Download the book for free
13 | What Happened?
Author: ByMiu10 menit pertama aku terus menguap, menguap, dan menguap. Alex beberapa kali kerap menyuruhku untuk tidur, tak mempermasalahkan walau tidak ada teman mengobrol. Akan tetapi aku menolak, dan memilih menghilangkan kantukku dengan bermain snapchat. Aku berniat memposting video ketika mobil akan melintasi London Eye. Sekalipun hampir setiap hari melewati ikon itu, tetapi aku tidak pernah bosan mengaguminya.
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Love Affair (Bahasa Indonesia) 34 | My Precious Trixie
6 Tahun Kemudian...Menaburi bunga lily di atas pusar makam, aku duduk bersimpuh. Tiada henti aku mengusap pahatan namanya. Kenangan itu akan tetap hidup abadi. Dengan hati-hati aku meletakkan sebuah figura kecil. Foto yang terpampang di dalamnya membuatku tersenyum kecil. 6 tahun sudah aku melewati masa tersulit sekaligus masa terindah secara bersamaan. Kehilangan, kesedihan, kebahagiaan silih berganti menghampiri. Dan kebahagiaan itu hadir lewat seorang putri kecil cantik yang kini menjadi pelengkap hidupku."Mom?" Trixie, buah hatiku memanggil. Jari-jari mungilnya menumpukkan tanah untuk kemudian merapatkannya pada figuraku. "Kau harus meletakannya seperti ini. Kalau tidak, nantinya jatuh terkena angin.""Iya, sayang. Terima kasih."Membersihkan telapak tangannya, ia memperhatikanku lekat. Tangan tersebut menggapai wajahku, menghapus air mataku secara tidak beraturan. "Kenapa, mom? Apa kau terluka? Atau kau menginginkan sesuatu?Trixie cenderung dewasa dan keingintahuannya terlampau
Love Affair (Bahasa Indonesia) 33 | The Truth
Aku tersadar dalam keadaan tangan dan kaki terikat. Bibirku ditutupi lakban, tapi itu tak menghalau asin darah yang terasa oleh indra pengecapku. Dengan sisa tenaga yang tersisa, aku mencoba melepaskan lilitan temali dibagian tangan. Sial! Tidak bisa!Thomas pun berjalan mendekat, lalu mencabut lakbanku dalam sekali sentakan. Aku langsung meludahi wajahnya. Hanya itu satu-satunya perbuatan yang bisa ku lakukan, untuk menunjukkan bahwa aku sama sekali tidak takut."Diam, atau aku akan memotong lidahmu!"Plak! Plak!Dua tamparan berturut-turut ku terima. Alih-alih bukannya aku meringis, penglihatanku justru teralihkan pada banyak cipratan darah di lantai dan dinding. Seketika itu juga aku menganga lebar. Hatiku seakan diremas-r
Love Affair (Bahasa Indonesia) 32 | He's Coming
Aku menarik ujung sweater sampai sebatas jari-jariku, berusaha menyembunyikan tanganku yang masih mengalami gemetar hebat. Ponselku kini telah hancur karena ulah Alex. Mungkin ia muak melihat bagaimana diriku yang terus membaca semua lontaran kasar, gunjingan, serta bujukan bunuh diri yang membanjiri sosial mediaku.Dengan tatapan kosong, Alex melipatkan kakinya sebelum bersandar ke dinding. Tegak kepalanya berakhir dengan tundukkan dalam. Sekalipun di video bejat tersebut wajahnya disamarkan, namun ia jutsru terlihat lebih terpuruk dibandingkan diriku."Aku bersumpah akan menghabisinya! Aku bersumpah!" Geraman lantang Alex menghentikan gerak kakiku yang hendak menghampirinya. Selanjutnya nafasku tertahan sebab ia mengobarak-abrik isi laci nakas, dan mengeluarkan sebuah pistol.
Love Affair (Bahasa Indonesia) 31 | Sex Tape?
Sudah dua hari aku dan Alex menempati rumah baru kami. Rasanya begitu... entahlah. Ini perasaan baru bagiku. Aku belum terbiasa dengan ranjang baru kami yang masih keras, dapur luas, pekarangan polos yang rencananya akan ku tanami bunga lily. Perabotan pun belum terisi banyak. Ku rasa aku perlu ke IKEA lagi untuk mendapatkan beberapa barang yang sekiranya cocok. Oh sebaiknya aku langsung mengajak Alex ke sana seselesainya kegiatan ini."Lily! Legonya bagus sekali! Sudah sejak dulu aku menginginkan pelmainan ini!"Anak berusia tiga tahun --Mario-- yang sedang duduk bersila, bersua histeris. Tangan mungilnya sibuk merakit bangunan menjulang. Aku terenyuh. Kegiatan amal merupakan acara rutin yang ku hadiri setiap empat bulan sekali bersama teman-teman satu agensiku. Memang tidak banyak jumlahnya, tapi setidaknya itu mampu membuat satu dua
Love Affair (Bahasa Indonesia) 30 | Our Home
Gonggongan anjing terdengar nyaring beberapa kali. Hal itu membuatku terbangun, dan sadar bahwa aku berada di apartemen milik Alex. Jika biasanya Molly menyalak setiap kali aku berada di dekat tuannya, kini tidak ia lakukan lagi. Molly justru mengendus kakiku, lalu memilih berbaring di antaraku dan Alex.Tanpa banyak bergerak, aku menggendong Molly agar suara kerasnya tidak membangunkan Alex. Dari kabinet dapur aku mengeluarkan sereal anjing untuk selanjutnya ku taruh di mangkuk. Aku pun mulai menyiapkan pancake dan dua gelas orange juice."Selamat pagi." Suara serak Alex menyapa, secara bersamaan tangan besarnya melingkar sempurna di pinggangku."Jam 11 bukan lagi pagi, sleepyhead."Alex meletakan dagunya di pundakku. Ia lantas mengucek-ucek matanya seraya terkekeh. "Kau pikir aku memperdulikan hal tidak penting semacam itu?"Pun aku membawa sarapan kami ke meja makan. Ku perhatikan Alex kini melemparkan bola plastik seukuran bola kasti ke arah ruang tengah. Hal tersebut tentu direspo
Love Affair (Bahasa Indonesia) 29 | Molly
"Maaf... maafkan kami."Aku terus terngiang ucapan maaf Alex semalam. 'Kami' siapa yang ia maksud? Apa ia berselingkuh sehingga meminta maaf atas nama 'kami?' Tidak, tidak mungkin Alex berbuat demikian."Bisakah kau maju?'"Ah, tentu." Jawabku.Aku sampai lupa bahwa aku sedang mengantri di sebuah kedai es krim. Sesudahnya, aku langsung kembali ke tempat di mana Alex dan Molly menungguku, namun aku tak menemukan mereka. Mataku cukup lama menyisiri jalanan Oxford ini sebelum akhirnya terhenti di depan toko televisi.Alex serius menonton televisi dari jendela kaca, sementara Molly tengah berguling-guling. Aku tertawa kecil. Astaga, sebenarnya apa yang mereka lakukan?"Menikmati pemandangan gadis-gadis berbikini itu?"Alex terkekeh tanpa mengalihkan fokusnya. "Lihatlah, payudara mereka dua kali lebih besar dari milikmu."Akibat ucapannya tersebut, es krim yang semula ku belikan untuknya, kini beralih menjadi milik Molly. Memang semenjak kepulangan kami dari Budapest kemarin, baru siang ini
Love Affair (Bahasa Indonesia) 11 | Dying
"Lily! Fokus!" Setelah belasan take, lagi-lagi kalimatku tidak sesuai dengan script. Banyak kru yang menatapku tidak suka. Ya, aku menjadi penyebab waktu kerja mereka berjalan lebih panjang. Semua gara-gara perkataan Alex mengenai Jul
Love Affair (Bahasa Indonesia) 10 | About Us
Bel sudah berbunyi lebih dari tiga kali. Tetapi aku dan Julian tetap tidak terpengaruh, apalagi perhatian dia tidak terlepas sedikitpun dari secarik kertas yang berada di genggamannya. Dengan keberanianku aku berjinjit untuk merebut kertas tersebut. Na
Love Affair (Bahasa Indonesia) 9 | Those Shoes
Rabu siang ini berjalan lancar. Tidak ada kejanggalan bahwa penjahat tempo hari akan kembali menjalankan aksinya. Seselesainya sesi pemotretan untuk sebuah majalah remaja, Alex langsung mengantarkanku pulang. Di pelataran basement, tanpa turun dari mob
Love Affair (Bahasa Indonesia) 8 | Frappuccino
Aku tidak henti memaki Alex dalam hati, merutuki setiap perkataan dan perlakuan pria tersebut padaku. Apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya?! Dia sudah menciumku dua kali! Dia juga mengatakan ingin menikahiku! Kami bahkan baru saling mengenal beb
