Téléchargez gratuitement le livre sur l'APP
Prolog
Auteur: Orihim3Seorang gadis berumur sekitar sebelas tahun sedang termenung di ruang tamu.
Tanpa rasa takut ia memeluk boneka pandanya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Wajahnya tertekuk menanti seseorang.
Dari belakang datang wanita paruh baya yang tergopoh-gopoh, berjalan cepat ke arahnya.
"Nona Shine, nona Shine."
Gadis kecil itu menengok melihat seseorang memanggil namanya.
"Meri."
"Nona kenapa ada disini? Saya mencari nona kemana-mana. Ini sudah malam nona, ayo tidur. Tuan Ed akan marah kalau tuan tau nona masih belum tidur juga."
"Aku sedang menunggunya."
"Tuan Ed akan pulang besok pagi nona, jadi nona tidur saja."
"Kalau begitu tinggalkan aku sendiri disini. Aku ingin menunggunya."
Wanita yang dipanggil Meri hanya terdiam, nonanya memang keras kepala. Tidak ada seorangpun yang bisa membujuknya kecuali Edward, sang kakak. Akhirnya, dengan berat hati Meri memutuskan untuk menemani nona mudanya menunggu Ed.
.
Sementara itu...
"Kau tidak pulang Ed?"
"Tidak sekarang Caroline."
Caroline membenarkan tas, kemudian ikut duduk di kursi bar bersama sahabatnya itu.
"Kau sangat berubah Ed, kau lebih pendiam. Kenapa kau selalu pulang larut?"
"Aku hanya merasa jika aku pulang ke rumah sekarang, kenangan itu akan muncul kembali. Kenangan bersama orang tuaku."
Caroline tau yang Ed maksud, ia tau Ed sangat terpukul dengan apa yang menimpanya.
"Edward.. sudah satu tahun berlalu sejak kecelakaan itu. Kau harus bisa mengikhlaskan orang tuamu."
Pria itu meneguk satu gelas kecil sampanye.
"Kenapa mereka meninggalkan kami secepat itu?" Ia tersenyum hambar. "Padahal Shine masih membutuhkan mereka."
"Shine membutuhkanmu." tegas Caroline.
"Aku hanya takut jika aku tidak bisa menjadi kakak yang baik untuknya."
"Kau orang baik Ed, aku yakin kau bisa menjaganya."
"Kau tau Caroline? Aku sangat lelah. Andai aku bukan anak yang tertua, aku pasti tidak akan mewarisi perusahaan sebesar itu sendirian. Aku merasa aku tidak mampu."
Caroline menepuk pundak Edward. "Kau orang yang luar biasa Ed. Aku yakin kau bisa melewati semua ini."
Edward tersenyum. "Bagaimana denganmu? Kau juga terlihat sangat lelah." tanyanya balik.
"Ya sedikit ada masalah tentang pasien jantungku."
"Maksudmu, pria yang kau ceritakan waktu itu?"
"Ya, aku takut terjadi apa-apa padanya, kondisinya makin tidak stabil, dan keluarganya terlihat sangat bersedih dan putus asa." jelas Caroline menerawang.
"Apa keluarganya masih lengkap?"
"Ya, dan setiap hari, mereka selalu menantikan pria itu sadarkan diri, padahal aku tau kemungkinan ia sembuh sangatlah tipis." Caroline membuang napas.
Keheningan melanda, hanya suara dentuman musik halus dan dentingan gelas-gelas kaca yang beradu dengan meja.
Edward terus sibuk meneguk minumannya, sedangkan Caroline tetap menemani pria itu.
"Carol...."
"Hmm..ya?"
"Jika terjadi sesuatu padaku, bisakah kau ambil jantungku dan berikan pada pria itu?"
Caroline tertawa. "Hentikan omong kosongmu itu Ed."
Edward ikut tertawa dan kembali meminum minumannya.
"Setidaknya, masih banyak orang-orang yang menantinya untuk sembuh. Menantinya untuk kembali."
.
Ucapan adalah doa.
Pepatah itu mungkin sangat tepat untuk diri Edward sekarang.
Ia ditemukan sekarat setelah mobil yang ia tumpangi menabrak sebuah pembatas jalan hingga hancur.
"Kau benar-benar keterlaluan Ed." ucap Caroline dengan suara bergetar ketika terburu-buru membawa Ed ke ruang IGD bersama para perawat disampingnya.
Tangan Edward masih dapat bergerak. Ia dalam keadaan setengah sadar.
Dengan sigap para perawat itu memberi pertolongan pertama dan memasang selang infus untuk Edward dibantu oleh Caroline.
"Ca..roline.." panggil Ed lemah.
"Jangan bicara Ed."
"Ku mohon hentikan, aku sudah lelah."
"Tidak Ed."
"Aku tidak sanggup menerima semuanya."
"Hentikan Ed, kau pria yang baik."
Dengan perlahan Edward mencoba meraih tangan Caroline dengan sekuat tenaga.
"Ku mohon Carol, aku sudah lelah."
Caroline hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, air matanya mulai berjatuhan ke pipi dan bibir pucatnya.
"Caroline, seperti permintaanku, tolong berikan jantungku pada pasienmu itu."
Caroline menggeleng kuat. "Tidak Ed."
Edward tersenyum. "Aku tau kau adalah dokter yang baik. Kau pasti.. tau.. apa yang terbaik untukku.. dan juga pasienmu." ucapnya terbata.
Air mata mengucur deras di pipi Caroline. "Maafkan aku Ed, maafkan aku." pungkasnya menggenggam erat tangan Ed sebelum membulatkan keputusan yang ia ambil dengan sangat berat hati.
Ia melepas tangan Ed dan memandangi sekelilingnya.
"Persiapkan operasi untuk tuan Daffa Revano Abrata yang ada di ruang ICU." perintahnya pada para perawat dan berlalu meninggalkan ruangan itu.
Dengan mengusap air matanya yang tanpa henti mengalir, Caroline pergi ke ruang ICU, tepatnya ruangan dimana Daffa berada.
Disana ia melihat ibu dari pria itu yang bernama Ema, tengah bersandar di pundak seorang pria paruh baya yang Caroline tau adalah ayah Daffa, Brata.
Sedangkan kembarannya, Darren, duduk disebelahnya.
Mata Ema terlihat sembab. Seperti terus menangis berhari-hari.
Begitu melihat Caroline, mereka semua bangkit dan mendekat.
"Kami akan segera mengoperasi Daffa." tukas Caroline tanpa basa basi.
"Apa?" kembarannya terlihat kaget. Begitu juga dengan orangtuanya.
"Ada seseorang yang ingin mendonorkan jantungnya pada Daffa. Jadi kami akan segera melakukan operasi."
"Benarkah?"
Tangan Caroline digenggam erat oleh Ema dengan mata berbinar yang dengan jelas menunjukkan harapan.
Caroline mengangguk.
"Siapa dia? Bisakah kami bertemu dengannya?"
Caroline menelan ludah. Kemudian mengiyakan permintaan Ema.
Ia mengantar ibu itu ke ruangan dimana Edward sudah dipindahkan. Disana pria itu sudah tergeletak tak berdaya.
Dan yang paling Caroline takuti adalah melihat kematian sahabatnya sendiri yang sudah di depan mata. Ia memutuskan mengoperasi Daffa dan menyetujui permintaan Ed untuk mendonorkan jantungnya pada pria itu. Artinya, ia tidak memberikan pengobatan pada Ed, dan membiarkan pria itu mendekati ajalnya untuk diambil jantungnya.
Demi Tuhan. Ini adalah keputusan terberat Caroline.
Ia harus melakukannya karena Ed menginginkannya.
Selama ini pria itu sudah bertahan lebih lama dengan kehidupannya. Beban yang sangat berat dan depresi yang berkepanjangan hanya akan menyiksanya.
Semoga keputusan yang Caroline buat adalah keputusan yang tepat untuk semuanya.
Ema terlihat menggenggam tangan Ed.
"Ya Tuhan, dokter Caroline, tolong selamatkan saja dia." pinta Ema.
Sepertinya wanita itu tidak tega.
Caroline membuang wajahnya, ia benar-benar tidak berdaya. Ed masih bisa tersenyum kemudian menggeleng.
Matanya sayu-sayu hampir tertutup.
"Tidak, aku.. bolehkah aku meminta satu permintaan sebelum aku pergi?" Erangnya terlihat seperti kesakitan.
Caroline mendekat.
"Apapun, apapun akan aku kabulkan." jawab Ema, masih menggenggam tangan Ed.
"Tolong jaga dia, adikku, dia hanya seorang diri di dunia ini."
Ema mengangguk-angguk. "Pasti, pasti aku akan menjaganya."
Caroline mulai menangis kembali.
Dibelakang mereka Brata dan Darren sudah menyaksikan semuanya.
Perlahan Ed tersenyum penuh kelegaan dan memejamkan mata, hingga ia benar-benar pergi diiringi tangis yang pecah.
.
Shine menatap kosong ke arah gundukan tanah di depannya sambil memeluk boneka panda kesayangannya.
Boneka pemberian Ed.
Diumurnya yang baru sebelas tahun, ia sudah harus kehilangan orang tuanya setahun yang lalu, dan kini kakak yang ia miliki satu-satunya, keluarga yang paling ia sayang, juga pergi meninggalkannya.
Tidak ada keluarga yang bisa Shine percaya. Mereka hanya menginginkan harta orangtuanya. Itu yang selalu Ed katakan pada Shine.
Ayah, Ibu dan Ed meninggalkan seluruh harta mereka pada Shine.
Tidakkah mereka jahat meninggalkan Shine sendirian dengan harta yang melimpah?
Shine tidak menangis.
Air matanya sudah habis ketika ia mendapat kabar bahwa kakaknya tewas dalam kecelakaan parah.
Ia tetap memeluk boneka pandanya dan tetap memandang gundukan dengan bunga-bunga yang masih segar menumpuk di tanah itu.
Tiba-tiba sepasang wanita dan pria paruh baya mendekatinya.
Dengan mata dan senyuman yang teduh, mereka mengulurkan tangan pada Shine.
"Ikutlah dengan kami, mulai hari ini kau adalah puteri kami."
...............
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Driving Me Mad Part 15 : Embarrassed
"Lain kali, jangan menyentuhku dengan tiba-tiba, Shine," ucap Daffa tanpa memandang Shine.Pria itu buru-buru pergi meninggalkan Shine yang mematung, bukan ke meja makan, tetapi ke dalam kamar mereka, satu-satunya ruangan yang ada dalam apartemennya kecuali kamar mandi.Di dalam Daffa memegangi dadanya yang berdebar kencang setelah menutup dan mengunci pintu.Keringat dingin keluar dari dahinya.
Driving Me Mad Part 14 : Deal for Mission
"Kau ternyata sangat pintar memberiku kejutan kak, dan selera humormu memang sangat baik. Aku pulang.""Shine ..."Daffa menarik lengan Shine ketika ia berbalik, hingga gadis itu kembali menghadap ke arahnya."Kau bercanda kan, kak?" tanya Shine menatap Daffa lekat-lekat. "Kau ingin kita tinggal di apartemen yang hanya seluas ruang keluarga kita ini?" lanjutnya sedikit geram.
Driving Me Mad Part 13 : Other Side
Setelah baru saja mendarat, Daffa membuka ponselnya ketika sudah duduk dalam mobil yang menjemputnya. Ia memijat-mijat dahi karena kelelahan. Ada dua panggilan tak terjawab dari Shine siang tadi, sebelum penerbangan. Daffa terburu-buru untuk sampai ke bandara kerena sedikit terlambat, jadi ia tak sempat mengangkat telpon Shine. Dan ketika di dalam pesawat ia segera menon-aktifkan ponselnya.Daffa menekan nomer Shine untuk balik menghubunginya.Sampai dering terakhir tidak ada jawaban dari seberang, ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Driving Me Mad Part 12 : Plans
"Kau sudah sampai, sayang?"Daffa memeluk Ema erat begitu melihat wanita paruh baya itu menyambutnya."Ibu akan pergi?" tanya Daffa melihat pakaian Ema yang sangat rapi. Ia melepaskan pelukannya."Ya, kami akan pergi makan malam bersama, undangan rekan bisnis ayahmu."Daffa celingukan. "Dimana ayah?"
Driving Me Mad Part 11 : Someone
"Jadi dia tidak pernah menyentuhmu sampai sekarang Shine?" tanya Sophie setelah selesai mendengarkan curahan hati Shine.Shine mengangguk tak teratur kemudian kembali meminum birnya.Jane merebut gelas Shine."Sudah sebulan lebih, sejak pesta itu, dan kau masih perawan hingga saat ini?" Sophie tertawa geli, ia terlihat mengejek."Pasti karna dadamu yang rata itu, Shine,"
Driving Me Mad Part 10 : Peevish
Shine melangkah keluar kamar mandi dengan hati yang berdebar. Tangannya kuat memegang kimono mandinya karena ia tidak memakai sehelai benangpun di dalam kimono itu.Dilihatnya Daffa berdiri di depan cermin, tengah sibuk memakai jam tangan."Ah, kau sudah selesai?" tanya pria itu menyadari keberadaan Shine."Ya." Shine memperhatikan Daffa, suaminya itu memakai t-shirt maroon polos dan memakai celana
Driving Me Mad Part 9 : Wedding
Setelah seminggu penuh Shine mempersiapkan pernikahan impiannya, tentu saja dengan bantuan para sahabat serta Ema dan Brata, karena Daffa terlalu sibuk bekerja, ia hanya mengiyakan apapun permintaan dan konsep yang Shine inginkan, akhirnya hari yang di
Driving Me Mad Part 8 : What the?
Setelah malam itu, Shine mengikuti semua keinginan Daffa. Tidak berkeliaran setelah pulang sekolah selama menjelang ujian, tidak bermain-main setiap hari bersama teman-temannya dan belajar dengan giat.
Driving Me Mad Part 7 : Patience
"Jadi dia tidak menyentuhmu sama sekali?"Pertanyaan yang ntah keberapa kali Sophie lontarkan hari ini membuat Shine kesal. Apalagi Sophie akan tertawa sangat keras sesudahnya.
