loading
Home/ All /Bintang untuk Angkasa /5. Buku

5. Buku

Author: Septi Nofia Sari
"publish date: " 2020-11-08 07:56:00
"Bintang, boleh minta tolong nggak?"

Aku yang baru mendudukkan diri di kursi langsung menoleh pada Deni, si ketua kelas yang barusan bicara padaku. "Apa?" 

"Lo kan hari ini tugas piket, tolong ambilin buku paket bahasa Indonesia sama buku tugas anak-anak di meja Bu Ani, ya? Bisa kan?" 

"Bisa sih. Tapi gue nunggu temen piket kita yang lain dulu. Sekarang gue nyapu dulu."

Hari ini aku memang mendapatkan jadwal piket kelas bersama lima orang siswa lainnya, termasuk Deni yang sekarang sedang menghapus papan tulis agar bisa langsung digunakan saat jam pelajaran pertama tiga puluh menit lagi.

"Lo lupa temen piket kita siapa aja? Andi, Didit sama Eko nggak mungkin mau ikut piket. Nah Irma? Lo tau sendiri kan Irma kalo sampe sekolah mepet bel masuk."

Ah, aku lupa kalau teman piketku yang bisa diandalkan hanya Deni saja. Itu pun dia rajin karena jadi ketua kelas, kalau tidak aku juga tidak tahu dia akan serajin ini atau tidak.

"Udah deh mending lo ambil bukunya sekarang. Biar gue yang urusin kelas. Tau sendiri kan gimana galaknya Bu Ani kalo semuanya belum siap pas dia masuk kelas."

"Iya deh."

Dengan sedikit malas, aku keluar kelas dan melangkahkan kaki menuju ruang guru yang terletak di lantai bawah. Sesampainya di ruang guru, ternyata ruangan itu masih sepi karena memang masih pagi. Hanya ada Pak Yanuar yang sedang merapikan buku-bukunya di meja miliknya. 

Aku mengetuk pintu tiga kali. "Permisi, Pak. Saya mau ambil buku paket di meja Bu Ani."

"Ya ya silahkan," jawab Pak Yanuar ramah.

Aku pun segera masuk dan menuju meja Bu Ani yang terletak di pojok ruangan. Melihat setumpuk buku paket berjumlah lima belas buah dan setumpuk buku tugas berjumlah tiga puluh buah membuatku langsung menghela napas berat. Bagaimana bisa buku sebanyak ini kubawa sendiri? Dengan berat hati, kutumpuk buku tugas yang ukurannya lebih kecil itu diatas buku paket yang ukurannya lebih besar dan lebar.

"Permisi Pak," pamitku dengan kedua tangan cukup kesulitan membawa tumpukan buku itu.

Sepanjang perjalanan menaiki tangga menuju lantai dua tempat kelasku berada, aku terus saja merutuki nasibku dalam hati. Nasibku benar-benar tidak baik harus mempunyai teman-teman piket yang tidak bisa diandalkan. Dan yang namanya tidak fokus pasti berakhir tidak baik. Buktinya, sekarang aku sudah terjengkang di lantai setelah tabrakan dengan seseorang.

"Aduh." Aku memekik sambil mengusap-usap siku kiriku yang terbentur lantai.

Decakan langsung keluar dari mulutku melihat buku-buku yang kubawa tadi sudah berserakan di lantai koridor kelas dua. Siapa sih yang menabrakku segala? Dengan kesal kudongakan kepalaku untuk melihat siapa yang yang barusan menabrakku. Niatku untuk mengomeli orang itu kuurungkan begitu tahu siapa cowok yang sekarang berada di depanku.

Angkasa, salah satu cowok yang masuk dalam blacklist orang yang paling tidak ingin kutemui saat ini, malah sudah ada di depanku. Dia hanya berdiri, memasukkan kedua tangan di saku celana dan memandang datar. Tanpa minta maaf, lagi!
Aku mendesis pelan sambil berlutut memunguti kemudian menumpuk kembali buku-buku yang berserakan itu.

"Ngapain, Bintang?"

Aku menghentikan gerakan tanganku untuk menoleh sebentar ke arah Kak Bisma yang barusan datang dan bertanya padaku.

"Kok buku lo bisa pada jatoh gini?" 

Aku tersenyum tipis melihat Kak Bisma ikut berlutut membantuku memunguti buku-buku itu. Cowok baik mah beda, ya.  "Tadi ada angin guedee banget terus wuush ... buku aku jatoh semua."

Kak Bisma tergelak. "Gue bawain setengah deh. Kasihan calon adek ipar gue bawa buku sebanyak ini sendirian."

Aku terkekeh mendengar kata 'adek ipar' itu.
"Nggak perlu repot-repot, Bis. Dia bisa tambah manja kalo dibantuin terus."

Aku melirik tajam pada Angkasa, hanya dua detik. Lalu bergumam cukup keras, "Sirik mah bilang aja!"

Aku dan Kak Bisma pun berjalan menuju kelasku tanpa menghiraukan Angkasa yang masih berada di sana. Tapi baru beberapa langkah kami berjalan, tiba-tiba Angkasa merebut buku yang dibawa Kak Bisma.

"Kenapa sih, Sa?" tanya Kak Bisma bingung. Bukan cuma Kak Bisma, aku juga bingung dengan sikap Angkasa yang aneh ini.

"Mau diapain buku-buku itu?" tanyaku curiga.

"Gue yang bawa." 

Aku dan Kak Bisma terbengong-bengong melihat punggung Angkasa yang sudah berjalan mendahului kami dengan setumpuk buku yang tadi dibawa Kak Bisma sekarang sudah ada di tangannya.

"Ya udah lo ikutin Angkasa gih."

Dengan langkah cepat aku berjalan menyusul Angkasa yang sudah beberapa langkah di depan. Setelah berhasil menyejajarkan langkahku dengan langkah Angkasa, aku berhenti tepat di depannya sehingga Angkasa pun ikut menghentikan langkahnya.

"Taruh sini. Gue bisa bawa sendiri!" ucapku menunjuk tumpukan buku yang kubawa dengan dagu. Lebih baik kesulitan membawa buku daripada harus berjalan bersisian dengan Angkasa.

 Tapi apa tanggapan cowok gila itu? Dia hanya mengangkat sebelah alisnya kemudian berjalan melewatiku.
Dengan menahan kesal aku kembali menyusulnya. "Gue bilang gue bisa bawa sendiri. Jadi kasih bukunya ke gue."
Tapi dia malah mengabaikanku dan tetap berjalan memandang ke depan.

Aku berdecak kesal menyusulnya kembali. "Lo denger gue ngomong nggak sih?!" 

Dan dia benar-benar menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadapku. Tatapannya tajam seakan-akan menusuk tepat ke bola mataku. "Diem atau gue jatohin ini buku!" 

"Ya udah jatohin aja dan lo bisa pergi dari sini!" balasku, kesal.

Tapi mataku membulat seketika saat dia maju ke pagar pembatas koridor dan bersiap menjatuhkan buku-buku itu ke bawah, ke lapangan basket di bawah.

"Stoooop!"

Terlambat. Aku memandang nanar ke bawah. Beberapa buku benar-benar dia jatuhkan ke bawah dan kini tampak melayang-layang dari lantai dua ini kemudian tergeletak tak berdaya di lapangan basket. Pelupuk mataku memanas, menahan kekesalan ku yang sudah sampai di ubun-ubun.

Kupikir dia hanya berniat mengancam saja. Atau kalau dia benar-benar menjatuhkan buku-buku itu, paling tidak hanya akan dijatuhkan di lantai. Hanya orang gila saja kan yang benar-benar menjatuhkan buku-buku itu dari lantai dua? Iya kan? Dan aku benar-benar lupa kalau cowok bernama Angkasa itu adalah orang gila! Aku bisa terkena masalah. Aku bahkan tidak tahu buku siapa saja yang jatuh. 

Dengan bibir bergetar, aku merebut sisa buku yang masih ada di tangannya dan berlari ke kelas meninggalkannya tanpa mengatakan apapun.

"Bi, Deni bilang lo ambil buku di meja Bu Ani, kok lam–"

Ucapan Intan terpotong oleh suara yang dihasilkan dari buku-buku yang kujatuhkan di atas meja paling depan dengan penuh kekesalan. Beberapa teman sekelas yang sudah sampai di kelas juga sama terkejutnya dengan Intan, tapi aku tidak peduli. Dadaku naik turun karena menahan emosi, bahkan dada kiriku mulai nyeri lagi. Dari ekor mataku yang mengabur karena sudut mataku sedikit berair, tampak Intan mendekat padaku yang berdiri di samping pintu dengan kedua tangan terkepal.

"Bi, lo kenapa?" Aku bisa menangkap nada khawatir pada pertanyaan Intan.

"Bintang, kok buku paketnya kurang tiga? Terus buku tugasnya cuma ada dua puluh enam. Yang lainnya mana?"

Aku mengusap sudut mataku dan berdecak kesal menatap Deni yang barusan bertanya padaku. Tanpa mengucapkan apa-apa, aku keluar lagi dari kelas bahkan teriakan Intan yang memanggil-manggil namaku tidak aku gubris sama sekali.

Aku mengedarkan pandangan ke seluruh sudut lapangan, mencari buku-buku yang jatuh tadi. Siswa-siswi semakin banyak berlalu-lalang di koridor dekat lapangan sehingga mereka dapat melihatku yang berdiri kebingungan di tengah lapangan. Pasti mereka akan berpikir kalau aku ini adalah cewek aneh. Tapi aku tidak mempedulikan itu dulu.

Yang kupikirkan sekarang adalah aku harus segera menemukan buku-buku itu dalam waktu sepuluh menit karena bel masuk berbunyi sepuluh menit lagi. Dan kalau sampai ada satu buku saja yang tidak bisa kutemukan, maka aku pasti dalam masalah besar. 

Bukan cuma dimarahi teman sekelas pemilik beberapa buku itu, juga jika yang hilang adalah buku paket maka aku harus menyiapkan telinga untuk mendengarkan ceramah Bu Ani yang super super panjang sekali. Juga merelakan uang sakuku untuk mengganti kehilangan buku paket itu.

Ini semua gara-gara Angkasa. Kadar kebencianku padanya kurasa semakin bertambah sekarang. Di tanganku sekarang sudah ada dua buku tugas dan dua buku paket. Ah bahkan saking kesalnya aku tadi, sampai-sampai tidak mendengar dengan jelas saat Deni mengatakan berapa jumlah buku yang sudah ada di kelas.

"Bi, lo kenapa sih? Nyari apaan? Diliatin banyak orang tuh."

Aku menoleh pada Intan yang sudah menghampiriku. Aku langsung menarik tangannya mendekat padaku. "Entar jelasinnya. Sekarang tolong bantuin gue nyari buku-buku yang tadi jatoh di sini." 

Intan malah mengerutkan keningnya. "Buku apaan?" 

"Buku yang gue ambil dari meja Bu Ani." 

"Loh, kok bisa jatoh di sini? Gimana bisa? Lo kan nggak lewat sini pas ke kelas."

Aku mengerucutkan bibirku. "Ceritanya panjang. Sekarang bantuin cari dulu ya? Bentar lagi bel nih."

"Iya gue bantuin. Emang berapa yang masih belum ketemu?"

Aku menggeleng. "Tadi lo denger nggak pas Deni nyebutin berapa buku yang udah gue bawa ke kelas? Gue nggak denger soalnya. Abis kesel banget gue."

"Elo gimana, sih? Bentar gue sms-in Deni dulu."

Sambil menunggu Deni membalas pesan Intan, aku masih menyusuri setiap sudut lapangan untuk mencari buku-buku yang belum ketemu. Sesekali meremas dada kiriku karena rasa nyeri itu datang lagi.

***
Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Bintang untuk Angkasa    29. Pergi

Aku tertawa getir sambil bangkit. Mengabaikan Bunda yang terkejut dengan tangan yang menutup mulutnya, dan Kak Viny yang tidak jauh beda dengan bunda. Aku mengusap kasar pipiku yang basah, berhenti tiga langkah di depan Papa dan menatapnya. Menatap sepasang iris berwarna sama dengan iris mataku."Anak-anak Papa? Ah, aku tau. Maksud Papa, Kak Andro sama Kak Viny kan?" aku tersenyum miring. "Terus aku ini siapa di sini? Orang asing? Ah ya! Itu kan yang selalu Papa sebut? Kalo aku orang asing. Kalo aku bukan siapa-siapa di rumah ini. Kalo aku cuma seorang anak yang kebetulan menerima kebaikan dan kemanusiaan dari Tuan Danu Wijaya?""Jaga bicara kamu!" tegas Papa."Tapi emang bener, kan? Papa yang bilang kayak gitu. Dari aku kecil, ah bukan. Maksudku dari aku bayi, Papa sama sekali nggak anggap aku anak Papa.""Bi?" Bunda memanggilku lirih."Yang kasih nama aku adalah Bu Rini. Yang adzani aku adalah Pak Udin. Papa kasih semua fasilitas buat hidup aku tapi P

Bintang untuk Angkasa    28. Tamparan

Semburat jingga perlahan menggores langit senja, mengantarkan sang raja siang kembali ke peraduannya dan menjemput ratu malam menampakkan kecantikannya. Lampu-lampu mulai menerangi jalanan kompleks perumahan. Aku berjalan pelan, merapatkan jaket saat kakiku melangkah memasuki gerbang rumah. Ini memang sudah sore, tapi aku baru pulang ke rumah masih berbalut seragam sekolah hari ini. Perlahan kuputar kenop pintu depan dan membukanya pelan. Aku menghela napas saat sepi dan hampa menyerangku begitu masuk ke bagian rumah yang lebih dalam. Rumah masih sepi. Mungkin Papa dan Bunda masih berada di tempat kerjanya, lalu Kak Viny berada di kamarnya. Dan Bu Rini dan Pak Udin yang mungkin sudah beristirahat di paviliun belakang rumah, yang memang disediakan untuk tempat tinggal mereka.Kehela napas untuk kesekian kalinya, saat kakiku melangkah menaiki anak tangga. Aku ingin berjalan mundur ke situasi beberapa bulan lalu, saat keadaan lebih baik daripada sekarang. Saat Papa masih mengurus

Bintang untuk Angkasa    27. Suka? Bullshit!

"Bi, lo beneran nggak mau pulang sama Kak Angkasa?" tanya Intan, saat kami sama-sama melewati pintu gerbang depan untuk keluar dari gedung sekolah. Aku hanya bergumam pelan dengan pandangan fokus ke layar ponsel sembari berjalan. "Seenggaknya ngomong dulu gitu?"Kuangkat pandanganku ke arah Intan, dan mendecakkan lidah. "Setelah tadi dia tarik-tarik gue di depan banyak orang dan ngebentak-bentak kayak gitu?" Aku berdecih pelan. "Maaf, gue bukan cewek yang sesabar itu.""Terus lo mau naik bis kayak sebelum-sebelumnya, gitu?""Ada Ibal." Aku mengangkat ponsel ke arah Intan.Intan mengangguk mengerti namun ekspresinya berubah jahil. "Lo mau jalan dulu nggak sama Abang Ibal? Gue juga mau dong diajak jalan."Aku tersenyum geli. "Terus itu supir lo mau dikemanain?"Intan mencebikkan bibirnya menatap mobil pribadi yang sudah terparkir di depan kami. "Gue suruh pulang!""Les privat lo?"Intan menghentakkan kakinya satu kali. "Kalo nggak mau gu

Bintang untuk Angkasa    26. Berhenti Ikut Campur

Keningku berkerut saat masuk ke dalam kelas dan mendapati sebagian besar teman-teman sekelas sudah duduk rapi di kursi masing-masing dengan kesibukan mereka. Ada dua kelompok disana, kelompok pertama tengah fokus membolak-balik halaman buku sambil komat-kamit dan itu bisa dihitung dengan jari. Sementara kelompok kedua tengah sibuk menulis sesuatu di kertas kecil. Dan Intan termasuk dalam kelompok kedua yang sepertinya tengah membuat contekan ulangan.Tunggu...contekan ulangan? Aku segera menuju tempat dudukku dan meletakkan tas punggungku di atas meja sembari duduk. "Emang hari ini ada ulangan, Tan?" Intan menoleh sekilas padaku sebelum kembali fokus ke kertas kecilnya. "Jangan bilang lo nggak inget?""Emang beneran ada?""Sejarah."Mataku membelalak lebar dan langsung menepuk kening dengan telapak tangan."Lo lupa? Tumben."Aku berdecak mendengar ucapan Intan, namun langsung mengambil buku catatan sejarah dari dalam tas ke

Bintang untuk Angkasa    25. Hurt

Aku melirik tajam ke arah Intan yang cengengesan. Iqbal ini punya kadar protektif yang sangat over terhadapku dan itu benar-benar membuatku jengah. Dan meskipun dia termasuk cowok humoris, tapi tetap tampak sangat menakutkan saat sedang serius."Enggak usah bersikap kayak Abang beneran, deh." Aku menghindari tatapannya."Lo punya pacar?""Enggak.""Lo masih kecil, Bi." Tuh kan? Kalau dia memanggilku dengan sebutan 'Bi' berarti dia sedang benar-benar serius."Gue nggak pacaran, Ibal." Dia menyipitkan matanya menatapku namun aku langsung menggandeng lengannya. "Udah deh mending sekarang lo makan dulu karena acara tiup lilinnya udah mau mulai. Oke, Abang Ibal?"Dan berani jamin kalau aku sudah memanggilnya 'Abang Ibal' maka dia pasti akan menurut. "Ya udah tapi abis acara ini selesai lo harus jelasin siapa Angkasa Angkasa itu. Ngerti?" Setelah Iqbal pergi, aku langsung mendelik pada Intan. "Elo sih!""Loh, emang apa salahnya sih?" t

Bintang untuk Angkasa    24. Cemburu?

"Bi, Sayangku!"Aku memejamkan mata saat Intan berlari—yang jujur tak ada anggun-anggunnya sama sekali—ke arahku dan langsung memeluk erat. Aku langsung melepaskan paksa pelukannya sebelum persediaan oksigen di paru-paruku habis."Apa sih, Tan? Gue kehabisan napas tau!"Intan memberengut. "Kan gue kangen, Bi. Tiga hari nggak ketemu lo tuh berasa kayak sup tanpa garam, hambar.""Dih. Lo ketularan lebaynya Kak Romi kayaknya deh."Intan mencebikkan bibir mendengar cibiranku. Sebenarnya aku juga cukup merindukan sahabat perempuanku satu-satunya ini. Selama tiga hari dia pergi ke kota Padang untuk menjenguk neneknya yang sakit. "Jangan ingetin gue soal cowok maho itu."Aku terkekeh geli. "Tanpa gue ingetin pun lo bakal terus inget dia. Karena sampe pesta ini kelar, lo bakal liat muka dia.""Emang dia juga dateng ke sini?""Tuh." Aku menunjuk ke arah belakang Intan, yang langsung diikuti olehnya.Tampak di sana si kembar—Angkasa

Bintang untuk Angkasa    14. Congestif Heart Failure

"Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau jantung kamu kelainan? Kenapa kamu malah ngerahasiain ini, Bi? Harusnya kamu ngomong sama Papa dan Kakak. Apa kamu udah nggak anggap kita sebagai keluarga kamu la–""Apa kalian akan percaya kalau aku ngomong?" potongku, membuat Kak Andro bungkam. Bi

Bintang untuk Angkasa    13. Obat

Aku langsung turun begitu motor Angkasa berhenti di depan pintu gerbang rumahku. Lalu kuserahkan helm ke arahnya, yang sedang melepas helmnya sendiri.Dia menerimanya tanpa melepas tatapan dari wajahku. "Kenapa mukanya gitu?" "Kenapa mukanya gitu?" Aku mengikuti gaya bicaranya d

Bintang untuk Angkasa    12. Menyebalkan

"Bintang?" Aku tengah membereskan buku-buku yang masih berserakan di meja, menoleh pada Deni yang berdiri di depan meja guru. "Kenapa?" "Boleh minta tolong nggak?" Aku menghela napas sambil memasukkan buku-buku tad

Bintang untuk Angkasa    11. I'm Fine

"Sudah, Mbak Bi. Biar nanti Bu Rini aja yang lipat baju-bajunya. Kan Bu Rini udah sering bilang, kalo Mbak Bi ndak perlu bantu Bu Rini segala."

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy