heart Chapter 28
Pagi saat semua orang sedang bermalas-malasan di tempat tidurnya karena hari minggu, Kayla dan bu Murni sedang membuat kue untuk dibawa Kayla ke rumah Dicky. Kayla terlihat serius dan semangat membantu ibunya. Sesekali bu Murni tersenyum melihat anak gadisnya itu kini sudah dewasa, sudah hendak dikenalkan pada keluarga kekasihnya. Padahal seperti baru kemarin ia melihat Kayla berebut mainan dengan Rafi dan berujung tangisan salah satu dari mereka.“Kay... Bukannya kemarin kamu sudah beli tiket kereta? ““Sudah bu, tapi dibatalin kemarin karena mas Dicky kan semalam nginep di mess dosen supaya pagi bisa jemput aku. Malah gak perlu susah payah ke stasiun juga kan bu? “ jawab Kayla senang sambil membantu mencetak kue kering di hadapannya.“Syukurlah kalau gitu, ibu juga senang kamu dekat dengan laki-laki dewasa dan tanggung jawab seperti Dicky.” Ucap bu Murni yang ditanggapi Kayla dengan tersenyum. “Serasa baru
Sorry, this is my heart Chapter 27
Siang itu menjelang waktu istirahat pelatihan Dicky sudah ditutup artinya ia bisa kembali menikmati hari-harinya dengan leluasa. Hari-hari sibuknya bisa kembali ia rangkul dan tentu saja ia lebih mudah untuk komunikasi dan bertemu dengan kekasihnya kembali.Selesai penutupan kegiatan, semua peserta segera menuju kamarnya masing-masing untuk mengambil barang, tak terkecuali juga dengan Dicky. Sampai di kamar ia segera mengambil tas ransel yang berisi pakaian dan perlengkapannya yang sudah ia bereskan tadi malam.“Langsung pulang kan pak? “ tanya Dicky pada teman sekamarnya.“Iya mas, anak saya sudah nanyain terus. Nanti ambil surat tugas sama jatah makan dulu sebelum pulang... “ jawab lelaki yang lebih tua dari Dicky kira-kira 6 tahunan itu.“Iya mas... Pasti senang tuh putrinya kalau tahu ayahnya pulang. Ayahnya juga senang banget pasti karena bisa ketemu lagi sama ibu dari anaknya... “ledek Dicky.“Pasti d
Sorry, this is my heart Chapter 26
Pagi hari saat mentari mulai menampakkan sinarnya, keluarga pak Hermawan sudah siap semua untuk aktifitasnya masing-masing. Pak Hermawan dan Kayla sudah siap dengan seragam kerjanya, Rafipun sudah siap dengan seragam sekolahnya. Semua berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama sebelum berangkat. Disela-sela makan sesekali mereka ngobrol ringan.“Fi, dah selesai belum? Ayah tunggu di luar ya... “ ucap pak Hermawan pada Rafi kemudian menuju teras diikuti bu Murni.Setelah selesai Rafi dan Kayla menuju ke teras, Rafi ikut berangkat bareng ayahnya sedang Kayla salaman mengantar ayah dan adiknya berangkat. Karena Kayla agak siang dibanding adiknya maka Kayla lebih sering masuk lagi dan mencuci piring bekas sarapan, baru setelahnya bersiap menggunakan jilbab dan persiapan yang lain baru kemudian berangkat.Saat mencuci piring Kayla teringat ucapan Dicky semalam jika ia merasa hal aneh tentang dirinya, dan saat yang sama ia tengah bertemu dengan Aldi wal
Sorry, this is my heart Chapter 25
Malam Itu suasana ruang pelatihan masih terlihat ramai meski jam di dinding ruangan sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Terlihat para peserta yang semua anggotanya adalah dosen itu tengah memperhatikan penjelasan dari pembicara pelatihan sambil sesekali mereka memandangi laptop masing-masing untuk mengerjakan tugas dari pembicara. Tak terkecuali juga dengan Dicky yang tengah fokus dengan pelatihan malam itu.Anggota pelatihan mayoritas sudah berumur, namun beberapa juga masih muda termasuk Dicky yang saat ini duduk di barisan nomor dua bersama peserta lain. Sesekali ia melihat walpaper dari tampilan laptopnya, iya foto dirinya bersama Kayla yang terlihat sangat bahagia. Ia tidak bisa membuka hp nya karena adanya aturan saat penyampaian materi hp dinon-aktifkan.Semua peserta bisa menghubungi keluarganya hanya di saat istirahat dan saat malam ketika selesai semua sesi pelatihan atau jika pagi maka pagi sekali sebelum acara dimulai.Beberapa menit kemudian sesi
Sorry, this is my heart Chapter 24
Sore hari yang cerah, udara tidak terlampau panas sinar mentari berwarna orens mulai bersinar. Di teras dekat kolam kecil Kayla dan ayahnya duduk santai berdua sambil memberi makan ikan-ikan yang kini berubah kecil sejak acara bakar-bakar sebelumnya. Sedang ayahnya membersihkan daun kering yang jatuh di pot-pot kecil pohon bonsainya.“Yah, besok mas Dika itu lamaran langsung apa baru tunangan sih? ““Lamaran, gak tunangan segala. Selang sebulan dua bulan terus nikah, kasihan anak orang kalau tunangan segala dan jaraknya lama sampai pernikahan. ““Emang kenapa yah? ““Perempuan kalau tunangan dan jaraknya lama itu ibarat kupu-kupu dia gak bisa lagi terbang bebas. Padahal setelah tunangan biasanya godaannya lebih besar. Laki-laki juga kalau sudah tunangan terkadang suka berfikiran kalau tunangannya itu adalah miliknya jadi yang ditakutkan tidak bisa mengerem nafsunya. Itu kalau pandangan ayah... “&ldqu
Sorry, this is my heart Chapter 23
Kayla PovSiang itu setelah keluar dari sekolah tempatnya mengajar Kayla segera melajukan motornya ke kampus. Dengan hati bahagia bak baru saja mendapat bongkahan berlian ia melaju melewati jalanan Purworejo yang cukup ramai dan indah menurut Kayla. Suasana biasapun akan menjadi indah bagi seorang yang tengah berbunga-bunga karena akan bertemu dengan pujaan hatinya sebelum ia mengikuti rapat.Hampir sampai di kampus tiba-tiba sepeda motor yang ia naik berhenti tanpa mendapat komando dari si pengemudi. Dicoba berkali-kali dinyalakan namun tetap saja tidak berhasil. Seketika ia melihat arloji yang melilit tangan kirinya dengan penuh kecemasan.“Ya ampun, setengah jam lagi dia rapat. Ini motor kenapa berhenti mendadak sih... “ gerutu Kayla sambil mengamati motornya. Mulai ban ia periksa semua ternyata tidak ada masalah, kemudian ia memandangi motor itu penuh iba karena meski dilihat-lihat oleh dirinya sepeda motor itu tidak terlihat sakit at
Sorry, this is my heart Chapter 9
Sampai di ruang rawat semua terlihat lega dan berharap bu Murni bisa segera pulang dan segera membaik. Suasana masih hening meski di ruangan itu ada banyak orang. Setelah perawat selesai mengatur dan menyetel aliran infus serta memastikan semua sudah beres, segera perawat minta ijin untuk keluar
Sorry, this is my heart Chapter 8
Siang itu kira-kira jam makan siang Kayla sudah berada di tempat bazar buku bersama 2 kawannya, Dian dan Resti. Mereka teman satu kelas yang sering bersama kemanapun pergi, namun semenjak sudah sibuk dengan skripsi masing-masing, dan antar mereka bertiga mendapat dosen pembimbing yang berbe
Sorry, this is my heart Chapter 7
Sampai dirumah Kayla segera masuk setelah memparkirkan motornya di halaman. Di dalam terlihat ibunya sedang duduk di teras sambil membersihkan biji kacang yang baru selesai di sangrainya. “Assalamualaikum… “ salam dan mencium tangan ibunya. &ldqu
Sorry, this is my heart Chapter 6
Kayla masih tidak percaya dengan apa yang ditanyakan oleh dosen pembimbingnya itu, menanyakan apakah dirinya tertarik atau tidak. Sambil menutupi kebingungannya, Kayla terfokus pada jalan yang mereka lewati hingga hampir sampai tempat yang dituju Kayla mengarahkan jalan pada Dicky.
