loading
Home/ All /MOIROE/CHAPTER 01 : TRANSMIGRATION

CHAPTER 01 : TRANSMIGRATION

Author: Zhi
"publish date: " 2020-08-30 12:43:00

Bagaimana bisa rasanya begitu dingin?

Apakah dia mungkin saja tidak sengaja menendang jatuh selimutnya saat ia sedang bermimpi? Tapi dia mengingat dengan baik bahwa dirinya adalah orang yang tenang bahkan saat dia tidur, dan juga dia tidak pernah menemukan selimutnya menghilang dari tubuhnya setiap kali dia bangun di pagi hari. Jadi rasa dingin ini benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman. 

Dan lagi, kenapa telapak tangannya terasa agak perih?

Akhirnya dia memaksa matanya yang terasa sangat berat untuk terbuka. 

Setelah bekerja seharian penuh, dengan segala rutinitas biasa yang kadang terasa semakin membosankan, untuk terbangun karena kedinginan dan rasa perih seperti ini ... rasanya tidak pada tempatnya. 

Ketika matanya masih setengah terbuka, dia mengangkat telapak tangannya dengan asal untuk memeriksa mengapa telapak tangannya bisa terasa perih saat dia sedang tertidur, tidak mungkin kalau dia bermimpi dan tidak sengaja mengigit tangannya sendiri kan?

Menatap tangannya, dia melihat beberapa goresan yang mulai berdarah dan saat dia mencari ke sekitar tubuhnya, dia menemukan goresan itu tampaknya disebabkan oleh rerumputan yang sedikit lancip dan berduri yang berada di sekitarnya itu, jadi dia tidak sengaja terluka karenanya. Begitu saja, dia tidak peduli dan ingin melanjutkan tidurnya lagi. 

Tunggu!

Dia bergegas bangun dalam posisi duduk dan membuka matanya lebar-lebar. 

"Bagaimana bisa ...."

Bagaimana bisa ada rerumputan di sekitarnya? Ah, lebih tepatnya bagaimana dia bisa berada di atas rerumputan seperti ini? 

Dia jelas mengingat dengan amat sangat baik bahwa setelah selesai berkutat dengan pekerjaan sampai seharian penuh yang melelahkan, dia langsung pulang menuju rumahnya dan segera membersihkan diri, makan, lalu tentu saja jatuh tertidur saking lelahnya. 

Jadi bagaimana dia bisa terdampar di rerumputan ini? Apakah dia tanpa sadar tidur sambil berjalan? Tapi selama sembilan belas tahun dia hidup, jelas dia tidak pernah tidur sambil berjalan atau sleepwalking, jadi bagaimana dia bisa tiba-tiba seperti ini?

"Jelas aku tidak pernah mempunyai penyakit jenis ini. Rasanya terasa aneh."

Ketika dia mengangkat kepalanya untuk melihat ke sekitar, dia baru menyadari bahwa di sekelilingnya sebenarnya adalah pepohonan yang sangat besar dengan akar besar yang mencuat di atas tanah. Dia jelas berada di sebuah hutan.

Baiklah, sepertinya dia memang tidur sambil berjalan. 

Tapi, Tunggu! Sejauh mana dia tidur sambil berjalan? Seingatnya tidak ada hutan di kotanya. Mungkin ada pepohonan, tapi jelas sekali tidak ada hutan. Dia yakin sekali. 

Dia mencoba untuk bangkit dan menemukan bahwa kakinya yang tampak kotor seperti terkena lumpur, sebenarnya itu berdarah. Astaga, apa yang sudah dia lalui untuk sampai kemari hingga membuat tangan dan kakinya terluka seperti ini. Penyakit tidur sambil berjalan ini sudah sangat keterlaluan bahkan sampai dia tidak menyadari apapun. 

"Rasanya sedikit sakit, bagaimana bisa aku tidak menyadari apapun dan justru sampai kemari. Apa mungkin aku hanya bermimpi? Tapi bahkan luka ini terasa sakit, jelas sekali ini nyata." Gerutunya.

Disaat ia berniat untuk memeriksa kakinya, dia menemukan bahwa dia sebenarnya menggunakan gaun panjang mencapai betis yang berwarna putih namun terlihat sudah sangat kusam sehingga sedikit kecoklatan, dan mungkin juga sudah terlalu sering dipakai hingga rasanya itu bisa sobek kapan saja. 

"Apa yang terjadi disini, bagaimana mungkin aku ...."

Baiklah, dia tidak lupa bahwa dia pergi tidur dengan pakaiannya yang biasa tadinya, bagaimana itu bisa berubah menjadi gaun seperti ini? Dan gaun macam apa ini? Apakah di era modern ini masih ada yang berpakaian seperti ini? Dia rasa tidak. Ini semua pasti omong kosong. Dia tidak menemukan jawaban apapun untuk semua pertanyaan yang rasanya membuat dia semakin pusing.

Atau jangan-jangan ... ah, itu mustahil.

Mana mungkin ada yang berpindah tubuh seperti itu? Meskipun dia banyak membaca kisah fantasy dan juga supranatural, dia masih berpikir bahwa semua itu tidak mungkin menjadi kenyataan.

"Apakah aku berhalusinasi? Karena aku terlalu banyak berimajinasi. Jangan bilang ini adalah dunia lain? Atau mungkinkah aku memasuki portal ke dunia seperti ini? Baiklah sudah cukup, aku mulai kelewatan lagi, itu jelas tidak mungkin. Tapi ...." Dia mulai berpikir lagi. 

Dia memeriksa rambutnya, masih berwarna hitam dan panjangnya juga masih mencapai pinggang. Jadi sudah pasti ini tubuhnya. Tapi untuk sesaat dia ragu, sebaiknya dia mulai berjalan dan menemukan seseorang atau sebuah tempat dimana dia bisa meminjam cermin untuk memastikan wajahnya masih miliknya dan yakin bahwa dia tidak berada di tubuh orang lain, seperti cerita fantasy kebanyakan. 

Ketika dia mengangkat pandangan untuk melihat beberapa semburat cahaya yang menyusup melewati celah pepohonan, dia menyadari sekarang waktunya menjelang pagi, dan sebentar lagi hutan di sekelilingnya akan sedikit cerah dan terang sehingga dia bisa berjalan setapak untuk menemukan bantuan. Walaupun dia akui, dia tidak mengenal tempat ini sama sekali. 

"Tidak peduli, cari jalan yang mungkin saja terlihat pernah dilalui manusia."

Dia mulai berusaha untuk berdiri tegak, dan menemukan bahwa kaki kanannya terasa lebih menyakitkan saat dia akan berjalan, sepertinya kaki sebelah kanannya lebih parah. Dia melihat sekitarnya, dan tidak menemukan sepatu atau alas kaki di sekitarnya. Dia berlari ke hutan ini sambil telanjang kaki? Kemudian dia menepuk dahinya, bagaimana mungkin dia bisa ingat untuk memakai sepatu saat dia sadar mungkin saja dia kemari sambil tidur. 

Dia mulai berjalan dengan pelan karena harus sedikit menyeret kaki kanannya yang tidak bisa dipakai untuk tumpuan saat berjalan, dia tidak punya pilihan lain. Pertama-tama dia harus menemukan jalan keluar dari hutan ini, baru setelah itu dia bisa mengobati tubuhnya dan mencari cara untuk kembali ke rumahhnya. Dengan itu dia semakin bersemangat saat berjalan. 

~~~

Selesai sudah, sepertinya dia tersesat. 

Dia hanya terus berjalan tanpa menemukan jejak manusia sama sekali, dan justru merasa bahwa  sepertinya dirinya mulai memasuki hutan bagian dalam. Hal itu bisa dilihat dari semakin sunyi dan dinginnya udara disekitarnya, dan lagi cahaya matahari semakin lama semakin menghilang. 

"Apakah aku kembali saja ke arah yang tadi? Tapi jelas tidak ada jalan sama sekali disana. Tapi, jika aku melanjutkan ke arah sini, rasanya seperti tidak seharusnya aku kemari."

Apa yang harus dia lakukan? 

Kakinya terasa semakin menyakitkan dan dia juga mulai merasa lelah. Tapi dia benar-benar tersesat dan tidak tahu harus mengambil langkah apa atau kemana. Setelah beberapa pertimbangan dia memutuskan untuk kembali ke arah sebelumnya, dia tidak bisa mengambil resiko dan memasuki hutan yang lebih gelap, dia hanya takut sebelum  menemukan jalan dirinya sudah terlebih dahulu menjadi santapan hewan buas di dalam sana. Dia akhirnya berbalik dan mulai berjalan kembali.

"Tunggu, siapa kau?!"

Langkahnya terhenti. Apakah baru saja dia benar-benar mendengar suara manusia? Bagaimanapun dia ragu itu nyata, bagaimana jika itu hanya ilusi karena keinginannya untuk segera menemukan manusia yang lain selain dirinya. Tapi, bagaimana jika itu nyata? Setidaknya dia harus memastikannya. 

Dia membalikan badan dengan perlahan. 

Apa yang berada di hadapannya benar-benar diluar harapan maupun dugaannya, entah dia harus bahagia atau terkejut dan juga sedikit merasa takut. Dihadapannya adalah ... bagaimana dia harus menyebutnya, manusia yang bukan merupakan manusia? 

Sebab, sulit untuk dijelaskan bahwa di hadapannya sekarang adalah, seorang pria berumur sekitar dua puluh tahun dengan postur wajah kaku dan rambut hitam yang berombak sepanjang bahu, dan dari bahu hingga perutnya bisa terlihat dia memiliki bentuk tubuh yang cukup kekar hingga tidak bisa disembunyikan oleh pakaian tanpa lengan dari kulit berwarna kecoklatan dengan garis-garis hitam di tepiannya. 

Ini jelas contoh dari tubuh pria yang paling diidam-idamkan oleh para wanita. 

Namun, masalah utamanya bukan berada disitu. Dia menemukan bahwa tubuh pria ini ... dari batas pinggang menuju ke bawah adalah tubuh seekor kuda. Benar! Seekor kuda berwarna coklat tua yang nampak gagah perkasa, sangat mencerminkan bentuk tubuh manusia diatasnya. Sebagai pengemar fantasy jelas dia ingat makhluk apa sebenarnya pria ini, dia adalah ....

"Centaur ...?!"

Pria Centaur ini mengerutkan kening melihat gadis di hadapannya. 

"Ternyata, seorang manusia? Kau hampir memasuki Magnesia atau wilayah inti Ras Centaur yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang manusia. Dari nada penuh pertanyaanmu saat melihatku, jelas kau tidak tahu itu."

Irisha hampir saja memukul kepalanya untuk memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi, bagaimana mungkin Centaur ini benar-benar ada di hadapannya sekarang? Dan juga berbicara kepadanya. Apakah dia benar-benar masuk ke portal dunia lain? 

"Seorang Centaur ... kau nyata?"

Pria Centaur ini semakin mengerutkan keningnya. Gadis ini benar-benar aneh, apakah dia begitu bodoh atau apa? Jelas dia ini Centaur dan ini wilayah Centaur apakah masih ada yang perlu dipertanyakan?

"Kamu pikir aku ilusi? Kau berada di wilayah Centaur, memangnya apa yang akan kau temui jika bukan Centaur? Atau ... benar! Kau pasti manusia dari Bangsa Midgard, tidak heran."

"Bangsa ... Midgard?" Apakah ini sebutan untuk bangsa manusia?

"Kau bahkan tidak tahu bangsa Midgard? Disana adalah tempat semua manusia yang hampir mayoritas tidak mempercayai keberadaan makhluk-mahkluk seperti kami tinggal. Kau bukan berasal dari sana?"

Pria Centaur ini benar-benar heran dengan gadis yang berada di hadapannya. Dia heran melihat Centaur, tapi dia sepertinya bukan berasal dari bangsa Midgard. Lantas, darimana dia berasal?

"Apa mungkin ... kau justru tinggal disini?"

Irisha mengangkat kepalanya, bagaimana mungkin dia tinggal disini. Jelas-jelas dia mengatakan bahwa ini wilayah bangsa Centaur. Atau ....

"Disini, yang kau maksud ...?"

"Ah maksudku apakah kau tinggal di Bangsa Vanaheimr ini? Karena disini adalah satu-satunya tempat semua ras berkumpul dan tinggal bersama juga termasuk manusia. Hanya saja, masing-masing dari setiap Ras memiliki wilayah inti yang tidak boleh disentuh oleh makhluk lain di Vanaheimr ini, termasuk wilayah yang hampir kau masuki tadi."

Irisha merasa semua kenyataan ini masih sulit diterima, bagaimana bisa Centaur yang jelas-jelas adalah makhluk yang selama ini hanya dia ketahui berasal dari mitologi Yunani dan dia lihat di film Fiksi bisa muncul dan berdiri gagah di hadapannya, apa dia sudah gila dan mulai mengidap Skizofrenia? Dan lagi Magnesia? Midgard? Vanaheimr? Semua istilah itu ... dia tidak merasa mampu untuk memahaminya sama sekali. 

Namun, Irisha merasa bahwa dia memang berkewajiban untuk meminta maaf atas tindakannya yang hampir menerobos wilayah yang bahkan tidak dia kenal. 

"Begitukah? Maafkan aku. Sebenarnya kurasa aku mengalami amnesia." Irisha rasa akan lebih baik jika dia berpura-pura bodoh untuk saat ini, karena dia menyadari bahwa ini bukan dunianya. Bahkan jika dia menjelaskannya dia yakin mereka tidak akan mengerti. 

"Apa itu Amnesia?" Pria Centaur ini bertanya dengan wajah penuh tanda tanya.

Irisha menepuk mulutnya sendiri, ini adalah dunia yang berbeda. Jelas sekali mereka akan merasa asing dengan istilah Amnesia. 

"Ah! Maksudku sepertinya aku kehilangan ingatanku."

"Apakah kamu terjatuh dan membenturkan kepalamu?"

"Aku sendiri tidak tahu."

"Aku bisa membantumu ke Arkadia dan mungkin saja kau bisa menemukan keluargamu disana. Tidak baik jika kau terus disini, Centaur lain mungkin akan berpikir kau berniat untuk menyusup ke Magnesia dan kau tidak akan diampuni."

"Keluargaku ...?" Benar saja, dia terbangun dalam keadaan sudah memakai gaun dari dunia ini, dan terluka tanpa alasan yang jelas. Sekarang, mungkinkah dia menempati tubuh seseorang di dunia ini dan memiliki keluarga? 

"Baiklah dimana itu Arkadia? Bisakah aku meminjam bantuanmu untuk mengantarku ke sana?" Lebih baik mencari tahu daripada berakhir di tempat ini. 

"Arkadia seperti inti bangsa Vanaheimr. Letaknya agak jauh diutara, jadi mungkin butuh hampir satu hari dari perhitungan kami para Centaur, tapi untukmu ... apalagi dengan keadaan kakimu, aku tidak tahu berapa banyak hari akan berlalu."

Irisha menatap kakinya, dia melupakan fakta bahwa kakinya terluka. Tadinya dia sudah merasa yakin meskipun perlu berjalan hingga beberapa hari dia tetap harus mencapai Arkadia untuk mencari tahu. Tapi melihat keadaannya sekarang, mungkin butuh hampir satu minggu untuk sampai ke Arkadia, dan dia kembali merasa lesu.

"Apakah kalian tidak memiliki sesuatu untuk membantu lukaku cepat pulih?" Dia menatap Centaur itu. 

Centaur itu mengelengkan kepala, "ini hanyalah wilayah perbatasan luar Magnesia, jadi kami jarang menemukan ramuan atau semacamnya. Jika ada salah satu dari kami yang terluka kami akan mengirimnya ke wilayah inti untuk menerima penyembuhan di sana."

Irisha menunduk, dia kehabisan ide sama sekali. Tidak mungkin untuk masuk ke Magnesia jadi jelas dia tidak bisa menyembuhkan lukanya. Menunggu lukanya sembuh? Itu akan memakan waktu yang sangat hingga membuat Centaur lain curiga, dan dia tidak mau berakhir disini. Menunggu keluarganya mencarinya? Di bahkan tidak tau apakah dia memang memasuki tubuh orang lain atau tidak, jika tidak, maka dia tidak punya keluarga dan itu berarti menunggu adalah hal sia-sia.

Centaur itu menatap gadis yang menunduk di hadapannya kemudian ke arah kakinya yang telanjang tanpa alas kaki, kakinya yang mungil dan pucat yang sudah berdarah. Dia baru manyadari bahwa gadis ini memang memiliki kulit putih pucat yang mencolok karena bajunya yang kusam, dan juga badan ramping yang rapuh. Tetapi dia memiliki tatapan mata dan ekspresi yang penuh keyakinan dan kepolosan yang tidak mengandung kebohongan sama sekali. 

Dia menghela nafas.

"Emm, jika kau mau, kau bisa menaiki aku?"

Irisha mengangkat kepalanya, wajahnya sedikit memerah. Dia adalah gadis yang berumur sembilan belas menuju dua puluh tahun. Dia merasa istilah 'menaiki' disini terdengar sedikit ambigu di teliganya. Astaga, dia harus mengurangi membaca bacaan yang mengandung konten seperti 'itu' jika di masih bisa kembali ke dunianya. 

"Apakah tidak apa-apa? Aku merasa terlalu merepotkanmu, kau sudah berbaik hati membantuku ke Arkadia, kurasa tidak pantas aku masih harus meminta tenagamu." 

"Seharusnya tidak masalah, kau bisa naik sekarang hingga kau juga bisa cepat bertemu keluargamu." Centaur itu mengulurkan tangannya. 

Irisha berpikir sebentar, sebelum menyambut uluran tangan itu dan dia diangkat ke tubuh Centaur itu. 

Dengan itu, mereka resmi memulai perjalanan menuju Arkadia. 

✓✓✓

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

MOIROE   CHAPTER 19 - SEBUAH IKATAN

? HAPPY READING ?"Isaura! Apakah kau baik-baik saja? Apa yang terjadi padamu?!" Neo dengan gusar segera bergerak ke arah ranjang tempat Isaura berbaring dan membuka matanya beberapa saat yang lalu. Sesaat setelah Isaura tidak sadarkan diri Evander segera membawanya menuju kamar miliknya dan membaringkannya disana, mereka semua menunggu dalam cemas dan tidak tenang. Bahkan Neo berkali-kali tidak bisa berhenti untuk berjalan kesana kemari hanya karena khawatir yang dia rasakan tidak bisa dibendung. Isaura terbangun dengan wajah kebingungan, dia tidak merasa terluka sama sekali hanya saja rasa sakit yang sebelumnya menyerang kepalanya masih tertinggal dan memberikan rasa nyeri yang samar, selain itu baginya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. "Aku baik-baik saja. Hanya saja kepalaku terasa sedikit tidak nyaman. Ah! Lalu bagaimana dengan

MOIROE   CHAPTER 18 - BATTLE ASSASSIN

©©©"Jadi, dimana keberadaan paman Adante sekarang?" Cato bertanya setelah mengalihkan tatapan kekesalannya dari wajah Neo dan Lucien yang tidak bisa bersikap serius sejak tadi. Isaura mengangkat wajahnya dan menjawab, "Paman Adante sedang berada di kamar tamu, bersama dengan ibunda." Cato terdiam sejenak, dia masih mempertimbangkan tentang apakah dia harus menemui paman Adante sekarang atau menunggunya untuk pulih terlebih dahulu. Dia menatap ke arah Isaura untuk bertanya, "Apakah tidak masalah jika aku menemuinya disana? Apakah itu akan mengganggunya?" "Kurasa tidak, paman Adante hanya perlu berisitirahat sambil menunggu tabib, dia pasti tidak akan keberatan untuk menemui kalian. Apalagi kalian mengingat dirinya." Jawab Isaura. Cato memahami perasaan Isaura.

MOIROE   CHAPTER 17 - TWO IDIOTS

©©©'CKLEKK!'Lucien akhirnya membuka pintu secara perlahan dengan sikap yang waspada, karena mau tidak mau mereka yang tidak diharapkan bisa saja datang dan menyerang tanpa peringatan. ketika pintu belum terbuka sepenuhnya, sebuah gerakan keras tiba-tiba mendorong pintu itu agar segera terbuka."Isaura? Dimana Isaura?!" Wajah panik Neo adalah hal pertama yang tampak setelah pintu itu terdorong dan memperlihatkan siapa tamu yang mereka duga-duga sebelumnya.Seperti yang telah dilihat oleh Lucien sebelumnya, itu adalah Neo dan Cato, dua pengacau di mata seorang Evander.PLAKK!Sebuah pukulan lebih dahulu mendarat di kepala Neo sebelum dia mendapatkan jawaban yang dia inginkan, "Kau bisa merusa

MOIROE   CHAPTER 16 - YOU KNOW WHO

Dia siapa?Isaura dan bahkan juga Evander dan Lucien memiliki pertanyaan yang sama tentang hal ini, meskipun samar-samar Lucien maupun Evander mungkin mengetahui siapa yang disebut oleh pria bernama Adante itu.Mereka hanya menebak, karena sejarah Dewi Moiroe dengan begitu banyak pengikut juga musuhnya hanya diturunkan dari mulut ke mulut karena hal itu telah terjadi ratusan tahun yang lalu. Mereka tidak bisa mengingat dengan baik siapa "Dia" yang disebutkan oleh pria itu.Tentu saja itu tidak berlaku dengan Jasindha.Dia jelas mengetahui dengan baik siapa yang dimaksud oleh Adante, dia segera memegang tangan Adante yang mencengkram erat pada pergelangan tangannya, "Adante, kau harus tenang."Adante melepaskan tangannya namun dia tetap mengelengkan tangannya, "Bagaimana bisa kau memintaku untuk tenang, kau tahu dengan baik siapa yang aku bi

MOIROE   CHAPTER 15 - LAKHESIS

Keesokan harinya. "Hoamm ... mmm ... Aku masih sangat mengantuk. Memikirkan tentang Archer yang sedang berada dalam perjalanan dan apakah ia selamat sampai ke Magnesia membuatku terbangun sampai larut malam? Aku tidak menyadarinya sampai tiba-tiba sudah tengah malam, benar-benar membuat jam tidurku banyak berkurang ... Hoamm." Isaura masih menguap dan berusaha untuk membuka matanya yang terasa sangat berat. Dia merasa sepertinya dia akan segera memiliki mata panda. Jam tidurnya sudah banyak mengalami kekacauan sejak ia masih berada di dunianya yang sebenarnya. Dan kali ini, tampaknya akan terulang lagi di dunia ini. Setelah menunggu selama beberapa saat, akhirnya dia benar-benar bisa membuka matanya sepenuhnya. Sepertinya hari masih sangat pagi, sebelumnya dia b

MOIROE   CHAPTER 14 - BERPISAH (Part 02)

Diluar kediaman keluarga Maulvi. Isaura dan Archer Masih berdiri disana tanpa suara, mereka masih asyik menikmati udara pagi yang cerah dan begitu menyegarkan ini, ditambah kicauan burung tampaknya ikut memeriahkan suasana diantara mereka."Bukankah suasana yang menyenangkan ini agak salah untuk dijadikan sebagai latar perpisahan?" Canda Archer dengan sedikit senyuman di sudut mulutnya.Isaura yang sebelumnya mendongak untuk melihat langit yang cerah langsung menunduk, "Aku ingin mengatakan bahwa ini adalah hari yang indah, tapi aku benci mengakui bahwa saat ini juga kau akan segera pergi."Archer tersenyum, "apa kau benar-benar sedih jika aku pergi?"Isaura langsung mengangkat wajahnya, "Tentu saja! Walaupun kita baru saja saling mengenal beberapa hari yang lalu, kau sudah menjadi teman yang sangat penting bagiku. Ti

MOIROE   CHAPTER 09 : CHILDHOOD

Neo berasal dari Ras Werewolf.Jadi sebenarnya Isaura yang asli sama sekali tidak membatasi dengan siapa dia berteman, dia tidak hanya berteman dengan sesama manusia, tapi sebenarnya teman baiknya sejak bayi adalah seorang Werewolf. Maka da

MOIROE   CHAPTER 08 : PERTEMANAN SEMACAM INI

Perempuan yang sejak tadi berada dibelakang laki-laki itu akhirnya melangkah maju dan memegang bahu pria di hadapannya, "Neo, bersabarlah sebentar... Mengapa kami menjadi begitu impulsif, ah! Kau akan menyakiti Isaura dengan antusiasme yang ka

MOIROE   CHAPTER 07 : MEMORI ATAU ILUSI

Rumahnya ini dapat dikatakan rumah yang cukup besar dibandingkan dengan rumahnya di dunia yang sebenarnya, dan juga tampilan rumah ini terkesan lebih mengarah pada kesederhanaan daripada kemewahan ataupun kemegahan. Dari tempatnya berdiri sekarang, dia bisa

MOIROE   CHAPTER 06 : ARKADIA

Tepat pada saat matahari dengan malu-malu menampakan diri, mereka berempat akhirnya mencapai jalan masuk Arkadia yang begitu besar dan terhubung dengan dinding yang sama besarnya dan membentuk lingkaran yang menutupi seluruh

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy