loading
Home/ All /Kisah Cinta Ludwina & Andrea/Bab 5 - Maukah Kau Bertemu Di Bali?

Bab 5 - Maukah Kau Bertemu Di Bali?

Author: Josephine VDW
"publish date: " 2020-08-26 06:52:27

Aku tidak pernah membalas email Andrea. Panggilan teleponnya pun tidak pernah kuangkat, dia pasti sekarang mengerti bahwa aku masih belum sanggup bicara dengannya. Pengacaraku bilang dia sudah menerima dokumen perceraian enam bulan lalu tetapi hingga kini tidak ada tanggapan darinya.

Diam-diam aku berharap Andrea akan memperlambat prosesnya, walaupun aku tahu cepat atau lambat kami akan berpisah secara resmi, dan akan tiba hari di mana aku bisa menatap matanya dan berbicara.

Tanpa sadar aku menjelajahi Facebook dan mencari berita tentang Adelina Surya lagi. Kali ini aku melihat akun media sosialnya sudah aktif. Adelina tampak bahagia tinggal di London dengan anaknya. Di foto profilnya tampak ia dan Ronan, anaknya, serta Andrea berfoto dengan latar belakang London Eye. Sangat banyak komentar di fotonya yang mendoakan kebahagian keluarga kecil itu.

"Wahh...akhirnya kamu bikin akun FB juga. Ini Adelina dan Andrea yang dari SMA 7 kan? Apa kabar? Sekarang tinggal di London semua ya?

"Wahh… relationship goals banget deh kalian ini, nggak nyangka pacaran dari umur 16 tahun bisa awet sampai sekarang. Anak kalian cakep banget deh."

"Wah, sudah lama nggak dapat kabar kalian. Kabarin dong kalau mudik ke Indonesia, biar kita ngupi-ngupi".

Aku mengerti kenapa Adelina menghilang dan menutup diri selama ini dari teman-teman sekolahnya dulu. Dia tentu tidak ingin mereka tahu apa yang terjadi 8 tahun lalu. Ia menanggung semua rasa malu dan sakit itu sendirian. Andrea pun tidak tahu hingga tahun lalu. Kini setelah Andrea kembali ke sisinya, Adelina akhirnya bisa kembali mengangkat wajah dan menghadapi dunia.

Aku sungguh mengerti dan kasihan kepadanya, aku juga kasihan kepada Andrea, dan aku cukup tahu diri untuk tidak menjadi penghalang kebahagiaan mereka.

Membaca itu semua aku hanya bisa menangis tersedu-sedu dengan membenamkan wajah ke dua telapak tanganku. Aku dulu sering disebut teman-teman sekolahku "the girl who has everything", tetapi saat ini aku merasa sebagai orang paling miskin di dunia.

***

Buku keduaku, Dear Sophia, kembali mendapat pujian dan laku di pasaran. Romantisme zaman perang sangat jarang dikupas di ranah sastra Indonesia dan banyak kritikus yang menganggap novelku membawa angin segar. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, orang-orang mulai mengenaliku di jalan sebagai seorang penulis. Aku cukup terkejut ketika sedang berjalan kaki di Central Park pada suatu sore, serombongan turis Indonesia menyapaku dengan antusias.

"Mbak Ludwina Baskara ya? Sedang mencari inspirasi untuk buku ya, Mbak? Berikutnya Mbak mau nulis novel tentang apa nih?" tanya mereka berebutan.

Aku tertegun karena tidak menyangka di New York yang begini luas ada orang Indonesia yang mengenaliku.

"Eh...kok tahu ini saya?" tanyaku keheranan.

"Lah, tadi kan posting di instagram kalo Mbak Ludwina lagi nyari inspirasi di Central Park." jawab salah seorang di antaranya. Dia membuka instagram di ponselnya dan menunjukkannya kepadaku. "Mbak keren banget deh, tahu-tahu di Belanda, terus di Spanyol, di Jepang, dan sekarang udah di Amerika aja..."

Aha. Aku baru sadar bahwa social media manager-ku senantiasa mengupdate kabarku di berbagai media. Penerbitku yang mempekerjakannya sebagai bagian dari kampanye marketing peluncuran buku keduaku. Aku sudah lama tidak menyentuh media sosial sejak menikah dengan Andrea.

Sebagai pakar internet security dia membuatku sadar betapa berbahayanya membiarkan data pribadiku disimpan oleh perusahaan teknologi, aku sampai lupa bahwa ada akun instagram atas namaku di luar sana.

"Saya nggak lagi nyari inspirasi untuk buku," jawabku ramah, "cuma lagi kangen New York aja. Dulu saya kuliah di Columbia University."

"Ohh...keren banget."

Setelah foto bersama dan aku memberi mereka tanda tangan, rombongan itu pun berlalu dengan ceria. Akhirnya aku menjadi terkenal sebagai penulis. Aku pikir aku akan bahagia, ketika cita-citaku sejak kecil berhasil dicapai, tetapi nyatanya tidak demikian. Aku tetap merasa miskin dan sedih.

Sudah setahun berlalu sejak terakhir kali aku melihat Andrea. Sudah banyak yang terjadi dalam hidup dan karierku. I did think things will get better over time, tapi entah kenapa hatiku tidak juga pulih.

Sebuah email masuk ke ponselku dari Andrea. Hm... ini kan bukan hari Minggu?

"I am invited to speak in a cyber security conference in Bali next month. Would you like to see me?"

(Aku diundang ke konferensi cyber security di Bali bulan depan. Apakah kamu mau ketemu?)

Oh..

Aku ingat 6 bulan lalu Andrea juga minta izin untuk pulang ke Indonesia dan menemuiku. Akhirnya ia sudah bisa ambil cuti. Seperti biasa, aku tidak membalas emailnya dan ia mengerti bahwa aku masih belum mau bertemu.

Aku terharu karena sampai hari ini Andrea tidak berubah, ia menghormati keinginanku dan selalu meminta consent saat ia hendak masuk dalam wilayah privasiku. Aku tidak usah takut ia tiba-tiba akan muncul di depanku saat aku berjalan-jalan di Central Park seperti ini.

Kalau dulu ia menanyakan apakah aku mau bertemu dengannya, kini dia memberi tahu bahwa ia akan di Bali bulan depan. Terlepas dari apakah aku mau menemuinya atau tidak, Andrea tetap akan terbang ke Indonesia. Ini membuat hatiku gelisah.

Would I like to see him? Of course, in a heartbeat.

Should I see him? Could I see him?

Those are the million dollar questions.

Akhirnya aku memutuskan membalas emailnya.

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 58 - Akhirnya Bahagia

"Aku sayang banget sama kamu, Andrea," bisik Ludwina ke telinga Andrea, "Aku ingin menghabiskan setiap hari mencintaimu."Andrea membantu Ludwina membuka pakaiannya dan dengan sangat hati-hati mencumbu istrinya. Ia sungguh merindukan tubuh Ludwina dan bercinta dengannya. Ia selalu menahan diri setelah mereka berkumpul bersama karena takut membuat Ludwina sakit, tetapi hari ini istrinya yang berinisiatif untuk bercinta dan ia tidak akan mengecewakannya.Mereka bercinta dengan sangat lembut dan menikmati setiap detik kebersamaan itu, jauh lebih syahdu dari biasanya, karena mereka tahu setiap detik mereka bersama adalah sangat berharga.Andrea sangat lega melihat rona wajah kemerah-merahan Ludwina yang diliputi rasa bahagia saat mereka tidur malam itu. Ia berharap dapat membekukan momen itu selamanya.***Bu Inggrid, Pak Kurniawan dan Johann kaget setengah mati ketika akhirnya Andrea memberi tahu mereka tentang penyakit Ludwina. Atas permintaan istrin

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 57 - Ludwina Ingin Sembuh

Mereka tiba di coffee shop langganan mereka dan barulah Andrea meletakkan Ludwina di kursi. Ia memesan kopi favorit keduanya lalu duduk di samping Ludwina sambil menggenggam tangannya. Ia tak mau melepaskan gadis itu sama sekali. Takkan pernah lagi!"Kamu mau berapa lama di New York?" tanyanya saat mereka sedang menikmati kopinya. "Aku mesti beli baju banyak kalau kita akan lama di sini.""Aku nggak tahu..." jawab Ludwina. "Aku mesti ketemu dokterku untuk konsultasi lagi besok.""Oke, aku ikut ya." kata Andrea cepat.Ludwina mengangguk.Mereka tidak membahas penyakit Ludwina sampai keduanya tiba di hotel. Andrea merasa lebih baik jika ia mendengar langsung dari dokter. Ia tak ingin membuat istrinya stress dengan berbagai pertanyaannya.Setelah memastikan Ludwina beristirahat, Andrea pergi ke toko terdekat dan membeli pakaian. Ia menolak ditemani karena tidak ingin Ludwina menjadi kelelahan. Setelah kembali ke hotel ia memesan makanan dan mer

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 56 - Pertemuan Di Central Park

Karena Ludwina tidak mengangkat ponselnya, Andrea akhirnya menghubungi Johann untuk mencari tahu keberadaan istrinya. Dari Johann ia mengetahui bahwa Ludwina sudah berangkat ke New York. Andrea segera memesan penerbangan ke sana tetapi kemudian ia sadar bahwa visa Amerika yang ada di paspornya baru saja kedaluwarsa.Ia ingat 5 tahun lalu mengajukan visa Amerika karena berniat traveling ke sana bersama Ludwina tetapi mereka malah menikah di Bali dan baru berangkat setahun kemudian. Visa yang diperolehnya valid untuk 5 tahun dan baru berakhir minggu ini.Sungguh mematahkan hati. Ketika akhirnya ia mengetahui apa yang terjadi dengan Ludwina, Andrea tak bisa segera menyusulnya.Andrea buru-buru pulang ke Inggris dan mengajukan visa Amerika lewat kedutaan Amerika Serikat di London. Ia sangat gelisah dan tidak bisa tidur sambil menunggu visanya diproses. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari Ludwina dengan bekerja, tetapi tidak berhasil."Joe, aku perlu bicar

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 55 - Andrea Ke Singapura

Sebenarnya Ludwina patah hati saat meninggalkan Andrea di pantai. Ia tak pernah melihat suaminya menangis sebelumnya dan hatinya tercabik-cabik saat ia harus menampilkan wajah dingin dan pergi meninggalkannya begitu saja.Ini demi kebaikan Andrea, berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri.Ludwina segera meminta concierge memesankan taksi untuknya dan kembali ke Hotel Kanawa. Setibanya di sana ia segera masuk ke kamar dan mengurung diri. Tubuhnya merasa sangat lelah dan ia tak mampu bertemu siapa pun. Telepon dari Mbak Ria, editornya, pun harus ia tolak. Ia hanya mengirim SMS bahwa ia akan datang ke sesinya di UWRF besok dan hari ini ia ingin beristirahat dengan tanpa gangguan.***Andrea sebenarnya tergoda untuk datang ke UWRF dan melihat Ludwina lagi. Tetapi setiap mengingat betapa gadis itu masih belum memaafkannya, Andrea merasa sakit dan mengurungkan niatnya. Sepanjang hari ia hanya mencoba menghilangkan ke

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 54 - Pertemuan Dan Perpisahan Di Bali

Ludwina yang tiba di Hotel Hilton keesokan harinya mengira guest relation officer yang menemuinya juga mengenalinya sama seperti beberapa penggemar yang ia temui di Central Park. Ia mengikuti saja ketika staf itu membawanya ke kamar cantik menghadap laut yang ditinggali Andrea.Ia sebenarnya sudah check in di Hotel Kanawa milik ayahnya, sehingga ke Hilton hanya dengan membawa tas tangannya. Ia ingat bahwa hari ini adalah ulang tahun pernikahannya dengan Andrea. Mungkin ia akan menerima untuk makan malam bersama Andrea terakhir kalinya sebelum meminta dokumen perceraian itu dari suaminya dan mengakhiri pernikahan mereka.Ia melihat bunga dan prosecco dengan pita merah di kamar itu. Hatinya seketika terasa sakit, ia masih ingat dengan jelas malam itu ketika Andrea melamarnya. Ia melihat dua kemeja Andrea yang dibelikannya sebelum suaminya itu berangkat ke London dan pertahanannya runtuh.Ludwina kembali menangis untuk kesekian kalinya. Tadinya ia sudah mampu bersi

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 53 - Ludwina Mampir Ke London

Suasana menjadi syahdu dengan hujan rintik-rintik di luar jendela. Andrea lalu mengeluarkan sebotol wine dan dua gelas serta segelas jus untuk Ronan. Ia menuangkan wine untuk dirinya dan Adelina. Ia menyerahkan gelas berisi wine kepada gadis itu. Adelina menerimanya dengan sepassang mata masih berkaca-kaca."Sore-sore begini pas sekali untuk minum wine. Lumayan bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik." Andrea mendentingkan gelasnya ke gelas Adelina dan meneguk wine-nya. "Minumlah... biar kau merasa baikan."Adelina mengangguk dan menyesap wine-nya. Wajahnya yang suram perlahan-lahan tampak mulai cerah."Wine makes adulting bearable (Wine membuat orang dewasa bisa bertahan hidup)." katanya dengan senyum mulai menghiasi wajahnya. Keduanya tertawa kecil. Andrea mengangguk juga, membenarkan."Aku tahu kamu perempuan kuat, tapi kalau kamu merasa sedang sedih dan ingin berbagi, tempatku dan segelas wine selalu siap menunggu," kata Andrea kemu

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 45 - Permintaan Ludwina

Kabar yang diterimanya hari ini sungguh mematahkan hati. Ludwina menangis terisak-isak di lobi rumah sakit selama setengah jam hingga air matanya kering. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya, berita yang diterimanya dari kedua dokternya tadi sangat mengejutkan.Setelah air matanya kerin

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 44 - Berita Buruk Yang Datang Bersamaan

Ia harus mendapatkan opini dokter. Ia tak akan bisa merahasiakan kehamilannya dan memberi Andrea kejutan kalau suaminya ikut menemani ke dokter. Karena itulah ia menyuruh Andrea tetap berangkat ke kantor."Baiklah. Kamu jaga diri, Sayang. Aku telepon setiap jam ya. Aku sayang kamu." Akhirn

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 43 - Kamu... Ingin Punya Anak?

Ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga, Andrea dan Ludwina kembali ke Paris. Laura dan Pierre sudah menjadi orang tua. Mereka memiliki sepasang bayi kembar laki-laki yang lucu sekali berumur dua tahun. Julien dan Francoise memiliki wajah persis seperti Laura, tetapi matanya berwarna hijau ceme

Kisah Cinta Ludwina & Andrea   Bab 42 - Andrea Sangat Ingin Mempunyai Anak

Pembicaraan Ludwina dan Andrea terdengar oleh pasangan suami istri separuh baya yang duduk di dekat mereka, dan keduanya segera menyapa pasangan muda itu dengan ramah."Selamat siang, kalian dari Indonesia juga?" tanya sang wanita separuh baya, "Mau ke Jakarta?""Oh, hallo, Ibu... s

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy