loading
Home/ All /MISSION COMPLETED [INDONESIA]/Lima - Mungkinkah Dia?

Lima - Mungkinkah Dia?

Author: Ayu Tarigan
"publish date: " 2020-09-25 10:51:34

Hidup di Amerika memang butuh kerja keras. Biaya hidup yang tinggi mengharuskan orang tersebut lebih giat lagi dalam bekerja. Itulah yang Alona rasakan saat ini, niatnya ingin bersantai di sini harus terkubur dalam-dalam karena sisa saldo yang tertulis di buku tabungannya membuat Alona mulai merasa was-was.

Wanita itu memang sudah memperkirakan biaya hidup yang tinggi di kota ini, tapi tidak menyangka akan secepat ini tabungannya menipis, sebelum dirinya menjadi gelandangan, dia harus mulai berpikir cara berburu dolar mulai hari ini.

Alona melirik jendela kamar yang tertutup tirai tebal berwarna gold itu. Sejak kejadian minggu lalu, wanita itu memang sering mengawasi tirai itu tanpa sengaja. Perasaan cemas seringkali ia rasakan, sehingga Alona jarang membuka kain penutup itu dan membuat kamarnya jadi minim cahaya.

Belakangan ini juga Alona seringkali merasa diikuti, tapi mungkin hanya perasaannya saja, karena beberapa kali ia mencoba mengintai si penguntit, tapi hanya berakhir sia-sia. Yang mengherankan adalah si penghuni apartemen di depan unitnya yang tak pernah sekali pun menampakan wajah pemiliknya, tapi algojo yang berdiri menjaga pintu itu makin hari makin bertambah saja. Hari ini terhitung sepuluh orang yang Alona lihat ketika keluar apartemen tadi pagi.

Awalnya wanita itu merasa tak acuh tapi lama-lama rasa penasaran mulai timbul, hanya ingin tahu akan sosok penghuni apartemen tersebut, Jangan-jangan orang itu buronan polisi atau bos mafia. Oh, gosh ....

Alona melirik ponselnya, menanti balasan pesan dari seseorang. Namun, hingga kini orang tersebut belum memberi kabar. Alona menghembuskan napas panjang, merasa bosan dengan aktifitasnya yang itu-itu saja. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari udara segar, jika kelamaan berdiam diri di sini ia bisa jadi stres, dan tentu saja itu tidak baik bagi kandungannya.

---

Sudah lebih satu jam Alona melangkahkan kaki mengelilingi pusat perbelanjaan yang tak jauh dari apartemennya, dan saat ini ia sedang ikut antre untuk mendapatkan kosmetik keluaran terbaru dari merk ternama yang sedang mengadakan diskon menggiurkan di lantai tujuh. Meski uang menipis, ia tetap tak tahan menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Yah, begitulah wanita.

Alona mulai tak sabar ketika tinggal dua orang lagi di didepannya, ia merasa ingin cepat-cepat memboyong eyeshadow, dan lipcream dengan warna-warna lucu itu. Entah kenapa dirinya begitu semangat ketika melihat para wanita di sini berebut antrean karena diskon hanya sampai jam dua saja.

Jika mengingat kata-kata orang tua di kampungnya, besar kemungkinan anak yang dikandung Alona berjenis kelamin perempuan, sebab Alona suka sekali berdandan, tapi belum pasti benar karena menurutnya itu hanya mitos saja.

Tibalah giliran Alona maju karena antrean di depan sudah kosong, tapi baru saja melangkah, tubuh Alona merasakan sebuah guncangan yang membuat badannya terasa sempoyongan, tangan wanita itu menggapai apa saja yang dapat dijangkau untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh terduduk. Suara bising penuh kepanikan memenuhi ruangan seakan menambah tingkat kegaduhan. Tak lama terdengar peringatan dari pengeras suara agar semua pengunjung tetap tenang, tapi kebanyakan dari mereka tak menghiraukan karena sibuk mencapai pintu keluar guna meninggalkan gedung yang bisa saja roboh karena guncangan gempa yang cukup hebat ini.

Alona menahan napas, ingin merasa tenang tapi tak bisa. Tubuhnya masih bersangga pada etalase toko, kepalanya terasa pening dan mual hebat malah menyerangnya. Dengan tertatih Alona mencoba berjalan keluar, getaran itu masih ada, tapi tak sekuat awalnya.

Wanita itu hampir menyerah karena pusing hebat yang tiba-tiba menyerang, dan pandangannya mulai menggelap, terakhir yang dirasakannya adalah sebuah lengan kokoh yang terasa hangat menangkap tubuh lemahnya. Samar-samar terdengar suara orang berteriak lalu setelahnya menghilang.

---

"Bagaimana keadaannya?"

Seorang  pria berjas putih menoleh sambil menyeringai. "Kau ingin kabar baik atau kabar buruk?" tanyanya.

"Jangan bertele-tele kalau kau tak ingin seluruh tulangmu aku patahkan!"

"Oh, mengerikan." Dokter muda itu bergidik geli, tapi langsung mengubah ekspresi saat mata kelam pria di depannya semakin menajam seakan ingin memotong tubuhnya menjadi beberapa bagian.

"Baiklah-baiklah, kau ini pemarah sekali," dengusnya, "dia baik-baik saja, hanya kelelahan dan efek terlalu panik membuatnya merasa pusing yag sangat hebat hingga jatuh pingsan, tapi ...." Sang dokter diam sejenak. Matanya menatap serius kepada pria yang sedang menyipit tajam, menanti kelanjutan penjelasan itu. "Lebih baik periksakan ke dokter kandungan, ini bukan bidangku, tapi sepertinya kandungannya melemah."

"Beri  apa pun yang terbaik untuknya, dia harus tetap sehat."

"Wow, calon ayah yang baik. Tapi--"

"Lakukan saja, Wright, rumah sakit bukan tempat yang aman untuk saat ini."

"Siapa suruh kau jadi buronan, Ha?" tukas Demian Wright, dokter sekaligus teman pria itu.

"Aku juga heran kenapa mereka terus mengejarku," sahutnya enteng.

Laki-laki itu mendengus. "Makanya jangan jadi bocah kriminal lagi."

"Kalau kau sudah selesai, pintu keluarnya di sana."

"Watson satu ini benar-benar tidak sopan." Demian menggerutu sambil membereskan peralatannya. "Nanti akan ku kirimkan vitamin dan obatnya," imbuhnya sebelum benar-benar angkat kaki dari ruangan itu.

Pria itu mengangguk tanpa bicara, bahkan mengucapkan terimakasih pun tidak, pandangannya lurus pada wanita yang tengah berbaring nyaman di atas kasur. Ia menghela napas panjang, berbalik lalu melangkah meninggalkan ruangan itu.

Alona mengerjap perlahan, sisa-sisa rasa pusing masih dirasakannya. Tapi ia segera duduk ketika mengingat kejadian terakhir yang dialaminya. Wanita itu merasa bangun dari mimpi buruk, tapi ia yakin itu bukanlah mimpi melainkan nyata. Alona menepuk-nepuk pipinya, meyakinkan bahwa saat ini dirinya juga tidak sedang bermimpi, ini nyata. Tapi, siapa yang membawanya ke kamar ini? Kamar ini … milik siapa?

Wanita itu mengamati seluruh ruangan besar ini dengan mata waspada, beberapa detik memastikan keadaan akhirnya Alona menghembuskan napas lega. Ini memang kamarnya. Syukurlah, saat terbangun dirinya tidak berada di kamar orang lain, di kamar pria hidung belang misalnya. Tapi, siapa yang membawanya kesini?

---

Selesai mandi Alona menyalakan televisi dan menonton acara berita yang menyiarkan tentang kejadian gempa beberapa jam yang lalu. Menurut Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa berkekuatan 7,0 Skala Richter itu berpusat sekitar 24 mil selatan-barat daya Caliente. Akibat gempa tersebut, banyak gedung-gedung tinggi di Las Vegas yang terguncang sehingga orang-orang menghambur ke jalanan. Hingga saat ini sudah tercatat tiga belas orang korban jiwa akibat gempa tersebut.

Alona mengusap lembut perutnya, kakinya masih terasa lemas karena kejadian tadi, dia bahkan sudah berpikiran yang tidak-tidak. Mengingat peristiwa tadi membuat Alona terbayang kembali sentuhan hangat yang menyangganya sebelum jatuh pingsan. Sentuhan itu ... mungkinkah seseorang yang menolongnya?

Mungkinkah itu ... Wickley?

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

MISSION COMPLETED [INDONESIA]   Empat Puluh Satu - Menjadi Seorang ayah

Hari ini Mama Alona tiba di Las Vegas bersama Irene dan Rena, kakak perempuan Alona. Kedatangan mereka disambut tangis haru dari wanita itu, bisa melihat wajah mama dan kakaknya lagi adalah sebuah impian yang sangat didamba Alona saat masih menjadi tawanan Thomas dulu.Wickley membiarkan mereka saling melepas rindu, ia berniat memberi waktu bagi mereka, tapi saat hendak meninggalkan ruangan itu, matanya tak sengaja menemukan bayi kecil dalam gendongan Rena. Tak ada yang salah pada perempuan itu, hanya saja jantung Wickley tiba-tiba

MISSION COMPLETED [INDONESIA]   Empat Puluh - Kematian Merry

Thomas terkejut bukan main, tubuh itu sudah ambruk ke lantai, dengan darah mengalir sampai ke ujung sepatu pria itu. Merry ... Merry-nya yang penurut, kenapa melakukan semua ini? Kenapa wanita itu melindungi bocah sialan itu?!Pistol itu terjatuh dari genggamannya, lututnya gemetar, sehingga ketika melangkah ia tak sanggup lagi menahan beban tubuhnya hingga terjatuh tepat di hadapan Merry yang sudah tak bernapas lagi."Apa yang kau lakukan?!" bisiknya marah. "Apa yang kau lakukan?! Bangun perempuan sialan?!" bentaknya."B

MISSION COMPLETED [INDONESIA]   Tiga Puluh Sembilan - Menemukan Alona

Wickley merasa tak percaya dengan pendengarannya sendiri, pria setua Thomas ternyata masih bisa bersikap kekanakan. Benar-benar tak masuk akal. Mungkinkah laki-laki itu mempunyai kelainan jiwa?"Aku memintamu untuk menjadi penerusku, tapi dengan angkuhnya kau menolak." Suara Drage terdengar mendesis."Aku tidak berminat! Dan kurasa sudah cukup basa-basimu, sebaiknya cepat beritahu di mana Alona!" ujar Wickley tenang."Oh, sabar sedikit,

MISSION COMPLETED [INDONESIA]   Tiga Puluh Delapan - Kegilaan Thomas Drage

Sudah dua bulan lebih dari kepergian Alona, dan Wickley masih belum bisa menemukan wanita itu. Beberapa kali mereka mendapatkan informasi palsu yang ketika ditelusuri berakhir dengan jalan buntu. Pria itu yakin sekali bahwa kali ini Thomas pasti melibatkan anggota mafianya untuk menyembunyikan Alona. Entah apa yang diinginkan pria tua itu, yang jelas Wickley akan menghabisi pria brengsek itu dengan tangannya sendiri."Tuan, kami memiliki informasi baru." Andrew datang dengan

MISSION COMPLETED [INDONESIA]   Tiga Puluh Tujuh - Di mana Alona?

Irene keluar dengan tubuh keringat dingin, wajah pucat pasti serta lutut gemetar hebat. Ia menghampiri Ilyas yang memeluk sang mama sambil menangis segugukan. "Ilyas ...," panggilnya pelan.Pria itu mendongak, matanya tampak sangat merah, tak ada sinar keangkuhan seperti biasa. "Aku ... aku ..." Irene menarik napas panjang. "Aku menemukan sesuatu," lirihnya.

MISSION COMPLETED [INDONESIA]   Tiga Puluh Enam - Kecurigaan Irene

Flashback OnWickley baru saja menerima telepon dari Joe, satu jam yang lalu bawahannya itu mengabarkan bahwa Merry telah tiba di Jakarta hari ini dan sekarang sedang menuju ke rumah yang baru dibelinya untuk Alona. Pria itu menggeram jengkel, tak habis pikir oleh kemauan wanita itu yang selalu mengusiknya. Pria itu segera menghubungi Josh, tangan kanan Drage. Ia yakin pasti

MISSION COMPLETED [INDONESIA]   Sembilan Belas - Nasihat Ibu

Pagi ini Alona lagi-lagi diteror oleh telepon dari ibunya yang tak lelah me

MISSION COMPLETED [INDONESIA]   Delapan Belas - Tawaran Menikah

Alona menyesap secangkir teh hangat yang tadi diantar pelayan ke dalam kamar yang saat ini

MISSION COMPLETED [INDONESIA]   Tujuh Belas - Mimpi buruk

Alona berjalan mengelilingi kamar, meneliti setiap sudut yang ada di dalam ruangan itu. Tak lupa juga dia mengecek kamar m

MISSION COMPLETED [INDONESIA]   Enam Belas - Kehidupan Wickley

Dalam satu waktu kita terkadang selalu mengedepankan rasa egoisme. Bukan untuk berniat jahat, hanya saja terkadang hati tak mau berkompromi untuk membuka diri, menerima setiap masuk

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy