loading
Home/ All /DIA/Chapter 2

Chapter 2

Author: Azeela Danastri
"publish date: " 2020-11-07 12:40:19

Jhonny berpamitan terlebih dahulu, kemudian meninggalkan para gadis itu dan menghampiri teman-teman gengnya yang baru saja masuk ke kantin.

Suara indah Ed Sheeran mengalun dari ponsel Valentina. Valentina merogoh kantongnya dan menerima panggilan tersebut setelah sebelumnya melihat identitas si penelepon.

"Hallo Bang, Iya Valen masih di sekolah."

"Kamu sama Al? Bisa kasih ponselnya sebentar ke dia ?"

"Iya ... Bang."

Vallen mengulurkan ponsel ke arah Almira yang sudah menatapnya sedari tadi, tapi dengan muka cemas seraya menggigiti bibir bawahnya. Almira cemas jika Davka akan marah padanya, walau selama mereka berpacaran sampai sekarang, Davka tidak pernah sekalipun marah kepadanya.

"Nih ... ayangmu bicara," ujar Valentina seraya menggoda Almira dengan mengedipkan sebelah matanya.

"Hallo Bang, Al ... mira di sini," sapa Almira gugup.

Terdengar hembusan nafas berat dari ujung sana, "Kenapa gugup? Ponsel kamu dimana lagi sekarang?" Suara Bariton Davka terdengar.

"Al jual Bang ... emm, bulan kemarin Bapak sama Ibu nggak kirim uang untuk bayar kos, sedangkan bulan kemarin adalah tenggat waktu untuk pelunasan." Almira beralasan.

"Ya sudah kalau begitu, kamu kerja hari ini?" tanya Davka lembut.

"Nggak Bang, Al libur."

"Pulang reuni langsung ke rumah Abang ya?" Davka sungguh rindu akan kekasihnya itu.

"Tap-,"

Ucapan Almira terpotong oleh kalimat tak terbantahkan dari Davka, "Jangan membantah, kamu harus datang. Sudah dulu ya, pesawat Abang sudah akan take off." Davka segera mematikan ponselnya dan berjalan meninggalkan ruang tunggu menuju terminal gate.

Hati Almira gelisah setelah mendengar suara sang kekasih, alih-alih merasa senang jika akhirnya mereka bisa sering bertemu. Walau ia sudah menyiapkan hati untuk berterus terang kepada Davka tentang keadaan orangtuanya. Ia juga menjadi merasa bersalah karena tidak memberi tahu teman-temannya. Bu Suci tadi saat bertemu dengannya di ruang aula memang menawarkan Almira untuk tinggal di rumahnya saja. Tetapi karena perasaan sungkan, Almira beralasan masih memikirkannya padahal jika ia menerima tawaran dari bu Suci setidaknya ia bisa menghemat pengeluaran untuk sewa tempat tinggal.

"Oh iya ... gue mau balik nih ke Bandung," terang Valentina. Almira dan Sinta serentak memandangnya bersamaan.

"Gue juga balik Jakarta sama Jhonny besok lusa. Loe balik kampung Mi? Loe nggak ngelamar jadi guru, sayang banget ijazah sarjanamu," ujar Sinta.

"Aku belum bisa bagi waktu dengan pekerjaanku yang sekarang." Almira beralasan, ia masih senang mengajari para anak TK les privat

dan juga membantu di restoran.

"Percuma loe punya pacar tajir kayak Davka, kerja masih ikut orang lain aja. Kenapa nggak minta kerjaan di Kantor papinya Davka aja sih?" sambung Sinta lagi. Kadang sinta gemas pada sifat Almira yang terlalu mandiri dan sungkan kepada orang lain.

"Aku tahu kamu nggak mau ngerepotin Bang Davka, tapi minta kerja disana juga nggak apa dia pasti setuju. Toh mulai Senin depan dia yang gantiin Om jadi pimpinan pusat lho." Valentina menimpali perkataan Sinta.

Almira tampak berfikir, ia tidak ingin membebani pikiran teman-temannya itu kemudian ia berkata, "Iya coba nanti aku bicara sama Abang."

***

Setelah berpamitan dengan teman-teman yang lain, Almira segera berjalan ke arah tempat parkir, ia bersama dengan Valentina yang akan menjemput Eric di rumah Davka.

Jhonny berlari menghampiri Almira, "Mimi! Tunggu, gue udah tahu kalau loe hidup sendiri sekarang. Ingat kalau ada apa-apa loe bisa ngandelin gue,ok? Nih pakai ponsel gue," ujar Jhonny setelah berdiri berhadapan dengan Almira.

"Jangan tolak, please," timpal Jhonny saat Almira tampak akan menolak pemberiannya, Jhonny mengulurkan ponselnya seraya tersenyum.

Almira tercengang tapi sejurus kemudian gadis itu pun tersenyum menyambut ponsel pemberian Jhonny. "Makasih ya Tong. Btw kamu tahu dari siapa?" tanyanya penasaran.

"Bu Suci wali kelas yang bilang, dia khawatir sama elo. Beliau berpesan kalau ada apa-apa loe hubungi dia juga. Tuh udah ada nomor telpon Bu Suci, ok?" terang Jhonny sembari menepuk bahu Almira.

Almira hanya tersenyum dan mengangguk. Dia bersyukur masih banyak orang baik di sekitarnya. Jhonny nggak tahu kalau Almira juga bekerja di tempat ibu Suci.

Ketika Almira baru menginjakkan kaki di teras rumah Davka bersama Valentina. Mobil Hammer ber plat AB 4 warna hitam masuk ke halaman, di susul oleh BMW m series dibelakangnya. Wajah Almira berseri-seri, pujaan hatinya sudah kembali. Ia berharap hidupnya semakin baik, keluarga Davka adalah keluarga terpandang yang baik hati. Mereka tidak melarang anak semata wayangnya menjalin hubungan dengan gadis yang berasal dari keluarga sederhana seperti dirinya.

"Sudah lama menunggu Abang?" tanya Davka begitu berdiri berhadapan dengan Almira seraya mengusap puncak kepala Almira dengan sayang.

"Belum Bang, Al barusan sampai." Almira tersenyum, kemudian mencium punggung tangan Davka, orangtua Davka dan Eric.

"Kak Eric apa kabar?" tanya Almira.

"Kabar ba-,"

"Udah nggak usah basa-basi sama Eric, baperan nanti dia Al," celetuk Davka dengan raut wajah cemberut memotong jawaban Almira.

"Idih gitu aja cemburu Bang. Sama sepupu sendiri juga," timpal Valentina. Valentina tak habis pikir dengan sifat Davka yang posesif, Eric itu sepupu Davka dan juga saudara kembarnya.

"Eric kan tetep laki juga, Dek." sahut Davka tidak mau kalah.

Ucapan Davka disambut kekehan dan gelengan kepala Eric dan kedua orangtua Davka. Davka merengkuh bahu Almira bersama mereka semua masuk ke dalam rumah.

***

Dua Minggu berlalu, saat Almira berada di dapur rumah makan 'Echo'

milik Bu Suci. Bian sang manager memanggilnya ke depan.

"Tolong bantu di depan ya, Mbak Yan kepayahan."

"Baik Pak," sahut Almira.

Malam Minggu susana rumah makan memang selalu ramai. Terutama banyak anak mahasiswa dan SMA.

Saat ia sibuk melayani tamu di bagian gazebo. Masuklah Davka beserta Lidya dan Bayu. Raut wajah Davka tampak tegang, tersirat rasa tidak nyaman dengan kehadiran kedua temannya. Mereka mengambil tempat di gazebo nomor 14 di tempat paling pojok berdekatan dengan pintu ke arah dapur.

Setelah mereka memesan makanan mereka. Davka menatap kedua orang yang terlihat tegang, duduk di depannya itu.

"Jadi keperluan apa yang begitu mendesak harus dibicarakan?" tukas Davka memulai percakapan.

Lidya merogoh tasnya kemudian mengulurkan amplop coklat berbentuk persegi panjang dan menaruhnya di meja persis di depannya. Davka membukanya, amplop tersebut berisi lima macam merk test pack. Wajahnya terkejut seketika dan kemudian ia menatap tajam ke arah Lidya yang mulai tersenyum gugup.

"Apa maksud semua ini? Kau mau menjebakku?!" bentak Davka dengan wajah garang, sebisa mungkin Davka menahan diri agar amarahnya tidak sampai keluar.

"Aku hanya minta kamu bertanggung jawab, aku hamil anakmu Davka dan aku punya bukti. Aku sudah memberitahukan orangtuamu," terang Lidya.

"Kamu ...."

Davka melihat layar ponselnya, terpampang nama sang ayah Pramana Putra Alsaki. Davka menarik nafas panjang sebelum menerima panggilan dari sang ayah.

"Halo Papi?"

"Segera pulang ajak Lidya, Papi tunggu!" ​Sambungan telepon langsung terputus dari seberang.

"Ayo pulang, Papi sudah menunggu," ajak Davka.

"Tapi, makannya belum datang?" tanya Bayu menatap dengan wajah bingung, bergantian ke arah Lidya dan juga Davka.

"Aku sudah tidak berselera," tukas Davka ketus sembari mengeluarkan enam lembar uang kertas berwarna merah dan menaruhnya di atas meja.

Davka berdiri kemudian di susul oleh Lidya dan Bayu. Saat ia membalikkan badannya, matanya bertemu dengan Almira yang berdiri terpaku tepat di depannya dengan membawa nampan berisi makanan pesanannya. Davka sungguh tak menyangka dengan kehadiran Almira di sana. Davka dengan wajahnya yang tampak pucat pasi berusaha menata detak jantungnya yang berpacu kencang dengan menelan salivanya kasar.

Wajah Almira sendiri juga tampak pias, airmatanya sudah menetes membasahi pipinya, ia mendengar semuanya tanpa terkecuali. Hatinya sakit seperti tersayat sembilu.

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

DIA   Chapter 14

Davka kembali mengiringi langkah dari belakang mereka hanya menggelengkan kepala. Sedangkan Anulika dari tadi berulang kali menengok kebelakang melihat kearah Davka.Begitu pintu ruang meeting terbuka sudah banyak berkumpul keluarga Alsaki dan Mahanta. Mereka ingin bertemu dengan si kembar yang jenius. Paman, bibi, sepupu Davka komplit ada di sana. Greg Alsaki paman Davka yang tinggal di Meksiko pun hadir bersama istri dan anaknya.

DIA   Chapter 13

Sekarang mereka semua berkumpul di ruang keluarga, minus Davka dan kedua orangtuanya yang masih bersembunyi, sedangkan anak-anak dibiarkan bermain di ruang bermain.Eric memulai percakapan "Sebaiknya si kembar bersekolah di sekolahku saja dan mereka bisa tinggal denganku atau Edgar di sini, jadi kamu bisa tenang di Cianjur. Aku kurang setuju jika anak-anak tinggal di asrama, biarpun si kembar memang anak yang mandiri tapi umur mereka terlalu muda untuk tinggal di sana,” usul Eric kepada Almira.

DIA   Chapter 12

Ponsel Eric berdering, dengan santai Eric mengangkat panggilan tersebut dengan menatap wajah Davka."Halo Tama, sudah sampai mana?""Kata Bunda udah deket Kebun Binatangnya.""Baik, uncle dan aunty

DIA   Chapter 11

Selama hampir dua tahun Almira tinggal bersama anak-anaknya masyarakat di sana sangat baik dengan mereka. Cuma karena parasnya yang menawan kadang membuat iri hati beberapa gadis di sana. Sofian sendiri juga selalu meluangkan waktu untuk membantu Almira. Baik urusan rumah maupun urusan kebunnya itu. Almira sendiri tidak pernah meminta bantuan, semua itu dilakukan Sofian atas kemauan pemuda itu sendiri. Kadang almira merasa tidak enak hati. Apalagi Sofian termasuk lelaki pujaan mereka.Seperti hari ini Almira akan ke Bandung menemui Vallen, mengajak serta anak-anak mereka

DIA   Chapter 10

Ciudad de Mexico, setelah menghabiskan makan siang Davka segera melakukan check out dari hotel tempatnya menginap untuk segera ke bandara. Pasalnya hari ini juga mereka akan segera kembali ke Indonesia, bandung kota seribu kenangan tepatnya. Tempat davka menuntut ilmu dan juga banyak kenangan kebersamaannya dengan kekasihnya Almira dahulu di sana. Perjalanan antara Mexico dan Bandung memerlukan waktu lebih dari satu hari karena mereka harus ke Jakarta terlebih dahulu.

DIA   Chapter 9

Waktu kepindahan mereka bertiga sudah di sambut oleh mang Asep di depan pintu rumah baru mereka di Cianjur. Mang Asep dan istrinya bibi Sumiati yang akrab di panggil dengan sebutan ‘bi Sum’ adalah pengurus rumah tersebut. Awalnya mereka bekerja dengan keluarga Parvis tetapi begitu rumah itu berpindah kepemilikan mereka berdua di minta langsung oleh Yohanna untuk mengurusi rumah tersebut sampai dengan si empunya rumah yang baru datang. Jika si empunya rumah yang baru tidak berkenan dengan kehadiran mereka, keluarga Parvis akan dengan tangan terbuka menyambut mereka kembali. Syukur bagi keduanya Almira beserta dengan kedua anaknya sangat senang dengan adanya mereka. Jadi mereka tidak kembali ke rumah keluarga Parvis dan memutuskan untuk tetap membantu Almira.

DIA   Chapter 8

Almira mengajak kedua buah hatinya untuk berbelanja. Sesudah memastikan apa yang mereka butuhan sudah terambil semua.

DIA   Chapter 7

"Tolong terima ya Mbak, Mbak Al mau apa? Akan kami beri apapun itu," bujuk ayah dari Ratan Jaya Parvis. Untuk kesekia

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy