loading
Home/ All /Me and My Broken Pieces/Encounter

Encounter

Author: Kanietha
"publish date: " 2020-09-30 11:20:38

It all started with curiosity

-Kanietha

“Mampus di tangan gue, lo habis ini!” Ancam Hening kepada Beni.

“Janganlah Neng, gue cuma di suruh buat nganterin lo doang, entar urusan kelar, gue balikin lagi lo ke kantor tadi.” Ucap Beni memelas.

Hening menoleh kepada pria yang saat ini duduk di sampingnya. Ia bersedekap menyilangkan kaki jenjangnya. “Terus kalau Bapak sendiri, disuruh siapa?” Tanyanya melempar tatapan tajam, sama sekali tidak takut meskipun tubuh pria itu layaknya binaraga dengan lekukan otot yang tersebar di sekujur tubuhnya. Setau Hening, Bapaknya tidak pernah punya anak buah yang bertubuh seperti pria yang di tatapnya saat ini.

“Bapak?! Gue!?” Pria itu mengarahkan telunjuknya pada wajahnya sendiri.

Beni sontak tertawa mengejek mendengarnya. “Udah gue bilang Jon, muka lo itu boros banget! Wajar aja Neng Hening manggil lo Bapak!” Ujarnya kembali melanjutkan tawanya.

Pria yang bernama Joni itu berdehem. “Jangan panggil Bapak, Non, gue masih seumuran sama Beni.”

Hening menatap tidak percaya, karena perawakan Joni dengan kumis tipis dan rambut belah tengah model jadul itu membuatnya mirip sepert bapak beranak lebih dari dua. “Ya udah terserahlah, jadi di suruh siapa?”

“Nanti sampai di sana juga Non tau sendiri.” Ucap Joni.

“Tapi gue mau taunya sekarang!” Sambar Hening, lalu beralih ke Beni. “Beni! Mau ke mana kita?” Tanyanya.

“Ke Green Resto, Neng.”

“Ada Bapak gue di sana?”

“Gak ngerti Neng, tadi gue cuma di titipin pesan sama Bang Riko buat nemenin Joni, jemput elo.”

Hening kembali menoleh ke Joni. “Masih belum mau jawab?”

“Bentar lagi sampe Non, tunggu aja.” Ucap Joni yang masih kesal karena di panggil Bapak oleh Hening.

Sesampainya di Green Resto, Hening segera dibawa ke lantai dua. Suasana di atas sangat sepi, Hening hanya melihat tiga orang, dua diantaranya bertubuh layaknya Beni. Dan ada satu pria lagi, cukup tampan menurutnya, sekilas ia mengingatkan Hening pada sosok aktor Mandarin yang sering berperan sebagai kakak Boboho yang diperankan oleh Jimmy Lin, film yang sering ditonton oleh Hening dan Emaknya pada kala itu. Seingat Hening, ia menonton film itu pada saat gadis itu masih SD.

Pasti Om Jimmy Lin sekarang udah berumur, masih cakep aja gak ya tu orang, pikir Hening.

“Silakan duduk.” Ucap pria yang mirip Jimmy Lin itu, menujuk kursi yang bersebrangan dengannya memakai dagunya.

Beni segera maju dan menarik kursi untuk Hening. “Silakan Neng.” Ucapnya

Hening duduk bersandar lalu bersedekap memandang menyelidik penuh tanya. Selain mirip aktor Mandarin itu, pria di depannya kini mirip seorang yang tidak asing dengannya. Tapi siapa? Otaknya berpikir keras.

Pria itu mengkode agar semua orang di sekitarnya meninggalkan mereka berdua.

“Siapa ya?” Tanya Hening tanpa basa basi

“Jadi, kamu yang namanya Hening?” Pria itu berdecak pelan, lalu menghela nafas. “Lumayan, cuma kurang polesan aja, manis kok sebenarnya. Gak sia-sia juga sih sampe dua kali, saya nungguin kamu.”

Hening mengernyit tidak mengerti. “Saya gak suka basa-basi.” Ucapnya sesopan mungkin karena melihat gaya pria itu, yang sangat parlente. Pasti bukan dari kalangan sembarangan pikirnya.

“Dewa August Lee, kamu bisa panggil saya Dewa.” Ucapnya santai, lalu menjentikkan jarinya memanggil seorang pelayan.

Lee? Marga Lee? Hening membatin dengan cepat merunut kejadian yang kemarin baru saja di alaminya. Otaknya bekerja kilat mengingat satu nama Abraham Lee. Apa pria di depannya kini adalah orang yang akan di nikahkan dengannya.

Hening berdehem, merubah posisi duduknya karena tidak nyaman. “Terus keperluannya apa? sampai harus membawa saya ke sini?” Tanya Hening ingin mencari kepastian.

Pelayan datang menyela pembicaraan mereka dan mencatat pesanan ke duanya.

“Kamu sudah tau kan, kalau kamu akan di nikahkan sama Bapak kamu?”

Hening mengangguk dengan tenang. “Apa kamu orang yang mau dinikahkan dengan saya?”

Dewa hanya memberinya senyuman miring, tatapannya hampir seperti merendahkan dan meremehkan gadis itu.

Hening berdiri. Sedikit mencondongkan dirinya memegang sisi meja dengan kedua tangannya. “Maaf, tapi, sepertinya saya tidak tertarik untuk melakukan pernikahan ini. Silakan kamu cari perempuan lain yang bisa ditukar tambah dengan semua kesepakatan kotor yang ada di dalamnya. Tapi yang jelas, perempuan itu bukan saya. Permisi!” Ucap Hening dingin serta tajam.

Dewa segera berdiri dan memerintahkan pengawalnya untuk menghalangi Hening untuk pergi dari sana.

Pelayan yang hendak mengantarkan minuman pun akhirnya mundur teratur tidak ingin ikut campur karena takut melihat para pengawal yang bertubuh tegap itu.

Hening pun berbalik, memutar bola matanya jengah, menatap dingin kepada Dewa yang tengah berjalan menghampirinya. “Saya belum selesai bicara sama kamu, jadi jangan coba-coba pergi sebelum saya suruh pergi.” Ucap Dewa dingin

Tangan Dewa sudah terangkat hampir meraih dagu Hening, namun dengan cepat gadis itu mencengkramnya sehingga membuat Dewa terkekeh. “Untuk ukuran gadis seperti kamu, cengkraman kamu ini kuat banget, sepertinya kamu suka main kasar.” Sinisnya.

“Dewa!!” Teriak Esa yang setengah berlari menghampiri Hening. Namun baru setengah perjalanan tubuh Esa di halangi oleh dua orang bodyguard Dewa. “Jauhin tangan lo dari Hening.”

“Kak Esa?!” Hening mengerjab memastikan pria yang berteriak tadi adalah benar-benar Kakaknya.

“Hai, Sa! Atau … hai, Kakak Ipar?!”  Sapa Dewa mengejek.

Hening segera menghempas tangan Dewa dan menendang keras tulang keringnya sehingga membuat pria itu tertunduk dan mengaduh. Ia bergegas lari menghampiri Esa seraya memanggil Beni agar berada di pihaknya.

“Tau dari mana gue di sini?” Tanya Hening kepada Esa, namun tak dijawab.

“Jauhin Hening, Wa.” Ucap Esa lantang yang sekarang sudah berkacak pinggang. “Lo bisa cari cewek yang selevel sama lo dan keluarga lo!”

Kali ini Hening yang berkacang pinggang menatap tidak percaya dengan apa yang di katakan Esa. “Tujuan lo ke sini apa sih Kak, sebenarnya. Jangan plin plan jadi orang!”

“Dasar gak tau terima kasih lo!" Sentak Esa

“Bukannya lo sendiri yang bilang gak mau urus—”

“Berisik!” Potong Esa menarik tangan Hening untuk segera pergi dari sana. Tapi tidak semudah itu, tangan Dewa dengan sigap menarik tangan Hening yang satu lagi.

“Hei Sa! Gue masih ada urusan sama calon istri gue!” Mata Dewa mengkode bodyguardnya agar menahan Esa. Seketika tubuh Esa kini sudah di kelilingi oleh tiga orang bertubuh tambun nan tegap.

“Ckckck, begini kalau berhadapan sama pengecut, mainnya keroyokan!” Cibir Hening menatap Dewa tajam tepat di maniknya yang kecoklatan tanpa rasa takut sama sekali.

“Jadi ini, yang katanya bisa kamu selesain sendiri Sa?!” Ucap Zaid yang kini sudah berjalan menghampiri Esa dengan melinting lengan bajunya, hingga memperlihatkan sebuah tato kecil di pergelangan tangannya. Hening menajamkan matanya, sepertinya ia tidak asing dengan tato tersebut.

Namun, tidak hanya Zaid tentunya, tiga berandal yang lain juga berada bersamanya. Genta, Zio, dan Hans, mereka tidak mungkin membiarkan Zaid pergi sendirian saja ke atas, ketika melihat raut wajah Zaid yang sangat khawatir dengan karyawannya itu.

Mata Hening membulat sempurna, tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. Bolehkah kali ini ia sedikit berbangga diri dan menandai hari ini sebagai sebuah pencapaian tertinggi untuknya. Total ada enam pria tampan yang kini siap memperebutkannya, apa? memperebutkan?! Baiklah itu terlalu lebay. Yah meskipun salah satunya ia masukkan ke dalam peran antagonis, paling tidak, hari ini akan jadi hari bersejarah dan tidak akan dilupakan bagi Hening, untuk seumur hidupnya.

Hening menyipitkan matanya sejenak saat melihat Genta berada di antar pria tampan tersebut. Ia tidak kaget melihat Zaid karena Esa punya hubungan dengan pria itu. Tapi Genta? Apa Genta juga mengenal Esa hingga mau ikut campur dengan urusan mereka. Sekilas tadi Hening mengira kalau ketiga pria tampan yang dibawa Zaid adalah pengawalnya.

“Sekarang siapa yang pengecut, total kalian ada tujuh orang -termasuk Beni-“ Ucap Dewa tertawa kering memberi sindiran kepada Hening.

“Takut hah?!” Hening kembali mencibir. Lalu tersenyum miring. ”Saya gak perlu mereka semua, kalau cuma berhadapan sama satu orang laki-laki seperti kamu.”

“HENING!” Bentak Esa

Para berandal yang mendengarnya terkesiap takjub dengan nyali gadis muda itu. Tak terkecuali Genta yang hanya bisa tersenyum miring, menggelengkan kepalanya.

Dewa kembali tertawa, namun kali ini tawanya ringan. “Gue suka sama cewek kayak lo!” Ucap Dewa memandang Hening dan tidak lagi memakai bahasa formal kepadanya. “Nyali lo, boleh juga. Penasaran gue.” Lanjutnya.

“Tapi, gue gak suka sama lo!” Hening berucap dengan menyentak kedua tangannya agar terlepas dari pegangan Esa dan Dewa. Lalu ia mundur selangkah memasang kuda-kuda dengan mengepalkan kedua tangannya menantang Dewa. “Maju Lo!”

Kalau hanya menghadapi seorang pria seperti Dewa, Hening tidaklah gentar. Dirinya memang tidak pernah mengikuti pelatihan bela diri secara formal di sebuah dojo, perguruan silat, atau tempat sejenisnya. Namun berada di lingkungan preman, dengan Ayah yang notabene merupakan seorang ketua preman, membuat Hening tidak asing dengan semua hal mengenai martial art. Setiap minggunya Hening selalu menjadi salah satu sparing partner bagi Ayahnya, dan hal itu dilakukannya sedari Hening kecil..

“Astagaaa … HENING!!” Esa yang sudah tidak tahan dengan tingkah sembrono adiknya itu segera mengangkat tubuh Hening ke bahu kanannya.

“Kak ESA!!! TURUNIN GUE!!” Teriak Hening, tanggannya kini sibuk memukul punggung Esa.

Esa menunjuk Dewa. “Cukup sampai di sini Wa, jangan libatin adek gue, atau gue gak akan segan sama lo!” Ancamnya.

Dewa hanya terkekeh tidak takut dengan semua yang dikatakan Esa. “Kita lihat aja nanti Sa, tadinya sih gue gak terlalu antusias, tapi setelah lihat Hening barusan, gue jadi semakin tertarik sama adek lo!" Dewa melangkah, pergi meninggalkan Esa dan yang lainnya di ikuti ketiga pengawalnya seraya tertawa lepas kembali mengingat tingkah Hening.

Esa berbalik, menurunkan Hening dari gendongannya, Sedikit meringis nyeri pada punggungnya yang terkena pukulan bertubi oleh adiknya itu. Namun ia tidak melepaskan tangan gadis itu agar tetap bersamanya. “Pak Zaid, terima kasih, tapi seharusnya Bapak gak perlu repot-repot seperti ini, Bapak—”

“Kalau kamu yang ada di posisi saya, apa kamu bisa diam aja gitu ngelihat karyawan kamu lagi dalam kesulitan, apalagi seperti tadi.” Sela Zaid berkata tajam.

“Kak Esa emang begitu Pak, keras kepala, apa-apa mau di selesei sendiri, semua-semu—"

“HENING!” Bentak Esa dan Zaid bersamaan.

Hening terdiam, melipat bibirnya tidak lagi berani berbicara.

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Me and My Broken Pieces   Marry Me

I'll say will you marry meI swear that I will mean itI'll say will you marry me... By Jason Derulo--Tubuh Genta sudah berada di bawah guyuran shower di kamar mandi. Ia masih mengingat dengan jelas malam panjang yang dilewatinya bersama Hening, beberapa jam yang lalu. Luar biasa! hanya itu yang bisa ia katakan untuk mengungkapkan semua perasaannya saat ini.Menghabiskan malam bersama wanita, memanglah bukan yang pertama kali bagi Genta. Namun bercinta dengan seseorang yang ia cintai dan menjadi pria pertama bagi wanita tersebut, membuatnya tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun. Hanya ada perasaan membuncah di dalam hatinya, yang selalu membuat bibirnya melengkung dengan sempurna.Namun ada satu yang mengganjal di hatinya. Genta bukan orang bodoh yang tidak tau apa sebenarnya, yang terjadi pada diri Hening semalam. Tapi, siapa yang punya niat jahat kepada gadis itu? Siapa yang di temui ol

Me and My Broken Pieces   Forever Night Stand

A real man gives up one nigth stands, for a woman he can't one night without-Unknown--Kalau biasanya, di hari ulang tahunnya, Genta selalu merayakan dengan makan malam bersama keluarganya -mama dan papanya-. Namun kali ini, tidak. Ia hanya terpekur sendiri menatap pemandangan kota dari jendela kamar hotel yang telah di sewanya selama 2 hari ini.Mamanya sangat marah, atas sikap tidak sopannya terhadap keluarga Ara dan papanya angkat tangan, tidak ingin ikut campur. Selama hidup Genta, ia tidak pernah melihat mamanya itu marah kepadanya, apalagi hanya karena seorang wanita.Dan Hening, gadis itu masih tidak mau mengangkat telepon dari Genta. Chat darinya pun tidak di buka sama sekali. Pergi ke mana sebenarnya gadis itu, ia juga sudah dua hari tidak muncul di kantor. Kabar yang Genta terima dari Mei hanyalah kalau Hening di pindah tugas oleh Agam ke luar kota, tanpa tau pastinya. Aneh! Ya sungguh aneh.Lain lagi saat Genta

Me and My Broken Pieces   Finding The Truth

Pride comes before a fall-Unknown--Genta meletakkan dagunya pada setir mobil, mengetukkan jemarinya berulang kali menatap tanpa menoleh sedikitpun pada pagar kos Hening. Dari semalam gadis itu tidak mau mengangkat telepon maupun membaca chat dari Genta. Dan hari ini, pagi-pagi sekali Genta sudah berada untuk mencegatnya sebelum gadis itu berangkat menuju kantornya.Setelah pertemuan dadakannya dengan Zio semalam, sepertinya Genta sudah bisa menarik sebuah kesimpulan, meskipun ia belum bisa memastikannya. Tapi setidaknya ia sudah ada bayangan, apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini. Tinggal bertanya dan menuntut kejujuran dari Hening, maka semuanya akan clear.Semalam langkah Genta terhenti, tidak menyusul Hening, karena selain menyebut mamanya, Zio juga menyebutkan nama Ara untuk dibicarakan.“Ngomong cepetan, nyokap gue sama Ara kenapa?” Pertanyaan Genta terkesan terburu serta

Me and My Broken Pieces   Torn

Illusion never changed, Into something realI'm wide awake and I can seeThe perfect sky is torn, You're a little lateI'm already torn By Natalie Imbruglia --Hening baru saja mendorong pintu kaca untuk melangkahkan kakinya keluar dari kantor saat Ara berdiri tepat di depannya dengan senyum manisnya.“Hai.” Sapa Ara.Mulus banget sih ni cewek. Gumam Hening dalam hati“Oh, hai juga.” Balas Hening tanpa canggung meskipun sedikit terkejut. “Mbak yang waktu itu di tempatnya Om Genta kan?”Om? Ara membatin sambil mengangguk.“Mau ke dalam ya Mbak?” Hening sudah membukakan pintu untuk Ara dengan sopan. “Silakan.” Lanjutnya.“Aku bukan mau ke dalam, tapi, aku mau bicara sama kamu.” Ucap Ara tanpa melepas senyuman dari wajahnya. “Bisa kan? Gak lama kok, cuma sebentar.” La

Me and My Broken Pieces   No Excuses

It is better to offer no excuse than a bad one-George Washington --Genta sedang duduk dengan kaki menggantung, pada sebuah gazebo yang berada di lantai paling atas gedung showroomnya. Kedua tangannya bertumpu ke belakang untuk menahan tubuhnya, sedangkan pandangannya saat ini menerawang melihat kerlipan bintang yang bertabur sangat indah di atas sana. Terdapat penerangan berupa lampu taman yang terpasang di setiap sudutnya.“Hening …”“Hmmm …”Gadis itu sedari tadi berbaring santai dengan kepala berada di pangkuan Genta, dan terlihat sibuk berkutat dengan ponselnya,“Hape lo di taroh dulu bisa gak?”“Gue lagi ngurus kerjaan, Om, materi iklan gue ilang katanya, padahal loh tadi dummy nya udah di cetak.” Jarinya masih saja sibuk mengetik kalimat panjang lebar pada benda pipih yang ia pegang.“Berhenti kerja gih.” Se

Me and My Broken Pieces   I'm Yours

So I won't hesitate no more, no moreIt cannot wait, I'm sureThere's no need to complicate, our time is short This is our fate, I'm yours By Jason Mraz---Senyum Genta mengembang sempurna saat menuruni tangga, bersiap untuk sarapan pagi seperti biasanya. Sesekali ia bersiul dan tak lupa bersenandung menyanyikan lagu Jason Mraz yang berjudul I’m Yours sehingga membuat mama serta papanya memandang heran.“Pagi Mam.” Satu kecupan tak lupa mendarat pada pipi mamanya. “Pagi Pa.” menarik meja di samping mamanya dan duduk di sana.Papanya hanya mengangguk.“Pagi Gen, ada yang beda kayaknya hari ini.” Mama Ruby menendang pelan kaki suaminya di bawah meja.“Biasa aja, Mama itu yang tambah cantik, pasti karena Papa udah di rumah aja, gak pergi-pergi lagi kan.”Mama Ruby mencebik.

Me and My Broken Pieces   I Won't Give Up

I won't give up on us, even if the skies get rough-Jason Mraz--Ini sudah kesekian kalinya ponsel Hening yang ia letakkan di meja meeting bergetar, dan untuk kesekian kalinya pula ia segera merejectnya.“Siapa Ning, di reject mulu, sa

Me and My Broken Pieces   Misunderstood

Love is a misunderstanding between two fools.— Oscar Wilde--Hening mengetuk pintu kaca sebanyak dua kali secara perlahan, lalu ia mendorong handle pintunya memasuki ruangan yang berisi dua orang wanita yang keduanya masih muda, tapi jelas usianya lebih tua d

Me and My Broken Pieces   Aunty

Friends are those rare people who ask how we are and then wait to hear the answer.-Ed Cunningham--Hening duduk dengan kaki berselonjor yang di silangkan pada sebuah kursi tunggu atau kursi yang biasa dipakai pengunjung mall untuk beristirahat sejenak dari

Me and My Broken Pieces   The Queen

There are times when a well-placed pawn is more powerful than a king-Unknown--Reno, asisten sekaligus teman semasa kecil Dewa masuk ke dalam ruang kerja bosnya itu, lalu melempar tumpukan kertas bergambar di atas mejanya. Dewa hanya meliriknya sekilas lalu terseny

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy