loading
Home/ All /Me and My Broken Pieces/De Javu

De Javu

Author: Kanietha
"publish date: " 2020-09-30 11:19:13

Just like yesterday, you and I, catch the memories all over again.

-Kanietha

Setahun kemudian.

Hari ini adalah giliran Giana menginap di rumah Kakek Abhinya, oleh karena itu sebelum jam makan siang Genta buru-buru menjemputnya di kediaman keluarga Andreas, agar bisa mengajak keponakan cantiknya itu untuk makan siang bersamanya terlebih dahulu. Sebenarnya Zio dan Lastra sudah pindah ke rumah mereka sendiri pada saat Giana berusia tepat dua tahun, namun tiga bulan kemudian Lastra kembali hamil dengan mengalami morning sick yang parah sehingga mau tidak mau mereka kembali lagi tinggal di kediaman Andreas bersama orang tua Zio. Agar ada yang mengawasi Giana yang semakin aktif itu, lebih intens lagi.

Rambut lurus Giana kini sudah di kuncir dua dan sudah duduk manis pada kursi penumpang di belakang dengan memakai car seat untuk melindunginya serta menghidari sesuatu yang tidak di inginkan terjadi. Sepanjang perjalanan Giana selalu saja berceloteh dan bersenandung tiada henti. Genta sampai sudah hapal semua lagu yang selalu di nyanyikan oleh Giana.

If you're happy and you know it

Clap you hands

If you're happy and you know it

Clap your hands

If you're happy and you know it

Then your face will surely show it

If you're happy and you know it

Clap you hands

Yah begitulah, dengan kompaknya Om dan keponakannya itu bernyanyi bersama-sama, meskipun kalimat yang di ucapkan Giana masih ada yang belum jelas, tapi paling tidak mereka berdua tau kemana nada lagunya akan berakhir.

Genta mengajak Giana untuk makan siang di dekat showroomnya karena ada beberapa dokumen pajak yang ternyata harus Genta tandatangani. Tidak ada yang menyangka kalau Genta yang dulu sangat cuek dan serampangan kini menjadi pria yang sangat lembut dan telaten kalau sudah berurusan dengan Giana. Orang yang tidak mengenalnya mungkin akan mengira Genta adalah seorang duda keren beranak satu, karena seringnya ia mengajak Giana untuk sekedar berjalan-jalan berdua dengannya.

Setelah selesai dengan urusan kantornya dan makan siang bersama Giana, tujuan selanjutnya adalah pulang mengantarkan Giana kepada Kakek dan Omanya yang memang sudah menunggu sedari tadi.

Giana mengalungkan tangannya di leher Genta sembari bersenandung bersama saat pria itu menggendong gadis kecilnya menuju parkiran. Namun nyanyiannya terhenti karena melihat punggung seorang gadis yang sedang mengendap di samping mobilnya. Gadis itu memakai celana jeans dan seragam dari perusahaan yang sangat ia kenal, dengan rambut hitam lurus yang di ikat ke atas seadanya.

Kali ini Genta tidak lagi menggebrak mobilnya, karena sedang menggendong Giana, ia khawatir nantinya gadis kecil itu akan meniru tingkahnya.

“Mbak!? Ngapain di sini?” Tanya Genta dengan dingin.

Gadis itu sedikit terkejut lalu berbalik, sekali lagi ia terkesiap kagum memandang wajah pria yang pernah ditemuinya satu tahun yang lalu, yah ia masih sangat ingat dengan wajah itu, tidak berubah sama sekali.

Gadis itu menarik nafasnya, tersenyum manis. “OM GENTA?! Iya kan?!”

Genta mengernyitkan dahinya dalam, masih berfikir, suara yang di dengarnya seolah tidak asing, namun ia lupa dimana pernah mendengarnya dan seingatnya satu-satunya orang yang pernah memanggilnya dengan kata Om adalah gadis SMA yang pernah …

Tiba-tiba Genta membulatkan matanya. “LO—”

“HENING”

Mereka berseru bersamaan lalu tertawa.

“Ayah, capa itu?” Giana tiba-tiba menyeletuk memandang Hening malu-malu.

“Anaknya ya Om, duuh cakepnya. Halo adek tantik, panggil akuh Onti Hening, nama kamu ciapa cayank.” Hening bertanya dengan wajah imut dibuat-buat, Ia gemas lalu mencubit pelan pipi Giana yang bulat. “Eh, bibirnya mirip gue Om.” Lanjutnya lalu kembali tertawa.

“Sembarangan kalau ngomong!” Seru Genta seraya memperhatikan penampilan Hening yang kini berubah 180 derajat. “Onti, onti, kenapa gak onta aja sekalian! Ngapain lo di sini? Jangan bilang kalau—”

“Gue barusan lihat pacar gue sama cewek lain Om, di sono.” Sela Hening menunjuk ke sebuah ruko yang ternyata adalah showroom mobil milik Genta.

“Ayah, apa itu pacal?” Giana kembali menyeletuk menatap bingung pada Genta.

Genta segera melayangkan tatapan tajam pada Hening yang kini sudah menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia menggaruk kepalanya seraya memikirkan jawaban yang tepat.

“Pacar itu maksudnya teman, sayang.” Celetuk Hening tiba-tiba menjawab sekenanya. “Oia, nama kamu ciapa tadi, Onti belum tau?” tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan.

“Jiana.” Jawab Giana

“Oohh Jiana.” Jawab Hening manggut-manggut.

“Giana, bukan Jiana.” Genta meralat.

Hening kembali membulatkan mulutnya.

Genta menggeleng membuka pintu mobil bagian belakang lalu segera meletakkan Giana di car seat nya.

“Hening! Lo ikut gue.” Seru Genta setelah menutup pintu mobil di tempat Giana duduk.

“Eh, gak bisa Om, tu dia udah mau keluar noh.” Tunjuk Hening pada ruko yang di kelilingi oleh dinding kaca.

“Justru itu, lo harus ikut gue, se-ka-rang!” Seperti mengulang masa lalu, Genta kali ini juga menarik tangan Hening dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Hening baru saja hendak protes namun tatapan tajam Genta sontak menciutkan nyalinya. “Jangan ngomong kalau belum gue suruh ngomong, Giana di belakang sudah ngantuk!” Perintahnya lalu segera melajukan mobilnya.

Sepanjang perjalanan Hening benar-benar tidak membuka suara sedikitpun, namun tidak dengan tubuhnya. Ia memanfaatkan moment tersebut untuk selfie sebanyak mungkin dengan berbagai macam pose di dalam mobil Genta. Hening juga sempat mengabadikan beberapa fotonya dengan Giana juga Genta, tanpa sepengetahuan Genta tentunya.

Genta tidak mempedulikan apapun yang dilakukan Hening yang berada di sampingnya kini. Ia mengajak Hening ikut hanya semata-mata khawatir, jika gadis itu akan melakukan hal bodoh seperti satu tahun yang lalu. Genta tidak bisa membayangkan, bila peristiwa kala itu akan terjadi di showroomnya sendiri.

Hening sedikit mengerutkan dahinya ketika mobil berhenti sejenak di depan sebuah rumah dengan pintu gerbang yang sangat mewah, ada sebuah pos security kecil disampingnya yang berisi dua orang satpam. Tak lama kemudian pintunya terbuka, dan mobil Genta pun masuk dan hanya parkir di halaman rumah.

“Tunggu di sini, jangan ke mana-mana, ngerti?!” Genta sedikit memelankan suaranya karena Giana sedang tidur dan tak ingin membangunkannya.

Setelah menyerahkan Giana kepado Omanya, Genta bergegas kembali ke mobil dan tinggallah mereka berdua saja di dalam mobil.

“Gue udah boleh ngomong gak, Om?” Tanya Hening

“Emang lo mau ngomong apa?”

“Tadi itu, rumahnya Om Genta?”

“Rumah Bokap gue..”

“Wuiih gilaa! Bokapnya, Om Genta kerjanya apa?” Tanya Hening penasaran.

“Banyak! tapi sekarang udah pensiun, dan cuma mantau dikit-dikit di belakang layar. Sekarang lebih ke ngurus cucu doang. Mau tanya apa lagi?”

Hening membulatkan mulutnya sejenak. “Terus kenapa gue harus ikut Om, sih?”

“Biar lo gak buat onar kayak dulu, eh tapi ngomong-ngomong, lo udah jadi cewek beneran sekarang?” Tanya Genta melirik sekilas ke arah Hening

Hening tergelak. “Emang dulu gak beneran ya, Om?” ia lalu bersedekap. “Ck, iya sih, tadinya gue mau nyamperin tuh cowok udah mau gue gampar aja rasanya, ceweknya juga, eh tapi ceweknya kan gak salah ya Om? Jadi lewatin ajalah, fokus ke tuh cowok brengsek!”Satu tangannya sudah mengepal dan meninjukannya ke udara.

“Susah kalau jiwa preman sudah mendarah daging, apa-apa pake kekerasan!” Sindir Genta.

“Eh, jangan salah Om, gue gini-gini udah tobat kali, udah lama gue gak ngehajar orang, sialan tuh cowok, awas aja nanti kalau ke kosan, gue habisin dia!” Kata Hening berapi-api.

Genta terkekeh. “Emang udah berapa lama lo pacaran?”

“Baru juga jadian kemarin Om, ehh ni hari udah berani dia gandeng cewek lain, untung aja gue gak cinta sama dia!” Jawab Hening dengan polosnya.

Genta tidak lagi bisa menahan tawanya. “Lo, baru jadian kemarin? Haha.. terus kalau gak cinta kenapa jadian?”

Hening berdecak kesal. “OM! Mending turunin gue di sini deh, lo gak ngerti apa, gue lagi kesel, lagi pengen nonjok orang nih, Om mau jadi sasarannya?”

“Ciyee, yang lagi patah hati, gitu bilangnya gak cinta?” Kekeh Genta. “Tapi Ning, lo jangan suudzon dulu, siapa tau itu keluarga—”

“Mana ada keluarga pake grepe-grepe gitu Om, nyuri-nyuri kesempatan pegang-pegang di depan umum. Ish, eneg kan gue ingetnya!”

Genta semakin tertawa di buatnya, wajah Hening yang lagi marah itu terlihat sangat menggemaskan baginya.

“Pokoknya putus! Putus! Putus!” Hening masih saja melanjutkan omelannya.

Genta lalu teringat sesuatu. “Eia, itu, seragam yang lo pake, lo kerja di Metro Ibukota?” Tanyanya menyebutkan salah satu nama perusahaan media cetak yang terbesar.

Hening menunduk melihat seragam yang ia pakai. “Eh, iya Om, gue staff iklan di sana.”

“Anak baru?” Tanya Genta lagi.

“Udah 10 bulanan sih di situ, Tapi Om, ini kita mau ke mana sih? Gue masih harus ambil materi  iklan, balikin gue ke tempat tadi!”

“Oke.” Jawab Genta singkat.

Dan kali ini sepanjang perjalanan Genta hanya mendengarkan celotehan Hening yang tanpa henti menceritakan hal-hal konyol yang membuat pria itu tertawa.

“Om makasih ya, tapi gue gak usah pake dianterin sampe masuk gini kali Om.” Hening berujar dengan penuh percaya diri saat Genta dan dirinya memasuki ruko mewah yang sebenarnya adalah showroom mobil milik pria itu.

“Jangan ge-er lo, bocah.” Genta kembali menoyor kepala Hening.”Gue gak nganterin lo, gue mau ke atas, lo mau ngurusin iklan kan?” Genta memegang bahu Hening dan memutar tubuh gadis itu. “Noh, lo masuk ke ruangan itu, lo cari yang namanya Mbak Ade.” Tunjuk Genta pada sebuah ruangan yang juga berdindingkan kaca transparan.

“Udah tau gue, tapi …” Hening tidak jadi melanjutkan kalimatnya karena Genta sudah berlari menaiki tangga untuk segera pergi ke ruangannya yang berada di lantai dua.

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Me and My Broken Pieces   Marry Me

I'll say will you marry meI swear that I will mean itI'll say will you marry me... By Jason Derulo--Tubuh Genta sudah berada di bawah guyuran shower di kamar mandi. Ia masih mengingat dengan jelas malam panjang yang dilewatinya bersama Hening, beberapa jam yang lalu. Luar biasa! hanya itu yang bisa ia katakan untuk mengungkapkan semua perasaannya saat ini.Menghabiskan malam bersama wanita, memanglah bukan yang pertama kali bagi Genta. Namun bercinta dengan seseorang yang ia cintai dan menjadi pria pertama bagi wanita tersebut, membuatnya tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun. Hanya ada perasaan membuncah di dalam hatinya, yang selalu membuat bibirnya melengkung dengan sempurna.Namun ada satu yang mengganjal di hatinya. Genta bukan orang bodoh yang tidak tau apa sebenarnya, yang terjadi pada diri Hening semalam. Tapi, siapa yang punya niat jahat kepada gadis itu? Siapa yang di temui ol

Me and My Broken Pieces   Forever Night Stand

A real man gives up one nigth stands, for a woman he can't one night without-Unknown--Kalau biasanya, di hari ulang tahunnya, Genta selalu merayakan dengan makan malam bersama keluarganya -mama dan papanya-. Namun kali ini, tidak. Ia hanya terpekur sendiri menatap pemandangan kota dari jendela kamar hotel yang telah di sewanya selama 2 hari ini.Mamanya sangat marah, atas sikap tidak sopannya terhadap keluarga Ara dan papanya angkat tangan, tidak ingin ikut campur. Selama hidup Genta, ia tidak pernah melihat mamanya itu marah kepadanya, apalagi hanya karena seorang wanita.Dan Hening, gadis itu masih tidak mau mengangkat telepon dari Genta. Chat darinya pun tidak di buka sama sekali. Pergi ke mana sebenarnya gadis itu, ia juga sudah dua hari tidak muncul di kantor. Kabar yang Genta terima dari Mei hanyalah kalau Hening di pindah tugas oleh Agam ke luar kota, tanpa tau pastinya. Aneh! Ya sungguh aneh.Lain lagi saat Genta

Me and My Broken Pieces   Finding The Truth

Pride comes before a fall-Unknown--Genta meletakkan dagunya pada setir mobil, mengetukkan jemarinya berulang kali menatap tanpa menoleh sedikitpun pada pagar kos Hening. Dari semalam gadis itu tidak mau mengangkat telepon maupun membaca chat dari Genta. Dan hari ini, pagi-pagi sekali Genta sudah berada untuk mencegatnya sebelum gadis itu berangkat menuju kantornya.Setelah pertemuan dadakannya dengan Zio semalam, sepertinya Genta sudah bisa menarik sebuah kesimpulan, meskipun ia belum bisa memastikannya. Tapi setidaknya ia sudah ada bayangan, apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini. Tinggal bertanya dan menuntut kejujuran dari Hening, maka semuanya akan clear.Semalam langkah Genta terhenti, tidak menyusul Hening, karena selain menyebut mamanya, Zio juga menyebutkan nama Ara untuk dibicarakan.“Ngomong cepetan, nyokap gue sama Ara kenapa?” Pertanyaan Genta terkesan terburu serta

Me and My Broken Pieces   Torn

Illusion never changed, Into something realI'm wide awake and I can seeThe perfect sky is torn, You're a little lateI'm already torn By Natalie Imbruglia --Hening baru saja mendorong pintu kaca untuk melangkahkan kakinya keluar dari kantor saat Ara berdiri tepat di depannya dengan senyum manisnya.“Hai.” Sapa Ara.Mulus banget sih ni cewek. Gumam Hening dalam hati“Oh, hai juga.” Balas Hening tanpa canggung meskipun sedikit terkejut. “Mbak yang waktu itu di tempatnya Om Genta kan?”Om? Ara membatin sambil mengangguk.“Mau ke dalam ya Mbak?” Hening sudah membukakan pintu untuk Ara dengan sopan. “Silakan.” Lanjutnya.“Aku bukan mau ke dalam, tapi, aku mau bicara sama kamu.” Ucap Ara tanpa melepas senyuman dari wajahnya. “Bisa kan? Gak lama kok, cuma sebentar.” La

Me and My Broken Pieces   No Excuses

It is better to offer no excuse than a bad one-George Washington --Genta sedang duduk dengan kaki menggantung, pada sebuah gazebo yang berada di lantai paling atas gedung showroomnya. Kedua tangannya bertumpu ke belakang untuk menahan tubuhnya, sedangkan pandangannya saat ini menerawang melihat kerlipan bintang yang bertabur sangat indah di atas sana. Terdapat penerangan berupa lampu taman yang terpasang di setiap sudutnya.“Hening …”“Hmmm …”Gadis itu sedari tadi berbaring santai dengan kepala berada di pangkuan Genta, dan terlihat sibuk berkutat dengan ponselnya,“Hape lo di taroh dulu bisa gak?”“Gue lagi ngurus kerjaan, Om, materi iklan gue ilang katanya, padahal loh tadi dummy nya udah di cetak.” Jarinya masih saja sibuk mengetik kalimat panjang lebar pada benda pipih yang ia pegang.“Berhenti kerja gih.” Se

Me and My Broken Pieces   I'm Yours

So I won't hesitate no more, no moreIt cannot wait, I'm sureThere's no need to complicate, our time is short This is our fate, I'm yours By Jason Mraz---Senyum Genta mengembang sempurna saat menuruni tangga, bersiap untuk sarapan pagi seperti biasanya. Sesekali ia bersiul dan tak lupa bersenandung menyanyikan lagu Jason Mraz yang berjudul I’m Yours sehingga membuat mama serta papanya memandang heran.“Pagi Mam.” Satu kecupan tak lupa mendarat pada pipi mamanya. “Pagi Pa.” menarik meja di samping mamanya dan duduk di sana.Papanya hanya mengangguk.“Pagi Gen, ada yang beda kayaknya hari ini.” Mama Ruby menendang pelan kaki suaminya di bawah meja.“Biasa aja, Mama itu yang tambah cantik, pasti karena Papa udah di rumah aja, gak pergi-pergi lagi kan.”Mama Ruby mencebik.

Me and My Broken Pieces   Kiss Me

Oh, kiss me beneath the milky twilight. Lead me out on the moonlit floor...Lift your open hand. Strike up the band, and make the fireflies danceSilvermoon's sparklingSo kiss me ...... - By Sixpence None the Richer ---“Ish,

Me and My Broken Pieces   Looking For You

B'coz ... All I want is ... you! --Genta sudah menunggu di lobi kantor Metro seperti kemarin, mondar mandir di sana menunggu Hening. Sejak semalam Hening tidak bisa dihubungi, bukan karena gadis itu tidak mengangkat ponselnya, namun ponselnya tidak aktif. Dirinya bert

Me and My Broken Pieces   Kill Em With Kindness

You can run with a lie, but ypu can't hide from the truth.-Unknown--Hening kembali berdecak kasar saat ponselnya bergetar dengan memunculkan nomor yang memang sudah ia tidak pedulikan dari kemarin. Namun kali ini, mau tidak mau ia harus mengangkatnya, daripada melihat pria

Me and My Broken Pieces   I Won't Give Up

I won't give up on us, even if the skies get rough-Jason Mraz--Ini sudah kesekian kalinya ponsel Hening yang ia letakkan di meja meeting bergetar, dan untuk kesekian kalinya pula ia segera merejectnya.“Siapa Ning, di reject mulu, sa

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy