loading
Home/ All /Seven Husbands From Hell/Chapter 7

Chapter 7

Author: Fura Ferra
"publish date: " 2020-10-30 00:40:15

"Apa maksudmu dengan menikahiku, Lazark?"

Sakura mengerutkan dahinya, ia tidak pernah mendengar tentang pernikahan atau apapun yang menyangkut dengannya. Viper melepas senyum indahnya ke arah Sakura, dengan santai ia berdiri dan menghampiri Sakura yang masih berdiri di depan pintu.

"Ayahmu menjual dirimu pada kami," ucapan Viper seperti sambaran petir di siang hari.

Sakura melangkah mundur perlahan, tetapi Viper dengan cepat menarik Sakura masuk dan pintu tiba-tiba tertutup dengan sendirinya di tambah pintu itu menghilang. Sakura mencoba mendorong tubuh Viper, tetapi sia-sia saja dengan tubuhnya yang mungil tidak dapat lepas dari pelukan Viper.

"Lepaskan aku!" desis Sakura, Viper hanya tersenyum lalu mengecup bibir Sakura.

Plak

Sebuah tamparan tepat mengenai wajah tampan Viper, Sakura dengan cepat mendorong tubuh Viper dan menjauh dari lelaki berbahaya itu. Menoleh ke belakang pintu masuk telah menghilang, Sakura kembali menoleh ke arah jendela. Tidak peduli ruangan itu berada di lantai tiga, Sakura berlari ke arah Jendela, tetapi jendela itu tertutup dan terkunci dengan sendirinya. Langkah Sakura terhenti, ia kembali menoleh ke belakang dan Lazark sudah berada di hadapannya.

"Kau tidak bisa lari dari kami, Sakura," ujar Lazark sambil menyeringai, Sakura menggelengkan kepalanya pelan dan melangkah mundur perlahan.

"Kalian ... apa kalian Iblis?" tanya Sakura dengan suara lirih.

Para lelaki itu tersenyum lalu mendekati Sakura, senyuman yang tidak pernah di perlihatkan pada Sakura. Viper pun akhirnya terlihat tersenyum kepadanya, setelah beberapa lama mereka saling mengenal lelaki itu tidak pernah terlihat tersenyum lembut pada siapa pun.

"Kami memang bukanlah manusia," jawab Viper sambil memperlihatkan sayap hitam miliknya yang keluar dari punggung.

"Kau akan menjadi istri kami di Dunia Iblis, Sakura," ujar Lazark di telinga Sakura.

Sakura tertawa pelan mendengar perkataan aneh Lazark, mereka tidak akan semudah itu mendapatkan Sakura. Dengan senyuman manis Sakura, perhatian mereka teralihkan dan tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi.

Praankkk

Sakura menabrakkan dirinya untuk melompat keluar jendela, mati bukanlah pilihan Sakura. Dengan cepat ia memegang batang pohon sebelum kakinya patah karena meloncat dari lantai tiga. Sakura melopat kembali ke batang pohon yang lebih rendah dan berhasil menapakkan kakinya di atas tanah. Tangannya seperti terkilir karena harus melompat sedikit memutar seperti tadi.

"Nona Sakura, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sean yang menghampiri Sakura.

Sakura tersenyum dan dengan cepat menghampiri Sean dan memeluk pria itu. Sean mengerutkan keningnya, ia merasakan hal aneh dengan wanita di hadapannya.

"Bawa aku pergi dari sini secepatnya!" perintah Sakura, Sean tidak mengerti apa yang terjadi tetapi tangan Sakura terlihat mengeluarkan darah dan terdapat pecahan kaca yang masih tertancap di lengannya.

Tanpa kata Sean segera membawa Sakura pergi, ia ingin membawa Sakura ke rumah sakit terdekat untuk membersihakn luka di tangan wanita itu. Sean mencoba setenang mungkin agar Sakura tidak merasa panik.

Di sisi lain para Pangeran Iblis itu hanya bisa tertawa dengan kepergian Sakura.

"Istri kita melarikan diri," ujar Lazark dengan tertawa kecil.

"Kau lihat betapa beraninya ia melompat dari lantai tiga dan memegang batang pohon untuk turun ke bawah?" tanya Shine sambil bertepuk tangan.

"Istri kita memang hebat, ke mana ia akan lari?" tanya Shin dan mereka semua menoleh ke arahnya.

"Aku pikir ia akan kembali ke Mansion Leonardo dan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya," jawab Viper yang langsung menghilang meninggalkan kesunyian di tempat mereka.

Sesampainya Sakura di rumah sakit terdekat, Sean langsung saja membawa Sakura menuju ruang UGD. Dengan segera seorang dokter membersihkan luka dan mengeluarkan pecahan kaca yang berada di lengan Sakura. Sean terus bertanya apa yang terjadi, tetapi Sakura masih tetap bungkam dan fokus dengan luka-luka di tangannya.

"Apa yang setelah ini kau lakukan?" tanya Sean pada akhirnya.

Sakura menoleh dan tersenyum ke arah Sean, senyuman yang mampu menggetarkan Sean selama ini. Menghembuskan napas, Sakura masih tetap diam dan hanya tersenyum ke arahnya.

"Mansion Ayahku, aku ingin bertanya sesuatu padanya," putus Sakura, Sean mengerti dan akan segera mengantarkan Nonanya.

Sean segera mengurus administrasi dan kembali pada Sakura yang kedua lengannya sudah di balut dengan perban.

"Tangannya tidak hanya terluka, tetapi juga terkilir. Lebih baik tidak terlalu banyak  menggerakkan lengannya untuk beberapa hari ini." Sean mengerti, ia lalu mendekati Sakura yang terlihat sedang berpikir.

"Kita pergi sekarang?" tanya Sean, Sakura mengangguk dam mereka berdua meninggalkan rumah sakit itu dan menuju Mansion Leonardo.

Selama di perjalanan hanya ada keheningan, Sakura terlihat berpikir keras dan seperti ingin meluapkan amarahnya. Sean ingin bertanya, tetap akan percuma saja karena Sakura tidak akan membuka suaranya. Sesampainya mereka di Mansion besar milik Leonardo yang merupakan majikan Sean, Sakura menghembuskan napasnya mencoba menenangkan diri.

"Ayah!" panggil Sakura dengan suara nyaringnya.

Jarang sekali Sakura berteriak dan melupakan etika sebagai seorang wanita. Leonardo yang merasa dipanggil menoleh ke arah pintu, saat ini ia sedang membaca majalah bisnis di ruang kerjanya. Pintu terbuka tanpa ketukan, Leonardo mulai menatap tajam siapa yang datang di saat waktu santainya.

"Apa tata kramamu telah hilang, Sakura?" tanya Leonardo sambil menutup majalah bisnis yang ia baca.

"Apa maksudmu menjualku pada mereka!" hardik Sakura menatap kesal kepada Ayahnya yang selalu melakukan semena-mena terhadap dirinya.

"Menjual? Apa maksudmu dengan menikahi mereka?" tanya Leonardo sambil menunjuk belakang Sakura.

Sakura menoleh dan mendapati keenam lelaki idol kampusnya itu menatap dirinya dengan tersenyum remeh.

"Kau bercanda, bagaimana mungkin aku menikahi mereka semua?" tanya Sakura yang histeris dengan perkataan Ayahnya.

"Mungkin saja, mereka menginginkan dirimu dan aku mendapatkan apa yang aku mau dari mereka. Sebuah pertukaran yang sama-sama menguntungkan, jadi lebih baik kau menurut atau mereka akan membawamu pergi dari dunia ini." 

"Mengapa tidak Trisca saja yang kau jual pada mereka!" 

"Ahh, karena mereka menginginkan dirimu, bukan Trisca."

"Jadi karena ini kau memperlakukanku dengan buruk?"

"Sakura, aku tidak bermaksud memperlakukanmu dengan buruk."

Sakura menggelengkan kepalanya, rasanya ia ingin berlari sejauh mungkin untuk melepaskan semua beban di pundaknya.

"Kalian ... mengapa kalian melakukan semua ini padaku?" tanya Sakura menatap keenam lelaki itu dengan pandangan kecewa.

"Sakura, kami hanya mencintaimu. Karena itu kau tidak perlu takut jika kami mempermainkan dirimu, karena kami tidak akan membuatmu terluka," ujar Shine dengan senyuman manisnya.

Sakura sama sekali tidak terpengaruh dengan wajah imut Shine, ia tidak akan tertipu dengan wajah manis Shine untuk yang kedua kalinya. Sakura kembali menatap Leonardo, wajah datar Leonardo membuatnya semakin muak berada satu ruangan dengan mereka.

"Kalian bisa membawanya ke kamar dan memberinya peringatan," ujar Leonardo kepada keenam lelaki tampan itu.

Sakura membulatkan kedua matanya, ia ingin kembali lari, tetapi tubuhnya tidak bisa bergerak.  Shin menghentikan pergerakan Sakura, ia tidak ingin melihat Sakura terluka hanya karena ingin lari dari mereka. Melihat tangan Sakura yang di perban seperti itu saja sudah membuat Shin dilema dan ingin mengurung calon Istrinya dalam kastil miliknya.

Viper menyentuh tangan Sakura dan membawanya kedalam pelukan, mereka semua langsung berteleportasi meninggalkan ruang kerja milik Leonardo. Leonardo menghempaskan bokong di atas kursi malasnya. Memijat keningnya yang terasa berdenyut memikirkan nasib anak kandung semata wayangnya.

"Maafkan aku, Sakura."

***

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Seven Husbands From Hell   Chapter 14

"Ahhhh ... hilang sudah masa mudaku yang masih ingin bermain-main dan memiliki teman," keluh Sakura setelah selesai menyelesaikan lukisannya.Saat ini Sakura sedang berada di danau dekat dengan asrama di kampusnya. Bersama dengan Lazark yang saat ini mendampingi Sakura kemana pun wanita itu pergi. Kini para Raja itu membuat peraturan di mana setiap hari Sakura harus ditemani salah satu dari mereka. Dan memiliki satu hari bebas tanpa mereka dengan hanya berdiam diri dalam mansion miliknya.

Seven Husbands From Hell   Chapter 13

"Ayah!" panggil Trisca yang baru saja datang ke Mansion. Ia baru mendengar kabar jika saudara tirinya akan menikah dengan enam orang sekaligus, sebelumnya ia justru senang karena dengan itu Sakura akan terlihat seperti wanita murahan yang mau menikahi banyak pria. Tetapi, lain lagi ceritanya saat ia mengetahui siapa yang akan dinikahi oleh saudaranya.

Seven Husbands From Hell   Chapter 12

"Tunggu." Seorang memasuki kamar Sakura dengan kemeja merah dan jas hitam yang membalut tubuh lelaki itu. Wajah tampannya mengalihkan pandangan Sakura dari Mysth yang sedang menarik tangannya.

Seven Husbands From Hell   Chapter 11

Sebuah sentuhan halus terasa di tubuh Sakura, ia merasakan sebuah rantai yang mulai melilit tubuhnya dan seketika menghujam jantung dengan rasa sakit luar biasa. Air mata itu menetes dari kedua pipi Sakura, tetapi kedua kelopak matanya enggan untuk terbuka. Lebih tepatnya ia tidak bisa membuka kedua matanya.Tubuhnya terasa menegang karena sakit di jantungnya, dan ia merasa begitu lemas hingga napasnya terengah-engah. Begitu menyakitkan hingga ia tidak tahan saat rantai dingin itu seperti membelenggu jantungnya.

Seven Husbands From Hell   Chapter 10

Sakura menatap luar jendela dengan tatapan waspada, hari sudah beranjak pagi beberapa jam yang lalu. Ternyata selama ini ia sudah hidup dengan di kelilingi para Iblis, Sakura menoleh saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah kamarnya."Nona Sakura, apa Anda sudah bangun?" tanya Sean setelah mengetuk pintu tiga kali.

Seven Husbands From Hell   Chapter 9

Saat itu juga aku berlari meninggalkan rumah dan memasuki mobil range rover milikku. Aku melesat pergi keluar dari Mansion. Membelah angin malam yang dingin menusuk kulit pucatku. Air mataku terus menetes membasahi kedua pipi, hatiku terasa sakit mengingat dengan apa yang dikatakan Ayah padaku. Bagaimana mungkin aku menikahi mereka, mereka yang telah menolongku di kampus dan selalu menjagaku. Oh Ibu. Meski aku belum pernah melihatmu, tolonglah anakmu ini.Aku menginjak pedal g

Seven Husbands From Hell   Chapter 8

Mansion milik keluarga Michaelis memang terbilang sangat besar. Untu

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy