loading
Home/ All /Kapan Hamil? (Indonesia)/Making Love. Making Live.

Making Love. Making Live.

Author: Maitra Tara
"publish date: " 2020-09-29 21:43:33

Setelah lima jam perjalanan, akhirnya pesawat pribadi yang ditumpangi oleh Virna dan Tiger mendarat di Jakarta. Virna melihat ke luar jendela, lampu-lampu di landasan pacu begitu gemerlap dan terasa romantis karena ada suaminya berada di sampingnya. Meski tengah sibuk dengan laptop di pangkuan, Tiger tak pernah mengalihkan perhatiannya dari Virna yang sedang mengenakan celana jeans warna hitam dan t-shirt warna senada. Lelaki itu begitu perhatian dan tak pernah mengabaikan Virna sesibuk apapun dirinya.

"Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Virna melepaskan sabuk pengamannya lalu berdiri. 

"Tidak, sweet heart. Ini sudah malam. Besok pagi saja. Oke?"

Virna mengerucutkan bibirnya. "Aku ingin melihat keponakan ku."

Huuffttt. Tiger menutup laptop dan meletakkannya di meja. Dengan sigap, pria yang berkulit bersih itu menarik tubuh Virna ke atas pangkuannya. "Dengarkan suami mu. Kau harus beristirahat malam ini."

"Apa kamu yakin aku bisa beristirahat?" tanya Virna memegangi tangan Tiger yang ototnya terlihat menonjol. Tangan yang sudah mendarat tepat di dada Virna yang tak mengenakan pelindung.

"Tergantung." Tiger mengerlingkan matanya dan bibirnya tersenyum lebar.

"Kamu rakus sekali bocah kecil!" Virna memencet hidung suaminya. Menatap ke dalam bola matanya yang berbinar. Sementara tangan Tiger, mengelus sesuatu yang menonjol di balik pakaian Virna.

"Aku memang rakus!" sahut Tiger memelintir puncak dada Virna. Perempuan itu mengaduh namun terdengar seperti erangan di telinga suaminya. Seksi sekaligus manja. 

"Jaga dulu kerakusan mu, Tuan Tiger!" Virna menjewer telinga suaminya dan memintanya untuk berdiri. Saat ini, ia ingin bertemu dengan saudara kembarnya. Keponakannya yang baru lahir dan menikmati udara di dunia yang disebut dengan bumi ini.

"Oh, lepaskan telinga ku, Sweety! Kau bisa mematahkan daun telinga ku!"

"Tenang saja! Aku akan menyambungkan kembali menggunakan lem alteko!"

***

"Selamat pagi, istri ku," bisik Raymond lembut ketika istrinya terlihat membuka mata. Sejak subuh, Raymond terus berada di samping Tara tanpa tidur, makan atau pun minum. Selesai mengurus bayi yang paling mbontot, Raymond kembali membaringkan tubuhnya di samping istrinya tercinta. Mengawasi setiap gerak geriknya. Mendengar suara napasnya yang berhembus dan membelai rambutnya yang basah oleh keringat. 

"Hmmm. Kamu masih di sini?" tanya Tara yang menggeliatkan tubuhnya yang tak bisa bebas bergerak. Pergerakan tubuhnya terbatas dan itu membuatnya sangat tak nyaman.

Tak pernah terpikirkan oleh Tara jika beginilah rasanya melahirkan anak. Normal iya, ditambah harus operasi caesar agar anaknya yang ke empat bisa lahir ke dunia dengan selamat.

Benar kata orang-orang, jika menjadi seorang ibu taruhannya adalah nyawa. Tak heran jika pepatah lama mengatakan bahwa surga seorang anak, adadi bawah telapak kaki ibunya.

"Di mana lagi aku harus berada kalau tidak di samping mu?" jawab Raymond mengelus pipi istrinya yang masih terbaring di ranjang rumah sakit. Ia masih sulit bergerak dan merasa nyeri karena bekas jahitan di perutnya dan juga robekan yang ada di antara pangkal pahanya. 

"Bagaimana anak-anak?" tanya Tara yang selalu bersemangat kalau membahas soal anak-anaknya. Ia ingin cepat keluar rumah sakit dan merawat buah hatinya. Sembilan bulan lebih mereka ada di perut Tara hingga perempuan itu sulit berjalan dan beraktifitas. Dan kini, saatnya untuk mengajari mereka hidup. Kehidupan yang keras. Kehidupan yang sesungguhnya.

"Ares, Hermes dan Ades tidur nyenyak. Ngompol saja mereka tidak menangis. Beda sekali dengan Cleo. Seperti kau waktu bayi. Rewel!" celetuk Raymond memencet hidung Tara dengan gemas. Sementara itu, perempuan yang kini telah sempurna karena telah menjadi seorang Ibu itu mengernyitkan dahi kemudian bertanya pada suaminya.

"Memangnya kamu tahu bagaimana aku saat masih beyi?"

"Ummm ... aku hanya menebaknya saja." Raymond salah tingkah kemudian turun dari ranjang. "Kau haus, kan? Akan aku ambilkan minum."

"Kamu sungguh mencurigakan, Mr. Rowan ...." Tara memonyongkan bibirnya. 

"Tapi aku tetap mencintai mu." Raymond mengerlingkan mata sambil menuangkan segelas air putih dan memberikannya pada Tara. 

Perempuan itu langsung mengambil gelas yang diberikan oleh suaminya lalu membasahi tenggorokannya dengan air langsung membasahi setiap aliran darahnya yang mengering. "Apa sakti dan Mala datang?"

"Tidak," jawab Raymond singkat. Lagipula, Raymond tak peduli mereka datang atau tidak. Karena jika mereka mengunjungi istrinya, tujuannya hanya satu. Uang. 

Beberapa kali Raymond ingin mengatakan hal yang sesungguhnya pada Tara tapi selalu urung karena tak ingin membuat wanita itu bersedih dan merasa ditipu. Merasa ditipu oleh sahabatnya dan juga suaminya. Seandainya saja Tara membuka kotak yang diberikan Raymond padanya sebelum lelaki itu bertandang ke Cina, pasti tak akan begini jadinya.

"Tidak. Mereka bahkan tidak menghubungi mu," jelas Raymond sekali lagi dan membetulkan selimut yang menutupi tubuh istrinya.

"Kamu sudah menyelidiki tentang Sakti, kan? Bagaimana hasilnya?" tanya Tara yang curiga karena setiap ditanya, Raymond selalu mengelak. Mereka bukan pengantin baru lagi dan Rantara sendiri tahu siapa dan apa yang dilakukan oleh suaminya. Dia tak akan pernah lupa bagaimana peluru yang menyambar bahunya hampir membuat nyawa Tara melayang. Ia juga belum lupa bagaimana Virna diculik. Dan kesimpulannya adalah bukan hal sulit bagi seorang Raymond Rowan untuk mencari tahu informasi tentang seseorang.

"Istriku?" Raymond duduk di tepi ranjang dan membelai pipi istrinya dengan sangat lembut. "Sekarang tugas mu adalah istrihat. Jangan memikirkan hal lain. Oke?"

Tara merekangkan kakinya kemudian berkata, "Benar juga! Kebetulan sekali kaki ku sangat pegal! Oh ... Tuhan. Ternyata melahirkan adalah hal yang melelahkan!"

Secepat kilat, Raymond langsung memposisikan dirinya ada di dekat kaki Tara dan memijit perlahan kakinya. 

"Bagaimana? Kau merasa nyaman?" tanya Raymond memastikan bahwa pijitannya tidak terlalu keras. 

Sementara itu, Tara hanya bisa merem melek. Nikmat dan sangat nyaman. "Lebih keras lagi, suami ku. Jangan lupa bagian jarinya. Pijit satu demi satu ... dan uhhhhh ... tolong pencet bagian telapak kakinya ... ahhhh ... nyaman sekali. Benar. Terus begitu," oceh Tara tak henti-hentinya. 

"Kalau kau mengantuk, tidurlah," suruh Raymond dengan lembut dan sesekali menciumi telapak kaki istrinya. Kaki itu, adalah kaki yang akan membantu anak-anak mereka melangkah dengan tegap dalam mengary kehidupan.

"Geli ... jangan lakukan itu, Mr. Rowan."

"Aku tidak bisa menahannya, istri ku," jawab Raymond terus menciumi kaki Tara hingga perempuan itu kegelian dan berusaha melepaskan kakinya dari tangan suaminya. "Aku terlalu mencintai mu."

Ya ampuuuuuun! Tara menepuk jidatnya. Ia melihat ke arah suaminya. Tubuh tinggi tegap, rahang kokoh, otot liat dan nampak sangar tapi sangat manis dan sangat lembut terhadap istrinya. Tara tak ingat bahwa suaminya pernah memarahinya. Tara terenyum dan meminta suaminya untuk mendekat. 

"Terima kasih karena telah mencintai ku," ucap Tara memeluk Raymond dengan hati-hati agar jahitan di perutnya tidak terbuka. 

"Seharusnya aku yang berterima kasih, sayang. Terima kasih karena telah mau menjadi istri ku. Terima kasih karena telah melahirkan anak-anak ku. Dan terima kasih karena kau berjuang untuk terus terus hidup," balas Raymond sambil mengelus rambut istrinya. Dan tanpa terasa, air matanya pun membasahi pipi. Tara dan anak-anaknya adalah hal yang sangat berharga baginya dan tak akan pernah bisa ditukar dengan apapun. Bahkan, oleh segunung emas dan berlian sekalipun.

"Ehem!" Suara Virna terdengar di kamar Tara dan dia pun langsung melihat ke arah pintu. Di sana, telah berdiri kakaknya, saudara kembarnya, Virna.  

"Mbak Virna!" teriak Tara.

"Apa aku mengganggu kalian, Tuan Putri? Kalian seperti pengantin baru saja."

"Jangan bilang kamu iri pada ku, Mbak?!"

"Iri? Itu tidak mungkin! Hahaha." Sementara kakak-beradik itu melepaskan rindu, Tiger dan Raymond meninggalkan mereka berdua dan memilih untuk pergi ke kantin. 

"Selamat, Bos. Kau telah menjadi seorang Ayah," kata Tiger menyesap kopi yang baru saja ia pesan. 

"Thanks. Berapa hari kau di sini?" 

"Mungkin hanya sampai besok."

"Kau tidak ingin mengajak Virna ke Cina?"

Tiger diam sesaat. Tentu saja dia sudah mengajak istrinya. Tapi, apa boleh buat? Perempuan itu tak mau selamanya mengekori suaminya. "Dia akan tinggal di sini, Bos. Tolong jaga dia."

"Jangan khawatir. Pikirkan saja bagaimana cara mu memberikan dia anak."

"Bos?"

"Pengertian lah sedikit. Kau tahu, kan Virna ingin sekali memiliki anak?!"

***

Note Author: Novel ini adalah sekuel Kapan Nikah. So,yang belum baca season 1 dan 2, baca dulu agar tidak bingung.

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Kapan Hamil? (Indonesia)   Tiger, Don't Die!

Pyar! Suara gelas yang terjatuh ke lantai pun membuat Tara tersentak. Dia sedang mengambil air minum di dapur tapi gelas yang ada di tangannya melesat begitu saja dan menghantam lantai. Perasaannya jadi tak enak. Ada hal ganjil yang menyusupi dadanya. Tak biasanya dia seperti ini. Apalagi, tangannya sampai terlihat gemetar seperti orang yang sedang kedinginan Bibi yang mendengar suara sesuatu yang pecah pun langsung lari tergopoh-gopoh padahal dia sedang bermain-main dengan Ares yang baru saja selesai dimandikan oleh perawat. "Haduh, Non. Non Tara tidak apa-apa, kan?" tanya Bibi cemas tapi Tara tak menyahut karena pikirannya sedang kalut. "Non? Non tidak apa-apa, kan?" tanya Bibi sekali lagi dan akhirnya suara Bibi membangunkan Tara yang masih diam t

Kapan Hamil? (Indonesia)   Karena Ibu Adalah ....

"Mbak Virna itu terlalu baik dan murah hati!" protes Tara yang sedang menyusui Ares dan Hermes. Ares menyusu pada payudara Tara di sebelah kanan dan Hermes di sebelah kiri. Kegiatannya sehari-hari selain menyusui ya mengajak anak kembarnya bermain. Kalau yang satu nangis, yang lain ikutan nangis. Yang satu ngompol, ketiganya ikut ngompol. Kalau yang satu sakit, yang lainnya ikut sakit selang beberapa hari kemudian. Anak kembar memang istimewa. Unik. Tubuh mereka seolah menjadi satu terutama emosinya. Tetapi, selain keistimewaan itu, Tara juga kerepotan mengurus mereka meskipun dibantu oleh baby sitter dan juga suaminya. Mau gimana lagi? Ares, Hermes, Ades dan Cleopatra adalah anak-anaknya. Bukan anak baby sitter. Jadi, yang paling banyak mengurus si kembar adalah dirinya dan juga Raymond. Bukan baby sitter! Dikira mudah mengasuh anak? Itu sebabnya dia yang paling pertama protes saat

Kapan Hamil? (Indonesia)   Cinta yang Tak Pernah Hilang

Selepas kepergian Virna, Firman menceritakan tentang keinginan mantan istrinya pada Rini bahwa Virna ingin membantu membiayai operasi Cica. Rini yang baru saja mendudukkan tubuhnya di atas tikar pun justru terlihat kelelahan sekaligus kesal. Cica baru saja tidur setelah menangis sesorean. Ruangan rumah sakit itu berisikan tiga ranjang. Untung saja yang dua lainnya belum terisi. Jadi, mereka tidak terganggu dengan tangisan Cica. "Mas lupa kalau mantan istri Mas lah yang membuat hidup kita jadi melarat seperti ini?" tanya Rini jengkel seolah dia lupa, bahwa dirinya lah yang merusak rumah tangga Virna dan menjadi orang ketiga diantara mereka. "Sudah lah, Rin. Virna tidak boleh disalahkan atas apa yang terjadi di hidup kita. Yang terpenting sekarang adalah Cica." "Mas masih cinta sama dia?" tanya perempuan yang sedang hamil tiga bulan itu

Kapan Hamil? (Indonesia)   Saling Memaafkan

Kapan Hamil? (Indonesia)   Hasil dari Perbuatan Masa Lalu

Virna dan Tiger sedang berada di ruangan Hilma. Seperti biasa, Tiger bersikap tenang setenang wajahnya yang tampan dengan rahang kokoh. Sedangkan Virna, dia sedang harap-harap cemas. Tangannya berkeringat sambil memperhatikan dokter kandungan yang ada di hadapannya itu. Hilma terlihat serius membaca laporan kesehatan Tiger yang ada di tangannya sembari sesekali membetulkan kacamatanya yang bertengger di hidungnya yang cukup tinggi untuk ukuran orang Indonesia. Dia tak mau melewatkan satu huruf pun. Apalagi, laporan ini adalah harapan dari sahabatnya sendiri. "Semuanya normal," kata Hilma begitu selesai membaca laporan kesehatan Tiger. Tak ada yang salah. Pria yang duduk di hadapannya itu tidak kekurangan satu apapun. Kesehatan fisik dan psikis juga oke. Tak ada masalah. &

Kapan Hamil? (Indonesia)   Kejutan!

Kapan Hamil? (Indonesia)   Karma?

"Virna?"Mata Firman terbelalak melihat perempuan yang barusan ditabraknya itu ternyata adalah mantan istrinya. Virna.Tubuh wanita itu kini makin berisi, wajah berseri, terlebih lagi pakaian

Kapan Hamil? (Indonesia)   Bertemu Mantan

Kapan Hamil? (Indonesia)   Best Husband

Virna menarik napas dalam-dalam ketika suara Sofi terus saja terdengar oleh telinganya. Kawannya itu memang tak pernah berubah. Cerewet dan memang suka memandang rendah dirinya karena dianggap tidak sekelas. Terlebih, Virna adalah yatim piatu yang hanya mengandalkan otaknya agar bisa k

Kapan Hamil? (Indonesia)   Virna di Bully

"Kamu yakin suami dan anakmu akan ikut?" bisik Virna di telinga Tara ketika Raymond sedang menyiapkan keperluan Cleopatra. Pria itu bergerak dengan semangat. Memasukkan popok, baju ganti, tissue basah dan kering, dan juga mainan ke dalam sebuah tas yang ukurannya cukup besar. Ben

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy