Download the book for free
Scene 8
Author: Rose MarberrySaatnya menebar pesona.
Berbekal info dari Galvin, hari ini Cheryl berencana menemui sang pangeran berkuda poni. Jadi, Juna dan kawan-kawan, akan mabar alias main game bersama di cafe yang pernah Cheryl kunjungi dan berakhir sial. Dan hari ini Cheryl mencoba mencari peruntungan lain.
Semenjak punya crush, Cheryl jadi rajin berdandan sekarang. Bahkan gadis itu, memakai lipstik berwarna pink yang lumayan menyilaukan mata, saking tebalnya.
"Emuah." Cheryl berpose ala-ala selebgram yang berfoto sambil memanyunkan bibir. Mawar jengah, melihat tingkah sahabatnya. Jadi, Cheryl memaksa Mawar agar mereka berjumpa kali ini. Cheryl harus menemui Juna langsung dan menyatakan perasaannya. Entah Cheryl bisa atau tidak, kita saksikan saja nanti bersama. Tapi, satu yang Cheryl yakini, Juna akan jatuh ke pelukannya.
"Udah cantik belum ya?" Sepanjang perjalanan, Cheryl berkaca, bahkan ia membenarkan bedaknya dengan jumlah yang tak terhitung. Cheryl mengambil parfum Mawar, lagi-lagi Mawar hanya bisa mengurut dadanya. Tingkah sahabatnya begitu ajaib.
"Lama-lama tuh muka jadi hitam, ketebalan bedak." Cheryl menoleh pada Mawar yang membuat perhatiannya teralihkan.
"Kebiasaan, nggak bisa lihat orang senang." Gerutu Cheryl. Sebenarnya, kata-kata Mawar benar sekali, wajah Cheryl terlihat menghitam kebanyakan bedak, jadinya mendempul bedak tepung itu. Bedak tepung merek bayi, yang memiliki wangi yang khas.
Cheryl yang keberaniannya naik ke permukaan mendadak ciut, ketika melihat banyak sekali barisan laki-laki dewasa awal berkumpul. Cheryl dengan wajah melas melihat ke arah Mawar yang hanya diam, dan bermain ponselnya.
"Pulang aja." Cheryl menarik baju Mawar. Mawar diam, kalau boleh mencakar wajah Cheryl karena kesal.
"Turun cepat!"
"Nggak jadi." Cheryl menghitung lagi, ada belasan lelaki berkumpul disana. Kalau sedikit, Cheryl bisa maklum, misal sekitar 5 orang. Dan sekarang jumlahnya dua kali lipat.
"Turun kalau nggak, ku tendang nih!" Ancam Mawar. C'mon, sudah banyak pengorbanan yang mereka lakukan, dan Cheryl dengan sifat basinya? Siapa yang tak marah?
"Huhu, takut. Rame bangat, tunggu mereka bubar atau separuh aja."
"Turun sekarang!" Mawar turun. Dan membuka pintu mobil Cheryl dan menyeret sahabatnya.
"Hiks, nggak mau! Itu ramai, nanti aku diketawain, nunggu aja." Cheryl hanya menunduk. Mawar hanya berdiri di depan Cheryl dengan tampang muak.
"Pergi kesana atau aku teriak!"
"Nggak! Nunggu aja, aku yakin mereka main cuman 1 jam."
"Gila ya lo! Laki kalau dah main itu, mana ingat dunia. Pergi sekarang, atau pertemanan kita putus!" Seperti ancaman Cheryl yang sebelumnya. Sekarang senjata makan tuan. Mawar memakai ancaman yang sama, Cheryl jelas takut. Dia hanya punya satu teman yang tulus, teman yang benar-benar berkualitas.
"Ah.. Mawar. Aku belum berani, nunggu sepi atau berkurang 2 orang stau 5 orang."
"Pergi sialan! Aku udah korbankan waktu belajar aku, setiap hari. Kasih tahu laki-laki itu biar dia tahu. Kalau dia nolak, biar mata kau terbuka! Udah sana." Mawar mendorong Cheryl. Cheryl menggeleng. Dandanannya yang rapi, terlihat berantakan sekarang.
Kedua sahabat itu, bertengkar di parkiran.
"Mawar temanin." Cheryl mencoba bernego.
"Ogah!"
"Temanin, please." Cheryl ciut. Ia takut, ia benar-benar takut. Ingatan tentang masa kecil yang tak pernah diakui menghantuinya sekarang. Gadis itu gemetaran, ia yang selalu mendapat penolakan demi penolakan dari sang mami, membuat trauma sendiri bagi Cheryl.
Tanpa sadar tubuh Cheryl gemetaran. Trauma itu muncul. Menyadari perubahan, Mawar merangkul Cheryl. Cheryl menangis di bahu sahabatnya. Hanya Mawar, tempat bersandar, tempat ia meminjamkan pelukan nyaman untuk Cheryl. Baru kali ini, Cheryl menampakan sisi lemahnya di hadapan Mawar. Ia biasanya hanya menampakan dirinya yang asli ketika dihadapan Meredith buku diary usang berwarna biru tersebut.
"Udah, setidaknya usaha dulu. Lihat, belum apa-apa udah banyak pengorbanan yang kita buat. Jadi, usaha dulu, siapa tahu, dia melihat kegigihan Cheryl dia luluh." Gadis itu mengangguk. Ia bisa, ia pasti bisa!
Jika kehadirannya di dunia ini, tak pernah diakui orang tuanya, setidaknya ada seseorang yang menganggap dirinya spesial. Semoga Tuhan berbaik padanya, cukup sudah penderitaan Cheryl selama ini.
"Temanin masuk dalam."
"Yaudah." Kedua remaja itu masuk ke dalam cafe. Lagu Lauv langsung memanjakan telinga mereka, begitu memasuki pintu cafe.
Cheryl dan Mawar sengaja memilih di pojok, agar keramaian itu tak menyadari kehadiran mereka.
"Jangan takut. Jadilah Cheryl biasa yang tak tahu malu, ceria seperti biasa, anggap mereka nggak ada." Cheryl mengangguk. Tenggorkannya terasa kering sekarang. Ia mengepalkan tangannya yang sudah berkeringat dingin. Belum tempur, tapi ia merasa sudah berdarah-darah.
"Mau pesan makan dulu ah." Mawar tanpa makan? Hm...
Cheryl masih duduk, posisi duduk sudah tak tenang. Cheryl sedang merancang dalam otaknya, apa yang ia lakukan. Yap, ia harus jadi Cheryl yang dikenal orang selama ini. Bukan Cheryl yang berada di kamar sempit dan pengap itu.
"Untuk merayakan hari ini, aku pesan mie porsi dua." Mawar tersenyum lebar. Alibi macam apa itu? Ia memang kelaparan sekarang, padahal sudah banyak makanan ringan masuk dalam perut yang ada irigasi tersebut.
"Aku, kesana dulu."
"Fighting!" Mawar bermain ponselnya.
Cheryl berjalan menuju kerumunan. Ia mengepalkan tangannya, merapalkan doa, dan menutup matanya.
Aku bisa, aku bisa, jangan takut, jangan malu, Cheryl itu cewek pemberani.
Kata-kata itu terus diulang dalam kepala Cheryl.
Mendekati ke kerumuanan para lelaki yang kebanyakan merokok bahkan posisi duduknya tak senonoh, ada yng menaikan kaki ke atas meja, ada yang satu kaki di atas satu di bawah. Ada yang berjongkok di bangku panjang tersebut luar biasa.
Mata kucing Cheryl fokus memperhatikan Juna. Lelaki itu menunduk dan bermain ponselnya. Cheryl menelan ludahnya, terasa sakit tentu saja. Sejak pagi bahkan sebelum kesini, ia sudah memberi Juna pesan berkali-kali, tapi lelaki itu tak pernah mengubrisnya. Hanya pesan titik sebiji yang pernah ia balas saat Mawar memberi pesan pertama kali.
Kesal dan nekat, Cheryl langsung mendekati Juna dan memeluk leher lelaki itu. Gotcha! Semua mata tertuju pada Cheryl, mungkin mereka mengira Cheryl orang gila yang salah masuk ruangan.
"Sayang, kenapa pesan aku nggak dibalas? Lebih seru games daripada aku, hm?" Cheryl bersorak, walau tubuhnya gemetaran. Akting seperti ini, tak terlalu buruk.
Juna hanya diam, ingin mencekik wanita gila ini. Bagaimana mungkin, wanita ini begitu nekat dan berani seperti ini.
"Hai semuanya, kenalin aku Cheryl. Pacar Juna, maklum ya, selama ini dia masih nyembunyiin hubungan ini, dia takut aku yang cantik direbut orang. Hihi." Kata-kata Cheryl membuyarkan lamunan gerombolan lelaki itu, dari ketidaksangkaan mereka pada aksi nekat Cheryl.
Sontak, benda apapun yang ada di depan mereka melayang semuanya ke Juna. Lelaki yang tak tahu apa-apa itu, hanya menangkis benda-benda tersebut mengenai wajah tampannya. Sialan!
"Anju, Jun. Gila! Bening gitu, kenapa kau nggak bilang punya pacar secantik ini."
"Bjir... gue nggak tahu, kalau pacar Juna lebih cantik dari Ariel Tatum." Komentar lelaki berwajah tegas, dengan kulit kecoklatan.
"Ariel Tatum, balonnya aja besar. Mukanya biasa aja."
"Jingan! Tahu gini, lebih seru pacaran kali ya, daripada mabar. Bosan kalah terus." Komentar seorang lelaki. Cheryl hanya tersenyum, ternyata tak semenakutkan itu. Diantara lelaki itu, Galvin tidak ada. Lelaki itu, mencari kesenangan lain, hanya dia informan yang tepat buat Cheryl.
Hanya satu orang yang memandang malas ke arah Cheryl. Dia jengah dan tak suka model cewek cacingan begini, ia suka cewek yang dewasa seperti pacarnya sekarang. Ah, ia bahagia.
"Hihi, udah ya abang-abang. Kalau mau cari aku, aku di fakultas sastra." Cheryl menhibaskan rambut panjangnya. Gadis itu begitu percaya diri, semua lelaki memandang takjub ke arahnya. Posisi Cheryl masih memeluk leher Juna yang duduk dan terdiam, Juna tak tahu harus bereaksi seperti apa. Nih cewek memang gila, mekat dan benar-benar tak tahu malu, seperti kesan Juna pertama kali.
Juna berbalik memandang Cheryl. Asli, Cheryl menahan napasnya. Demi apa, sang pujaan hati memnadangnya. Pasti Juna terpeson dengan kecantikannya sekarang. Luar biasa, kecantikan seorang Cheryl Anatasia tidak pudar dan tak lekang oleh waktu.
Juna menjilati bibirnya. Mata Cheryl langsung melotot, demi apa, otak polosnya langsung mikir ke arah mesum. Cheryl rela diapa-apakan saja sekarang.
Juna berdiri dan menarik tangan Cheryl. Asli, Cheryl merasakan genggaman itu. Begitu nyaman, begitu hangat. Ijinkan Cheryl, merasakan ini untuk dirinya sendiri, ijinkan tangan ini yang terus megandengnya.
Cheryl dan Juna melewati meja Mawar. Cewek yang hobby makan itu, langsung berhenti mengunyah memandang takjub ke arah Cheryl yang berhasil dalam waktu beberapa menit. Perjuangan Cheryl boleh diacungi jempol.
Sempat-sempat Cheryl melambaikan tangannya pada sahabatnya. Cheryl menunjuk tangan Juna yang menarik tangannya. Cheryl tersenyum lebar, Mawar hanya menahan napasnya.
Juna menarik Juna melewati lorong cafe, dan memasuki toilet. Yap, di toilet.
Cheryl was-was dan juga senang. Juna mengajaknya berbuat yang hiya-hiya di dalam toilet. Cheryl sudah pasrah sekarang.
Juna membanting pintu toilet dengan kuat, dan cowok berambut hitam itu menghidupkan air keran. Cheryl hanya memandangnya gugup sambil menggigit bibirnya. Ia yakin, sebentar lagi ia akan merasakan first kiss yang begitu berkesan. Ciuman pertama Cheryl dengan cinta pertama Cheryl, sebuah impian dan keberuntungan yang hanya orang tertentu yang bisa merasakan itu. Cheryl gugup, harusnya ia belajar terlebih dahulu atau menonton drama adegan kissing. Seorang amatiran seperti dirinya, pasti akan mengecewakan lawannya nanti. Semoga Juna tak kecewa pada ciuman mereka nanti, Cheryl akan merasakan nanti.
Cheryl bersandar di tembok, menunggu apa yang akan dilakukan cowok itu. Dengan gugup, Cheryl memandang Juna. Cowok tampan itu mendekatkan wajahnya ke arah Cheryl. Sempat-sempat juga Cheryl meneliti jerawat di wajah Juna, dan wajah si pangeran berkuda poni itu bersih dari jerawat, bahkan komedo pun minder untuk hingap disana.
Wajah Juna semakin mendekat. Cheryl menahan napasnya, ia bisa merasakan napas hangat Juna di lehernya. Tuhan.... mami..... Mawar..... segala apa yang hingap di kepala Cheryl ia sebut.
Bugh!
Cheryl membuka wajahnya, Juna menumbuk tembok tepat disamping Cheryl. Cewek yang tak bisa tenang itu, meremas bajunya.
"Aku nggak suka cewek centil! Jangan pernah ganggu aku, dan jangan cari-cari aku!"
Hancur sudah harapan Cheryl. Tubuh Cheryl sudah gemetaran. Bayangan first kiss itu sirna, yang ada kemarahan Juna yang sudah pada tahap puncak sekarang.
"M-ma-maf." Ujar Cheryl gugup.
"Siapa namanya?" Cheryl mendongak melihat wajah Juna yang tak bersahabat. Hancur, pupus, pangeran berkuda poni takkan pernah menjadi miliknya. Hancur impian Cheryl, honeymoon romantis yang ia rencanakan, hancur tak bersisa.
"C-Cheryl."
"Dengarin aku, cewek centil! Aku nggak suka cewek macam cacing kesiram minyak kayu putih. Jadi, jangan kenal sama aku, apalagi ngaku-ngaku seperti tadi." Cheryl hanya menunduk, dengan air mata yang meluruh. Hancur sudah pertahanannya.
Tok.... tok... tok...
"Maaf, disini bukan tempat buat mesum. Silahkan keluar."
Tok... tok... tok..
Pintu itu bukan lagi diketuk, malah ditendang sekarang.
"Woi, bang Joko, jangan hamilin anak orang. Masih kuliah oi!"
"Juna, ganas!" Semua orang berteriak dari luar.
Juna membuka pintu toilet. Meninggalkan Cheryl yang menangis, ya Cheryl tak kuat. Ia kalah, ia mengaku kalah sebelum berperang.
Cheryl menydari satu hal, Juna tak menginginkan dirinya! Tak ada yang mengingkan dirinya, apalagi orang tuanya!
____________________________
Hufh... ngenes bangat dah, nasib anak emak satu nih hm...
1 comment, 1 pray for Cheryl.
Semoga Cheryl tabah menerima nasibnya.
Belum masuk konflik ya, tapi ini lumayan juga konfliknya, hehe. Kalian jangan menyerah bacanya, Cheryl aja kuat, dengan nasib sialnya, apalagi emak yg nyiksa, kuat bangat. Hahaha. Emak nih ada dendam pribadi sama karakter emak, demen bangat nyiksa mereka. Ckck.
See you❤.
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
I Was Never YOURS (INDONESIA) Scene 37
Berlari secepat cheetah. Bergerak selincah ular, melompat sejago kelinci.Mawar berlari memegangi, gaun pengantin yang belum ia ganti. Juna hanya mengikuti Mawar dari belakang. Tak meyangka, istrinya begitu gesit."Yang tungguin." teriak Juna. Saat, Mawar tak peduli pada kehadiran orang-orang di sekitarnya. Bahkan, ia merasa dejavu, saat mengejar Cheryl dulu. Ya Tuhan, musibah apalagi?Mawar berlari dengan menenteng sepatunya, mengangkat gaunnya dan berlari di manapun rumah sakit berada. Ia merasa sangat trauma. Karena kepergian Cheryl, Mawar seperti antipati terhadap rumah sakit. Kalau boleh, seumur hidupnya ia tak perlu berhubungan dengan rumah sakit. Kalau boleh lagi, melahirkan nanti, Mawar ingin melahirkan sendirian."Sayang.." tegur Juna dengan napas ngos-ngosan, akhirnya berhasil menggapai tangan Mawar. Memang tenaga Mawar, tenaga kuda."Udah, jangan panik. Kita cari angkot, atau ta
I Was Never YOURS (INDONESIA) Scene 36
"Satu ... Dua ... Tiga ...""Huwahh .... Dea dapat anjirr." heboh semua orang, saat penangkapan buket bunga pernikahan. Sang pengantin bertepuk tangan bahagia, hari yang dinantikan telah tiba. Tuhan telah menyatukan dua insan yang telah menemukan tulang rusuk mereka, dan dua cucu anak Adam bersatu dalam perkawinan. Mawar dan Juna begitu kompak dan bahagia dengan hari ini, hari istimewa yang takkan mereka lupakan dalam sejarah hidup keduanya. Hari keduanya bersatu, dalam ikatan suci pernikahan.Gadis itu memakai dress pernikahan dengan gaya empire. Gaun polos dengan pilihan satu warna, terkesan sederhana, tapi tetap terlihat elegant."Mantap-mantap kita yang." gurau Mawar sambil tertawa. Juna mengamit lengan Mawar, ia tak meyangka usianya masih cukup muda untuk menikah, tapi ketika sudah memahami sifat masing-masing, Juna akhirnya tahu, Mawar tempat terakhirnya berlabuh.Kedua pengantin meninggalkan semua o
I Was Never YOURS (INDONESIA) Scene 35
1 tahun berlalu."Anak mami yang cantik, setahun itu rasanya cepat, lambat, menyiksa, kelam, terpendam. Tidak menyangka, kamu pergi untuk selamanya. Setahun berlalu, tapi mami tak pernah lihat senyuman kamu kecuali hanya dalam mimpi. Bahkan, udah jarang mami mimpi. Kenapa? Udah nggak rindu mami lagi? Udah bahagia disana?" Delisha masih bersungut sambil curhat, di kuburan Cheryl."Ah, mami masih belum ikhlas. Tapi ... Hari ini, dengan segala kelemahan, mami datang untuk pertama kalinya kesini. Ini bukan hal yang mudah nak. Tapi, perlahan mami bisa bangkit. Kamu pergi, tapi penyesalan terdalam dari kami semua takkan pernah kami lupa sama kami menyusulmu. Mami tahu, kamu pernah menyebut, mami sebagai mami yang kejam di muka bumi ini." air mata itu tak berhenti mengalir, bahkan semakin deras seperti air terjun Niagara. Padahal, Delisha sudah berjanji untuk melupakan semuanya, tapi kembali lagi ke kuburan, sama seperti kembali megingat memori l
I Was Never YOURS (INDONESIA) Scene 34
"Menimbang, bahwa berdasarkan fakta-fakta, diperoleh selama masa persidangan dari keterangan saksi-saksi, maupun keterangan terdakwa beserta barang bukti yang ada, diketahui pada hari Sabtu, tanggal 21 November sekitar pukul 11.34, berdekatan antara persimpangan jalan Garuda menuju jalan Elang terdakwa Komar mengendarai kendaraan roda empat, telah menabarak seorang perempuan bernama Cheryl Anastasia yang sedang menyeberang jalan ---"Mawar langsung keluar ruang dari persidangan, tak sanggup mendengar lebih lanjut. Membuat dirinya makin terpuruk dan hancur disaat bersamaan. Harusnya ia ada, disana untuk menemani Juna, karena laki-laki itu yang menjadi saksi hingga berlanjut sampai persidangan hari ini, dan putusan bersalah.Delisha juga ikut, tapi tak berani masuk ke dalam, wanita hanya menunggu di luar, dengan kain selempang yang menutupi kepalanya, pakaian ciri khas orang sedang berduka.Mawar menutup mulutnya, dan langsu
I Was Never YOURS (INDONESIA) Scene 33
Tiga Minggu, Mawar berani mengunjungi makam sahabatnya. Tiga Minggu terakhir adalah masa terberatnya, masa-masa ia berada ada hidup yang paling bawah. Kepergian Cheryl membawa duka yang mendalam bagi semua orang yang ditinggalkan.Sekarang, perkumpulan mereka tak lagi seperti dulu. Semuanya tak lagi sama, hanya ada kekosongan yang mereka rasakan.Mawar sedang berjongkok di depan makam Cheryl, sambil menerawang kosong. Tak ada yang ia buat, selain terduduk dalam waktu yang tak bisa ia tentukan kapan ia bisa menerima takdir kejam ini.Cheryl Anastasia.Seorang gadis periang, dengan menyimpan banyak luka di hatinya. Tapi, ia bertingkah konyol demi menghibur orang lain."Berapa lama nggak jumpa?" tanya Mawar sambil memegang nisan tersebut. Ya, matanya masih bengkak menangis terus siang dan malam. Terkadang, Mawar terbangun di tengah malam dan menangis seperti orang gila, membuat semua keluarga
I Was Never YOURS (INDONESIA) Scene 32
"Cewek bego, cewek tolol." maki seorang cowok di atas kuburan basah tersebut. Laki-laki itu mengusap air mata di sudut matanya masing-masing. Ya, semua orang tak menyangka atas kepergian Cheryl. Kepergian gadis itu begitu tiba-tiba membuat siapa saja tak percaya, bahwa gadis bar-bar itu tak lagi bernapas di bumi tapi memiliki alam sendiri."Woi cewek bego bangun lah. Jangan bikin semua orang sedih, aku tahu kau juga sedih, tapi kau mampu menghibur orang lain dengan tingkah konyolmu. Bangun, dan hibur semua orang. Dan biarkan aku yang menghiburmu saat kamu sedih." laki-laki itu tersenyum kecut dan memalingkan wajahnya. Masih tercium jelas, bau tanah yang masih basah. Saat semua orang bubar dan ia baru berani mendekati makam tersebut."Woi cewek bego bangun Juleha. Kau bahkan belum tahu, kalau aku adalah the one bukan Juna. Bangun Juleha, bahkan aku mau dipanggil bujang lapuk terus, bangun cewek bego." maki Aldo lagi. Ia merasa menyesal, ken
I Was Never YOURS (INDONESIA) Scene 27
"Anak jalang, akan tetap jadi jalang!" ucapan Mawar terus tergiang-ngiang di kepala Cheryl, seperti kaset rusak. Dan terus menganggunya.Dan disini Cheryl sekarang, berdiri kaku seperti orang bodoh, dengan pakaian yang begitu minim, di atas paha. Mawar bukan lagi sahaba
I Was Never YOURS (INDONESIA) Scene 26
Kebencian itu membunuh!Dan ini jelas. Kebencian telah melumpuhkan seluruh sendi-sendi Cheryl. Gadis itu merasa dunianya berhenti sekarang. Terpuruk lagi untuk kesekian kalianya. Biasanya, Cheryl bisa mentolerir rasa sakit, tapi kali ini tak ada lagi penawarnya. Cheryl
I Was Never YOURS (INDONESIA) Scene 25
Cheryl menyeka ingusnya. Entah sudah berapa banyak tisu yang habis, bahkan bajunya menjadi sasaran. Untuk ia mengeluarkan lendir bening tersebut, dan juga bantalnya sampai bercorak karena bekas air matanya.Cheryl akhirnya bangun dan memungut kembali diary usang yang ia
I Was Never YOURS (INDONESIA) Scene 24
"Em..." guman Cheryl norak. Gadis itu sedang makan roti lapis dengan berbagai campuran. Dan memang rasanya sangat enak atau Cheryl yang sedang kelaparan, ekpresi Cheryl menunjukan keduanya, kelaparan dan juga menikmati makanan saking enaknya.Kencan lagi.
