Download the book for free
BAB. 2
Author: Rustina ZahraWahyu terbangun dari tidurnya, suara petir yang menggelegar disertai dengan padamnya listrik, yang membuatnya terjaga. Wahyu meraba-raba, ia mengambil ponselnya, ia melihat jam yang tertera di sana, pukul 3 dini hari. Wahyu turun dari ranjang, dengan penerangan dari ponsel, ia mencari lampu emergency di atas meja. Wahyu mencoba menyalakannya, namun lampu itu tak mau menyala, ia sudah lupa mencharge lampu emergency miliknya. Lalu Wahyu ke luar dari kamar. Tepat saat pintu kamar di sebelah terbuka juga.
Keduanya sama-sama diam terpaku, hanya cahaya dari ponsel mereka berdua yang menjadi penerangan. Nur cepat berbalik, dan masuk lagi ke dalam kamar, ditutup pintu kamar dengan cepat. Suara pintu yang ditutup dengan cukup nyaring, membuat Wahyu tersadar dari terpana. Kemudian ia melanjutkan langkah, untuk menuju dapur. Baru saja sampai di dapur untuk mengambil lilin, listrik kembali menyala. Wahyu menarik napas lega. Ia berjalan kembali ke kamarnya. Saat melewati pintu kamar Nur, ia melirik sekilas ke arah pintu.
Tiba di kamarnya, Wahyu duduk di tepi ranjang.
'Harusnya dulu aku menolak pernikahan ini, pernikahan tanpa cinta apa nikmatnya. Bagaimana aku bisa berpaling dari Cantika, jika istri yang aku nikahi kalah segalanya dari Cantika. Tak ada satu hal yang menarik dari Nur, tak ada!'
Sementara di kamarnya, Nur juga tengah duduk di tepi ranjang. Selama berbulan-bulan ia berjuang menarik hati suaminya, berusaha melayani semua keperluannya, tapi Wahyu tetap dingin padanya. Sampai di mana akhirnya terjadi pertengkaran di antara mereka.
Flashback
Nur mengetuk pintu kamar Wahyu, Wahyu membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?" Tanya Wahyu dingin seperti biasanya."Mau mengambil pakaian kot ....""Aku sudah bilang, aku tidak mau kamu melakukan pekerjaan apapun untukku, jangan memasak lagi untukku, karena aku tidak akan pernah memakan masakanmu, jangan mencucikan pakaianku, karena aku tidak mau pakaianku tersentuh tanganmu!" seru Wahyu di depan Nur. Nur mendongakkan kepala untuk menatap wajah Wahyu."Tapi itu kewajibanku sebagai istri Kak Wahyu," sahut Nur dengan suara tercekat di tenggorokan.
"Istri di atas kertas Nur!" ujar Wahyu cepat."Aku berdosa jika tidak menjalankan kewajibanku sebagai istri, karena Kak Wahyu sudah mengucap ijab kabul menyebut namaku di depan Penghulu. Meski Kak Wahyu tidak bisa menerimaku di dalam hati, tapi tolong ijinkan aku melakukan kewajibanku, meski itu hanya melayani makan, dan mencucikan pakaian Kak Wahyu" pinta Nur dengan mata berkaca-kaca."Kamu tak perlu melakukan apapun untukku, aku tak ingin menerima apapun darimu. Kau tahu, andai bisa melihat wajah, dan mendengar suaramu aku tak ingin. Jadi jangan pernah dengan sengaja menampakan diri di hadapanku, apa lagi mencoba untuk meluluhkan hatiku. Kalau kamu ingin memasak, masak saja untukmu sendiri, kalau kamu ingin mencuci pakaian, cuci saja pakaianmu sendiri. Soal semua pengeluaran di rumah ini, aku akan tetap memenuhi tanggung jawabku dalam hal itu, kau mengerti!" Wahyu menutup pintu kamarnya tepat di depan hidung Nur.
Memang benar, selama berbulan-bulan mereka menikah, Wahyu tak pernah menyentuh apapun yang dihidangkan Nur. Ia juga tak pernah mau Nur mencuci pakaiannya. Nur kembali ke kamar, ia duduk diam, dan mencoba untuk berpikir, apa sebaiknya yang harus ia lakukan.
Akhirnya Nur sampai pada keputusan, untuk mengikuti kemauan Wahyu, tak lagi melayaninya, menghindari pertemuan dengannya.
Flashback end.
☘☘🏵☘☘
Seperti biasa setiap sore, Nur mengayuh sepeda menuju pulang ke rumah. Ia berharap hujan tidak turun sebelum ia tiba di rumah. Mendung sudah menggantung, langit tampak menghitam, tiba-tiba hujan seperti datang dengan berlari dari kejauhan. Cepat Nur membelokan arah sepedanya ke sebuah bangunan ruko. Ia berteduh di emperan ruko bersama beberapa orang lainnya. Ia tidak ingin sakit karena kehujanan, yang bisa membuatnya bolos masuk kerja.
Setelah menyandarkan sepeda, Nur berdiri sambil memeluk dirinya sendiri. Ditatap air hujan yang turun, bibirnya mengukir senyuman. Menatap hujan, ia jadi teringat sahabat yang sudah seperti saudaranya, Cantika. Teringat kembali awal perkenalannya dengan Cantika. Bermula dari sholat bersama di musholla dekat rumah Cantika. Nur yang tidak mempunyai mukena, hanya sholat dengan sarung yang diikat ditubuhnya menyerupai mukena. Cantika yang melihat hal itu, akhirnya memberikan mukena strawbery kesayanganya kepada Nur.
Nur menggigit bibir bawahnya, tanpa dapat di tahan air mata mengalir di pipinya, cepat diseka air matanya.
Mengingat Cantika selalu menimbulkan rasa haru di dalam hatinya. Kebaikan keluarga Cantika adalah hutang budi yang tidak akan pernah bisa ia balas untuk selamanya.Cantika cantik putri dari Abba Raka, siapa yang tidak mengenal dirinya. Belasan lelaki datang melamarnya, termasuk Wahyu salah satunya. Tapi semua pria yang melamarnya harus kecewa, karena Cantika lebih memilih Soleh sebagai suaminya.
Paman Soleh, begitulah mereka memanggilnya. Usianya 15 tahun lebih tua dari Cantika. Siapa yang menyangka jika Soleh yang merupakan adik angkat Raka, Abba Cantika. Akhirnya menjadi suami Cantika.
Dan Wahyu adalah salah satu pria yang harus menelan rasa kecewa. Nur tahu, sejak Wahyu remaja, dan Cantika masih anak-anak, Wahyu sudah menunjukan rasa tertariknya pada Cantika. Dan rasa itu bertahan hingga Wahyu beranjak dewasa, dan mulai mencoba meraih cinta Cantika.
"Nur!" Sapaan seseorang membuat lamunan Nur buyar. Nur menolehkan kepala. Ia mengerjapkan mata, berusaha meyakinkan penglihatan akan sosok di depannya.
"Nur, ikam kada pinandukah wan aku? (kamu tidak ingat sama aku)" Tanya Pria yang berdiri di sebelah Nur."Kak Raffi bukan ya?"
"Bujur banar (tepat sekali)" jawab pria itu sambil menyunggingkan senyum ceria di bibirnya. Raffi mengulurkan tangan untuk berjabatan. Tapi Nur menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada, tanpa menerima uluran tangan Raffi.Rsffi menatap telapak tangannya sendiri, lalu kembali mengukir senyum di bibirnya.
"Apa kabar, Nur?""Alhamdulillah baik, Kak.""Aku dengar kamu sudah menikah?" Tanya Raffi, ia memperhatikan jari manis tangan Nur. Dan dijari itu melingkar sebuah cincin.Nur menganggukan kepala, ia berusaha menyembunyikan luka hatinya.
"Iya, aku sudah menikah Kak.""Dapat jodoh orang mana, Nur?""Satu kampung Kak.""Ooh, tapi kenapa kamu ada di sini?""Aku tinggal di dekat sini dengan suamiku.""Ini tadi dari mana?""Dari tempat kerja, Kak.""Kerja di mana?""Di butik, pasang payet""Ooh, ini sepedamu?""Iya, Kak. Kakak sendiri kerja di mana?""Aku masih kuliah Nur, sambil membantu orang tuaku di toko bangunan milik mereka.""Ooh."Mereka sama-sama terdiam. Raffi adalah kakak kelas Nur saat SMA. Hujan tinggal gerimis saja. Nur memutuskan untuk segera pulang.
"Hujannya sudah berhenti Kak, aku mau pulang.""Oh ya, aku juga mau pulang. Sampai berjumpa lagi nanti ya, Nur."Nur hanya menanggapi ucapan Raffi dengan senyuman.Nur kembali mengayuh sepeda menuju pulang. Ada genangan air yang cukup dalam di tengah jalan yang rusak. Nur memperlambat laju sepedanya. Tiba-tiba sebuah mobil lewat di sampingnya dengan kecepatan cukup tinggi. Air genangan langsung menyembur ke wajah, dan tubuh Nur.
"Heyyy! Kalau ...." teriakan Nur yang siap menumpahkan kemarahannya terhenti, saat mengenali siapa pemilik mobil yang baru saja membuatnya mandi air kubangan di jalan. Itu mobil Wahyu, Nur sangat mengenali mobil itu. Nur menyeka air di wajahnya, ia menarik napas sedalam-dalamnya. Lalu kembali melanjutkan kayuhan sepeda untuk kembali ke rumah.☘☘🏵BERSAMBUNG🏵☘☘
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Nur Cahaya Cinta BAB. 19
Nur ke luar dari kamar setelah selesai mandi. Nur mengernyitkan keningnya saat tak melihat siapa-siapa di ruang tengah."Kak!" Nur memanggil Wahyu yang tidak terlihat, ia menuju ruang tamu. Dilihatnya Wahyu menutup pintu pagar dengan payung di tangannya. Nur menunggu Wahyu di teras rumah, Wahyu berjalan mendekatinya."Sudah pulang ya, Kak""Iya""Aku jadi malu, pasti ibu pikir aku ....""Aku sudah jelaskan ke ibu dan nenek, kalau kamu kelelahan karena harus kerja rodi semalam" Wahyu masuk ke dalam rumah diikuti oleh Nur."Kerja rodi?""Hmmm, yang tadi malam""Yang tadi malam?" Nur mendongakan wajahnya dengan kening berkerut menatap Wahyu, ia sungguh tidak mengerti apa yang dimaksud Wahyu dengan kerja rodi.
Nur Cahaya Cinta BAB. 18
Begitu melihat nama orang yang menelponnya, Wahyu memutuskan untuk mengabaikannya. Ia hanya mematikan suara ponselnya. Wahyu kembali naik ke atas ranjang. Sebelumnya ia melepas celananya, mata Nur melotot saat melihat Wahyu yang tanpa busana. Cepat Nur membuang pandangannya, jantungnya berdegup lebih cepat lagi, ia merasa tubuhnya panas dingin jadinya.Wahyu langsung menindih Nur yang masih memakai penutup segi tiganya."Siapa Kak?" Tanya Nur saat tatapan mereka bertemu. "Tata" jawab Wahyu singkat."Tata?" Nur mengernyitkan keningnya, karena merasa asing dengan nama itu."Orang yang ingin beli rumah""Kenapa tidak dijawab, Kak""Saat ini, ini lebih penting dari segalanya" Wahyu mengecup bibir Nur, membuat Nur tersipu ka
Nur Cahaya Cinta BAB. 17
Sesaat hanya kesunyian yang ada di antara mereka, meski Wahyu cukup berpengalaman dalam hal wanita, tapi baginya tetaplah ini menjadi hal yang berbeda. Ia belum sampai pada tahap 'bercinta' dengan teman wanitanya.Nur merapikan rambutnya yang tergerai, digelungnya asal, rambut panjangnya yang hitam bergelombang. Wahyu menolehkan kepalanya. Ditatap dari samping, lekukan bibir Nur terlihat sangat seksi. "Aku kembali ke kamarku ya Kak" pamit Nur pada Wahyu. Ia merasa jengah duduk berduaan tanpa ada yang dibicarakan."Nur" Wahyu menahan lengan Nur yang ingin berdiri. Wahyu menggeser duduknya lebih dekat. Nur menolehkan kepalanya, tangan Wahyu terangkat, dibukanya gelungan rambut Nur, sehingga rambut Nur tergerai kembali. Mata Nur mengerjap gelisah, ia merasa berdebar-debar karena paha Wahyu yang masih terbungkus celana pendek menempel di pahanya yang tertutup daster panjangnya.Jemari Wahyu meraih dagu Nur. Mata Wahyu menatap
Nur Cahaya Cinta BAB. 16
Makan malam mereka berjalan dalam kesunyian, sesekali Wahyu melirik Nur. Ia gemas sekali melihat pipi Nur saat Nur mengunyah makanannya. Pipi itu benar-benar seperti bakpao berwarna coklat saja. Jemari Nur yang pendek dan terlihat gemuk tidak luput dari rasa gemasnya. Rasanya Wahyu ingin menggigitnya.'Argghh, ini semua karena mimpi tadi, kenapa semua yang ada pada Nur jadi terasa menggemaskan. Padahal selama ini aku sukses mengabaikannya, tapi...argghhhh'Tanpa sadar Wahyu menggerutukan giginya, karena kesal pada dirinya sendiri. Niatnya mendekati Nur agar rencananya untuk membuat Nur hamil sebelum 6 bulan terlaksana, tanpa harus ada embel-embel cinta. Tapi sekarang justru hatinya yang mulai liar, tak bisa untuk diperintah otaknya.Nur menjilat bibirnya, lalu meneguk air minumnya. Wahyu menundukan kepalanya, menutup matanya, mengutuki dirinya.'Ya Allah, apa ini hukumanmu atas sikapku
Nur Cahaya Cinta BAB. 15
Nur pulang ikut dengan Lisna, teman kerjanya yang naik motor. Tapi hujam yang mendadak turun membuat mereka harus berteduh di emperan sebuah ruko. Dan seperti beberapa hari yang lalu, Nur kembali bertemu dengan Raffi di situ. Raffi tidak sendirian, ia bersama Arif temannya. Merekapun terlibat pembicaraan yang mengasyikan, sambil menunggu hujan mulai reda. Tapi, hari mulai gelap, hujan tak kunjung reda juga, justru seperti bertambah derasnya. Nur jadi khwatir kalau Wahyu lebih dulu tiba di rumah sebelum dirinya.Tiba-tiba sebuah mobil berbelok ke halaman ruko tempat Nur berteduh. Nur tahu betul siapa pemilik mobil itu. Nur melangkah untuk mendekati mobil. Dan benar dugaannya, kalau Wahyulah yang berada di dalam mobil itu."Kak Wahyu!""Masuk""Sebentar Kak, aku pamit dulu sama temanku" sahut Nur, Nur berpamitan pada Lisna, Raffi, dan Arif. Setelah itu baru ia masuk ke dalam mobil Wahyu. Nur melirik Wahyu ya
Nur Cahaya Cinta BAB. 14
Nur menatap mobil Wahyu sampai hilang dari pandangannya.Nur masuk lewat pintu yang ada di samping butik."Assalamuallaikum" Nur mengucap salam begitu membuka pintu."Walaikum salam, diantar siapa Nur?" Tanya Bunda Aira."Kak Wahyu" jawab Nur dengan rona merah di wajahnya."Tumben diantar suami""Karena hujan Bunda, jadi diantar""Ehmm, ayo Nur masuk ke ruanganku. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu" Bunda Aira menggamit lengan Nur."Ada apa ya Bunda?""Jangan tegang dan cemas begitu, ayo duduk" Bunda Aira mempersilahkan Nur untuk duduk di depannya."Begini Nur, butik kita akan meluncurkan produk terbaru, dan aku butuh bantuanmu untuk itu" "Butuh bantunku bagaimana ya Bunda? Aku kan kerja di sini, sudah pasti aku akan membantu Bunda semampu aku bisa" "Ini bukan tentang pekerjaanmu memasang payet, kancing, dan sebagainya, Nur""Lalu tentang apa, Bunda?""Aku ingin kau jadi model produk terbaru butik kit
Nur Cahaya Cinta BAB. 13
Suara ketukan di pintu kamar mengagetkannya. Nur membuka pintu kamar dan menemui Wahyu yang berdiri di depannya."Oleskan salep ini di kulitmu yang terkena air panas tadi" Wahyu mengangsurkan salep di tangannya pada Nur."Terimakasih Kak" Nur menerima salep yang disodorkan Wahyu.
Nur Cahaya Cinta BAB. 12
Listrik belum menyala juga. Nur meletakan di atas meja 3 batang lilin yang masing-masing ia tempatkan dibekas kaleng kue berwarna biru tua yang berukuran kecil. Kue kering yang di atasnya bertabur gula, kue kering paling digemari oleh Wahyu. Nur t
Nur Cahaya Cinta BAB. 11
"Baiklah, aku pergi. Tapi jika Kak Wahyu membutuhkan bantuanku kapanpun juga, aku akan selalu siap membantu" tanpa rasa malu sedikitpun, Henny bangkit dari duduknya. Wahyu tetap diam di kursinya."Aku pergi""Hmmm" Wahyu menganggukan kepalanya. Ditatapnya punggung Henny yang k
Nur Cahaya Cinta BAB. 10
Nur dan Wahyu sudah berada di dalam mobil Wahyu. Sikap keduanya lebih canggung dari biasanya. Tak ada satupun yang bersuara, bahkan diantara mereka berdua, seperti tak ada yang terdengar bernapas saja. Sunyi senyap di antara mereka berdua. Wahyu memarkir mobilnya di garasi rumah orang t
