Download the book for free
Prologue
Author: Cherry Blossom"Sialan...." Vanilla mengumpat pelan. "Daniel, antar aku ke rumah Beck."
"Baik, Nona." Sopirnya dengan patuh mengejawantahkan perintah Vanilla.
Di depan pintu gerbang rumah Beck, Vanilla hanya perlu memasukkan kode akses keamanan tanpa harus repot-repot memanggil siapa pun untuk membuka gerbang. Teknologi sekarang sangat canggih, semua bisa di akses melalui ponselnya. Gadis itu juga hanya cukup memasukkan kode keamanan pada pintu utama rumah mewah yang ditinggali Beck lalu melangkah dengan langkah kaki panjang menuju tangga yang berbentuk setengah lingkaran di tengah-tengah ruangan.
Tiba di lantai atas ia langsung menuju kamar Beck dan mendorong pintu dengan kasar membuat dua orang yang sedang bergumul di atas tempat tidur menghentikan aktivitas mereka dan memisahkan diri.
"Jadi, ini caramu menyambut tunanganmu yang baru kembali?" tanya Vanilla sambil menyandarkan bahunya di tiang pintu. "Suruh pergi jalangmu itu atau aku sendiri mengirimkan bukti kepada Mama." Ia mengarahkan ponselnya menuju ranjang di mana Sophie kekasih Beck menutupi tubuhnya menggunakan selimut yang melingkar di dadanya.
"Vanilla, jaga bicaramu!" hardik Beck. Matanya menyorot tajam Vanilla penuh kebencian.
"Pilihan ada di tanganmu, Beck." Vanilla mengambil beberapa foto Beck dan Sophia. "Aku tunggu lima menit, jauhkan kekasih tersayangmu itu atau foto ini sampai ke Mama," ancamnya sambil menampakkan layar ponselnya kepada Beck, menggoyangkan benda itu lalu membalikkan badannya meninggalkan kamar itu.
Terkutuklah kau, Beck!
"Sudah kukatakan, kita tidak memiliki hubungan apa pun lagi, Vanilla." Beck menipiskan bibinya, menatap gadis di depannya dengan cara yang teramat sinis. Beck baru saja mengantarkan Sophie keluar dari rumahnya lalu ia sendiri menyusul Vanilla yang berada di dapur.
Tanpa menoleh ke sumber suara gadis itu tersenyum manis. Berbeda dengan sikap sinis yang Beck tunjukkan kepadanya. "Aku tunanganmu, Beck." Ia membuka lemari pendingin makanan lalu mengeluarkan sebotol minuman dingin.
Beck menyipitkan matanya. "Tidak lagi sejak kau meninggalkan aku, Vanilla."
Vanilla membuka penutup botol, menikmati air dingin yang mengalir melewati kerongkongannya kemudian menutup kembali botol di tangannya sebelum ia mencampakkan benda itu ke tempat sampah.
"Sayangnya aku tidak merasa kita telah berakhir, pertunangan kita masih berjalan seperti yang orang tua kita sepakati," ujar Vanilla sambil berjalan melewati Beck.
Gadis itu meraih tas tangannya yang tergeletak di atas meja pantri lalu berjalan tanpa menoleh ke arah Beck. "Ganti semua isi kamarmu dan jangan coba-coba membawa Sabun itu ke rumah ini lagi karena aku, tunanganmu telah kembali," ucapnya dengan nada acuh seolah tidak pernah menyaksikan Beck bergumul dengan Sophie beberapa menit yang lalu.
Ia baru saja kembali dari New York setelah empat tahun lamanya menimba ilmu di sana dan mendapatkan gelar sarjananya. Empat tahun yang lalu Beck marah besar atas keputusan Vanilla karena gadis itu lebih memilih studinya, mereka bahkan terlibat dalam perang dingin dan tidak pernah berkomunikasi selama itu. Vanilla tidak pernah berusaha untuk menanyakan kabar tunangannya, begitu juga Beck. Keduanya saling bungkam mempertahankan ego mereka.
Beck adalah tetangga Vanilla, sahabatnya sekaligus penjaganya sejak ia masih kecil. Beck selalu marah setiap kali Vanilla berdekatan dengan anak laki-laki di sekolah tetapi Beck sendiri, ia bergonta-ganti mengencani gadis yang tidak terhitung jumlahnya. Hingga mereka akhirnya memutuskan untuk menerima perjodohan yang di atur oleh keluarga mereka. Vanilla menerima, sedangkan Beck tidak. Tepatnya begitu.
Soap = sabun
Teman-teman selamat membaca.
Salam manis dari Cherry yang manis.
🍒
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
I Win You (Indonesia) 16. Red Roses
"Jadi, bodyguard-mu telah berganti?" tanya Stefano, ia menjauhkan lengannya dari puncak Vanilla. "Astaga, jangan pedulikan dia, aku baru saja menolaknya," ucap Vanilla setengah berbisik.
I Win You (Indonesia) 15. My Darl
Chapter 15 My Darl
I Win You (Indonesia) 14. An Idol
Chapter 14An Idol"Jangan katakan kau memerlukan pelepasan sepagi ini, Nick." Charlotte yang berdiri di belakang nick mengecup bibir Nick yang sedang duduk menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.Charlotte, ia adalah sahabat Nick sejak kecil. Sama seperti Beck dan Vanilla. Tetapi, hubungan mereka lebih santai, Nick mencari Charlotte saat ia memerlukan pelampiasan mendesak. Begitu juga Charlotte, ia tidak keberatan bagaimanapun cara Nick memperlakukannya. Mereka berdua bebas, Nick bebas berkencan dengan gadis lain begitu juga Charlotte yang bebas berkencan dengan pria lain."Tidak, aku hanya perlu kau mendengarkan masalahku," ujar Nick. "Sialan,
I Win You (Indonesia) 13. Confused
Chapter 13Confused Vanilla baru saja memasuki ruang makan dan tertegun mendapati siapa yang ada di sana. Nick, pria itu duduk di kursi makan sedang menikmati sarapan di rumahnya bersama Xaviera."Nick...." Vanilla justru seolah mengerang memanggil nama pria itu."Sayang, selamat pagi. Ayo, kemarilah," ucap Xaviera, wanita itu sedang menuangkan susu ke dalam gelas.Sementara Nick, pria itu hanya menyeringai. Tetapi, tatapan matanya menatap Vanilla lembut, penuh kerinduan seolah-olah telah bertahun-tahun tidak melihat gadis itu.
I Win You (Indonesia) 12. Wild kissing
Chapter 12Wild KissingDi dalam bangunan yang terbuat dari kaca, Vanilla memekik, tubuhnya bergetar hebat, ia nyaris tidak bisa bernapas dengan benar. Kedua pahanya melingkar di antara pinggang Nick, ia mengalungkan lengannya di leher Nick sementara wajahnya berada di antara ceruk leher pria itu. Seumur hidupnya yang ia ingat, ia hanya pernah melihat harimau di televisi. Mungkin pernah melihat di kebun binatang ketika ia masih kecil, yang jelas ia tidak mengingatnya.Kucing yang Nick maksud adalah lima ekor harimau besar, sangat besar seperti seekor sapi hanya saja tingginya tidak setinggi sapi. Harimau itu terdiri dari tiga ekor harimau berwarna kuning dan dua ekor berwarna putih. Harimau-harima
I Win You (Indonesia) 11. In My Arms
Chapter 11In My ArmsSuasana tampak lengang, hanya suara kertas yang di bolak balik sesekali terdengar memecah keheningan."Ma, ayolah... bantu aku berpikir." Sophie merengek kepada wanita di depannya yang sedang membolak-balik tabloid."Sejak dulu sudah kukatakan jika Beck itu tidak baik untukmu, aku berulang kali mengenalkan anak-anak klienku yang jauh lebih kaya. Tapi, kau dibutakan cinta.""Kau mengenalkan aku pada pria tua," sungut Sophie."Hanya lebih tua beberapa tahun, bukan masalah. Yang penting uang mereka banyak." N
