loading
Home/ All /Bintang untuk Angkasa /3. Kenalan

3. Kenalan

Author: Septi Nofia Sari
"publish date: " 2020-11-08 07:54:31

Setelah ulangan sejarah yang membahas tentang masa lalu, dilanjutkan dengan dua puluh lima soal latihan matematika yang rumitnya minta ampun, benar-benar membuat otak terasa berasap. 

"Kantin yuk, Bi."

Aku mengacungkan jempol kemudian menumpuk buku-buku yang di atas meja dan kumasukkan ke dalam tas punggung. Memang seringnya aku malas ke kantin dan lebih memilih menghabiskan jam istirahat di perpustakaan. Tapi ada juga saat di mana aku memilih pergi ke kantin, saat otakku terasa mendidih dan butuh pendinginan seperti sekarang.

"Seporsi mie ayam pake sambel yang buanyak ditambah es teh manis. Hmm jadi ngiler deh gue."

Aku hanya tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan Intan yang berjalan di sampingku. Sepanjang perjalanan menuju kantin, Intan lebih mendominasi obrolan kami. Aku hanya mengangguk, menggeleng, mengernyit dan juga kadang tertawa menanggapi bicaranya yang seperti tidak ada hentinya.

Langkahku terhenti saat sampai di pintu masuk kantin. Intan ikut menghentikan langkahnya. "Kenapa sih Bi?" tanyanya.

Aku mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kantin. Suasana di dalam sangat ramai dan antrean di sana juga panjang membuat keinginanku menikmati jus jambu dingin dan sebungkus roti isi berkurang lima puluh persen.

"Gue nggak jadi deh Tan."

"Ih, kenapa? Udah sampe juga."

"Rame banget tuh. Gue males antri. Gue balik lagi ke kelas aja deh."

"Pokoknya nggak ada acara balik lagi. Lo harus ikut gue masuk."

Dan tanpa memberikan kesempatan untukku melarikan diri, Intan sudah terlebih dahulu menarik lenganku masuk ke dalam kantin dan langsung menuju ke satu-satunya meja kosong yang tersisa terletak paling pojok. Intan mendorong bahuku pelan sampai aku terduduk di kursi.

"Lo di sini dulu biar gue yang pesenin. Kurang baik gimana gue sebagai temen?"

Aku terkekeh kecil mendengar guyonan Intan. "Iyain aja deh biar seneng." 

Intan tertawa kecil dan mengacungkan jempolnya ke arahku kemudian berbalik menuju antrean yang masih panjang. Aku tidak perlu mengatakan makanan apa yang kuinginkan karena Intan sudah tahu betul makanan kesukaanku di kantin ini. Sambil menunggu Intan kembali, kukeluarkan ponsel dari saku rok untuk memeriksa kalau-kalau ada notifikasi masuk. Dan ternyata benar, ada dua pesan WA dari dua room chat yang berbeda.

<<Bi, udah makan?

Aku tersenyum senang. Segera kuketikkan balasan.

>>Ini baru mau makan di kantin
>>Kak Viny juga udah makan kan?

Kubuka satu pesan lain yang masuk tiga puluh menit yang lalu. Dari nama kontak Andromeda Wijaya.


<<Lagi apa Bi?

Kalian tahu apa yang kurasakan saat melihat Kak Andro mengirimkan pesan untukku? Bingung bercampur bahagia. Bingung, karena aku belum terbiasa menerima pesan ataupun perhatian dari kakak laki-lakiku itu. Dan bahagia, karena akhirnya setelah hampir lima belas tahun, Kak Andro mau menganggapku ada.

>>Lagi mau makan di kantin

Iseng, aku membuka profil kak Andro dan melihat foto profilnya. Di sana, tampak seorang cowok memakai jeans selutut dan kaos abu-abu polos berkerah. Memakai topi di kepalanya dan bergaya mengapit dagu dengan ibu jari dan telunjuknya, lengkap dengan senyum manis. Tanpa sadar, kedua sudut bibirku tertarik ke atas. Foto itu diambil tiga bulan yang lalu saat Kak Andro pulang karena kuliahnya libur, tepatnya lima bulan setelah sikap Kak Andro berubah baik padaku. Dan foto itu aku yang mengambilnya, tidak menyangka dia Andro akan memasangnya sebagai foto profil akun WA miliknya.

"Widih ganteng banget!" seru Intan sambil merebut ponsel itu dari tanganku. Aku bahkan tidak sadar kapan Intan datang dan meletakkan makanan kami di atas meja di depanku.

"Pantes lo senyum-senyum mulu. Lagi liatin cogan ternyata." Intan berseru lagi, dengan suara yang tak kalah keras dari yang pertama.

"Nggak usah toa juga kali. Jadi pada ngeliatin kita kan." Aku menarik tangan Intan untuk duduk di sampingku. Beberapa siswa yang ada di dalam kantin menoleh pada kami karena suara keras Intan barusan. Membuat malu saja.

"Ya maaf." Intan menyengir. Aku memutar bola mata dan membuka bungkus roti yang dibawakan Intan. "Emang ganteng maksimal ya Kak Andro itu. Jangan-jangan lo betah jomblo karena kakak lo lagi."

"Maksud lo?" tanyaku bingung sambil mengunyah roti isi selai stroberi di tanganku.

"Kali aja lo suka sama Kak Andro."

Langsung saja kupukul lengan Intan karena ucapan sembarangan nya itu. "Lo kira gue brother complex apa?!" 

Intan tertawa pelan. "Kali aja kan?"

Aku berdecak kesal. Gue jomblo karena masih cinta sama Galang, Tan.

"Ngomong-ngomong gue ikut seneng Kak Andro udah baik sama lo," ucap Intan sambil memakan mie ayamnya.

"Iya."

Walaupun dengan nada seperti itu, aku tahu Intan mengucapkannya tulus.
Gerakan mengunyahku terhenti saat tanpa sadar aku menoleh ke arah meja di sebelah kanan meja kami. Dia duduk di sana, tengah mengobrol dan tertawa dengan beberapa teman laki-lakinya, juga Kak Bisma. Hanya berjarak satu kursi dari tempatku duduk. Aku tidak suka kebetulan ini. Sungguh.

Aku mendekatkan mulutku ke telinga Intan. "Dia di sana udah dari kapan?" 

Intan menoleh padaku dan dapat kulihat kerutan di dahinya. "Siapa?"

"Idola lo!" sahutku, masih dengan berbisik.
Intan menoleh sebentar ke arah cowok itu sebelum kemudian menatapku kembali.

"Dari tadi kali. Kita sampe sini kan dia udah duduk di sana."

Mataku membulat seketika. Apa? Kok bisa-bisanya aku tidak menyadarinya sih?!
Dengan kesal, entah kesal pada diriku sendiri atau kekesalan tempo hari yang masih tersisa pada cowok itu, aku berdiri dan bangkit dari dudukku.

"Mau ke mana?" tanya Intan. Mungkin terkejut karena tiba-tiba aku berdiri.

"Balik kelas." 

"Makanan lo belum abis, makanan gue juga. Mubazir kalo nggak diabisin."

Aku pun mengambil gelas berisi jus jambu yang masih tersisa setengah dan langsung meneguknya hingga habis. Kemudian tanganku meraih bungkus roti yang isinya juga masih tersisa setengah. "Gue balik duluan. Lo lanjutin makan lo. Sekalian biar gue aja yang bayarin." 

Bahkan aku tidak menghiraukan teriakan kecil Intan yang terus memanggilku. Sudah kubilang kan kalau aku tidak suka kebetulan ini? Jadi maklumi saja kalau aku langsung pergi begitu saja tanpa menghiraukan Intan. Kuharap Intan mengerti.

***

"Lo ngehindar?"

Langkahku langsung terhenti mendengar pertanyaan itu. Maksudku, pemilik suara itu. Tampak sepasang kaki memakai sepatu sneaker berdiri beberapa langkah di depanku. Aku berdecak dalam hati, merutuki kecerobohanku. Seharusnya aku berjalan sambil melihat ke depan, bukannya menunduk sambil membaca novel. Kalau dari tadi aku melihat ke depan kan aku bisa langsung berbalik arah saat lihat dia dari jauh. Kenapa sih aku harus dipertemukan dengan kebetulan-kebetulan yang sangat tidak kusukai ini?

Tanpa berniat mendongak dan menatapnya,  kumundurkan kakiku beberapa langkah dan berbalik untuk menghindarinya. Namun cekalan di pergelangan tanganku membuat langkahku terhenti. Dan aku memekik saat dengan cepat dia membalikkan badanku agar kembali menghadap ke arahnya.

"Apa sih!" bentakku sambil menghempaskan tanganku dari cekalannya.

"Lo belum jawab pertanyaan gue. Lo sengaja menghindari gue?" tanyanya tajam.

Aku mendongak, menatapnya tak kalah tajam dengan nada bicaranya. Tidak peduli dengan tatapan mengintimidasi yang selalu dia berikan itu. "Kenapa gue harus ngehindar?"

"Pura-pura udah tidur pas gue sama Bisma ke rumah, tapi nyatanya lo lagi asyik ngobrol di telepon. Bela-belain muter lewat koridor kelas satu cuma karena gue ada di koridor kelas dua. Pergi dari kantin padahal makanan lo belum abis. Itu yang namanya nggak ngehindar?"

Sumpah. Dia itu kenapa? Kenapa dia tahu? Apa selama ini dia memperhatikanku? Aku jadi ngeri.

"Setau gue yang namanya ngehindar itu kalo orang itu sama-sama kenal. Gue kan nggak kenal sama elo. Jadi kenapa gue harus ngehindar?" ketusku.

Sungguh aku berharap dia sedikit mengerti dan membiarkanku pergi dari sini. Sekilas kutangkap ekspresi di wajahnya itu menjadi sulit diartikan, tapi dengan cepat kembali datar lagi.

"Jadi lo nggak kenal gue?"

Aku mengangkat bahu, tidak peduli. Aku memang tahu siapa dia. Kak Viny sering menceritakan bahwa sebelum berpacaran, Kak Viny dan Kak Bisma juga kembaran Kak Bisma sudah berteman sejak kecil. Sama dengan aku dan Galang. Dan karena kembaran Kak Bisma adalah cowok di depanku ini, jadi tentu saja aku tahu kan siapa dia? Tapi tahu bukan berarti kenal kan? Jadi aku tidak bohong dong.

"Kalo gitu kita harus kenalan."  Dia langsung menarik dan menjabat tanganku, kucoba melepaskannya tapi dia menggenggam tanganku erat sekali hingga rasanya sedikit sakit. "Angkasa."

Aku berdecih sinis dan langsung melepaskannya dengan kasar. Kali ini aku berhasil melepaskannya. "Sayangnya gue nggak tertarik buat kenal sama elo." 

Aku langsung berjalan cepat melewatinya menuju gerbang depan. Aku bersyukur kali ini dia tidak menahanku lagi. Sambil berjalan, tanpa sadar telapak tangan kiriku mengusap pergelangan dan telapak tangan kananku. Kenalan apanya? Dasar cowok aneh bin gila!

***
Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Bintang untuk Angkasa    29. Pergi

Aku tertawa getir sambil bangkit. Mengabaikan Bunda yang terkejut dengan tangan yang menutup mulutnya, dan Kak Viny yang tidak jauh beda dengan bunda. Aku mengusap kasar pipiku yang basah, berhenti tiga langkah di depan Papa dan menatapnya. Menatap sepasang iris berwarna sama dengan iris mataku."Anak-anak Papa? Ah, aku tau. Maksud Papa, Kak Andro sama Kak Viny kan?" aku tersenyum miring. "Terus aku ini siapa di sini? Orang asing? Ah ya! Itu kan yang selalu Papa sebut? Kalo aku orang asing. Kalo aku bukan siapa-siapa di rumah ini. Kalo aku cuma seorang anak yang kebetulan menerima kebaikan dan kemanusiaan dari Tuan Danu Wijaya?""Jaga bicara kamu!" tegas Papa."Tapi emang bener, kan? Papa yang bilang kayak gitu. Dari aku kecil, ah bukan. Maksudku dari aku bayi, Papa sama sekali nggak anggap aku anak Papa.""Bi?" Bunda memanggilku lirih."Yang kasih nama aku adalah Bu Rini. Yang adzani aku adalah Pak Udin. Papa kasih semua fasilitas buat hidup aku tapi P

Bintang untuk Angkasa    28. Tamparan

Semburat jingga perlahan menggores langit senja, mengantarkan sang raja siang kembali ke peraduannya dan menjemput ratu malam menampakkan kecantikannya. Lampu-lampu mulai menerangi jalanan kompleks perumahan. Aku berjalan pelan, merapatkan jaket saat kakiku melangkah memasuki gerbang rumah. Ini memang sudah sore, tapi aku baru pulang ke rumah masih berbalut seragam sekolah hari ini. Perlahan kuputar kenop pintu depan dan membukanya pelan. Aku menghela napas saat sepi dan hampa menyerangku begitu masuk ke bagian rumah yang lebih dalam. Rumah masih sepi. Mungkin Papa dan Bunda masih berada di tempat kerjanya, lalu Kak Viny berada di kamarnya. Dan Bu Rini dan Pak Udin yang mungkin sudah beristirahat di paviliun belakang rumah, yang memang disediakan untuk tempat tinggal mereka.Kehela napas untuk kesekian kalinya, saat kakiku melangkah menaiki anak tangga. Aku ingin berjalan mundur ke situasi beberapa bulan lalu, saat keadaan lebih baik daripada sekarang. Saat Papa masih mengurus

Bintang untuk Angkasa    27. Suka? Bullshit!

"Bi, lo beneran nggak mau pulang sama Kak Angkasa?" tanya Intan, saat kami sama-sama melewati pintu gerbang depan untuk keluar dari gedung sekolah. Aku hanya bergumam pelan dengan pandangan fokus ke layar ponsel sembari berjalan. "Seenggaknya ngomong dulu gitu?"Kuangkat pandanganku ke arah Intan, dan mendecakkan lidah. "Setelah tadi dia tarik-tarik gue di depan banyak orang dan ngebentak-bentak kayak gitu?" Aku berdecih pelan. "Maaf, gue bukan cewek yang sesabar itu.""Terus lo mau naik bis kayak sebelum-sebelumnya, gitu?""Ada Ibal." Aku mengangkat ponsel ke arah Intan.Intan mengangguk mengerti namun ekspresinya berubah jahil. "Lo mau jalan dulu nggak sama Abang Ibal? Gue juga mau dong diajak jalan."Aku tersenyum geli. "Terus itu supir lo mau dikemanain?"Intan mencebikkan bibirnya menatap mobil pribadi yang sudah terparkir di depan kami. "Gue suruh pulang!""Les privat lo?"Intan menghentakkan kakinya satu kali. "Kalo nggak mau gu

Bintang untuk Angkasa    26. Berhenti Ikut Campur

Keningku berkerut saat masuk ke dalam kelas dan mendapati sebagian besar teman-teman sekelas sudah duduk rapi di kursi masing-masing dengan kesibukan mereka. Ada dua kelompok disana, kelompok pertama tengah fokus membolak-balik halaman buku sambil komat-kamit dan itu bisa dihitung dengan jari. Sementara kelompok kedua tengah sibuk menulis sesuatu di kertas kecil. Dan Intan termasuk dalam kelompok kedua yang sepertinya tengah membuat contekan ulangan.Tunggu...contekan ulangan? Aku segera menuju tempat dudukku dan meletakkan tas punggungku di atas meja sembari duduk. "Emang hari ini ada ulangan, Tan?" Intan menoleh sekilas padaku sebelum kembali fokus ke kertas kecilnya. "Jangan bilang lo nggak inget?""Emang beneran ada?""Sejarah."Mataku membelalak lebar dan langsung menepuk kening dengan telapak tangan."Lo lupa? Tumben."Aku berdecak mendengar ucapan Intan, namun langsung mengambil buku catatan sejarah dari dalam tas ke

Bintang untuk Angkasa    25. Hurt

Aku melirik tajam ke arah Intan yang cengengesan. Iqbal ini punya kadar protektif yang sangat over terhadapku dan itu benar-benar membuatku jengah. Dan meskipun dia termasuk cowok humoris, tapi tetap tampak sangat menakutkan saat sedang serius."Enggak usah bersikap kayak Abang beneran, deh." Aku menghindari tatapannya."Lo punya pacar?""Enggak.""Lo masih kecil, Bi." Tuh kan? Kalau dia memanggilku dengan sebutan 'Bi' berarti dia sedang benar-benar serius."Gue nggak pacaran, Ibal." Dia menyipitkan matanya menatapku namun aku langsung menggandeng lengannya. "Udah deh mending sekarang lo makan dulu karena acara tiup lilinnya udah mau mulai. Oke, Abang Ibal?"Dan berani jamin kalau aku sudah memanggilnya 'Abang Ibal' maka dia pasti akan menurut. "Ya udah tapi abis acara ini selesai lo harus jelasin siapa Angkasa Angkasa itu. Ngerti?" Setelah Iqbal pergi, aku langsung mendelik pada Intan. "Elo sih!""Loh, emang apa salahnya sih?" t

Bintang untuk Angkasa    24. Cemburu?

"Bi, Sayangku!"Aku memejamkan mata saat Intan berlari—yang jujur tak ada anggun-anggunnya sama sekali—ke arahku dan langsung memeluk erat. Aku langsung melepaskan paksa pelukannya sebelum persediaan oksigen di paru-paruku habis."Apa sih, Tan? Gue kehabisan napas tau!"Intan memberengut. "Kan gue kangen, Bi. Tiga hari nggak ketemu lo tuh berasa kayak sup tanpa garam, hambar.""Dih. Lo ketularan lebaynya Kak Romi kayaknya deh."Intan mencebikkan bibir mendengar cibiranku. Sebenarnya aku juga cukup merindukan sahabat perempuanku satu-satunya ini. Selama tiga hari dia pergi ke kota Padang untuk menjenguk neneknya yang sakit. "Jangan ingetin gue soal cowok maho itu."Aku terkekeh geli. "Tanpa gue ingetin pun lo bakal terus inget dia. Karena sampe pesta ini kelar, lo bakal liat muka dia.""Emang dia juga dateng ke sini?""Tuh." Aku menunjuk ke arah belakang Intan, yang langsung diikuti olehnya.Tampak di sana si kembar—Angkasa

Bintang untuk Angkasa    23. Galang

"Sakit?" tanyanya. Aku hanya bergumam tanpa membuka mata. "Ayo ke UKS."Dia sudah bangkit dengan posisi tangan menggenggam lenganku. Kulepaskan genggaman tangannya perlahan. "Enggak perlu ke UKS. Gu-aku cuma butuh istirahat bentar di sini." Dia menatapku, mungkin mengamati keada

Bintang untuk Angkasa    22. Dugaan Intan

Aku menoleh pada Intan setelah membalas pesan dari Galang. "Pulang sekolah, kita diajak hang out sama Galang-Nina.""Boleh. Gue juga lagi bosen di rumah terus." Aku hanya membalasnya dengan gumaman dan anggukan kepala. "Elo juga ikut, kan?""Iyalah. Ini kan juga buat gantiin yang kema

Bintang untuk Angkasa    21. Hujan di Mimpi

Bersamaan dengan teriakan, tangannya yang kuat menggenggam pergelangan tanganku lebih erat dan membalikkan tubuhku dengan mudahnya sehingga kami berdiri berhadapan."APA?" bentakku sambil berusaha melepaskan tanganku namun genggamannya lebih kuat."Nggak usah childish bisa nggak?"&nbs

Bintang untuk Angkasa    20. Debat

"Bintang, gimana? Angkasa jagain kamu kan di sekolah?" tanya Tante Jenni, membuat semua orang yang ada di meja itu menoleh padaku, kecuali Papa tentunya. Dan Angkasa yang tampak acuh dan lebih memilih fokus ke makan siangnya."Iya, Tante. Angkasa jagain Bintang banget, kok. Sampai Bintang p

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy