تحميل
بيت/ الجميع /Bintang untuk Angkasa /9. Feel Alone

9. Feel Alone

مؤلف: Septi Nofia Sari
"تاريخ النشر: " 2020-11-08 08:00:27

Langit di luar tampak mendung. Sebentar lagi kurasa hujan akan turun. Aku menghela napas, mengalihkan pandangan dari langit di luar jendela ke novel yang kuletakkan di atas meja.

Ngomong-ngomong, ini sudah hampir seminggu sejak kejadian labrakan itu. Sehari dua hari setelah kejadian memalukan di kantin itu, telingaku harus panas setiap hari oleh kasak-kusuk yang membicarakan hal itu. Banyak yang memandangiku dengan sinis, terutama geng Anggi. Bintang yang tidak terlalu dikenal di sekolah ini mendadak jadi bahan pembicaraan karena dilabrak oleh geng Anggi yang terkenal itu. Tapi aku hanya menanggapinya dengan tidak terlalu ambil pusing dan bersikap biasa saja, yah meskipun dalam hati aku merasa tidak tahan juga mendengar gosip itu. Namun setelah dipikir-pikir kembali disini aku tidak bersalah apa-apa, jadi kuputuskan untuk tidak memikirkannya. Dan lama-kelamaan setelah aku mendiamkannya, semua kembali normal seperti biasa, kasak-kusuk itu sudah jarang terdengar kembali. 

Aku mengalihkan pandangan keluar jendela yang ada di sampingku, lagi. Gerimis sudah datang, bersama hawa dingin yang membelai kulit dengan lembut. Aku menghela napas, memeriksa jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan. Ini sudah hampir satu jam sejak bel pulang berbunyi, itu artinya sekolah sudah cukup sepi. Belakangan ini setelah kejadian itu, aku semakin sering nongkrong di perpustakaan sekolah, baik saat jam istirahat, jam pelajaran kosong, maupun setelah bel pulang sekolah berbunyi sambil menunggu keadaan sekolah cukup sepi. Bukan berniat untuk mengubah kepribadianku menjadi introvert, tapi hanya sedang malas saja di tempat ramai.

Sekolah sudah cukup sepi saat aku memutuskan keluar dari perpustakaan. Hanya ada beberapa siswa laki-laki yang tengah berlatih futsal di lapangan belakang dan berlatih basket di lapangan tengah sekolah. Sesampainya di koridor dekat lapangan basket, aku mempercepat langkah. Hanya berusaha menghindar kalau-kalau kebetulan aku bertemu seseorang yang sangat tidak ingin kulihat saat ini.

"Bintang?"

Aku menoleh. Dari suaranya saja aku sudah tahu siapa yang baru saja memanggil itu. Dan benar saja, cowok itu langsung berlari mendekat saat aku tersenyum padanya. Dia tersenyum ramah, dan sangat manis. Pantas saja Kak Viny jatuh cinta pada cowok ini.

"Kok belum pulang?" tanyanya.

"Abis dari perpus."Dia mengangguk sebanyak dua kali.

"Lo kayaknya sering banget ke perpus ya sekarang? Nggak takut ketemu hantu? Denger-denger di perpus ada penunggunya loh." 

"Beneran? Ganteng nggak penunggunya? Kalo ganteng kan lumayan buat dijadiin gebetan," candaku, dan Kak Bisma tertawa renyah.

"Ada-ada aja, lo. Emang mau pacaran sama penunggu perpus?" tanyanya.

"Kenapa enggak? Kalo ganteng sama pinter, bolehlah." Aku mengangkat bahu. "Kali aja, makhluk astral lebih nyenengin daripada manusia."

Kak Bisma menatapku lama, lalu menghela napas. "Masih marahan sama Angkasa?"

Nama itu lagi. Aku berusaha tetap tersenyum. "Siapa yang marahan?"

"Kalian, kan? Angkasa jadi buas tahu, gara-gara kamu. Bawaannya uring-uringan mulu."

"Kasih aja daging!" balasku, sekenanya. Lagipula, kenapa Angkasa yang uring-uringan dikaitkan denganku?

"Dia maunya Bintang, bukan daging."

"Dagingnya Bintang nggak enak!"

Kak Bisma terkekeh. Mengangkat tangan, seolah menyerah. Aku menyeringai. Setelah berbasa-basi tentang Kak Viny, aku pamit pulang. Tapi saat melewati parkiran motor, napasku tercekat di tenggorokan melihat sosok yang tengah bersandar pada jok motor sport berwarna putih itu. Lagi-lagi, takdir kembali membuat pandangan kami bertubrukan. Sama seperti kebetulan-kebetulan sebelumnya. Langkahku memelan sementara dia menegakkan tubuhnya dan berjalan santai ke arahku dengan pandangan masih tertuju padaku.

Aku memalingkan pandangan ke sisi lain, namun meski begitu aku masih dapat merasakan dia masih memandangku dan semakin mempertipis jarak kami. Seminggu tidak saling berpapasan begini, aku cukup merasa tenang. Meskipun entah kenapa ada yang kosong juga. Tapi aku merasa ini yang terbaik, demi kehidupan normalku di sekolah ini.

Tanganku semakin menggenggam erat tali tas, saat jarak kami tinggal setengah meter lagi. Tanpa sadar langkahku tetap pelan, sementara langkahnya tetap santai seperti biasa. Dan seperti ada sesuatu yang mencelos keluar saat jarak kami semakin dekat dan dia melewatiku begitu saja. Begitu saja. Aku tersenyum miring. Sepertinya dia menuruti kata-kataku waktu itu. Baguslah. Bagus!

"Bi!"

Panggilan itu membuatku tersentak. Aku mematung, mengerjap-ngerjapkan mata. Memastikan bahwa penglihatanku tidak salah. Di depan pintu gerbang sana, seorang laki-laki memakai jeans panjang berwarna putih dan jaket hitam yang resletingnya dibiarkan terbuka, dengan dalaman kaos polos warna abu-abu.  Dia, sosok yang sangat kukenal selama lebih dari enam belas tahun, tengah menyandarkan tubuhnya pada badan mobil dengan senyum merekah tertuju padaku. Dia, yang selama lima belas tahun tidak pernah sekalipun mengulum senyum padaku kini tersenyum manis dan melambaikan tangannya padaku.

"Bintang Aurora!" Panggilnya sekali lagi, dan aku langsung berlari ke arahnya.

Niat hatiku ingin memeluknya saat itu juga, namun langkahku terhenti tepat tiga langkah di depannya. Dia mengerutkan keningnya, perlahan merentangkan tangannya seolah memintaku untuk segera menghambur ke pelukannya. Namun aku tetap bergeming, hatiku merasa ragu dan takut untuk memeluknya. 

Dia mengangkat sebelah alisnya. "Enggak mau peluk?" 

Lagi-lagi aku mengerjap-ngerjapkan mata. Sebenarnya ini mimpi atau bukan, sih? "Boleh?" 

Raut wajahnya berubah sendu dan sedetik kemudian dia melangkah maju kemudian menarik tubuh mungilku yang langsung berada dalam dekapannya. Perlahan aku memejamkan mata, melingkarkan kedua tangan ke pinggangnya. Gerimis yang semakin deras menjadi saksi bisu pelukan pertama yang diberikan seorang kakak kepada adiknya yang terpaut usia empat tahun.

Rasa seperti ini, rasa bahagia dan tenteram saat berada di pelukannya, aku benar-benar tidak menyangka akan merasakannya. Kupikir seumur hidup aku tidak bisa mendapatkan ini darinya. Mengingat betapa acuh dan dinginnya dia padaku sejak aku lahir di dunia ini, aku tidak pernah menyangka dia akan bersikap berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sebaik dan sehangat ini padaku.

"I miss you."

Aku tersenyum. Sungguh, jika sekarang ini hanyalah mimpi maka untuk selamanya aku ingin tetap hidup dalam mimpi ini. Tolong jangan bangunkan aku.

***

"Assalamu'alaikum."

Aku, Kak Viny dan Bunda menjawab salam itu secara serentak seraya menoleh pada sosok laki-laki yang berdiri di ambang pintu dengan senyum merekah. Malam ini Papa pulang, setelah menangani kantor cabang miliknya di kota Denpasar selama enam bulan. Itulah alasan Kak Andro tiba-tiba pulang meskipun ini bukan waktunya libur kuliah. Karena Sore tadi, setelah menjemput aku dan Kak Viny, Kak Andro langsung pergi.

Di ambang pintu sana, saat ini, berdiri laki-laki yang akan selalu jadi laki-laki nomor satu yang kucintai dalam hidupku. Rambutnya yang sudah memutih sebagian, kerutan di keningnya yang menunjukkan bahwa usianya sudah tidak muda lagi, bola mata berwarna hitam kecoklatan, bibir tipis yang selalu membentuk lengkungan ke atas, bentuk rahang keras yang menunjukkan sifatnya yang tegas dan lembut secara bersamaan dan tubuh tegaknya yang masih tetap tegak meski usianya sudah tak muda lagi.

Aku sangat mengenali bentuk tubuhnya, meskipun aku tidak bisa mengamatinya dari dekat. Tapi sungguh aku sangat mengenalinya. Otakku sudah merekam dan menyimpannya baik-baik semua hal yang berhubungan dengan laki-laki yang kupanggil 'Papa' itu. Senyumnya yang menenangkan, tatapannya yang teduh, suaranya yang lembut, usapan tangannya yang hangat, otakku merekam semuanya. 

"Gimana kabar kalian selama Papa nggak ada di rumah, Sayang?" Benar kan yang kubilang? Suara Papa sangat lembut.

Pelukan Papa juga sangat hangat dan menenangkan. Aku tidak bohong kalau Papa adalah papa terlembut dan penuh kasih sayang di dunia ini.

Tapi... hanya untuk Kak Andro dan Kak Viny. Sedangkan aku? Hanya berperan sebagai penonton dalam pertunjukan pertemuan antara seorang ayah yang sudah lama tidak pulang dengan kedua putra-putrinya yang sangat disayangi. Aku hanyalah penonton, tak terlihat, tak diharapkan, terabaikan, dan tugasnya hanya menonton. MENONTON.

Sejak kedatangan Papa, kemudian saling bercengkrama di ruang tamu diselingi acara pemberian oleh-oleh, hingga tiba waktunya untuk makan malam, aku melakukan tugasku dengan baik. Menonton keluarga bahagia beranggotakan empat orang itu dengan menyunggingkan fake smile.

Menggigit bibir bawah menahan rasa sakit yang bergejolak dalam dada. Menahan tanggul di pelupuk mata agar tidak jebol sebelum pertunjukan selesai. Menahan ekspresi agar tampak sebahagia mungkin menyaksikan acara pertunjukan keluarga bahagia itu. Menahan bahuku yang naik-turun menahan hantaman keras dan sangat kuat pada dadaku. Menautkan jemari kuat-kuat hingga buku-buku tanganku memutih hanya agar tubuh tak bergetar semakin hebat. Aku hanya penonton. Bintang Aurora hanyalah seorang penonton. Tidak bisa berharap lebih.

"Bi ke kamar dulu. Lupa ada PR yang belum Bi kerjain."

Semuanya, ke empat orang itu, menoleh padaku. Tatapan mereka lurus tertuju ke arahku, seperti empat anak panah tajam yang menancap tepat pada keempat bilik jantungku.

Mama, Bi nggak kuat menonton lagi. Biarkan Bi keluar dari arena pertunjukan ini. Bi sakit, Ma. 

"Selamat malam, semuanya." Dan kalimat terakhir ini, yang keluar dari mulut dan aku yakin terdengar lebih mirip seperti bisikan, menjadi bukti bahwa aku sudah tak sanggup lagi menjadi penonton.

Dengan tubuh bergetar hebat dan tanggul yang jebol di pelupuk mata menyebabkan dua anak sungai mengalir deras dari sana, aku berlari menaiki anak tangga dengan cepat. Tidak peduli bagaimana reaksi mereka setelah ini, tidak peduli tatapan seperti apa yang mereka berikan mengiringi kepergianku meninggalkan mereka, aku langsung masuk ke dalam kamar.

Mengunci pintu rapat-rapat dan bersandar di tepi ranjang sambil memeluk lutut dengan wajah kutenggelamkan di atasnya. Isakan keras keluar dari mulutku. Dadaku sakit, nyeri sekali seperti ada batu besar menyumpal di sana hingga oksigen rasanya gagal untuk masuk. 

Semua hal tentang Papa yang terekam dalam otakku, tentang senyumnya yang menenangkan, tentang belaian tangannya yang penuh kasih sayang, tentang suaranya yang selembut kain beludru, tentang pelukannya yang menghangatkan, semuanya yang terbaik yang ada pada diri papa. Aku harus terpaksa menyadarinya, bahwa itu bukan untukku. Bukan untuk Bintang Aurora. Tapi hanyalah untuk Andromeda Wijaya dan untuk Viny Aulia. Hanya untuk mereka berdua. Tidak ada tempat tersisa untuk Bintang Aurora. Sama sekali tidak ada!

"Ma...ma Bi ... Bi ... s-sa...kit, Ma." Kupukul-pukul kuat dadaku dengan tangan terkepal kuat.

Kupikir kepulangan Kak Andro tadi sore, akan membawa kabar gembira untukku. Akan berdampak baik bagiku. Rasa bahagia saat Kak Andro memelukku, kupikir adalah awal dari hubungan baik antara aku dengan Kak Andro maupun Papa. Ternyata aku salah. Semuanya masih sama, bahkan tadi baik Papa, Bunda, Kak Andro, bahkan Kak Viny mengabaikanku saat bercengkrama dengan Papa. Mereka mengabaikanku. Aku tidak ada di depan mereka. Aku tak terlihat di antara mereka. Kak Andro yang sudah berubah sikap menjadi baik padaku, dia mengabaikanku. Bahkan Kak Viny, yang sejak sehari setelah pernikahan Papa dan Bunda berjanji akan selalu menggenggam tanganku dan menganggap keberadaanku, ikut mengabaikan.

Aku tidak tahu apakah Kak Andro dan Kak Viny sengaja melakukannya atau tidak, tapi yang aku tahu hatiku teriris dan perih. Aku merasa terkhianati, entah oleh siapa tapi rasanya memang begitu. Tiba-tiba aku merasa asing berada di dalam rumah yang sudah kutinggali sejak aku lahir di dunia ini. Rasa sakit ini, kenapa aku harus mengalaminya, ya Allah?

"Sa...kit. Bi ngg-gak k-ku...at, Ma." Isakanku semakin keras diatas lutut yang kupeluk. Bahuku naik-turun dan tubuhku bergetar hebat. Tapi nyeri dada kiriku ini lebih kuat, rasanya sesak sekali. Bahkan tak kupedulikan ketukan di pintu kamar

"Mbak Bi...."  Itu suara Bu Rini. Tapi aku belum siap bertemu siapa pun saat ini, sungguh. "Mbak, Bi. Ibu boleh masuk?"

Aku bisa mendengar nada khawatir dari pertanyaan Bu Rini. Aku sangat tahu itu, Bu Rini selalu mengkhawatirkan keadaan hatiku setiap kali Papa dan Kak Andro di rumah. Bu Rini dan Pak Udin, suami Bu Rini yang juga bekerja di rumah ini sebagai tukang kebun, adalah saksi bagaimana aku tumbuh besar tanpa kasih sayang. Hanya mereka berdua yang mengerti dan memahami keadaanku. Hanya mereka, sepasang suami istri yang sama sekali tidak ada hubungan darah denganku.

Pintu diketuk kembali. "Mbak Bi baik-baik saja, kan?"

Kuusap kedua pipi yang sudah basah oleh air mata, dan aku berdehem beberapa kali agar suara terdengar baik-baik saja. "Bi, gak papa, Bu."

Aku tidak berniat membuka pintu karena Bu Rini akan melihat keadaan wajahku yang mungkin sudah sangat kacau. Aku tidak mau terlihat lemah di depan siapapun.

"Ibu boleh masuk?"

 "Besok ... besok aja ya, Bu?" Aku menggigit bibir bawah. Kuhirup napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Bibirku terasa asin karena air mata yang mengalir sampai di bibir juga. "Bi, mau ... mau tidur. Ngantuk banget soalnya."

"Ya udah, Mbak Bi tidur aja. Selamat malam."

"Selamat malam, Bu."

Air mataku mengalir lagi. Kubenamkan wajah di kedua lutut. Malam ini, untuk ke sekian kalinya aku merasa sendiri.

***
هل تريد معرفة ما سيحدث لاحقا؟
واصل القراءة
الفصل السابق
الفصل التالي

مشاركة الكتاب إلى

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

أحدث فصل

Bintang untuk Angkasa    29. Pergi

Aku tertawa getir sambil bangkit. Mengabaikan Bunda yang terkejut dengan tangan yang menutup mulutnya, dan Kak Viny yang tidak jauh beda dengan bunda. Aku mengusap kasar pipiku yang basah, berhenti tiga langkah di depan Papa dan menatapnya. Menatap sepasang iris berwarna sama dengan iris mataku."Anak-anak Papa? Ah, aku tau. Maksud Papa, Kak Andro sama Kak Viny kan?" aku tersenyum miring. "Terus aku ini siapa di sini? Orang asing? Ah ya! Itu kan yang selalu Papa sebut? Kalo aku orang asing. Kalo aku bukan siapa-siapa di rumah ini. Kalo aku cuma seorang anak yang kebetulan menerima kebaikan dan kemanusiaan dari Tuan Danu Wijaya?""Jaga bicara kamu!" tegas Papa."Tapi emang bener, kan? Papa yang bilang kayak gitu. Dari aku kecil, ah bukan. Maksudku dari aku bayi, Papa sama sekali nggak anggap aku anak Papa.""Bi?" Bunda memanggilku lirih."Yang kasih nama aku adalah Bu Rini. Yang adzani aku adalah Pak Udin. Papa kasih semua fasilitas buat hidup aku tapi P

Bintang untuk Angkasa    28. Tamparan

Semburat jingga perlahan menggores langit senja, mengantarkan sang raja siang kembali ke peraduannya dan menjemput ratu malam menampakkan kecantikannya. Lampu-lampu mulai menerangi jalanan kompleks perumahan. Aku berjalan pelan, merapatkan jaket saat kakiku melangkah memasuki gerbang rumah. Ini memang sudah sore, tapi aku baru pulang ke rumah masih berbalut seragam sekolah hari ini. Perlahan kuputar kenop pintu depan dan membukanya pelan. Aku menghela napas saat sepi dan hampa menyerangku begitu masuk ke bagian rumah yang lebih dalam. Rumah masih sepi. Mungkin Papa dan Bunda masih berada di tempat kerjanya, lalu Kak Viny berada di kamarnya. Dan Bu Rini dan Pak Udin yang mungkin sudah beristirahat di paviliun belakang rumah, yang memang disediakan untuk tempat tinggal mereka.Kehela napas untuk kesekian kalinya, saat kakiku melangkah menaiki anak tangga. Aku ingin berjalan mundur ke situasi beberapa bulan lalu, saat keadaan lebih baik daripada sekarang. Saat Papa masih mengurus

Bintang untuk Angkasa    27. Suka? Bullshit!

"Bi, lo beneran nggak mau pulang sama Kak Angkasa?" tanya Intan, saat kami sama-sama melewati pintu gerbang depan untuk keluar dari gedung sekolah. Aku hanya bergumam pelan dengan pandangan fokus ke layar ponsel sembari berjalan. "Seenggaknya ngomong dulu gitu?"Kuangkat pandanganku ke arah Intan, dan mendecakkan lidah. "Setelah tadi dia tarik-tarik gue di depan banyak orang dan ngebentak-bentak kayak gitu?" Aku berdecih pelan. "Maaf, gue bukan cewek yang sesabar itu.""Terus lo mau naik bis kayak sebelum-sebelumnya, gitu?""Ada Ibal." Aku mengangkat ponsel ke arah Intan.Intan mengangguk mengerti namun ekspresinya berubah jahil. "Lo mau jalan dulu nggak sama Abang Ibal? Gue juga mau dong diajak jalan."Aku tersenyum geli. "Terus itu supir lo mau dikemanain?"Intan mencebikkan bibirnya menatap mobil pribadi yang sudah terparkir di depan kami. "Gue suruh pulang!""Les privat lo?"Intan menghentakkan kakinya satu kali. "Kalo nggak mau gu

Bintang untuk Angkasa    26. Berhenti Ikut Campur

Keningku berkerut saat masuk ke dalam kelas dan mendapati sebagian besar teman-teman sekelas sudah duduk rapi di kursi masing-masing dengan kesibukan mereka. Ada dua kelompok disana, kelompok pertama tengah fokus membolak-balik halaman buku sambil komat-kamit dan itu bisa dihitung dengan jari. Sementara kelompok kedua tengah sibuk menulis sesuatu di kertas kecil. Dan Intan termasuk dalam kelompok kedua yang sepertinya tengah membuat contekan ulangan.Tunggu...contekan ulangan? Aku segera menuju tempat dudukku dan meletakkan tas punggungku di atas meja sembari duduk. "Emang hari ini ada ulangan, Tan?" Intan menoleh sekilas padaku sebelum kembali fokus ke kertas kecilnya. "Jangan bilang lo nggak inget?""Emang beneran ada?""Sejarah."Mataku membelalak lebar dan langsung menepuk kening dengan telapak tangan."Lo lupa? Tumben."Aku berdecak mendengar ucapan Intan, namun langsung mengambil buku catatan sejarah dari dalam tas ke

Bintang untuk Angkasa    25. Hurt

Aku melirik tajam ke arah Intan yang cengengesan. Iqbal ini punya kadar protektif yang sangat over terhadapku dan itu benar-benar membuatku jengah. Dan meskipun dia termasuk cowok humoris, tapi tetap tampak sangat menakutkan saat sedang serius."Enggak usah bersikap kayak Abang beneran, deh." Aku menghindari tatapannya."Lo punya pacar?""Enggak.""Lo masih kecil, Bi." Tuh kan? Kalau dia memanggilku dengan sebutan 'Bi' berarti dia sedang benar-benar serius."Gue nggak pacaran, Ibal." Dia menyipitkan matanya menatapku namun aku langsung menggandeng lengannya. "Udah deh mending sekarang lo makan dulu karena acara tiup lilinnya udah mau mulai. Oke, Abang Ibal?"Dan berani jamin kalau aku sudah memanggilnya 'Abang Ibal' maka dia pasti akan menurut. "Ya udah tapi abis acara ini selesai lo harus jelasin siapa Angkasa Angkasa itu. Ngerti?" Setelah Iqbal pergi, aku langsung mendelik pada Intan. "Elo sih!""Loh, emang apa salahnya sih?" t

Bintang untuk Angkasa    24. Cemburu?

"Bi, Sayangku!"Aku memejamkan mata saat Intan berlari—yang jujur tak ada anggun-anggunnya sama sekali—ke arahku dan langsung memeluk erat. Aku langsung melepaskan paksa pelukannya sebelum persediaan oksigen di paru-paruku habis."Apa sih, Tan? Gue kehabisan napas tau!"Intan memberengut. "Kan gue kangen, Bi. Tiga hari nggak ketemu lo tuh berasa kayak sup tanpa garam, hambar.""Dih. Lo ketularan lebaynya Kak Romi kayaknya deh."Intan mencebikkan bibir mendengar cibiranku. Sebenarnya aku juga cukup merindukan sahabat perempuanku satu-satunya ini. Selama tiga hari dia pergi ke kota Padang untuk menjenguk neneknya yang sakit. "Jangan ingetin gue soal cowok maho itu."Aku terkekeh geli. "Tanpa gue ingetin pun lo bakal terus inget dia. Karena sampe pesta ini kelar, lo bakal liat muka dia.""Emang dia juga dateng ke sini?""Tuh." Aku menunjuk ke arah belakang Intan, yang langsung diikuti olehnya.Tampak di sana si kembar—Angkasa

Bintang untuk Angkasa    11. I'm Fine

"Sudah, Mbak Bi. Biar nanti Bu Rini aja yang lipat baju-bajunya. Kan Bu Rini udah sering bilang, kalo Mbak Bi ndak perlu bantu Bu Rini segala."

Bintang untuk Angkasa    23. Galang

"Sakit?" tanyanya. Aku hanya bergumam tanpa membuka mata. "Ayo ke UKS."Dia sudah bangkit dengan posisi tangan menggenggam lenganku. Kulepaskan genggaman tangannya perlahan. "Enggak perlu ke UKS. Gu-aku cuma butuh istirahat bentar di sini." Dia menatapku, mungkin mengamati keada

Bintang untuk Angkasa    22. Dugaan Intan

Aku menoleh pada Intan setelah membalas pesan dari Galang. "Pulang sekolah, kita diajak hang out sama Galang-Nina.""Boleh. Gue juga lagi bosen di rumah terus." Aku hanya membalasnya dengan gumaman dan anggukan kepala. "Elo juga ikut, kan?""Iyalah. Ini kan juga buat gantiin yang kema

Bintang untuk Angkasa    10. Sorry

"Papa, Bi dapat peringkat dua di kelas."

فصول أخرى
تحميل الكتاب
GoodNovel

تحميل مجاني للكتاب على التطبيق

تحميل
ابحث في ما تريد
مكتبة
تصفح
الرومانسيةالتاريخ الافتراضيالمذؤوبمافياالخيال الغربيآرنولدMM Romancegenre27-请勿使用阿语
قصص قصيرة
سكاي天空المنطق المعلقالمدينة الحديثةعمل فيلمفيلم الخياليلم الخيال العلميعشق .عنيف言情العريس الهارب والعشقالحرم الجامعيالتشويق\الرعبالعريس1العريس العريسnu红安
خلقفائدة الكاتبمنافسة
الأنواع الأكثر شعبية
الرومانسيةالتاريخ الافتراضيالمذؤوبمافياالخيال الغربيآرنولد
اتصل بنا
معلومات عناالمساعدة & الاقتراحاتعمل
موارد
تنزيل التطبيقاتفائدة الكاتبسياسة المحتوىالكلمات الرئيسيةFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
مجتمع
Facebook Group
تابعنا
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
مصطلح الاستخدام|خصوصية