Download the book for free
Makan malam
Author: ZahiraHari menunjukkan pukul 17.30.
Rena yang dari tadi menunggu pesanan makanannya lewat aplikasi smartphone mulai gelisah. Ia melewatkan camilan sorenya gara-gara menunggu tukang pengantar makanan yang telat datang. Kesepakatan dengan para pengelola toko adalah salad buah dan puding mangga diantar pukul 16.40. Tapi sampai saat ini pesanan itu belum sampai juga.Ketukan di pintu membuatnya bangkit terburu-buru dari sofa tempat duduknya, ia membuka pintu secepat mungkin.Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Janji jiwa Hilangnya Rizal
Di ruangan khusus bayi Soni dan Deno sedang menggendong bayi Rena yang sudah bisa keluar hari ini dari incubator. Mereka sangat senang melihat anak Rena yang sudah semakin kuat dan sehat. Rencananya mereka akan bergantian menjaga bayi itu atau mereka akan menyewa baby sitter untuk mengasuh bayi ini sampai Rena benar-benar sehat. Karena saat ini kondisi Rena sudah lebih baik sejak 5 hari kebelakang.“Halo sayang papa. Gimana nak? Kamu sudah boleh pulang sama papa yah,” ujar Soni seimut mungkin.Dia sangat gemas dengan bayi kecil itu, rasanya pengen menggiigit pipi merah itu.“Nak, ayo lihat yang disebelah papa ini. Orang hitam dan jelek ini, lihatkan …. Hahahaha, panggil dia ayah ya nak. … mmmuach, gemes banget sih kamu sayang.”Deno hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya ini. Tapi dia juga senang bisa menjaga bayi itu berdua dengan Soni walau pun Soni sangat humoris, a
Janji jiwa Sedikit kesadaran
Deno saat ini tengah panik dikarenakan anak bungsu Rena yang mengalami kelainan pembuluh darah sedang kritis. Hanya ada dia sendiri di rumah sakit, sedangkan Rizal yang dari tadi dihubungi tidak bisa menyambung. Dokter telah memberikan tindakan untuk menangani bayi tersebut.“Ya Tuhan. Kemana perginya Rizal,” ujarnya sendiri.Dia mondar-mandir didepan pintu ruangan si bayi menunggu kabar dari dokter. Satu setengah jam yang lalu bayi itu menampakkan kembali gejalanya, tapi lebih parah dari yang kemarin. Bercak merahnya bertambah besar di bagian badan dan punggungnya.Pintu ruangan dibuka, “Dokter, bagaimana bayinya dok?” tanya Deno cemas.“Maaf, pak. Bayinya tidak bisa bertahan. Karena kondisi lahirnya premature dan ditambah kelainan pembuluh darah yang dibawanya. Gejala itu sudah parah sehingga kami tidak bisa melakukan pertolongan lagi. Maaf, ya pak.” ujar dokter dengan wajah berduka.
Janji jiwa Rahasia Rizal
Tiga hari sudah Rena terbaring koma di kamar ICU ditemani selang infus yang menggantung. Selang itu satu-satunya sumber kehidupan bagi tubuh Rena. Layar monitor di sampingnya bergerak naik turun sesuai irama detak jantung.Rena menunjukkan bahwa dirinya ingin berjuang. Tubuhnya diam tak bergerak, matanya terpejam meski sedikit senyum di bibir tipisnya. Rena seperti tertidur, tapi sejatinya sedang berada di jurang antara hidup dan mati.Keluarga dekat selalu hadir bergantian menjaga Rena. Termasuk Deno yang tak pernah absen menemani.“Deno hari ini aku minta tolong kamu jaga Rena ya. Hari ini aku harus kembali bekerja, karena proyek yang aku tangani bulan ini harus segera dirancang. Desainnya masih enam puluh persen lagi, aku harus kejar ketertinggalan. Gak apa-apa kan,” ujar Rizal kepada Deno.Deno baru saja dari ruangan bayi melihat anak-anak Rena. Semalam ia pulang bersitirahat karena tenag
Janji jiwa Kabar duka
Setelah menunggu lebih dari dua jam akhirnya dokter keluar dari ruangan. Mereka semua bergegas mendekati dokter. Terutama Rizal yang sangat cemas dengan keadaan Rena.“Dokter …” Rizal hanya mampu sebatas memanggilnya saja, tak kuasa bertanya keadaan istrinya. Semua keluarga cemas menanti penjelasan dan jawaban dokter yang terlihat begitu serius.“Dokter, bagaimana Rena? Apakah bayinya selamat?” tanya ibu Rena yang sangat panik.“ Operasinya sementara berhasil. Bayinya lahir premature dan keduanya berjenis kelamin laki-laki, walaupun memiliki tanda kehidupan, tapi kemungkinan untuk tetap hidup tidak lebih dari dua puluh persen! Karena bayi yang nomor dua mengalami kelainan pembuluh darah. ” ujar dokter menjelaskan.Semua yang ada disana sangat kaget mendengar berita buruk itu. Apa jadinya bayi yang baru lahir premature mengalami kelainan pembuluh darah. Rizal yang selaku sua
Janji jiwa Kekuatan
Hal pertama yang dirasakan Rizal saat ia bangun adalah bau desinfektan yang sangat menyengat di indera penciumannya. Perlahan, kelopak matanya bergerak terbuka. Menampakkan netra hitam kelam dan tajam.Rizal terbaring disebuah kamar kecil dengan background warna putih. Sebuah selang infus terhubung di lengan kirinya, menyalurkan nutrisi melalui cairan transparan. Rizal mencoba bergerak dan merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit. Terutama bagian dada dan kaki kirinya. Tangan Rizal bergerak merayap memastikan kondisinya sendiri. Ada sesuatu yang langsung merasuk ke pikirannya, hingga menyesak sampai ke dadanya.Hal terakhir yang Rizal ingat adalah, dia terkulai lemas di lantai ruang istirahat dan menangkap ucapan terakhir dari Deno yang memberitahukan kalau Rena sedang di ruang UGD rumah sakit. Mengingat itu dia merasa dadanya terasa sakit, jantungnya berpompa lebih cepat. Ingin rasanya dia berteriak memanggil nama Rena hingga suara
Janji jiwa Kabar buruk
Saat ini Rizal tengah melakukan perjalanan proyek ke daerah Cileungsi, ia sedang bersama dengan pengawas dan para pekerja lapangan. Rizal berencana merancang model perumahan layak huni khusus untuk keluarga kecil. Modelnya sederhana dan minimalis, dengan luas bagunan yang berfariasi; mulai dari tipe 21, tipe 36, tipe 45, dan tipe 54. Semua tipe memiliki desain yang berbeda-beda, termasuk juga harga yang menjadi acuan bagi opsi pembeli.Rizal sudah melihat tempat perumahan yang akan di bangun, menurutnya lokasi itu sangat strategis, bebas banjir, nyaman dari keramaian, dan, sangat cocok bagi yang berkeluarga. Rizal sudah menentukan semua desain itu dari sebulan yang lalu.“Pak, ayo kita istirahat dulu.” Ujar pengawas kerja menawarkan kepada Rizal.“Baik pak. Mari silahkan,” sahut Rizal melangkah. Belum beberapa langkah setelah itu, tiba-tiba saja Rizal mengaduh. “Aduh!” Kaki Rizal
Janji jiwa Perubahan Rena
Satu jam Rena menghabiskan waktu memasak makanan untuk Rizal. Dari tadi ia sibuk di dapur berkeringat. Rena ingin membuat Rizal senang terhadap masakan yang dibuatnya. Sambil memutar lagu di smartphone, Rena menyelesaikan semua bahan-bahan mentah hingga semua tersedia di piring.
Janji jiwa Ingatan Rena
Pagi ini Rena tinggal sendirian dirumah sementara Rizal pergi bekerja. Rena sedang rebahan di sofa kecil di ruang tamu. Sambil mengingat kenangannya waktu bersekolah dulu. Ingatan Rena kembali pada masa lalu. Suatu ketika ia pernah bertemu dengan Rizal. Mereka dulu seangkatan di sekol
Janji jiwa ++ MATURE ++
Rena membuka matanya yang kecoklatan. Ranjangnya kemudian berderak seperti dinaiki seseorang. Matanya melirik ke samping lalu melihat sosok pria yang ia rindukan hadir di sebelahnya."Kenapa Ren," ujar suaminya Rizal.Rizal kemudian mengejapkan mata lalu menatap Rena. Ia men
Janji jiwa Hasrat Rena
Matahari sudah menampakkan sebagian cahayanya. Suasana terasa nyaman dan sejuk. Rena mengerjapkan matanya, meregangkan otot kakunya. Ia menoleh ke jam dinding. Hari menunjukkan pukul 5 pagi. Rena mulai menggerakkan badannya untuk duduk, cukup nyaman untuk udara pagi ini. Disampingnya Rizal masih
