Download the book for free
Chapter 7 : Accident
Author: NhanaSemenjak mengetahui kebenaran tentang Khesa dari Hana, diam-diam Edwin selalu memperhatikan anak itu. Dan melalui bantuan Hana pula, Edwin juga sudah membuktikan jika Esa adalah anaknya Anna. Bahkan ia sudah melakukan tes DNA terhadap Esa dan Dareen yang hasilnya 99% positif.
"Jika Hana tidak menutup-nutupi keberadaan mereka, pasti sejak dulu aku dan Dareen sudah menemukannya dan pekerjaanku akan menjadi sangat mudah. " Keluh Edwin yang masih setia pada posisinya memandangi foto seorang perempuan manis yang tengah menggendong seorang anak laki-laki kira-kira berusia dua tahun.
"Sekarang, meski aku sudah tahu semuanya. Aku justru tidak yakin akan memberi tahu Dareen atau tidak, mengingat bagaimana Hana sangat apik dalam menyembunyikan mereka, itu berarti Anna memang tidak ingin keberadaannya diketahui. " Gumam Edwin kepada dirinya sendiri.
Dareen tiba-tiba masuk kedalam ruangan Edwin tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, hal itu membuat Edwin dengan buru-buru menyimpan kertas tersebut kedalam laci meja kerjanya.
Dareen mengernyit melihat pergerakan refleks dari Edwin. "Kau, apa yang barusan kau sembunyikan? " Tatapan Dareen menyipit.
"Bukan apa-apa, hanya data pribadi milik klien ku. " Jawab Edwin yang berhasil menguasai dirinya sendiri agar tidak gugup dihadapan Dareen. Satu hal yang sudah menjadi ciri dari seorang Dareen Tucker, dia memiliki aura mengintimidasi yang sangat kuat. "Ada apa kemari? " Edwin segera bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Aku ingin kau melanjutkannya. "
Edwin menaikan alisnya. "Melanjutkan apa? " Tanyanya heran.
"Melanjutkan apa yang sudah kita hentikan setahun ini. " Dareen membawa dirinya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan Edwin.
Edwin sedikit terhenyak mendengarnya. "Kenapa tiba-tiba sekali. Apa kau mendengar sesuatu? " Edwin membawa dirinya untuk bergabung di sofa bersama Dareen.
Dareen menggeleng. "Aku hanya penasaran akan sesuatu. Dan entah kenapa feeling ku mengatakan jika kali ini kita akan mendapatkan sesuatu. "
"Lalu jika kau sudah menemukannya, apa yang akan kau lakukan? " Edwin mulai memasang ekspresi serius.
Dareen terdiam sejenak. "Aku tidak tahu. Yang jelas aku harus menemukannya. " Lirihnya pelan.
"Kalau begitu lebih baik kita hentikan. Tidak kah kau berfikir bahwa mungkin Anna sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang? Dan kehadiranmu di hidupnya lagi, bisa saja membawa luka yang sudah coba dia perjuangkan untuk sembuh selama 15 tahun ini. "
"Tapi Win. " Sanggah Dareen.
"Bukannya aku tidak mau membantumu lagi, tapi ku rasa kali ini aku benar. Kau harus berhenti untuk menemukan mereka. " Edwin menghela nafas dalam.
"Mereka? " Tanya Dareen tidak mengerti.
"Maksudku Anna. " Edwin segera meralat omongannya.
"Aku ingin melihatnya, aku merindukannya Win. " Lirih Dareen, ada nada sesal dan perih dari kalimat yang dia ucapkan yang membuat Edwin memandangnya iba.
Sama seperti Hana, Edwin sempat murka terhadap Dareen. Seseorang yang dia sayangi diperlakukan dengan tidak menyenangkan oleh sahabatnya sendiri. Bagi Edwin, Anna bukan hanya sahabat dari istrinya, Hana. Tapi dia juga merupakan sepupunya, dan Edwin adalah orang yang memperkenalkan mereka. Namun setelah mengetahui semuanya dan menjalani hidup ditengah-tengah rasa putus asa Dareen, Edwin pun melunak dan membantunya untuk menemukan Anna. Setidaknya mereka harus bicara, begitu pikir Edwin.
✿✿✿✿✿
Anna tengah sibuk dengan kegiatan membantu ayahnya. Semalam Daniel meminta dirinya untuk membantu beberapa pekerjaan di kantor. Daniel awalnya menolak, namun setelah di pikir-pikir lagi dia memang tidak punya kegiatan disini. Jadilah dia di sini sekarang, di ruangan sang ayah bersama ibunya.
Iya, Anna datang ke kantor Daniel diantar oleh Jessica. Dengan penampilannya sekarang, bisa-bisa gosip tidak menyenangkan akan tersebar luas. Demi menghindari resiko tersebut, Jessica dengan senang hati menemaninya.
Daniel sudah lama menghilang dari dunia bisnis, bukan menghilang sesungguhnya tapi semenjak sesuatu terjadi kepada pernikahan putrinya, Daniel melimpahkan semua perusahaanya kepada orang lain. Dia hanya memantau demi menghindari orang-orang yang mungkin sedang mencari dimana keberadaan putrinya.
Setelah kembali dari persinggahan sementara, Daniel mendirikan perusahaan kecil sebagai tempatnya bekerja agar tidak mencolok.
"Kemampuanmu masih cukup bagus tenyata. " Puji Daniel yang bangga begitu melihat hasil kerja Anna.
"Aku menghabiskan 3,5 tahun untuk mempelajari semua tentang perusahaan jika papih lupa. " Jawab Anna dengan bangga.
"Kau memang tidak pernah mengecewakan sayang. Padahal selama 15 tahun ini kau pasti tidak pernah menyentuh dokumen-dokumen seperti itu lagi. " Kali ini sang ibu yang memuji.
"Aku pernah mengecewakan kalian, dan itu sangat fatal. " Raut wajah Anna seketika berubah setelah mengatakan itu. "Aku bahkan membuat semuanya kacau, aku menyeret papih dan mamih untuk melarikan diri dan merelakan kehidupan kalian. " Suara Anna sedikit bergetar. Sekuat apapun Anna berjuang selama ini, tetap saja dihadapan kedua orang tuanya Anna selalu lemah.
"Anna sayang, tolong jangan pernah berkata seperti itu. Semua bukan kesalahanmu. Kau bahkan hanya korban. Bagaimana mungkin kami kecewa, kamu bahkan harus melalui penderitaan yang mamih sendiri tidak pernah bisa membayangkannya. " Jessica menggenggam tangan anaknya.
"Mamih kamu benar Anna. Papih harap kau tidak pernah berkata atau berfikir seperti itu lagi. Terlebih di hadapan Esa. Sekarang kau punya Esa, fokuslah padanya dan bahagia lah bersama putramu. " Daniel menguspa lembut kepala putrinya.
Tiba-tiba suara handphone berbunyi dan mengganggu momen mengharukan mereka. Anna pun mengambilnya dan segera mengusap tombol hijau di layar. Namun begitu panggilan tersebut terhubung, mulut Anna menganga dan matanya melotot seakan ingin melompat keluar.
Terkejut dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Anna, Jessica pun segera menghampiri putrinya dan bertanya. "Anna ada apa? " Tanyanya yang ikut panik.
Anna yang baru tersadar dari keterkejutan nya akibat pertanyaan Jessica segera menutup telepon dan bergegas mengambil tasnya. "Mih, Esa terluka. " Panik Anna.
"Apa/apa? " Tanya Jessica dan Daniel bersamaan. "Bagaimana bisa dan bagaimana keadaannya sekarang? " Tanya Jessica lagi.
"Katanya Esa terlibat perkelahian, aku tidak tahu. Aku harus segera kesana. " Suara Anna sudah bergetar menahan tangis. Ini bahkan belum genap seminggu putranya bersekolah disini, tapi dia sudah terlibat masalah. Padahal selama ini di Jepang, Esa selalu baik-baik saja karena dia memang anak yang baik.
"Oke, kamu tenang dulu Anna. Biar mamih yang mengantarmu kesana. "
"Tidak, tidak. Aku akan naik taksi biar cepat sampai, aku khawatir dengan keadaan Esa. "
Jessica menghela nafas. "Baiklah, kamu harus hati-hati dan jangan panik. Telpon mamih begitu kamu sampai. "
Anna mengangguk dan segera meninggalkan ruangan tersebut.
"Ya Tuhan, lindungi cucu dan anakku. " Ucap Jessica yang tidak kalah khawatir dari Anna. Rasanya Jessica tidak pernah bisa bernafas lega setiap kali sesuatu terjadi dengan anak dan juga cucunya.
✿✿✿✿✿
Lagi, Dara dan Minie terlibat perkelahian. Entah kali ini apa penyebabnya, yang jelas mereka kembali terlibat bangku hantam. Bukan hanya mereka berdua, kali ini perkelahian tersebut melibatkan orang lain dan parahnya orang itu lah yang terluka.
Esa yang tidak sengaja berada diantara mereka berdua, harus dilarikan ke UKS akibat terkena pecahan kaca yang kena lemparan batu oleh Dara.
Jenny yang juga berada di lokasi kejadian, segera membantu Esa dan membawanya ke UKS. Beruntung pecahan kaca tersebut tidak jatuh di wajah Esa dan hanya menimpa tangannya saja. Hanya, ya setidaknya hal tersebut masih perlu di syukuri, karena jika bagian tubuh lain yang terluka misalnya mata, mungkin Esa tidak akan pernah lagi dikatakan baik-baik saja.
Sedangakan Dara dan juga Minie sudah diamankan diruang guru untuk dimintai keterangan tentang kejadian tersebut. Mereka berdua juga cukup terkejut, karen untuk pertama kalinya perbuatan mereka menyebabkan korba dengan luka fisik, terlebih dia adalah seorang pria dan murid baru disekolah mereka.
Esa meringis pelan, begitu dokter mencabut satu persatu serpihan kaca yang menancap di lengannya. Sementara Jenny sendiri masih setia menemaninya.
"Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak terlibat dengan mereka. " Ucap Jenny dingin seperti biasa.
"Jika aku tidak menghentikan mereka, salah satu dari mereka akan terluka. " Jawab Esa pelan. Dia masih fokus menahan perih di tangannya, meski luka tersebut tidak terlalu dalam tapi tetap saja terasa sakit.
"Dan sekarang kau yang terluka, bodoh! " Sarkas Jenny yang kesal dengan sikap keras kepala Esa.
"Aku tidak apa-apa. " Dengus Esa.
"Tidak apa-apa katamu? Tanganmu bahkan sudah seperti mumi, dan kau masih berkata tidak apa-apa? " Jenny semakin kesal. "Kau seharusnya bisa membedakan antara bodoh dan baik hati. " Jenny tetaplah Jenny, meskipun hari ini dia perhatian tapi tetep saja bicaranya selalu menyakitkan.
"Hah, kau ini ribut sekali. " Jawab Esa acuh. "Tapi aku penasaran, kenapa mereka selalu bertengkar untuk hal-hal yang tidak penting. " Esa tampak penasaran. Bagaimana tidak, setiap kali mereka bertemu pasti akan terjadi keributan.
"Seharusnya kau pikirkan tentang dirimu yang ikut campur mengurusi hal yang tidak penting tersebut. " Jenny membawa dirinya untuk duduk di samping Esa. "Aku peringatakan! Jangan pernah samakan tempat ini dengan sekolah lamamu. Tempat ini bukan sekolah, tapi pabrik manusia jadi jangan pernah melibatkan rasa. "
Esa hanya mengernyit tidak mengerti.
"Jika kau sudah merasa lebih baik, sebaiknya kita pergi sekarang. Kau sudah di tunggu di ruang guru. " Esa mengangguk dan Jenny kembali membantunya untuk meninggalakan UKS.
Dan disini lah mereka sekarang, di ruang kesiswaan. Minie ditemani orang tuanya Emma, Dara juga sudah ditemani Wenda, sementara Esa masih menunggu ibunya datang.
"Orangtuanya Khesa sedang dalam perjalanan sebaiknya kita mulai saja sekarang. " Ucap Kate, selaku kesiswaan yang bertugas menertibkan anak-anak.
"Dia yang memulai. " Tunjuk Dara pada Minie.
"Tapi dia yang melukai Khesa bukan aku. " Dengus Minie.
"Memangnya apa yang sedang kalian ributkan? " Tanya Kate tidak habis pikir, pasalnya merek sudah terlalu sering keluar masuk ruang kesiswaan.
Mereka berdua diam. Kemudian saling lirik dengan tatapan kesal.
"Dia selalu menggangguku. " Dara berbicara duluan.
"Aku punya alasan. " Minie menjawab malas.
Sementara Wenda dan Emma tidak berkomentar, mereka terlalu sering bertemu untuk masalah yang sama. Sebenarnya masalah ini akan cepat selesai seperti biasa jika saja tidak ada yang terluka. Ya kali ini berbeda, karena Esa menjadi korban pertengkaran mereka.
Esa meringis ngeri, begitu melihat Dara dan Minie kembali beradu mulut di ruang kesiswaan. Di depan guru dan juga orang tuanya. Sampai tiba-tiba suara seseorang yang baru saja memasuki ruangan mengalihkan perhatian mereka.
"Dimana Khesa? Apa yang terjadi padanya? " Tanya Anna panik begitu memasuki ruangan dan mencari keberadaan putranya tanpa memperdulikan tatapan orang-orang di sana. "
"Papa, aku disini. " Esa mengacungkan tangannya yang sedang duduk di pojok ruangan. Esa memanggil Anna papa karena Anna sedang berpenampilan seperti pria.
"Astaga sayang. " Anna segera merengkuh Esa kedalam pelukannya. "Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kamu seperti ini? Pasti orang lain yang bersalah kan? Esa tidak pernah bertengkar selama sekolah. " Anna yang di landa kepanikan justru memborong putranya dengan banyak pertanyaan. Dan membuat seisi ruangan melongo melihatnya. Untuk seorang pria, tindakan Anna dianggap terlalu berlebihan, apalagi Esa sendiiri adalah anak laki-laki.
"Ekhm. " Sebuah dekheman mengalihkan pandangan Anna. "Silahkan duduk papa Khesa, kita semua masih berdiskusi. " Kata Kate dengan senyuman ramah.
"Ah maafkan aku, aku terlalu khawatir dengan keadaan putraku. " Jawab Anna yang tiba-tiba merasa tidak enak.
Sedangkan Wenda yang duduk bersebrangan dengan Esa kini menatap Anna dengan penuh tanya. Wenda merasa wajah dan suara Anna tidak asing. Sebelumnya Wenda juga merasakan hal yang sama kepada Esa.
Sementara Anna masih belum menyadari kalau di sana ada Wenda, perempuan yang paling ingin dia hindari seumur hidupnya.
*
*
*
- T B C -
With Love : Nhana
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 40 : Invitations to live together
Anna mengepalkan tangannya saat Dareen mengatakan dirinya akan membawa Esa pulang dan menjadikan Jane sebagai dokter pribadinya. Anna tahu ini demi kebaikan Esa, tapi kenapa harus Jane? Dan kenapa juga Jane harus tinggal bersebelahan dengan rumah tempat Anna dan Dareen tinggal dulu."Kenapa tidak dokter Hoya?" Tanya Anna kepada Dareen."Dokter Hoya terlalu sibuk Anna. Sebelumnya aku juga sudah berbicara dengan dia, dan dia sendiri malah menyarankan Jane." Jawab Dareen lembut. "Kamu tenang saja. Jane orangnya baik, dan juga sangat nyaman untuk diajak berbicara. Kita bisa mempercayakan Esa padanya, Esa mungkin akan lebih nyaman dengannya.""Kau yakin?" Tanya Anna lagi. "Dia masih sangat muda," Sebenarnya Anna tidak masalah, hanya saja dia takut. Takut jika apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan. Terlebih saat mendengar kata nyaman yang Dareen ucapkan.Dareen tersenyum, dia memaklumi Anna yang masih terlihat ragu. "Jane mungkin terlihat seperti masih muda,
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 39 : Like a premonition
Dareen menghela nafas berkali-kali. Pikirannya penuh dan juga beban di pundaknya terasa semakin berat. Kepalanya tertunduk lesu dengan nafas yang sedikit tidak beraturan. Esa masih tidur setelah diberikan obat penenang. Sedangkan Anna sendiri belum kembali dari pemeriksaannya. Dan tidak tahu menahu tentang kejadian yang dialami putranya.Sebuah tangan dengan jari-jari lentik menyodorkan sekaleng kopi kepada Dareen. Pria itu mendongak dan tersenyum ketika melihat siapa yang memberinya kopi, dengan segera dia mengambil dan membuka tutup kaleng tersebut."Terima kasih." Dareen mengangkat kaleng tersebut dan menenggak isinya sekaligus."Kau tampak sangat frustasi tuan."Dareen hanya tersenyum menanggapi. "Kau selalu melihatku dalam keadaan seperti ini Jane. "Jane membalas senyuman Dareen dan kini ikut duduk di sampingnya. Kebetulan mereka sedang berada di koridor rumah sakit tepat di depan kamar rawat Esa."Benar juga. Setiap kali kita
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 38 : Esa's pas
Pagi-pagi sekali Anna sudah bolak-balik kamar mandi karena mual. Sudah seminggu ini dia baik-baik saja dan tidak merasakan mual, tapi pagi ini perutnya kembali tidak enak.Dareen yang baru bangun segera menyusul Anna ke kamar mandi dan memijat tengkuknya. "Keluarkan saja Anna.""Tidak ada yang bisa di keluarkan lagi kak." Keluh Anna dengan suara yang lemas."Kalau begitu duduk dulu yuk, aku akan mengambilkan air hangat." Dareen memapah Anna setelah laki-laki itu mengangguk setuju.Anna duduk sambil memegangi perutnya yang mulai bergejolak tak nyaman. Kehamilannya yang sekarang terasa lebih melelahkan ketimbang pada saat Esa dulu."Nak tenang ya. Mama kelelahan jika harus terus bolak-balik ke kamar mandi." Dareen sedikit mengelus perut rata Anna, iya hanya sedikit karena dia tak
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 37 : Jenny's fiancee
Jesfer dan Anna kini berada di sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit. Sebelumnya mereka sudah lebih dulu meminta ijin kepada Esa, di sana juga ada Dareen sehingga Anna tidak merasa khawatir harus meninggalkan putranya. Lagipula Anna berniat tidak akan lama, hanya ingin berbicara berdua dengan Jesfer."Aku minta maaf karena pergi tanpa mengabari mu." Jesfer lagi-lagi meminta maaf untuk kesekian kalinya."Sudahlah. Aku juga tidak mempermasalahkan itu Jes." Anna menghela nafas. "Aku lebih penasaran dengan alasanmu pulang."Jesfer sedikit memainkan jari-jari tangannya diatas meja. Jelas dia tidak lagi bisa menyembunyikan apapun dari Anna. "Aku sedikit stress." Jawab Jesfer pada akhirnya."Ada masalah apa?"Jesfer tampak berpikir. Dia ragu harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak. "Emm, pekerjaan dan beberapa hal yang terjadi belakangan ini."Anna menatap Jesfer dengan lekat. "Katakan lebih jelas. Aku tahu kau me
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 36 : The other side of Esa
Anna menatap Esa penuh harap, sejak sejam yang lalu dirinya tidak berhenti membujuk Esa agar menghubungi Jesfer. Sedangkan Esa terus menolak dengan alasan dia tidak ingin bicara dengan siapapun, padahal kenyataannya Esa hanya merasa tidak enak dengan Dareen. Bagaimanapun di sana ada Dareen yang menatap Anna dengan tatapan terluka."Ayolah Esa, mama khawatir dengan keadaan Jesfer." Anna kembali merengek sambil memegang tangan Esa."Mama, aku tidak mau. Lagipula paman Jesfer mungkin sedang sibuk."Anna menggeleng cepat. "Tidak, jika Jesfer sibuk dia pasti masih sempat mengangkat panggilan dari mama."Lagi-lagi Esa memilih untuk melihat kearah D
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 35 : Playing the victim
Jung Jesfer, seorang anak laki-laki yang teramat tampan, manis dan juga cerdas. Begitu kesan pertama semua orang saat pertama kali bertemu dengan nya, termasuk Wendy. Hampir setiap tahun Wendy berkunjung ke makam suaminya dan sekaligus menjenguk Jesfer serta ibunya.Yoona memperkenalkan Wendy kepada Jesfer sebagai sahabatnya. Dan Jesfer kecilpun percaya itu. Namun seiring berjalannya waktu, Jesfer mulai menyadari jika Wendy bukan hanya sekedar sahabat ibunya.Jesfer menemukan semua biaya sekolahnya dibayar oleh Wendy. Awalnya Jesfer selalu bertanya-tanya kenapa ibunya selalu memasukan dia ke sekolah yang elit dengan biaya pendidikan yang mahal. Karena jika melihat kondisi ekonomi ibunya, Jesfer yakin ibunya akan keteteran. Yoona tidak miskin, hanya saja dia bukan orang kaya yang bisa mengeluarkan uangnya tanpa harus berpikir besok bagai
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 34 : Healing
Lagi, Anna terbangun dari tidurnya dengan Dareen yang berada di sebelahnya. Bukan hanya sekali, tapi ini sudah lebih dari tiga kali semenjak Esa di rawat Dareen selalu tidur di kursi samping ranjang yang Anna tempati dengan kepala bertumpu pada ranjang tersebut.Anna meringis, sedikit iba
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 33 : Sexual Harassment
Seketika hening menyelimuti ruang tunggu mereka begitu ucapan sang dokter yang terlampau pahit keluar begitu saja dari mulutnya.Wenda refleks berjalan mundur dan menutup mulutnya terkejut begitupun de
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 32 : Apology
Anna menangis tersedu di kamarnya, pikirannya benar-benar kacau. Semua yang dilakukannya terasa salah. Tak pernah sekalipun dia punya niatan untuk membunuh ataupun membuang anaknya. Meski dia berkata demikian pada Dareen, kenyataannya dia sendiri ragu
Behind The Heirs (Indonesia) Chapter 31 : Flashback
Dareen termenung di balkon kamarnya, tangannya menggenggam sebuah pigura foto miliknya bersama Dara. Sejak kepulangan Anna dan juga Esa, Dareen mengurung dirinya di kamar. Berkali-kali Wendy dan Dona memintanya untuk keluar dan makan, namun Dareen tak
