Download the book for free

Chapter 1
Davka masih setia mematut diri di depan cermin setinggi tubuhnya. Memastikan penampilannya saat ini tidak mengecewakan, pasalnya sekarang adalah malam terakhir ia menikmati kebersamaan dengan teman-teman kuliahnya. Ya, malam ini adalah pesta perayaan sebelum wisuda mereka bulan depan. Karena setelah acara wisuda, otomatis para mahasiswa banyak yang segera kembali ke kampung halaman mereka kembali.
Suara gelak tawa dan candaan teman-temannya terdengar nyaring dari balik pintu kamarnya. Mereka juga sangat antusias seperti juga dengan dirinya untuk menikmati pesta. Davka membalikkan badan dan kemudian keluar dari kamarnya, tak lupa ia mengunci pintu. Di ujung lorong sepupunya Eric sudah menanti dirinya.
“Siap untuk berpesta, brother?” tanya Eric seraya merangkul bahu saudaranya itu.
“Tentu saja,” jawab Davka.
Davka dan juga Eric akhirnya bergabung dengan teman-temannya yang lain meninggalkan gedung asrama Arjuna dan berjalan bersamaan menuju gedung serbaguna tempat pesta berlangsung yang kebetulan tepat berada di tengah halaman komplek asrama itu. Baru saja Davka akan menapakkan kakinya pada anak tangga menuju ke dalam gedung pesta, panggilan dari seorang gadis menghentikan laju langkahnya.
Lidya nama gadis tersebut, salah seorang teman kuliah Davka. Lidya menghampiri Davka bersama dengan keempat teman wanitanya yang lain. Davka mengerutkan dahinya, tatapan malas ia tunjukkan pada gadis itu. Bukannya Davka tidak sopan kepada perempuan, tetapi memang gadis yang satu ini merupakan pengecualian untuknya. Gadis yang dengan terang-terangan suka menggodanya, bahkan tidak merasa sungkan langsung menggelayut di lengannya tanpa permisi. Sedangkan kekasih hatinya sendiri saja tidak berani melakukan hal itu jika tidak Davka yang meminta, gadisnya yang polos dan pemalu.
Ah, Davka rindu tentu saja.
Lidya sendiri bukannya tidak tahu jika Davka sudah memiliki kekasih, tetapi karena ia juga tertarik pada Davka maka segala upaya akan ia tempuh demi meluluhkan hati sang pria pujaan. Bagaimanapun caranya sebelum wisuda dan pria ini kembali ke kotanya ia harus sudah mendapatkan Davka. Seperti saat ini, ia dengan tidak tahu malu sudah menggelayut manja di lengan kanan Davka.
Davka memegangi pergelangan tangan Lidya mencoba melerai genggaman gadis itu, tetapi gadis itu malah semakin mengeratkan genggamannya. Sorot mata Davka tajam menghunus manik mata Lidya tetapi dasar gadis kepala batu. Lidya bukannya merasa takut tetapi gadis itu kembali balas menatap Davka.
“Lepasin tanganku,” bentak Davka.
“Kalau aku nggak mau lepasin, kamu mau apa?” balas Lidya.
Davka melotot dengan rona merah mulai menjalar dari leher sampai ke wajahnya. Kedua telak tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.Eric yang merasakan gelagat tidak baik pada Davka, akhirnya iapun turun tangan.
Eric merengsek ke depan dan meremas bahu Davka dan berkata, “Sabar Dav, ayo kita pergi. Ingat dia perempuan.”
Davka memalingkan wajah menatap Eric dengan raut wajah datar. Kemudian meyentakkan cengkeraman tangan Lidya dengan kasar seraya berbisik, “Sebaiknya kamu menjauh dariku jika tidak ingin aku berbuat kasar padamu.” Setelah berkata demikian Davka beserta rombongannya meninggalkan Lidya dan teman-temannya juga.
Lidya menyentakkan kakinya seperti anak kecil, kemudian ia berseru seraya menunjuk ke punggung Davka, “Davka Alsaki! Pegang kata-kataku ini ya. Suatu hari nanti kamu akan tunduk di bawah kakiku!”
Davka membalikan badannya menatap Lydia dengan tatapan mata malas dan memutar kedua bola matanya, kemudian kembali membalikkan badannya dan berlalu.
“Dasar pria sombong! Tapi walau begitu aku tetap suka,” gumam Lydia.
“Sudahlah Lydia, kayak nggak ada cowok tajir lainnya. Deketin aja Eric,” saran Dini salah seorang teman Lydia.
“Dan berurusan dengan Yora? Sama saja aku cari mati kalau goda Eric,” balas Lydia.
“Kenapa begitu?”
“Karena ayah Yora itu bos Bokap gue!” jawab Lydia jengkel seraya melotot sinis.
“Beda sama pacar si Davka itu, pacarnya itu cuma gadis miskin biasa. Heran sama Davka kok bisa-bisanya mau sama gadis begitu,” ujar Lidya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dipelet mungkin si Davka,” timpal temannya yang lain.
Kelima gadis muda itu akhirnya berlalu dengan derai tawa meyertai.
***
Davka mendengkus jengkel, pasalnya Lydia kembali menghampirinya dengan membawa dua gelas minuman. Padahal posisi Davka saat ini sedang berbincang dengan para karyawan kantor fakultasnya. Otomatis Davka tidak bisa mengusir Lydia begitu saja.
Lydia tersenyum tipis, ia tahu sekali Davka tidak mungkin akan mengusirnya saat ini. Sekali-sekali bolehlah berbuat licik, Lydia mengulurkan salah satu gelas kepada Davka. Davka dengan terpaksa mererimanya karena saat ini ia juga tidak membawa minuman apapun.
Senyum culas terbit di bibir manis Lydia saat ia melihat Davka menyesap minuman yang dibawakannya. Setelah memastikan Davka menyesap minuman yang dibawakannya itu, Lidya kemudian berlalu meninggalkan Davka. Lydia kemudian menemui sesosok pria yang berdiri di sudut ruangan.
“Bagaimana, sudah dia minum?” tanya sosok itu.
“Sudah, makasih ya,” jawab Lydia dengan wajah puas.
Di sudut kota lainnya, Almira sedang sibuk mencari keberadaan ponselnya yang terlupakan karena kesibukannya hari ini. Hari ini adalah hari penuh duka untuknya, bagaimana tidak hari ini ia harus menguburkan kedua orangtua berserta dengan kedua adik-adiknya akibat kecelakaan yang menimpa keempatnya saat liburan kemarin. Dan baru saja selesai diadakan acara sembahyang bersama dengan para tetangganya.
Almira membuka ponselnya dan tersenyum membaca pesan yang ditinggalkan oleh Davka, yang menanyakan kabarnya. Almira mendesah, ia merasa serba salah pasalnya sang kekasih belum mengetahui apa yang terjadi pada keluarganya. Jangankan Davka, para sahabatnya saja tidak tahu menahu tentang hal ini.
“Nak Al, kalau nggak berani tinggal sendiri bisa tinggal di rumah ibu dulu,” tawar ibu RT.
Almira menaruh ponselnya di atas pangkuannya dan tersenyum lembut kepada ibu RT itu dan berkata, “Ndak perlu Bu, Al berani kok. Anggap kenang-kengan Al sama keluarga disini. Karena sesuai dengan pesan Bapak, rumah dan tanah akan Al jual nanti setelah empat puluh harinya.”
“Kok cepat banget Nak?”
“Al, juga nggak paham Bu. Itu pesan terakhir Bapak sebelum meninggal kemarin di rumah sakit. Al nggak mungkin bisa menolak ‘kan, Bu?”
“Sabar ya Nak. Semua sudah di atur oleh-Nya. Ada sebab pasti ada akibat. Pasti Bapak juga sudah memikirkan semuanya untuk Nak Al.” Bu RT mengusap punggung Almira menenagkan gadis itu yang sudah tampak akan kembali menitikkan airmatanya.
Banyak orang mengungkapkan rasa simpatik mereka kepada Almira dan juga keluarganya, karena mereka keluarga yang baik dan ramah. Tak pernah segan membanttu para tetangga yang kesusahan dan tak pernah meminta imbalan apapun. Kerena banyaknya orang yang peduli padanya dan keluarganya membuatnya sangat bersyukur sekali. Bahkan tadi ada salah seorang tetangganya ynag ingin mengajaknya menikah tetapi jelas di tolak oleh Almira. Gadis itu tentu berhqarap setelah Davka menyelesaikan pendidikannya, mereka akan segera menikah. Sesuai dengan apa yang pernah pria itu janjikan dulu kepadanya. Satu bulan lagi ia akan bertemu dengan sang kekasih dan ia akan menceritakan semuanya.
Latest chapter
She Runs With Wolves 108 | BOUND
The week following the defeat of the demon had been surprisingly normal. Well – as normal as a week could be for two vampires, a witch, and a werewolf. I leant back against Skye, pressing my body against his. His arms slipped around my waist, and I snuggled closer. I could see the darkness swelling outside, scattering the stars and drawing away the purple haze of dusk. Skye had all but moved in to the Clan house, and, whilst most of his belongings were stashed in the spare bedroom upstairs, he slept and spent all of his time in my room. I’d dragged another chair up the staircase and lugged it into my room, so that we could share my desk – though very little homework ever got done, what with our constant teasing and moments where, despite the desk and my laptop, despite the mounds of assignments and text books, nothing but Skye and I existed. Those moments ended in kisses, always, and though I was
Last Updated : 2020-11-04
She Runs With Wolves 107 | AFTER
The large, red-brown wolf in front of me panted, its claws digging into empty earth. I stepped closer, one quivering hand outstretched. The rain splattered onto its fur, slicking it down as it turned its huge, golden eyes to look at me. There was a nudging glee between our bond, as though we were both too scared to accept that we’d done it. We hadn’t failed. We’d won. I held the wolf’s gaze. He gave me a nod, and his jaw hung open in a lopsided grin. It was raining. I’d made it rain. I couldn’t make sense of everything that was happening. My grip on the knife loosened, and it clattered to the floor. Then Skye was shifting in front of me, and, rain soaked and bloody, we fell into each other’s arms. All around us people were waking up, witches and vampires alike, and I let out a breath I hadn’t realised I’d been holding. They were going to
Last Updated : 2020-11-04
She Runs With Wolves 106 | ICARUS
“If you have the power to do that,” I said, yanking the blade out from under my skort, “why not just kill us all now?” Cythraul clucked his tongue. “And what would be the fun in that? The realm I’m from is nothing like your world, Ellis. This place has hope, and fear, and love, and loss. There is duality in all things. It is a privilege for me to be here, you see. I plan to enjoy it.” “So this is just a game to you?” I spat, raising the knife. I tried to keep my eyes on the demon, not wanting to see the lifeless bodies of my family all around us. “Of course,” he grinned. “Though I’m afraid your chances are perhaps bleaker than I’ve made out. Your little witch friend, the red head – she was wrong about that stone around your neck.” He nodded at it. “It doesn’t mean what she thinks. Her first guess was right &n
Last Updated : 2020-11-03
She Runs With Wolves 105 | SIX MINUTES
“You know?” I whispered. My mouth went dry, and I swallowed thickly, trying to wet my lips. Ice flooded my veins. We had lost. We had failed. He stepped out of the shadows, snakes of black mist pooling around his body as he moved. His smirk deepened, and I saw a flash of white teeth as he struggled to hold in his laughter. He looked, for the most part, human. His skin shone with a pearlescent lustre, but two dark horns protruded from his forehead and his eyes glowed red. He was tall – taller than any person I’d ever seen, be they vampire, human, witch, or wolf – and, as the fog parted, billowing away from his legs, I understood why. He had the upper body of a human, and the legs of a large goat. But, as I watched, they shifted and shimmered in the darkness, stars and sparkles of an indeterminable colour – too matte to shine like that, too black to be so bright; it was impossib
Last Updated : 2020-11-03
She Runs With Wolves 104 | OBLIVION
“I guess this is where I have to leave you,” I said, though I didn’t slide my hand out of Skye’s, or make any indication that I was planning on walking away from him. I was reluctant to leave him alone, even though I knew that his job was more likely to be safe than mine.
She Runs With Wolves 103 | HALLOWEEN
We had an hour to kill before the Clan were due to start their fight. I didn’t want to think that it might be my last, but try as I might, my barricades were struggling to stay in place. The two thuds played on a loop in my head, and I had to concentrate very hard to keep the images of Davi
She Runs With Wolves 102 | TALISMAN
“Okay,” Molly said, clapping her hands together. “I think that’s everything.” “Finally,” Rowan muttered under her breath, and I had to stifle my laughter. It was the night of Halloween, and we were all milling aro
She Runs With Wolves 101 | VISIONS
Skye let out a tiny, defeated sigh, but then he pushed through his disappointment and stepped closer, peering into the window beside me. “Are you sure they haven’t just changed the display around?” “The display is the same.” I groaned, banging my
Reviews

Chapters
Read
Download
To Readers
Jiang Sese was in utter disbelief after hearing all of that.
She was already hurt after losing her child. Now that she had learned the truth, she felt such mental torment that she was about to go mad. Even her emotions were going haywire, so much so that she was becoming hysterical English
