loading
Home/ All /[Bukan] Pelakor (Indonesia) /Bab 5

Bab 5

Author: Rose Marberry
"publish date: " 2020-09-07 16:13:54

Kosong!

Irish merasa kosong dengan hati dan jiwanya. Setelah pengakuan gadis cantik itu, Irish mematikan sambungan telpon. Tapi, ia tak merasakan apa-apa. Ia merasakan kekosongan. Lebih tepatnya, ia mati rasa!

Irish termenung. Bahkan di tempat kerja pun, gadis itu tak bergeming. Irish terus saja memikirkan Galen dan gadis bule itu, apalagi pengakuan yang keluar dari mulut gadis itu membuat Irish berpikir macam-macam. Jika gadis itu mengaku teman, tentu Irish masih merasa tenang. Galen butuh teman disana. Tapi, kekasih? Apa Galen harus butuh kekasih disana? Galen... nama itu benar-benar menyita semua perhatian Irish.

"Melamun terus kak." Tegur Brata. Irish hanya tersenyum tipis. Bahkan ia beberapa kali salah memasukan nama menu, hingga para pelanggan komplain. Berurung boss Irish begitu baik, hingga Irish tak dipecat segera.

"Kakak mau nggak, pulang kita ngopi bentar di Bread Bruh. Ada menu baru katanya." Irish menggeleng.

"Aku kuliah pagi. Nanti nggak bisa bangun."

"Benar. Aku lupa, kalau kakak kuliah." Kekeh Brata. Irish hanya membalas dengan senyuman. Bahkan, sampai saat ini Galen tidak lagi menghubungi Irish. Apa Galen bersenang-senang dengan gadis itu? Tentu Galen takkan rugi, hidup bersama gadis cantik itu, dia cantik, modis, apalagi bule. Apalagi yang kurang. Sedangkan dirinya? Hanya manusia dibawah rata-rata yang bersyukur bisa kuliah dan bersyukur bisa kerja di tempat yang nyaman seperti ini.

Irish terus saja melamun. Kebersamaan gadis itu dan Galen benar-benar menganggu dirinya. Entah bagaimana ia menenangkan hatinya sekarang. Irish merasa sesak, berkali-kali ia menarik napas. Tak munafik, di sudut hatinya terasa nyeri.

"Nih buat kakak." Irish tersenyum pada Brata yang tiba-tiba memberi Irish segelas milo dingin yang ia buat sendiri. Cowok itu begitu baik dan perhatian.

"Makasih ya."

"Mungkin kakak lagi ada masalah. Cobalah, kakak teriak, biasanya lega."

"Oh iya, makasih."

"Makasih terus kak. Aku nggak punya recehan." Senyum Irish kali ini, lumayan lebar. Ia menghargai usaha Brata agar dirinya terhibur. Namun, pikirannya sedang tidak fokus kesini.

"Bayar pakai dollar aja." Bicara dollar, Irish terdiam lagi. Tiba-tiba ia teringat Galen yang memakai duit itu setiap hari. Irish rindu Galen. Tapi, apa hubungannya dengan gadis itu?

Irish menutup matanya dan minum milo dingin dalam sekali tegukan. Bukannya lega, ia langsung merasa begah. Ada-ada saja, kesialan yang menimpanya. Irish tak punya ekpektasi apa-apa tentang hubungannya sekarang, entah mau berakhir atau tidak. Irish menunggu keputusan Galen, ia tak punya banyak pengalaman tentang hubungan seperti ini. Galen pacar pertama Irish dan berharap terakhir dan satu-satunya. Tapi, apa bisa? Jika kehadiran gadis itu, membuat Galen tak lagi menghubungi dirinya.

Hubungan mereka yang telah terjalin selama 5 tahun, terlalu manis jika harus berakhir sekarang. Banyak suka duka telah menemani masa-masa remaja keduanya. Semuanya takkan mudah dilupakan begitu saja. Galen yang selalu membuat Irish nyaman, Galen yang membuat Irish terus berjuang dari kerasnya hidup. Galen sudah seperti separuh nyawa bagi Irish.

Saat SMA, masa-masa terindah Irish. Ia ingat, saat itu musim hujan. Galen dan Irish akhirnya mandi air hujan di sekolah, dan mereka mempunyai kenangan itu. Ada yang memngambil gambar keduanya. Irish yang tersenyum malu-malu ke arah kamera dan Galen yang tersenyum begitu tampan. Terlalu banyak barang pemberian Galen untuk Irish. Mulai dari hal kecil, hingga besar, dan masih Irish simpan sampai sekarang. Galen tahu, Irish suka membaca novel. Cowok itu, sering memberikan Irish buku-buku best seller yang tebal-tebal. Biasanya Irish habiskan dengan membaca. Terlalu banyak kenangan mereka.

Terlalu banyak memory. Dan Irish merasa tak sanggup, jika ia harus merestart hubungan mereka. Rasanya terlalu menyakitkan, dan terlalu manis.

Irish masih ingat, mereka pernah bertukar pesan hingga subuh hari. Saat Galen kelaparan, Irish memasak untuk Galen. Dan cowok itu, datang diam-diam ke rumah Irish. Irish mengantungkan makanan yang berupa nasi goreng di pagar rumahnya, tepat di bawah pohon mangga. Pohon mangga itu, saksi bisu hubungan Galen dan Irish.

Itu satu dari seribu hal termanis yang takkan pernah dilupakan keduanya. Tapi moment yang takkan pernah Irish lupa, ketika mereka sering duduk di tempat favorit mereka, memandang luasnya lautan sambil memandang kapal yang berlalu-lalang. Sambil membicarakan masa depan bersama, atau Galen yang mengeluarkan kata-kata receh lainnya.

Galen... Irish berharap, semoga hubungan mereka terus berlanjut. Karena Irish telah berjanji, masa depannya adalah Galen.

_______________________________

Ada yang bilang, jika kita sedang stress liburan adalah solusi yang tepat. Tetap saja, Galen merasa kosong ketika Emery mengajaknya pergi.

Sekarang musim panas. Waktu yang begitu indah, menikmati sunset. Galen hanya memandangi, banyak kebun-kebun apel dan anggur yang mereka lewati. Cowok itu hanya terdiam. Irish. Galen memikirkan Irish, Galen tak ingin Irish berpikir macam-macam. Tapi, Galen tak ingin menjelaskan permasalahannya pada Irish, ia tak mau Irish berpikiran tentang nasibnya, tapi Galen juga tak ingin Irish berprasangk buruk tentang Emery dan dirinya.

Emery melajukan mobilnya, melewati padang rumput yang begitu luas sejauh mata memadang. Jalanan begitu lurus. Negara ini, benar-benar luas.

"Aku tahu spot terbaik untuk melihat sunset." Emery membelokan mobilnya memasuki rerumputan yang panjang-panjang, bahkan truck Emery tenggelam. Tapi, gadis itu menerobos masuk. Ketika, telah sampai di tengah ada sebuah lapangan luas yang rumputnya pendek-pendek. Sekarang, sudah pukul 8 malam. Setelah memakan sandwhich, Emery mengajak Galen pergi melihat sunset.

"Ayo babe turun." Galen turun mengikuti Emery. Gadis itu memakai tanktop, dan rok pendek sebatas paha dan memaki ankle boots. Galen tak mengerti dengan fashion Emery, tapi lama-lama ia terbiasa melihat gaya berpakaian Emery. Irish lebih suka, gadis sederhana seperti Irish kekasihnya.

Kedua sejoli itu duduk di atas kap mobil, masih memandang ke arah matahari, yang sudah berwarna merah keorenan. Begitu sempurna. Galen dan Emery berada di tengah padang savanah yang begitu luas.

"Terkadang, ada penggembala yang membiarkan domba-domba makan rumput disini." Ujar Emery sambil menunjuk rumput-rumput yang terlihat begitu hijau dan subur.

"Oh benarkah?" Galen menoleh pada Emery. Gadis itu mengangguk.

"Kau tahu babe. Aku suka sekali melihat sunset, jika diizinkan aku ingin melihat sunset setiap saat di tepi pantai. Aku merasa damai ketika melihat sunset dan laut." Curhat Emery. Galen sudah tahu, apa yang Emery suka dan benci. Gadis itu telah membeberkan apapun yang ia rasakan pada Galen. Dan Galen hanya menjadi pendengar setia. Karena, tak tahu harus merespon seperti apa. Yang penting ia memberi sedikit ekspresi, agar Emery merasa bahwa Galen menghargai Emery.

"Bolehkah, kita mengambil gambar berdua?" Galen mengangguk. Emery meloncat turun, dan mengambil polaroid di dashboard truck miliknya. Polaroid berwarna putih telah dipegang Emery.

"Babe senyum." Galen refleks menolah pada Emery yang telah mengambil gambaranya. Emery mencabut print hasil gambar yang ia tangkap. Emery mengipas-ngipas foto tersebut dan memberi pada Galen.

"Simpan ini. Nanti kita jalan lagi, dengan terus membawa polaroid." Galen menerima foto yang sudah jadi. Ia memperhatikan potret dirinya. Senyum kerinduan. Dalam senyum itu, tersimpan banyak kerinduan di dalam sana. Home sick. Galen rindu kampung halaman, rindu masakan ibunya, rindu nasi goreng buatan Irish yang begitu khas. Irish membuatkan Galen nasi goreng, dengan mencampurkan wortel di dalamnya. Padahal, Irish tahu Galen tak suka makan sayur. Tapi, Irish memaksa agar Galen suka sayur.

Galen memasukan gambar itu dalam saku celananya.

Emery meloncat naik ke tas kap truck miliknya. Keduanya berpose. Galen hanya tersenyum simpul.

Galen melihat ke polaroid yang dipegang Emery dan gadis itu mencium pipinya. Jika, orang melihat pasti mereka mengira, keduanya sepasang kekasih yang tengah kasmaran.

"Oh babe aku melewatkan moment terbaik sunset." Teriak Emery heboh. Gadis itu mengambil ponselnya dan memvideo susnset yang perlahan ditelan bumi.

"Semoga Galen menjadi jodohku." Gurau Emery.

"Make a wish, ketika bintang jatuh bukan matahari tenggelam."

"Bagiku, matahari bersinar lebih terang dari bintang, jadi keinginan kita lebih cepat terkabul, dari pada make a wish pada bintang jatuh." Bela Emery.

Galen memandang ke arah matahari yang perlahan menghilang. Warna orens itu, perlahan digantikan dengan warna hitam. Apa hidupnya akan seperti itu? Warna hitam akan datang menghampirinya. Kegelapan yang menyelimuti kehidupannya, atau hubungannya akan gelap seperti suasana sekarang.

"Kita benar-benar harus berlibur ke pantai. Atau kita ke Hawaii." Emery memeluk leher Galen, seperti kebiasannya.

"Terlalu banyak rencana."

"Tidak ada yang salah dengan sebuah rencana. Hidup penuh dengan misteri, jadi kita harus merencanakan seribu satu cara menghadapi semuanya." Galen memandang takjub pada Emery. Gadis ini ajaib. Galen juga senang, sekarang gadis itu tak lagi berteman dengan teman-temannya yang akan membawa dampak buruk pada pergaulan Emery.

"Tapi, aku sudah tida bersabar untuk berlibur ke negaramu. Aku akan pakai bikini setiap hari." Galen tak bisa membayangkan, bagaimana Emery menghadapi panasnya negara tercinta. Walau California termasuk negara panas di bagian Amerika, tapi tak semenyengat kampung halamannya.

Tanpa sadar tangan Galen melingkar di pinggang Emery. Gadis itu telah menyandarkan kepalanya di bahu Galen, sambil menikmati pergantian malam.

Mereka masih nyaman berada disana. 

I want to wear his initial

On a chain round my neck. Not because he owns me. But 'cause he really knows me.

Bisik Emery pada dirinya.

"You don't need to save me, But would you run away with me?" Emery memandang Galen, dan berakhir memberi ciuman pada cowok itu.

__________________________________

Irish memandang sunset. Ia berada di tempat favoritnya dan Galen. Ingatan bersama Galen, menari-nari di kepalanya sekarang.

"Aku bisa buat balon besar." Galen memakan permen karet, dan memasukan 5 biji permen karet dalam mulutnya.

"Aduh, nggak kuat ngunyah." Keluh Galen. Irish tertawa kecil. Mereka berada di jembatan yang menjorok ke laut. Keduanya nyaman berada di antara besi-besi penghalang sambil melihat kapal-kapal yang berlalu lalang, karema jembatan itu berdekatan dengan pelabuhan.

"Ai bisa." Irish mengambil dua permen karet dan memasukan dalam mulutnya.

"Ai bisa." Irish berseru senang, ketika permen itu sudah berbentuk balon yang besar hampir menutupi seluruh wajah Irish. Galen menusuk balon itu, hingga pecah, dan berakhir keduanya tertawa bersama. Mereka menikmati pemandangan di depan, sambil memperhatikan, bagaimana air laut yang surut perlahan menutupi batu-batu yang berada di pinggir pantai.

"Sebenarnya aku bisa loncat ke bawah." Irish tersenyum bangga. Ia tahu, Galen selalu berusaha agar ia kagum pada cowok itu. Walau bertingkah seperti apapun, Galen memang selalu berhasil menarik perhatian Irish.

"Tapi pakai pelampung." Tambah Galen. Keduanya tertawa lagi. Entah kenapa, bersama Galen, jarang sekali Irish merasa sedih atau merasa kesepian. Galen pelengkap bagi Irish.

Masa-masa sekolah yang begitu indah. Rasanya Irish ingin mengulang kembali memory tersebut, atau mengulang kembali bersama Galen disini sekarang.

Irish hanya memeluk lututnya. Hari ini, ia sengaja izin tak masuk kerja. Irish butuh liburan dari dadanya yang terasa sesak dari kemarin. Irish menggali kembali memory kebersamaan mereka. Dan--hasilnya ia menangis. Air mata gadis itu tak berhenti produksi. Sedih yang teramat dalam, Irish merindukan Galen, sangat rindu, dan merisaukan kehadiran gadis bule yang cantik itu. Demi apapun, Irish tak rela ada yang mengganti dirinya di sisi Galen. Tersiksa. Irish tersiksa dengan kerinduan ini.

Bahkan sunset itu tak lagi berwarna, tapi digantikan oleh langit berwarna hitam, yang menutupi cahaya digantikan dengan rintik-rintik hujan yang menemani air mata Irish sekarang. Rintik-rintik air membasahi tubuh gadis itu, tapi Irish enggan beranjak. Ia masih memeluk lututnya dan melihat ke arah laut yang tak lagi berwarna biru terang. Cuaca begitu mendukung keadaannya sekarang.

Jika ada manusia super baik yang mau meminjamkan Irish duit, gadis itu ingin terbang ke negara ujung itu sekarang. Irish ingin bertemu langsung dengan Galen dan gadis itu, ingin menanyakan seperti apa hubungan mereka. Apa Irish harus sadar diri dan mundur dari hidup Galen sekarang?

Walau kau berubah

Aku 'kan bertahan

Di sepanjang waktuku

Biarkan aku mencintaimu

Dengan caraku

Walau kau menghapus

Menghempas diriku

Mengganti cintaku (karena kamu)

Semua tak mampu

Hilangkan cinta

Yang telah kau beri (ku kan tak pernah berubah)

Lyrik lagu ini begitu mewakilkan perasaan Irish sekarang. Gadis itu makin terisak, memeluk kakinya rintik hujan semakin terasa membasahi tubuhnya. Irish cemburu, Irish rindu, semua perasaan aneh ini, menghantam dada Irish.

Apa kehadiran gadis itu menjadi duri dalam hubungan mereka? Apa Irish harus rela berbagi Galen dengan perempuan lain?

Irish semakin terisak. Ia mengeluarkan apa yang ia tahan selama ini. Sakit. Gadis itu memegang dadanya, hujan semakin deras dan mengguyur tubuhnya. Orang-orang yang berasada di jembatan sudah pergi. Meninggalkan dirinya, keadaan semakin gelap. Tapi, Irish ingin seperti ini. Menangis, hingga takdir menjawab, entah takdir akan mengganti dengan kebahagiaan atau kesakitan yang lain. Dan Irish akan tetap siap.

Asal tetap bersama Galen!

________________________________

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

[Bukan] Pelakor (Indonesia)    Bab 16

Seharusnya Irish membenci Galen. Karena ia hanya dijadikan lelaki ini, buat menampung buangan alias menampung spermanya saja.Dan mulai sekarang, Irish bertekad tak terpengaruh atau terhasut semua bualan gila Galen. Biarkan saja, toh Galen juga sudah punya hidup sendiri, sudah punya istri. Harusnya Galen lebih memprioritaskan kehidupannya, bukan harus flashback. Ikhlas tak ikhlas, Irish harus menerima jika ia dan Galen memang tak ditakdirkan bersama. Semua cerita mereka, hanya menjadi kisah manis saat menjalani masa putih abu-abu yang penuh huru-hara.Pagi ini, Irish bertekad akan mengabaikan Galen dan tidak akan mengubrisnya. Gadis itu akan menjalani hidup normal dan mulai hidup dengan tenang. Tak perlu terlalu mengurusi masa lalu yang hanya akan merugikan dirinya. Tak ada untung sama sekali."Kebiasaan lu ye pagi melamun, siang melamun, boker melamun, makan melamun." Irish hanya memandang Welly malas."T

[Bukan] Pelakor (Indonesia)    Bab 15

Irish yang masih menunduk, tiba-tiba merasakan seseorang memakaikan syal yang ia pakai, untuk menutupi dosanya. Irish berbalik, air mata sudah mengenang di pelupuk matanya."Bubar!" suara Declan menggelegar. Kumpulan yang melingkar, langsung berhamburan seperti semut.Gadis itu berbalik, dan melihat Galen tersenyum hangat padanya, dan menepuk-nepuk belakang Irish."Fuck you!" Emery bangun, dan mendekati Irish dan sempat menarik rambut gadis yang sedang terguncang hebat.Declan dan Galen dengan cepat memisahkan Emery yang sedang mengamuk, seperti gajah dan Irish yang sangat pasrah. Niat hati, mau balas ke Emery, malah Irish yang kena batu kerikilnya.Irish masih menunduk, ketika ia masih mendengar suara teriakan Emery yang menyumpahinya."Fucking slut! We never ever be friends." kata-kata Emery membuat tubuh Irish merinding. Ia akan merusak hubungan rumah tangga Emery, atau

[Bukan] Pelakor (Indonesia)    Bab 14

Irish menyatukan kedua tangannya, sambil meremas pelan. Dan menggosok-gosokan tangannya seolah ia sedang berada di cuaca dingin yang ekstrim.Untuk menutupi semua dosa-dosanya, Irish memakai syal, dan harus berpura-pura pilek, agar bisa mengelabuhi yang lain dan berkata sakit, sehingga tak ada yang melihat lehernya yang terdapat banyak ukiran Galen. Menarik napas panjang, akhirnya Irish mengetuk pintu bos besar dan membukanya. Irish menelan salivanya, pose Declan yang duduk di kursi kebesaran sambil serius melihat laporan di kertas berjilid hijau tersebut menambah kesan dan aura yang begitu menarik, menandakan lelaki pekerja keras dan penyanyang keluarga. Andai, Declan masih muda Irish tak segan melabuhkan hatinya, walau ia sadar ia hanya seorang gadis miskin, dan tak bisa melupakan cinta pertamanya begitu saja. Cinta pertama yang akan ia lakukan apa saja, agar Galen kembali ke pelukannya. Semalam, saat Galen pulang, Irish terus berpiki

[Bukan] Pelakor (Indonesia)    Bab 13

Terdiam. Galen terdiam di samping Irish yang terisak. Nasi telah menjadi bubur sum-sum, bahkan jika ditambah gula merah sebagai pemanis Irish menjamin rasanya berubah hambar bahkan pahit. Gadis itu hanya mampu terisak. Dan Galen hanya duduk berjongkok di samping Irish tak tahu harus berbuat apa. Mereka yang sudah siap penetrasi dan mengarungi kenikmatan bersama, malah menghentikan semuanya. Galen dan Irish sama-sama sadar, ini salah. Nafsu tak boleh melemahkan akal sehat. Jadilah, keduanya terduduk sambil terdiam dengan posisi yang sama-sama bugil. Keduanya tak ada yang berinisiatif untuk sekedar memakai kembali pakaian keduanya. Dan Irish hanya terisak, ia hampir kelepasan, dan baru sadar ia akan menyerahkan harga dirinya sia-sia yang akan membuatnya menyesal seumur hidup. Galen merapatkan tubuhnya ke arah Irish dan memeluknya dari samping. Ia mencintai Irish, ia tak ingin merusak Irish, cukup tanda merah di bagian

[Bukan] Pelakor (Indonesia)    Bab 12

Warning!!! Plus-plus, not for virgin eyes. __________________________________Irish hanya mampu tersenyum, setiap melihat wajah Declan. Boss besar itu walau hanya menampilkan wajah kaku, tapi entah kenapa menggelitik perasaan Irish. "Kenapa senyum-senyum?" tanya Declan membuka suara, setelah ia melihat bawahannya tak berhenti senyum dan ditanggapi Irish dengan gelengan. Melihat tingkah konyol Irish membuat Declan akhirnya ikut tersenyum. Tak ada hal lain yang bisa Declan ajak kecuali makan. Dan berakhir lagi mereka di pasar loak. Sekarang masih sore hari, Declan sengaja tak membawa putri cerewetnya, karena akan menganggu saja. Declan sedang melihat keadaan sekeliling. "Lihat pasar loak begini, saya ingat Jerman. Disana sama juga seperti ini, tapi lebih rapi dan bersih, yang menariknya mereka jualan di sepanjang pesisir sungai." Irish hanya tersenyum, karena ia tida mempunyai gambaran Jerm

[Bukan] Pelakor (Indonesia)    Bab 11

Dunia tak selalu ramah. Kadang kita bisa tertawa, kita bisa menangis. Bahkan, kita bisa merasakan dua hal itu dalam waktu bersamaan. Irish berada di tengah, ingin menangis dan tertawa sekarang. Setan menyuruhnya bahagia, dan malaikat hanya bisa menggeleng. Separuh hati Irish berontak, agar mendorong Galen segera, tapi ia sudah berjanji, dan tak ingin melakukan semua ini dengan setengah hati. Harus totalitas, jadi pelakor. Karena bagi Irish, ia melakukan hal yang benar. Mengambil kembali, apa yang menjadi miliknya. Dengan banyak pikiran yang bercabang, Irish melepaskan tautan keduanya dan hanya bisa menunduk. Tanpa sadar, sebutir air mata lolos. Tubuh gadis itu bergetar. Apa yang akan dikatakan orang-orang padanya, jika ia telah berubah jadi jalang sekarang? Ini bukan Irish yang orang kenal. Irish gadis polos, gadis pemalu, bukan gadis murahan! Bagaimana ibunya tahu ini? Irish menunduk, dan bisa merasakan napas Galen tepat di depan wajahnya. Galen

[Bukan] Pelakor (Indonesia)    Bab 10

Gosip. Menurut Wikipedia, Gosip, gibah, atau gunjing adalah sebuah obrolan atau rumor kosong, yang biasanya berkaitan tentang urusan pribadi atau orang lain. Masyarakat Indonesia merupakan salah satu negara dengan gemar bergosip. Apabila membicarakan keburukan orang lain.

[Bukan] Pelakor (Indonesia)    Bab 9

"Makan Irish." perintah Declan. Irish hanya memegang sendoknya dengan malu-malu dan memasukan nasi merah dalam mulutnya. Ia malu. Dan Declan benar-benar mendeklarasikan ucapannya, pulang bersamanya.Saat Irish sedang menunggu angkutan umum, mobil Range Rover warna hitam

[Bukan] Pelakor (Indonesia)    Bab 8

"Ai." tegur Galen pada Irish yang sudah terduduk sambil terisak. Ia tak sanggup berhadapan dengan Galen. Bahkan, selama 4 tahun berpisah pertama kalinya mereka bisa sedekat ini. Galen sengaja menghidupkan air di dalam toilet dan membiarkan air itu mengalir jika melubar akan membasahi

[Bukan] Pelakor (Indonesia)    Bab 7

"Udah tahu, anak akuntan publik yang baru?" Tanya Welly. Pagi hari semua orang dihebohkan, dengan kehadiran sosok Galen dan istrinya--Emery Mclan. Sosok pirang yang menari perhatian siapa saja, karena berpenampilan unik sendiri.Hati Irish sudah kebal menerima semuanya.

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy