Memuat
Beranda/ Semua /Kapan Hamil? (Indonesia)/Gloomy Morning

Gloomy Morning

Penulis: Maitra Tara
"Tanggal publikasi: " 2020-09-22 09:44:39

Raymond terduduk lesu di depan ruangan bersalin karena belum juga ada kabar dari Hilma. Tangannya memangku kepalanya yang terasa berat dan hatinya, tak henti-hentinya memanjatkan doa. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana hidupnya akan berjalan jika Tara tak ada di sisinya. 

"Tidak, Ray. Ran pasti baik-baik saja. Istrimu perempuan yang kuat! Terlebih lagi, ada empat orang anak yang membutuhkan belaian dan kasih sayang!" Raymond berbicara pada dirinya sendiri. Berusaha menenangkan batinnya meski sulit. 

Tak sanggup lagi terdiam dalam kekhawatiran, Raymond pun berdiri. Dia memutuskan pergi ke ruang rawat bayi yang ada di ujung lorong.

"Sebelah sini, Pak," kata seorang perawat yang sudah tahu maksud dan tujuan Raymond. Pria itu hanya tersenyum tanpa mengucapkan terima kasih lalu berjalan pelan ke sebuah tempat tidur bayi yang berisi anak-anaknya. Tiga laki-laki dan satu perempuan. 

"Terima kasih karena kalian telah lahir dengan selamat," ucap Raymond pelan sembari mengelus pipi anak-anaknya yang kemerahan. Mereka sedang tertidur pulas dalam bedongan yang hangat. Dan wajah putrinya, sama persis seperti saat pertama kali lelaki itu melihat Tara untuk pertama kali.  

Raymond mengangkat tubuh kecil putrinya, menimang-nimang dengan mata yang berkaca. "Cleo, bantu Mama agar bisa sehat kembali. Oke?" katanya Pelan pada Cleo, nama yang sudah ia rancang bersama istrinya.

Tara berharap putrinya bisa seperti Cleopatra yang merupakan ikon kecantikan dunia sampai saat ini. Cleoptara lahir pada tahun 69 Sebelum Masehi dan ia merupakan salah satu Firaun (raja) wanita Mesir terakhir yang menggunakan senjata “kewanitaan” untuk mempertahankan takhta dan pengaruhnya di dalam kerajaan. Cleopatra bahkan membuat Julius Caesar sang Kaisar Romawi tunduk di kakinya. Ya, meskipun banyak masyarakat yang menganggap bahwa Cleopatra hanya mengandalkan kecantikan, tapi Tara percaya bahwa wajah ayu, tubuh molek, tak akan cukup untuk membuat seorang perempuan menjadi pemimpin sebuah negara. Ia meyakini bahwa Cleopatra adalah perempuan yang tak hanya cantik, namun juga memiliki kecerdasan yang luar biasa. 

"Mas Remon! Dicari Bu dokter!" teriak Bibi yang lari tergopoh-gopoh dari ambang pintu. 

"Terima kasih, Bi. Lain kali jangan lari-lari," jawab Raymond kemudian meletakkan Cleo kembali ke dalam ranjang bayi tapi justru ia menangis dengan keras. Ia memanggil perawat untuk menggendong Cleo dan memintanya memberikan susu. Barangkali peri kecilnya merasa lapar. Tetapi, ketika perawat mengangkat tubuhnya, tangisan Cleo malah makin menjadi dan disusul tangisan ke tiga saudaranya.

"Haduh ... kok malah pada nangis semua?" keluh Bibi yang langsung mendekati keranjang bayi dan mencoba menenangkan majikan kecilnya itu. Tapi, saat Bibi mencoba menghibur, tangis mereka malah makin kencang dan suara yang terdengar cempreng serta paling keras adalah Cleo. Raymond mendesah, merasa cemas, padahal mereka tidak sedang lapar, pun popoknya masih kering.

Raymond akhirnya urung pergi dan kembali mendekati Cleo, saat ia menggendong putrinya, tangisan Cleo langsung berhenti diikuti ketiga saudara lelakinya. Raymond mendesah dan menyunggingkan senyuman. Cleo persis seperti istrinya. Manja, ingin diperhatikan dan diikuti kemauannya. Barangkali, dia jugalah yang meminta kakak-kakaknya untuk menangis agar Raymond mau menggendongnya. 

"Bibi di sini saja jaga anak-anak. Saya akan bawa Cleo," pinta Raymond yang tanpa menunggu jawaban, ia langsung berjalan menuju ke ruang khusus untuk istrinya.

Di sana, ia melihat Tara masih terbaring tak sadarkan diri. Suara mesin pendeteksi detak jantung mengiringi setiap hembusan napas Tara. Pun alat pernapasan yang dipasangkan ke hidungnya, membuat Raymond langsung menitikkan air mata. Belum lagi darah yang terlihat mengalir di sendinya melalui jarum yang terpasang di tangannya. Dadanya terasa sesak dan kalau saja ia bisa menggantikan kehamilan dan bahkan melahirkan, Raymond tak akan menolak. 

"Bangunlah, sayang ... anak-anak kita membutuhkanmu," ucapnya kemudian sebelum sosok Hilma muncul dengan wajah lelahnya.

"Sekarang istrimu baik-baik saja ... dia mengeluarkan terlalu banyak darah setelah melahirkan bayi yang terakhir. Dia mengeluarkan anakmu dengan sekuat tenaga. Kalau saja dia pingsan saat itu juga, terpaksa kami harus melakukan operasi untuk mengeluarkan bayi dari dalam janin."

"Syukurlah. Terima kasih, Hilma," jawab Raymond lega kemudian menaruh Cleo di samping Tara yang masih tak sadarkan diri karena obat bius. 

"Sudah menjadi tugasku. Aku pergi dulu, kalau butuh sesuatu panggil saja," balas Hilma kemudian keluar dari ruangan itu dan Raymond pun langsung duduk di tepi pembaringan.

"Terima kasih, istriku karena telah berjuang dengan keras," ucap Raymond lembut lalu memberikan ciuman kecil di dahi istrinya.

"Mas Remon! Mas Remon!" Bibi memanggil dari balik pintu dan Raymond pun menoleh. "Anak-anak pada nangis semua!" lanjut Bibi bingung karena sejak tadi Ares, Hades dan Hermes tak berhenti menangis.

Raymond pun menyentuh pipi Cleo yang terlelap di samping Tara kemudian pergi ke ruang bayi diikuti oleh Bibi yang berjalan tergopoh-gopoh.

"Suster, tolong bawakan keranjang bayi ke ruangan istri saya," pintanya sambil menggendong anak yang lahir untuk pertama kali. Ares. Atau yang dalam bahasa Yunani disebut sebagai dewa perang. 

"Bibi tolong bawa Hermes, biar suster yang menggendong Hades."

"Baik, Mas! Oya, ibu dan bapak pulang ke rumah. Tadi gak sempat pamitan sama Mas Remon."

"Tidak apa-apa, Bi. Bibi pulang saja setelah ini. Bantu om dan tante di rumah."

*****

Seoul, Korea ....

Matahari mulai menampakkan wajahnya dengan malu-malu. Masih setengah enam dan terlalu dini bagi Virna untuk bangun namun ia tidak bisa kembali tidur. Pikirannya tentang obrolan bersama Tiger masih menggelayut di otaknya. 

"Tuhan ... di duniamu yang luas ini, tolong berikan keajaibanmu padaku," batin Virna sambil melipatkan tangannya di depan dada. Ia berharap agar secepatnya dia menjadi wanita yang sempurna. Wanita yang seutuhnya.

Saking khidmatnya Virna berdoa, ia sampai tidak menyadari bahwa Tiger yang baru saja bangun dan masih polos tanpa pakaian memeluknya dari belakang. 

"Eh?" 

Virna membuka kedua kelopak matanya kemudian membalikkan tubuhnya yang hanya mengenakan piyama tipis berwarna putih. "Mandi dan pakailah bajumu!" protes Virna karena Tiger terus saja mengendus tubuhnya.

"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Tiger makin mengeratkan pelukannya dan melihat jauh ke dalam bola mata Virna. Dia tahu apa yang ada di pikiran istrinya. 

"Maka aku akan melakukan ini," tantang Virna yang jemarinya telah menguasai bagian dari tubuh Tiger yang menegang dan mengeras.

Tiger memencet hidung Virna dengan gemas. "Sweet heart, kau nakal sekali!" 

"Tapi kamu menyukainya, kan?!" jawab Virna mengerlingkan mata kemudian langsung berjongkok di hadapan suaminya dan mengulum habis milik Tiger yang sudah sangat keras dan otot-otot nya terlihat. Virna memainkan lidah dan bibirnya di sana. Sesekali dia juga menghisap kuat hingga Tiger kelimpungan. Tidak hanya sekali dua kali istrinya melakukan itu tapi Tiger tak pernah bosan. Istrinya selalu bisa mengundang gejolak di dadanya dan membuatnya semakin membara. 

"Apa kamu mau mencoba hal gila?" tanya Virna mendongak ke atas. Wajahnya memerah dan bibirnya terlihat sedikit lebih tebal dan terbuka. 

"Apa?"

Jari telunjuk Virna menunjuk ke arah balkon dan tanpa ragu Tiger langsung mengangkat tubuh istrinya menuju luar kamar yang langsung menghadap ke arah matahari terbit.


*Komen dan masukkan novel ini ke rak kalian. Luv ....

Ingin tahu kelanjutannya?
Lanjutkan Membaca
Bab Sebelumnya
Bab selanjutnya

Bagikan buku ke

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Bab terbaru

Kapan Hamil? (Indonesia)   Tiger, Don't Die!

Pyar! Suara gelas yang terjatuh ke lantai pun membuat Tara tersentak. Dia sedang mengambil air minum di dapur tapi gelas yang ada di tangannya melesat begitu saja dan menghantam lantai. Perasaannya jadi tak enak. Ada hal ganjil yang menyusupi dadanya. Tak biasanya dia seperti ini. Apalagi, tangannya sampai terlihat gemetar seperti orang yang sedang kedinginan Bibi yang mendengar suara sesuatu yang pecah pun langsung lari tergopoh-gopoh padahal dia sedang bermain-main dengan Ares yang baru saja selesai dimandikan oleh perawat. "Haduh, Non. Non Tara tidak apa-apa, kan?" tanya Bibi cemas tapi Tara tak menyahut karena pikirannya sedang kalut. "Non? Non tidak apa-apa, kan?" tanya Bibi sekali lagi dan akhirnya suara Bibi membangunkan Tara yang masih diam t

Kapan Hamil? (Indonesia)   Karena Ibu Adalah ....

"Mbak Virna itu terlalu baik dan murah hati!" protes Tara yang sedang menyusui Ares dan Hermes. Ares menyusu pada payudara Tara di sebelah kanan dan Hermes di sebelah kiri. Kegiatannya sehari-hari selain menyusui ya mengajak anak kembarnya bermain. Kalau yang satu nangis, yang lain ikutan nangis. Yang satu ngompol, ketiganya ikut ngompol. Kalau yang satu sakit, yang lainnya ikut sakit selang beberapa hari kemudian. Anak kembar memang istimewa. Unik. Tubuh mereka seolah menjadi satu terutama emosinya. Tetapi, selain keistimewaan itu, Tara juga kerepotan mengurus mereka meskipun dibantu oleh baby sitter dan juga suaminya. Mau gimana lagi? Ares, Hermes, Ades dan Cleopatra adalah anak-anaknya. Bukan anak baby sitter. Jadi, yang paling banyak mengurus si kembar adalah dirinya dan juga Raymond. Bukan baby sitter! Dikira mudah mengasuh anak? Itu sebabnya dia yang paling pertama protes saat

Kapan Hamil? (Indonesia)   Cinta yang Tak Pernah Hilang

Selepas kepergian Virna, Firman menceritakan tentang keinginan mantan istrinya pada Rini bahwa Virna ingin membantu membiayai operasi Cica. Rini yang baru saja mendudukkan tubuhnya di atas tikar pun justru terlihat kelelahan sekaligus kesal. Cica baru saja tidur setelah menangis sesorean. Ruangan rumah sakit itu berisikan tiga ranjang. Untung saja yang dua lainnya belum terisi. Jadi, mereka tidak terganggu dengan tangisan Cica. "Mas lupa kalau mantan istri Mas lah yang membuat hidup kita jadi melarat seperti ini?" tanya Rini jengkel seolah dia lupa, bahwa dirinya lah yang merusak rumah tangga Virna dan menjadi orang ketiga diantara mereka. "Sudah lah, Rin. Virna tidak boleh disalahkan atas apa yang terjadi di hidup kita. Yang terpenting sekarang adalah Cica." "Mas masih cinta sama dia?" tanya perempuan yang sedang hamil tiga bulan itu

Kapan Hamil? (Indonesia)   Saling Memaafkan

Kapan Hamil? (Indonesia)   Hasil dari Perbuatan Masa Lalu

Virna dan Tiger sedang berada di ruangan Hilma. Seperti biasa, Tiger bersikap tenang setenang wajahnya yang tampan dengan rahang kokoh. Sedangkan Virna, dia sedang harap-harap cemas. Tangannya berkeringat sambil memperhatikan dokter kandungan yang ada di hadapannya itu. Hilma terlihat serius membaca laporan kesehatan Tiger yang ada di tangannya sembari sesekali membetulkan kacamatanya yang bertengger di hidungnya yang cukup tinggi untuk ukuran orang Indonesia. Dia tak mau melewatkan satu huruf pun. Apalagi, laporan ini adalah harapan dari sahabatnya sendiri. "Semuanya normal," kata Hilma begitu selesai membaca laporan kesehatan Tiger. Tak ada yang salah. Pria yang duduk di hadapannya itu tidak kekurangan satu apapun. Kesehatan fisik dan psikis juga oke. Tak ada masalah. &

Kapan Hamil? (Indonesia)   Kejutan!

Kapan Hamil? (Indonesia)   Karma?

"Virna?"Mata Firman terbelalak melihat perempuan yang barusan ditabraknya itu ternyata adalah mantan istrinya. Virna.Tubuh wanita itu kini makin berisi, wajah berseri, terlebih lagi pakaian

Kapan Hamil? (Indonesia)   Bertemu Mantan

Kapan Hamil? (Indonesia)   Best Husband

Virna menarik napas dalam-dalam ketika suara Sofi terus saja terdengar oleh telinganya. Kawannya itu memang tak pernah berubah. Cerewet dan memang suka memandang rendah dirinya karena dianggap tidak sekelas. Terlebih, Virna adalah yatim piatu yang hanya mengandalkan otaknya agar bisa k

Kapan Hamil? (Indonesia)   Virna di Bully

"Kamu yakin suami dan anakmu akan ikut?" bisik Virna di telinga Tara ketika Raymond sedang menyiapkan keperluan Cleopatra. Pria itu bergerak dengan semangat. Memasukkan popok, baju ganti, tissue basah dan kering, dan juga mainan ke dalam sebuah tas yang ukurannya cukup besar. Ben

Bab Lainnya
Unduh Buku
GoodNovel

Unduh Buku Gratis di Aplikasi

Unduh
Cari
Pustaka
Pencarian
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Cerita Pendek
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
MenulisKeuntungan PenulisLomba
Genre Populer
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Hubungi kami
Tentang kamiHelp & SuggestionBisnis
Sumber
Unduh AplikasiKeuntungan PenulisKebijakan KontenKata kunciPencarian PopulerUlasan bukuFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Komunitas
Facebook Group
Ikuti kami
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Syarat Penggunaan|Kebijakan Privasi