loading
Home/ All /Me and My Broken Pieces/Furious Curiosity

Furious Curiosity

Author: Kanietha
"publish date: " 2020-09-30 11:21:31

When you’re curious you find lots of interesting things to do.

-Walt Disney

--

-Bos Ilham

(Cepetan ke KANTOR!)

Baru saja Hening hendak membalas chat dari Manajernya itu, muncul lagi satu chat di bawahnya, di susul yang lainnya.

(SEKARANG)

(GAK PAKE LAMA!)

Hening sampai harus beberapa kali mengedipkan bulu matanya, bertanya-tanya dan mengingat-ingat apa dirinya ada berbuat kesalahan belakangan ini. Dan ia dengan yakin tidak ada berbuat sesuatu yang melenceng dari job desknya.

Padahal Hening sudah ada janji dengan seseorang yang ingin memasang iklan padanya, dengan terpaksa tugas itu ia limpahkan kepada rekannya yang lain, dan segera melajukan motornya menuju kantor.

Sesampainya di parkiran kantor, Hening bergegas berlari kecil memasuki kantor. Saat memasuki loby kantor, Hening tercenung sejenak melihat wajah tegang dua wanita yang bekerja di front office serta Pak Ilham yang mondar mandir mirip setrikaan yang baru saja di panaskan.

“Pak Ilham.” Panggil Hening setengah berbisik. Entah kenapa juga ia harus berbisik seperti itu, pikirnya.

“AH!” Pak Ilham menepuk tangannya, lalu merangkul Hening dengan cepat dan erat, hingga Hening tidak dapat pergi ke mana-mana. Pria itu sedikit menunduk. “Jujur sama gue, lo ada buat masalah sama klient atau apa gitu?” Yaah pria satu ini memang selalu sesantai itu jika berbicara pada bawahannya, tidak pernah memakai bahasa formal.

“Masalah?!” Tanya Hening bingung. “Saya kalau sama klient, udah pasti ramah Pak, gak ada mereka saya gak dapat duit.” Kata Hening santai.

Pak Ilham melepas rangkulannya, bersedekap memandang Hening menyelidik. “Lo ada urusan apa sama Pak Dewa?”

“Pak Dewa?!” Hening mengerjab.”Emang orang itu, ada ngomong apa sama Bapak?!”

“Jadi lo kenal?” Hening mengangguk ragu.

“Ck, Sekarang lo ke atas, ke ruangan gue, baek-baek di sana, Pak Dewa sudah nunggu lo dari tadi.”

Hening menatap Pak Ilham tidak percaya dengan manik yang membulat sempurna. “Orang itu di atas Pak?!” Tanyanya kembali memastikan.

Pak Ilham mengangguk.

Pak Ilham memutar tubuh Hening, menepuk punggungnya memberi semangat. “Hati-hati kalau ngomong, nasib divisi iklan ada di tangan lo.” Lalu mendorong tubuh Hening pelan.

Namun Hening berbalik. “Dia itu, siapa sih Pak sebenarnya?”

“Ya ampun Ning, lo gak tau dia siapa? lo kerja di sini gak pernah baca tuh koran yang tiap hari seliweran di depan mata lo?” Hening mengendikkan bahunya.

Pak Ilham menepuk jidatnya keras. “Dia itu salah satu anggota legislati muda saat ini, hartanya miliaran, pengaruhnya juga besar, meski gak sebesar Bapak dia.”

“Pak Abraham maksudnya?”

“Nah, lo tau sama Pak Abraham tapi sama anaknya gak tau.”

“Soalnya Pak Abraham kan kadang main ke rumah.”

“APA?!” Pak Ilham menatap Hening tidak percaya.

Hening keceplosan, lalu terkekeh memasang tampang bodoh. “Becanda kali Pak. Hehe..” Saya ke atas dulu ya.”

Hening berbalik, melepas ikatan rambutnya, menyugarnya dengan tangan lalu menyatukan surainya dan kembali mengikatnya dengan asal. Ia menarik nafas mempersiapkan diri, lalu dengan mantap menaiki tangga dan menuju ruangan Pak Ilham.

Dewa sudah memasang senyum yang paling manis dari balik dinding kaca transparan saat melihat Hening berjalan menuju arahnya lalu masuk ke ruangan Manajer iklan.

Hening berdehem, bingung, antara ingin berbicara menggunakan bahasa formal atau tidak dengan pria itu. “Mau ngapain ke sini?” Tanyanya.

“Mau ketemu sama calon istri.” Dewa berujar santai menepuk tempat kosong pada sofa yang ia duduki untuk Hening.

Hening berdecih, bersedekap menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu. “Emang siapa yang mau jadi istri situ?” Ujar Hening dengan angkuhnya.

Dewa tertawa lalu melihat arloji pada pergelangan tangannya. “Ini total ketiga kalinya gue nunggui cewek kayak lo, sialan!” Umpatnya. “Heran gue, kenapa bisa jadi penasaran sama cewek preman kayak lo!” Dewa berdiri menghampiri Hening, kedua tangannya sudah ia masukkan ke dalam saku celana, menghabiskan jarak dengan gadis itu. “Hari ini lo libur, nanti temani gue makan siang di—”

Hening berdiri masih bersedekap dengan tatapan menantang Dewa menyela perkataannya. “Enak aja nyuruh-nyuruh orang libur, emang situ siapa? gue di sini kerja bukan lo yang gaji. Kalau gue dipecat, situ mau tanggung jawab!” Cerocos Hening.

Dewa mengangkat satu tangannya hendak meraih wajah Hening, namun sekali lagi gadis itu dengan sigap mencengkram tangannya. Dewa terdiam namun satu sudut bibirnya terangkat, menatap Hening tajam.  Gadis itu tak kalah tajam menatap Dewa tanpa ada rasa takut sama sekali.

Sekali lagi Dewa melirik arlojinya. “Setengah jam lagi, ada yang bakal jemput lo, jangan ke mana-mana. Kita ketemu lagi nanti siang.” Hening hendak protes. “Lo libur hari ini, gue sudah ngomong sama Ilham!” Lanjutnya menarik tangannya dari cengkraman Hening dan pergi meninggalkan gadis itu begitu saja.

Tepat setengah jam kemudian, Hening di jemput oleh orang suruhan Dewa. Orang itu adalah Joni, pengawal bertubuh tambun yang juga mengantarkannya kepada Dewa kemarin. Hening sebenarnya sudah ingin pergi dari kantor, tidak mempedulikan ocehan Dewa. Namun, Pak Ilham bergegas menemuinya, memohon agar Hening dapat menuruti permintaan Dewa, di tambah manajer pemasaran -Pak Eko- juga kompak merayu gadis itu. Semua beralasan demi kelancaran dan meningkatnya omset perusahaan.

“Kita mau ke mana sih?” Tanya Hening kesal kepada Joni yang sedang mengemudi.

“Di tunggu aja Non, bentar lagi nyampe.” Jawab Joni.

Hening mengernyit tidak paham saat mobil berhenti di sebuah ruko mewah dengan tulisan Queen Butik, Salon&Spa terpajang di bagian atasnya.

“Silakan masuk Non, udah ditunggu di dalam.” Ucap Joni.

“Si Dewa itu ada di dalam?”

Joni reflek berbalik menatap heran kepada Hening yang duduk di belakang. “Non, itu salon khusus cewek, gak mungkinlah Pak Dewa ada di dalam.”

“Terus, ngapain gue ke dalam?”

“Astaga Non!” Joni mengusap wajahnya kasar. “Namanya aja salon dan spa, ya Non Hening di dalam jadinya nyalon sama SEPA!” Ujar Joni menahan kesal

“Gue yang nyalon? Gileee, berapa duit kalau gue nyalon di situ, ogah gue, ni rambut aja gue potong sendiri, biar ngirit, ya mal—”

“Non HENING …” Ingin rasanya Joni mengumpat kalau tidak ingat gadis itu adalah calon istri dari bosnya. Joni pun menarik nafas menghembuskannya perlahan, lalu berbicara selembut mungkin. Dengan senyum yang dibuat semanis mungkin. “Non, semua tagihan otomatis dibayar sama Pak Dewa, Non Hening tinggal masuk duduk, rebahan diam nurut ajalah sama pegawainya di dalam sono.” Joni menjelaskan sambil mengurut dada.

“Eh? Serius? Baek baget bos lo, pasti ada maunya kan?” Ucap Hening mendengus, lalu keluar dari mobil meninggalkan Joni seorang diri.

Sudah dua jam lamanya Hening berada di dalam.

Joni yang sedari tadi berada di luar sudah beberapa kali menguap dan mengumpat menunggu calon majikannya itu. Baru saja ia memejamkan mata ketika mendengar suara ketukan pada kaca jendela mobil. Ia pun segera menurunkan kacanya.

“Tidur aja kerjaan, gue aduin dipecat lo! buka pintunya!” Perintah Hening.

Joni mengerjab dan mengusap maniknya tidak percaya yang di lihatnya. Seorang gadis cantik dengan surai hitam ikal yang menggantung tepat di bawah bahu.

“Non Hening?!”

“Coba lihat kaki gue dulu, nyentuh tanah apa gak?! Kalau gak berarti gue kunti!” Jawab Hening asal. “Lagian mana ada kunti siang-siang gini!” Decak gadis itu.

Joni segera membuka central door lock nya.

“Habis ini ke mana lagi?” Tanya Hening saat menghempaskan tubuhnya di kursi penumpang bagian belakang.

“Makan siang, Non.” Jawab Joni

“Sama Dewa?”

“Iyalah Non, sama siapa lagi.”

“Ribet ya bos lo itu, mau makan siang aja gue harus nyalon dulu, sudah di siapin baju juga.” Hening menunduk melihat pakaian yang dikenakannya. Dress putih beraksen floral berwarna pink sepanjang garis pinggang dengan panjang tepat di atas lutut. Serta leher baju dengan model sabrina yang memperlihatkan bahu telanjangnya.

“Tapi, sumpah! Non Hening tambah cantik! Gue aja sampe pangling!” Kekeh Joni yang di sambut tatapan tajam oleh Hening lewat kaca spion.

Sesampainya di restoran Hening bergegas keluar menuju ruangan VIP yang sudah di instruksikan Joni sebelumnya. Karena langkahnya yang cepat dan kurang berkonsentrasi, serta jemarinya sibuk membalas chat di ponselnya, Hening sampai menubruk punggung seorang pria sehingga ia jatuh terduduk saat itu juga karena oleng tidak terbiasa menggunakan high heel.

Pria itu segera berbalik dan berjongkok, mengambil ponsel Hening yang juga terlepas dari tangannya. “Ck! Lain kali kalau jalan lihat-lihat, jangan sibuk aja sama hapenya!” tangannya terjulur menyodorkan ponsel Hening.

Hening yang masih sibuk menutup rok nya yang tersingkap segera mendongak karena mengenal suara pria yang mengomelinya. Tatapan mereka terkunci, gadis itu lalu tersenyum dengan manisnya. “Om Genta, jangan ngomel mulu, entar tambah tua!” Seloroh Hening lalu mengambil ponselnya dari tangan pria itu, dan bangkit seraya masih merapikan roknya. “Eh, tapi emang udah tua juga sih ya, sebenarnya.” Lanjut Hening lalu tertawa dengan menutup mulutnya.

Genta masih berjongkok dan terkesima dengan gadis di hadapannya kini. “Hening?” Tanyanya lalu berdiri berhadapan.

“Iya, gue Hening! Bukan mbak kunti!, kenapa sih dari tadi pada mastiin gue Hening apa bukan?! Kesel gue!” Seru Hening bersungut. “Oia, gue ke dalam dulu Om!”

Baru saja Hening hendak berbalik, Genta segera menahan tangan gadis itu. “Mau ke mana lo?”

“Mau ketemu orang, yang katanya calon suami gue!” Hening mendengus sangat kesal.

Deg!

Ada sesuatu yang mencubit relung hati Genta.

Lah? Ada apa dengan gue? Kata Genta dalam hati.

“Dah ya Om, gue pergi dulu.” Hening melepas pelan pegangan tangan Genta dan berlari meninggalkannya.

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Me and My Broken Pieces   Marry Me

I'll say will you marry meI swear that I will mean itI'll say will you marry me... By Jason Derulo--Tubuh Genta sudah berada di bawah guyuran shower di kamar mandi. Ia masih mengingat dengan jelas malam panjang yang dilewatinya bersama Hening, beberapa jam yang lalu. Luar biasa! hanya itu yang bisa ia katakan untuk mengungkapkan semua perasaannya saat ini.Menghabiskan malam bersama wanita, memanglah bukan yang pertama kali bagi Genta. Namun bercinta dengan seseorang yang ia cintai dan menjadi pria pertama bagi wanita tersebut, membuatnya tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun. Hanya ada perasaan membuncah di dalam hatinya, yang selalu membuat bibirnya melengkung dengan sempurna.Namun ada satu yang mengganjal di hatinya. Genta bukan orang bodoh yang tidak tau apa sebenarnya, yang terjadi pada diri Hening semalam. Tapi, siapa yang punya niat jahat kepada gadis itu? Siapa yang di temui ol

Me and My Broken Pieces   Forever Night Stand

A real man gives up one nigth stands, for a woman he can't one night without-Unknown--Kalau biasanya, di hari ulang tahunnya, Genta selalu merayakan dengan makan malam bersama keluarganya -mama dan papanya-. Namun kali ini, tidak. Ia hanya terpekur sendiri menatap pemandangan kota dari jendela kamar hotel yang telah di sewanya selama 2 hari ini.Mamanya sangat marah, atas sikap tidak sopannya terhadap keluarga Ara dan papanya angkat tangan, tidak ingin ikut campur. Selama hidup Genta, ia tidak pernah melihat mamanya itu marah kepadanya, apalagi hanya karena seorang wanita.Dan Hening, gadis itu masih tidak mau mengangkat telepon dari Genta. Chat darinya pun tidak di buka sama sekali. Pergi ke mana sebenarnya gadis itu, ia juga sudah dua hari tidak muncul di kantor. Kabar yang Genta terima dari Mei hanyalah kalau Hening di pindah tugas oleh Agam ke luar kota, tanpa tau pastinya. Aneh! Ya sungguh aneh.Lain lagi saat Genta

Me and My Broken Pieces   Finding The Truth

Pride comes before a fall-Unknown--Genta meletakkan dagunya pada setir mobil, mengetukkan jemarinya berulang kali menatap tanpa menoleh sedikitpun pada pagar kos Hening. Dari semalam gadis itu tidak mau mengangkat telepon maupun membaca chat dari Genta. Dan hari ini, pagi-pagi sekali Genta sudah berada untuk mencegatnya sebelum gadis itu berangkat menuju kantornya.Setelah pertemuan dadakannya dengan Zio semalam, sepertinya Genta sudah bisa menarik sebuah kesimpulan, meskipun ia belum bisa memastikannya. Tapi setidaknya ia sudah ada bayangan, apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini. Tinggal bertanya dan menuntut kejujuran dari Hening, maka semuanya akan clear.Semalam langkah Genta terhenti, tidak menyusul Hening, karena selain menyebut mamanya, Zio juga menyebutkan nama Ara untuk dibicarakan.“Ngomong cepetan, nyokap gue sama Ara kenapa?” Pertanyaan Genta terkesan terburu serta

Me and My Broken Pieces   Torn

Illusion never changed, Into something realI'm wide awake and I can seeThe perfect sky is torn, You're a little lateI'm already torn By Natalie Imbruglia --Hening baru saja mendorong pintu kaca untuk melangkahkan kakinya keluar dari kantor saat Ara berdiri tepat di depannya dengan senyum manisnya.“Hai.” Sapa Ara.Mulus banget sih ni cewek. Gumam Hening dalam hati“Oh, hai juga.” Balas Hening tanpa canggung meskipun sedikit terkejut. “Mbak yang waktu itu di tempatnya Om Genta kan?”Om? Ara membatin sambil mengangguk.“Mau ke dalam ya Mbak?” Hening sudah membukakan pintu untuk Ara dengan sopan. “Silakan.” Lanjutnya.“Aku bukan mau ke dalam, tapi, aku mau bicara sama kamu.” Ucap Ara tanpa melepas senyuman dari wajahnya. “Bisa kan? Gak lama kok, cuma sebentar.” La

Me and My Broken Pieces   No Excuses

It is better to offer no excuse than a bad one-George Washington --Genta sedang duduk dengan kaki menggantung, pada sebuah gazebo yang berada di lantai paling atas gedung showroomnya. Kedua tangannya bertumpu ke belakang untuk menahan tubuhnya, sedangkan pandangannya saat ini menerawang melihat kerlipan bintang yang bertabur sangat indah di atas sana. Terdapat penerangan berupa lampu taman yang terpasang di setiap sudutnya.“Hening …”“Hmmm …”Gadis itu sedari tadi berbaring santai dengan kepala berada di pangkuan Genta, dan terlihat sibuk berkutat dengan ponselnya,“Hape lo di taroh dulu bisa gak?”“Gue lagi ngurus kerjaan, Om, materi iklan gue ilang katanya, padahal loh tadi dummy nya udah di cetak.” Jarinya masih saja sibuk mengetik kalimat panjang lebar pada benda pipih yang ia pegang.“Berhenti kerja gih.” Se

Me and My Broken Pieces   I'm Yours

So I won't hesitate no more, no moreIt cannot wait, I'm sureThere's no need to complicate, our time is short This is our fate, I'm yours By Jason Mraz---Senyum Genta mengembang sempurna saat menuruni tangga, bersiap untuk sarapan pagi seperti biasanya. Sesekali ia bersiul dan tak lupa bersenandung menyanyikan lagu Jason Mraz yang berjudul I’m Yours sehingga membuat mama serta papanya memandang heran.“Pagi Mam.” Satu kecupan tak lupa mendarat pada pipi mamanya. “Pagi Pa.” menarik meja di samping mamanya dan duduk di sana.Papanya hanya mengangguk.“Pagi Gen, ada yang beda kayaknya hari ini.” Mama Ruby menendang pelan kaki suaminya di bawah meja.“Biasa aja, Mama itu yang tambah cantik, pasti karena Papa udah di rumah aja, gak pergi-pergi lagi kan.”Mama Ruby mencebik.

Me and My Broken Pieces   Heart Confession

Sometime, you just need to be honest with your heart and have faith with it-Kanietha “Jadi, lo … duda?” Tanya Hening saat sedang memasang sabuk pengamannya.“Masalah?” Dewa bertanya balik, lalu menstarter mobilnya.

Me and My Broken Pieces   First Kiss

One kiss could bind two souls in a second.-Unknown--Sudah hampir 10 menit, Dewa hanya diam memandang Hening yang kini duduk bersebrangan dengannya, di VIP Room sebuah restoran, yang memang di pesan khusus oleh Dewa untuk makan siang bersama Hening.Insting

Me and My Broken Pieces   Kiss Me

Oh, kiss me beneath the milky twilight. Lead me out on the moonlit floor...Lift your open hand. Strike up the band, and make the fireflies danceSilvermoon's sparklingSo kiss me ...... - By Sixpence None the Richer ---“Ish,

Me and My Broken Pieces   Looking For You

B'coz ... All I want is ... you! --Genta sudah menunggu di lobi kantor Metro seperti kemarin, mondar mandir di sana menunggu Hening. Sejak semalam Hening tidak bisa dihubungi, bukan karena gadis itu tidak mengangkat ponselnya, namun ponselnya tidak aktif. Dirinya bert

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy