Download the book for free
8. Permulaan
Author: MiafilyOlevey menatap langit-langit yang selama beberapa hari ini selalu menyapanya ketika bangun tidur. Namun, kali ini Olevey sadar jika dirinya tidak terbangun dari tidur malamnya yang nyaman. Olevey teringat apa yang terjadi tadi malam, dan rasa dingin menguasai telapak tangan dan kakinya yang sebenarnya masih terlindungi selimut tebal yang halus. Mungkin, Olevey memang tinggal nyaman selayaknya tinggal di dunia manusia. Hanya saja, Olevey melupakan fakta, jika dunia iblis dan dunia manusia jauh berbeda. Olevey terlalu terbuai dengan keindahan yang jelas-jelas hanyalah kamuflase untuk membuat manusia terbuai. Jelas, Olevey hampir saja menjadi salah satu manusia yang terbuai.
“Nona, Anda sudah bangun?”
Olevey mendengar suara Jennet dan suara langkah yang mendekat. Tanpa melihat pun, saat ini Olevey sudah bisa menebak dengan tepat, jika saat ini Jennet pasti tengah melangkah mendekatinya. Ah, lebih tepatnya mendekat pada ranjang yang ia tempati. Namun, Olevey sama sekali tidak ingin diganggu oleh siapa pun, termasuk Jennet. “Tolong tinggalkan aku sendiri, aku tidak mau dingganggu oleh siapa pun,” ucap Olevey.
“Tapi Nona, saya harus membantu Nona untuk segera bersiap. Yang Mulia Raja meminta Anda untuk hadir dalam acara makan siang nanti,” ucap Jennet.
Olevey tersenyum tipis. “Aku yakin, kamu tau apa yang terjadi tadi malam. Lalu, apa kamu pikir aku masih bisa makan bersama atau setidaknya bertemu tatap dengan kalian?” tanya Olevey membuat Jennet mematung. Ia tidak menyangka jika Olevey malah akan mengatakan hal ini padanya.
Namun, Jennet sendiri sadar jika Olevey pasti terkejut dengan apa yang sudah terjadi. Jadi, pada akhirnya Jennet berkata, “Kalau begitu, saya akan ke luar. Tapi saya akan tetap berada di depan pintu. Jika Nona membutuhkan bantuan, Nona bisa memanggil saya.”
Olevey sama sekali tidak menjawab, dan tetap berbaring di posisinya. Namun, Jennet tahu jika Olevey mendengar apa yang sudah ia katakan. Jennet beranjak meninggalkan kamar mewah yang ditinggali oleh Olevey di kastel kerajaan dunia iblis, di mana Diederich sebagai penguasa tunggal. Olevey pun bangkit dan duduk di tepi ranjang. Ia menunduk dan menatap ujung jemari kakinya. “Aku tidak bisa lagi bertemu dengan orang tuaku. Aku kehilangan keluarga, dan kini aku harus tinggal di dunia yang jelas bukanlah tempatku,” ucap Olevey pada dirinya sendiri.
Olevey menghela napas panjang. “Aku ingin pulang.”
“Pulang ke mana? Ini sudah menjadi rumahmu.”
Olevey tersentak dan berdiri dari posisinya sembari menatap nyalang pada sosok yang mengejutkan karena tiba-tiba hadir di dalam kamar yang tentu saja harus menjadi tempat pribadi baginya. “Jangan masuk tiba-tiba ke dalam kamarku seperti ini,” ucap Olevey penuh peringatan. Olevey tampak lupa akan sopan santun, di mana dirinya harus meletakkan hormat pada Diederich yang memiliki status tertinggi di dunia iblis ini. Sepertinya, merasa rindu dengan rumah membuat Olevey hilang akal. Namun, sepertinya hal itu sama sekali tidak membuat Diederich terganggu.
Malahan, apa yang dikatakan oleh Olevey rupanya disambut oleh kekehan mengerikan Diederich. “Ternyata kau sudah mengakui kamar ini sebagai kamarmu. Aku tidak keberatan. Tapi coba ingat, kamarmu ini ada di dalam kastelku. Itu berarti, kamar ini juga milikku. Aku berhak untuk masuk ke mana pun sesukaku,” ucap Diederich sembari menyeringai dan membuat wajahnya terlihat semakin tampan saja.
Namun Olevey sadar, jika rupa yang menawan ini adalah kamuflase. Tidak ada satu pun iblis yang memliki rupa yang indah. “Ya, ini hanya kamuflase,” ucap Olevey tanpa sadar membuat Diederich terdiam. Tentu saja saat ini Diederich yang cerdas bisa membaca apa yang dipikirkan oleh Olevey. Sayang sekali, Olevey adalah satu-satunya orang yang tidak bisa Diederich dengan pikirannya. Jadi, Diederich hanya bisa menebak-nebak apa yang dipikirkan oleh gadis manusia satu ini.
“Ya, bisa dibilang ini adalah kamuflaseku, tapi penampilan menawan ini tidak terlalu jauh dari tampilan iblisku. Bukankah ini penampilan yang membuat hatimu berdegup kencang? Kenapa? Apa sekarang kau sudah jatuh hati padaku?” tanya Diederich membuat Olevey yang mendengarnya mengernyitkan keningnya dalam-dalam.
“Itu tidak masuk akal,” sanggah Olevey.
Diederich sedikit memiringkan kepalanya dan berkata, “Sejak awal, kau memang sangat menarik. Kau adalah eksistensi yang terasa begitu aneh sekaligus unik. Dimulai dari pikiranmu yang tidak bisa kubaca, hingga sosokmu yang menarik perhatianku, ah bukan. Bukan hanya perhatianku. Tapi kau bisa menarik perhatian semua iblis kelas menengah ke bawah. Saking tertariknya mereka, ketika mereka berada dalam penampilan iblis mereka, mereka tidak bisa menahan nafsu mereka. Entah untuk membunuh atau melakukan hubungan seksual.”
“Tunggu, apa itu artinya tadi malam—”
“Ya, tadi malam aku sengaja mengajakmu ke pesta untuk membuktikan apa yang sudah aku simpulkan di awal. Tapi ternyata, apa yang aku simpulkan terbukti. Kau memiliki sesuatu yang bisa membuat kami, para iblis merasakan ketertarikan yang begitu besar padamu,” potong Diederich membuat Olevey merasakan firasat buruk.
Firasat buruk yang semakin menjadi saat tiba-tiba Olevey melihat jika Diederich melangkah mendekat padanya. Secara naluri, Olevey tentu saja mengambil langkah mundur. Sayangnya, itu adalah tindakan yang bodoh. Karena itu sesuai dengan perkiraan Diederich dan sesuai dengan apa yang ia harapkan. Kini, Olevey tersudutkan dengan Diederich yang kini memeluk pinggangnya, sementara salah satu tangannya menangkup pipi lembut Olevey. Entah kenapa, Olevey tidak bisa mendorong mundur Diederich untuk menjauh darinya. Bukan karena Olevey terpengaruh sihir, tetapi ada sesuatu yang menahan Olevey.
Diederich mengusap lembut pipi Olevey yang putih mulus. “Termasuk aku. Mungkin di sini, aku yang paling besar merasakan ketertarikan yang terasa tidak masuk akal ini. Awalnya, aku merasa bingung. Kenapa, dan untuk apa rasa tertarik ini,” ucap Diederich begitu dekat dengan wajah Olevey.
Hawa panas yang menguar dari tubuh Diederich terasa begitu jelas di kulit Olevey, apalagi pada pinggangnya yang kini dipeluk erat oleh Diederich. Dirinya yang hanya mengenakan gaun tidur, bisa merasakan telapak tangan lebar dan panas yang tadi malam menggenggam pergelangan kakinya. Telapak tangan yang jelas membawa hawa panas yang membawa getaran aneh yang tidak Olevey kenali. Namun, Diederich tentu saja dengan mudah membaca apa yang saat ini dirasakan oleh Olevey, dan ini memang sesuai dengan apa yang ia harapkan.
“Tapi aku sadar, jika aku tidak perlu bingung. Aku yakin, jika ketertarikan ini bukanlah hal yang ada tanpa alasan. Hal yang mudah jika aku menyimpulkan bahwa kau memang sudah ditakdirkan untuk menjadi milikku, Eve. Mulai detik ini, kau resmi menjadi milikku. Kau tidak bisa pergi dariku, tanpa seizinku. Baik hidup beserta tubuhmu, kini sudah menjadi milikku, Eve,” ucap Diederich membuat jantung Olevey berdetak dengan gilanya.
Belum juga Olevey akan mengelak apa yang dikatakan oleh Diederich, bibirnya sudah lebih dibungkam oleh ciuman panas dan dalam oleh Diederich. Olevey, terkejut dan berusaha untuk menghindari ciuman tersebut, tetapi hal tersebut sangatlah mustahil. Diederich membawa tubuh Olevey untuk menempel dengan eratnya pada tubuh bagian depannnya. Olevey merasakan kepalanya berputar ketika Diederich memperdalam ciumannya. Ini terasa sangat aneh, dan baru bagi Olevey.
Selama delapan belas tahun hidup Olevey, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan sedemikian tidak sopan oleh seorang pria. Apalagi, saat ini Diederich memberikan sentuhan yang membuat Olevey merasakan panas dingin di sekujur tubuhnya. Olevey kesulitan bernapas, dan kini tubuhnya lunglai dan jatuh dalam pelukan Diederich seutuhnya. Diederich kini menopang Olevey sepenuhnya karena kedua kaki Olevey memang sudah tidak lagi kuat untuk berdiri dengan benar.
Wajah Olevey yang putih bersih, kini merona dengan cantiknya. Saat Olevey hampir kehilangan pasokan oksigen, Diederich melepaskan tautan bibirnya dan membuat Olevey bernapas dengan lega. Diederich terkekeh saat melihat Olevey yang susah payah mengambil napas, sepertinya ia sudah terlalu berlebihan mecium gadis yang baru pertama kali berciuman. Diederich mengusap bibir bawah Olevey yang tampak merah merekah dan basah oleh air liur. “Ini hanya permulaan, ke depannya, kita akan melakukan hal yang lebih menarik, Eve,” bisik Diederich penuh arti.
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia) 34. Tak Boleh Mati
“Bagaimana kabar Ayah dan Ibu, ya? Apa mereka baik-baik saja?” tanya Olevey sembari menatap bunga-bunga segar yang dibawa oleh Slevi. Bunga yang sengaja dipetik untuk dirangkai oleh Olevey.Entah kenapa, tadi malam Diederich tiba-tiba berkata jika dirinya ingin sebuah pot bunga berisi karangan bunga yang dibuat sendiri oleh Olevey. Awalnya, Olevey sendiri tidak mau menuruti apa yang diinginkan oleh Diederich. Namun, Diederich mengancam akan mengurungnya di dalam kamar, lebih tepatnya mengikatnya di atas ranjang dan membuatnya mengerang sepanjang hari.
Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia) 33. Ajakan
“Bagaimana mungkin tidak bisa?!” tanya Leopold dengan nada tinggi pada para penyihir yang sudah ia kumpulkan dari sepenjuru negeri sebagaimana petunjuk yang diberikan oleh Elgah.Salah satu penyihir yang dituakan mendongak dari posisi berlututnya di hadapan singgasananya. “Yang Mulia, portal tersebut sangat sulit untuk ditembus. Meskipun sudah disatukan, energi kami tidak cukup untuk memaksa membukanya. Bahkan saat menembus kabut pembatas di tepi lembah Darc saja, kami sudah hampir kehabisan kekuatan. Jadi—”
Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia) 32. Serangan Balasan
Leopold mengernyitkan keningnya saat menyadari jika dirinya tengah mengalami kondisi di mana dirinya sadar tengah berada dalam alam bawah sadarnya, lebih tepatnya tengah mengalami sebuah mimpi. Saat ini, Leopold berada di sebuah ruangan luas dengan aksen hitam dan merah yang sangat kental. Hanya dalam sekali lihat, Leopold bisa menyimpulkan jika ruangan ini tak lain adalah sebuah kamar tidur. Hal itu semakin diperkuat dengan sebuah ranjang berukuran besar berkelambu yang berada di sisi ruangan ini. Saat cahaya bulan merambat memasuki ruangan, Leopold bisa melihat dengan jelas melihat siluet yang tercetak pada kelambu.
Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia) 31. Tak Masuk Akal
Diederich menyugar rambutnya sembari menatap arah di mana portal penghubung antar dua dunia berada. Ia sesekali menyesap anggur dari gelas kristal di tangannya, dengan ekspresi dingin. Ia masih bisa merasakan, jika ada kekuatan-kekuatan yang berada di seberang portal yang berusaha untuk membuka portal tersebut. Meskipun kuasa untuk membuka portal ada sepenuhnya di tangannya, Diederich sama sekali tidak bisa memungkiri jika portal pada akhirnya memang bisa dipaksa untuk terbuka tanpa seizinnya sekali pun. Namun, hal itu akan terasa sangat mustahil, jika yang berusaha membukanya adalah kaum manusia.
Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia) 30. Tidak Ingin Melepaskan (21+)
Olevey menggigit ujung bantal, berusaha untuk tidak mendesah sama sekali saat Diederich terus bergerak memasukinya dengan dalam dan kuat. Tentu saja, Diederich sengaja menyentak miliknya dengan sentakkan yang kuat, demi mendengar erangan Olevey. Namun, sejak awal menyatukan diri, Olevey sama sekali tidak mau mengeluarkan sedikit pun erangannya yang manis. Diederich menyeringai, sepertinya ia perlu membuat Olevey terkejut dan melonggarkan pertahanannya. Diederich memeluk Olevey dari belakang lalu berbicara dalam hatinya, “Eve, mengeranglah. Aku ingin mendengar erangan manismu.”“Dasar Iblis tidak tau malu!”
Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia) 29. Penobatan
Diederich menyelimuti Olevey menggunakan sayapnya yang lembut dan lebar. Olevey jatuh tertidur karena terlalu lelah mengimbangi Diederich yang terus saja menariknya untuk menyelami kenikmatan demi kenikmatan. Setela hampir semalaman terus membuat Olevey terjaga, saat menjelang pagi Diederich pun membiarkan Olevey yang sudah merengek ingin tidur. Tentu saja, Diederich melepaskan Olevey begitu dirinya sendiri mendapatkan pelapasan terbaik yang sesuai dengan harapannya. Pelepasan menakjubkan yang hanya bisa ia rasakan jika mereguk kenikmatan bersama dengan Olevey.Diederich menatap Olevey yang berusaha mencari kehangatan. Saat ini, Olevey tampak begitu bersahabat dan butuh perlindungan. Berbeda
Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia) 19. Siapa yang Menang
“Nyonya,” panggil Slevi merasa cemas karena
Olevey and the Devil King (Bahasa Indonesia) 18. Tengah Dalam Bahaya
Olevey berbalik dan mendorong Diederich menjauh darinya
