loading
Home/ All /DEAR DIARY INDONESIA/Lexa 6

Lexa 6

Author: GABNALIV
"publish date: " 2020-09-28 09:40:31
Setelah belasan menit, akhirnya tangisan Marcus berangsur berhenti. Kini posisi mereka saling berpelukan, Marcus terus menyerukan wajahnya di ceruk leher Lexa menghirup aroma tubuh Lexa yang mengeluarkan wangi mawar membuatnya Kembali tenang. Bulu kuduk Lexa terus meremang karena lehernya diterpa nafas hangat Marcus.

Lexa sudah beberapa kali mencoba melepaskan pelukan Marcus tapi Marcus terus menolak. Marcus merasa malu karena ini pertama kalinya ia menangis di depan seorang wanita. Betapa lucunya tingkah Marcus yang terus menempel kepada Lexa seperti koala.

“Sayang … kita gak mau pulang?” tanya Lexa setelah memecah keheningan.

Marcus hanya bergumam pelan tapi setelahnya ia melonggarkan pelukannya pada perut Lexa. Mungkin inilah saatnya ia menceritakan kejadian masa lalunya.

“Dulu aku punya kakak.” Ujar Marcus sangat pelan bahkan nyaris berbisik.

Lexa menolehkan kepalanya untuk melihat wajah Marcus, sorotan matanya sangat terlihat bahwa Marcus menyimpan rasa sakit, kecewa, dan …. benci? Lexa tidak mengerti dengan tatapan Marcus yang menerawang jauh ke depan. Tetapi Lexa tetap menunggu Marcus untuk melanjutkan ceritanya.

Flashback

14 Februari 2018

Kediaman Marcus.

Hari valentine adalah kesempatan Marcus untuk mengadakan pesta sederhana di kediaman keluarga, ia mengajak beberapa sahabatnya yang ikut merayakan kelulusan SMA Ben, James, dan Reynard. Mereka sedang membakar daging di halaman belakang menghadap kolam renang. Saat sedang mengoles butter di daging, Marvin datang kea rah Marcus sambil menepuk bahu adik kesayangannya.

“Marc, kenapa lo ngajak pesta ke temen cowok semua sih? Are you gay?” Marvin tidak benar-benar serius menanyakan hal semacam itu. Tapi ia hanya merasa kasihan kepada adik kesayangannya yang setiap hari hanya bergabung dengan para lelaki, tapi terkesan dingin dengan semua perempuan. The Ice Prince. Julukan yang tepat untuk Marcus saat itu.

Marcus yang diberi pertanyaan oleh sang kakak hanya memberi tatapan tajam seakan warning untuk tidak mengusik kehidupan pribadinya.

“Okay relax bro. I’m just kidding, okay?” tawa renyah keluar dari mulut Marvin.

“Kakak sendiri bagaimana udah kepala dua kenapa masih jomblo ha?” pertanyaan Marcus membuat Marvin tertohok. Astaga, kenapa dia sering sekali memutar balik pertanyaan. Batin Marvin teriak. Marvin hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan memilih duduk di gazebo depan kolam renang, sekaligus mengabaikan pertanyaan Marcus.

Marvin bukannya tidak ingin memiliki kekasih hanya saja … ada sesuatu yang mengganjal sehingga ia harus menjaga Marcus terlebih dahulu. Mengingat Leander’s Corp baru saja naik daun sehingga kemungkinan besar banyak musuh yang mengincar mereka bahkan nyawa sekalipun. Entahlah ia pun tidak yakin sebenarnya. Tetapi ia merasa yang paling terancam hanya Marcus seorang.

Beberapa hari bahkan bulan pun berlalu. Sikap posesif Marvin terhadap Marcus semakin menjadi bahkan tak jarang mereka sering berantem hanya karena masalah keamanan. Marcus semakin tidak paham kenapa ia selalu diapit bodyguard kemanapun ia pergi walaupun dipantau dari jarak jauh tapi tetap saja membuat Marcus jengkel. Sedangkan Marvin ia harus menyediakan stock banyak kesabaran untuk menghadapi sikap keras kepala Marcus yang selalu saja membantah untuk pergi sendiri.

Sehingga Marvin harus turun tangan sendiri untuk mengawasi adiknya kemanapun pergi mau keluar kota sekalipun.

5 bulan kemudian ….

TABRAKAN MAUT SEDAN VS TRUK, 2 ORANG TEWAS DI TEMPAT 1 ORANG LUKA TIDAK SADARKAN DIRI

Berita trending di hari itu, menjadi bencana yang tidak terduga bagi keluarga Leander. Saat itu, Marcus baru saja pulang dari liburan perpisahan SMA nya. Sesampainya di rumah, kedua orang tua Marcus saling mendekap satu sama lain terutama kondisi Fanny yang menangis sesegukan di dalam pelukan Dirk sambil meraung menyebut Marvin. Tiba-tiba perasaan sesak dan pikiran Marcus terus berkecamuk. Marcus melangkah lebar menuju ruang keluarga dan ikut melihat berita di TV.

Tubuh Marcus terasa lemas dan lepas dari tempatnya Ketika melihat judul berita yang ada di TV, ia berharap yang dilihatnya orang lain. Namun setelah memastikan dan melihat foto nomor plat mobil yang ada di berita, ia semakin menyangkal apa yang dilihat. Tidak. Tidak mungkin. Kakak… itu bukan kakak kan?

Marcus, Dirk, dan Fanny segera menuju ke RS. Mayapada yang ada di Jakarta Selatan mengingat korban kecelakaan telah dibawa ke rumah sakit tersebut diantar oleh supir karena kondisi masing-masing anggota keluarga sedang tibak baik secara mental.

Sesampainya di rumah sakit Marcus, Dirk, dan Fanny berlari menuju UGD langsung bertanya kepada resepsionis mengenai korban kecelakaan yang baru saja tiba. Suster yang menjaga Resepsionis langsung mengantarkan mereka ke dokter yang sedang menangani Marvin.

“Anda keluarga pasien?” tanya Dokter Felix Ketika suster usai mengantarkan keluarga Marvin.

“Iya dok. Bagaimana keadaan kak Marvin?” Marcus bertanya kepada dokter Felix dengan tidak sabar.

“Pasien harus segeran ditindaklanjuti, dari hasil CT Scan pasien mengalami kematian batang otak, dikarenakan terjadi benturan hebat di area kepala dan mengalami pendarahan hebat dan cidera berat. Kondisi ini mengakibatkan penderitanya kehilangan kesadaran dan tidak mampu bernapas.” Jelas dokter Felix.

DEG!

Fanny yang mendengar kondisi putra sulungnya langsung lemas dan hampir tersungkur ke lantai jika Dirk tidak langsung menahan tubuh Fanny. Marcus, langsung memejamkan matanya mencoba menghilangkan rasa sesak yang menguasai paru-parunya. Sungguh. Ia tidak menyangka, teman bermain sekaligus partner belajar dan kakak satu-satunya yang ia punya mengalami kejadian seperti ini.

“Apakah anak saya masih bisa sembuh dok?” tanya Dirk dengan suara tercekat. Dokter Felix menatap intens keluarga pasien dengan perasaan iba, sebelum berujar lagi.

"Dilihat dari keadaan pasien, saya akan menyampaikan apa adanya…” dokter Felix mengambil nafas Kembali sebelum melanjutkan berbicara “Dengan kematian batang otak, sudah dapat dinyatakan telah meninggal dan tubuh hanya bergantung pada alat bantu ,namun keputusan tetap saya berikan kepada pihak keluarga."

“Maksud dokter?” kata Marcus dengan suara pelan nyaris berbisik. Meskipun ia sudah tau kabar terburuklah yang terjadi tapi ia ingin memastikannya sekali lagi.

“Saat ini tubuh pasien hanya bisa bergantung pada alat untuk tetap bekerja, namun hal itu tidak akan berlangsung lama jika peralatan medis yang digunakan di lepas”

“Jadi anak saya tidak akan pernah sadar dokter?” tanya Dirk Kembali. Dokter Felix hanya menggeleng pelan sebagai jawaban.

Seperti mendapat sengatan listrik saat mendengar kabar tersebut. Bagaimana perasaan Marcus sekarang? Campur aduk. Marah, sedih, kecewa, menyesal. Semua bercampur di 1 relung hatinya. Mulai hari ini, yang ia hanya merasakan kosong. Mulai hari ini, tidak ada yang menjahili Marcus. Mulai hari ini, tidak ada yang mengajaknya bermain.

Semuanya, … mulai hari ini … ia… akan merasa sendiri…
Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

DEAR DIARY INDONESIA   LEXA 35

Lexa 35 “Lin … dengarkan aku dulu..” James mencoba untuk berbicara yang sebenarnya. “Baiklah jika kau ingin tetap disini… tak apa.. biar aku yang pergi dari sini…” Selin beranjak dari tempatnya namun Kembali ditahan James.

DEAR DIARY INDONESIA   Lexa 34

Lexa 34 “Ahh! Marcus! Aku l-lelah!” Posisi Lexa berada di atas Marcus yang menghujam dari bawah. Ia sudah tidak tahan lagi memompa tubuhnya namun Marcus juga tersiksa dari bawah karena miliknya yang tidak dihujam dari atas. “Ayo sayang.. bantu aku ahh… kamu benar-benar nikmat…” Marcus terus membantu Lexa menghujam dari bawah memegang pinggul Lexa untuk naik turun. Padahal mereka benar-benar sudah basah karena keringat dan wangi percintaan yang semakin kentara. Tapi Marcus tidak peduli lagi.

DEAR DIARY INDONESIA   Lexa 33

Lexa 33 Tidur Lexa Kembali terusik karena mencium aroma masakan yang menusuk ke luba hidungnya. Aroma yang sangat wangi dan menggiurkan membuat perutnya terus berbunyi minta diisi. Lexa beranjak dari ranjang menuju ke kamar mandi sebentar untuk membasuh wajahnya dan kemudian keluar dari kamarnya menuju dapur. Disana, Lexa melihat Marcus sedang sibuk di depan kompor sambil mengaduk sesuatu bahkan sesekali mengambil sedikit untuk mencicipi apakah rasanya sudah pas atau belum. Lexa memutuskan untuk duduk diatas kursi bar dan terus memandang Marcus yang jarang sekali ia lihat seperti ini.

DEAR DIARY INDONESIA   Lexa 32

Lexa 32 Keesokan paginya Lexa dan Marcus sedang bersiap-siap untuk memulai kegiatan mereka masing-masing yang kebetulan keduanya juga sedang berlibur. Jadi mereka memutuskan untuk memenuhi tugas mereka masing-masing. Lexa memutuskan untuk mengerjakan tugas kuliah bersama teman-temannya di sebuah kafe. Sedangkan Marcus memilih untuk datang ke kantor Dirk untuk ikut turun tangan dalam menjalankan perusahaannya yang kebetulan letak kantornya tidak jauh dari tempat Lexa belajar nanti. Hal itu membuat Marcus senang karena ia akan mengantar Lexa sebelum ia berangkat menuju kantor Dirk. Setelah Marcus menurunkan Lexa di depan kafe sesuai janj

DEAR DIARY INDONESIA   Lexa 31

Lexa 31Tak butuh waktu kurang dari setengah jam, James akhirnya tiba di apartemen tempat Selin tinggal. James keluar dari mobil sportnya berjalan menuju lobby resepsionis untuk menanyakan dimana Selin tinggal. Setelah menyerahkan kartu identitas kepada resepsionis untuk menukarnya dengan kartu kunci, James langsung bergegas menuju lift yang baru saja terbuka dan mentapping kartu tersebut diatas lock tap dan memencet nomor dimana Selin tinggal. Apartemen yang ditinggal Selin merupakan sebuah penthouse yang mewah dengan fasilitas keamanan yang ketat. James menekan bel pintu setelah sampai di depan pintu apartemen Selin. Selang beberapa l

DEAR DIARY INDONESIA   Lexa 30

Lexa 30 Konsultasi Lexa dengan Jovi sudah berakhir. Dan sekarang Lexa dan Marcus sudah berjalan keluar dari ruangan periksa menuju bagian administrasi untuk membayar tagihan dan tebusan obat. Jovi memberikan resep obat antikecemasan dengan dosis rendah dan hanya diminum sebanyak dua kali sehari. Dikarenakan gejala Lexa belm termasuk akut walaupun sudah lumayan parah. Marcus menyuruh Lexa untuk duduk di kursi ruang tunggu sedangkan Marcus berjalan menuju kasir untuk membayar administrasi dan menebus obat. Lexa

DEAR DIARY INDONESIA   Lexa 8

Tit. Tit. Tit. Tit. Tit. Alat monitor hemodinamik dan saturasi bunyi lebih cepat dari biasanya, Marcus yang baru saja terlelap terlonjak bangun sontak membola melihat Marvi

DEAR DIARY INDONESIA   Lexa 7

DEAR DIARY INDONESIA   Lexa 29

DEAR DIARY INDONESIA   Lexa 28

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy