Memuat
Beranda/ Semua /A Bankrupt Billionaire (Indonesia)/6. Alone

6. Alone

Penulis: Cherry Blossom
"Tanggal publikasi: " 2020-10-01 11:59:16

Semua yang Violeta rencanakan berjalan mulus, seperti yang ia inginkan. Tetapi, ada yang tidak di sangka dan di duga. Takdir mengambil kakeknya begitu cepat. Di dalam perjalanan kembali dari kantor notaris, Violeta mendapat kabar dari pihak rumah sakit jika kakeknya mengembuskan napas terakhir, Violeta nyaris tidak mampu berdiri, ia mencengkeram jaket yang Leonel kenakan sambil menangis sejadi-jadinya di dada Leonel, pria yang belum genap satu hari menjadi suaminya. Ia kini benar-benar menjadi sebatang kara di Paris. Ia masih memiliki beberapa keluarga di Swiss, negara asal ibunya tetapi Violeta tidak menginginkan tinggal di sana. Tempat itu asing baginya.

Rencana tinggal di Paris yang semula hanya untuk waktu satu hari, mendadak berubah. Leonel mendampingi Violeta menerima ucapan belasungkawa dari orang-orang yang datang untuk melayat, juga turut andil mengurus pemakaman Mark bersama Samuel, paman Violeta yang datang dari Swiss bersama istrinya. Kemudian atas dasar kemanusiaan, Leonel terus mendampingi Violeta yang masih dalam suasana berkabung. Setiap hari gadis itu pergi ke pemakaman, menaburkan bunga untuk ke empat orang keluarganya yang telah meninggalkannya.

Minggu pagi itu luar biasa dingin, Paris di selimuti hawa dingin yang menusuk ke tulang. Mungkin beberapa hari lagi salju akan segera turun menyelimuti kota itu. Leonel duduk berjongkok di samping Violeta, ia beberapa kali diam-diam meniup kedua telapak tangannya sendiri yang nyaris kaku karena hawa dingin sambil melirik Violeta yang masih diam tidak bergeming menatap makam kakeknya yang masih basah. Gadis itu sesekali menjilati bibirnya yang tampak sedikit pucat, mungkin untuk menghangatkannya. Masih seperti kemarin, Violeta masih mencucurkan air matanya dan Leonel tidak tahu harus bagaimana menghentikan air mata gadis itu,. Meski ia memiliki seorang adik perempuan. Tetapi, ia tidak pernah melihat Alexa menangis karena sedih. Adiknya hanya menangis karena menginginkan sesuatu seperti menginginkan sihir yang harus terjadi dalam sekejap. Sedangkan Violeta, ia menangis karena ia menjadi sebatang kara.

Leonel mengamati langit yang tampak tidak secerah hari-hari yang telah ia lalui selama di Paris. “Sepertinya akan turun hujan, bagaimana jika kita kembali?”

Violeta menyeka air matanya menggunakan punggung telapak tangannya, tanpa menoleh ke arah Leonel ia berucap, “Semua yang kusayangi, mengapa semua meninggalkan aku pergi secepat ini?” isaknya sambil sebelah tangannya mengusap papan salib bertuliskan Mark Hubert.

Leonel beringsut mendekati Violeta, lengannya merengkuh pundak istrinya, telapak tangannya mengusap pundak Violeta pelan dan begitu lembut untuk memberikan rasa tenang. Ia tidak tahu harus berkata apa. Yang jelas ia hanya bisa memberikan itu untuk menenangkan Violeta, ia tidak mungkin mengatakan kepada Violeta bahwa ia tidak akan meninggalkan Violeta sendirian karena pada faktanya mereka tidak terikat apa-apa selain pernikahan di atas kertas yang nyatanya hanya pernikahan palsu.

Leonel kembali mengusap pundak Violeta. “Kelak kau pasti akan menemukan orang yang tidak akan meninggalkanmu.” Suaranya terdengar berat bahkan nyaris tersekat di tenggorokannya.

Violeta mengangguk lemah, ia mencengkeram papan hingga buku-buku jarinya memutih. “Granddad, aku akan mengunjungimu lagi besok,” gumamnya itu disela isaknya.

Dengan gerakan enggan Violeta bangkit dari duduknya di bantu oleh Leonel yang mengulurkan tangannya. “Terima kasih.” Ia meraih uluran tangan Leonel.

Leonel tersenyum samar, sebelah tangannya memperbaiki bagian leher mantel yang di kenakan oleh Violeta karena kerahnya yang sedikit beringsut turun agar Violeta tidak kedinginan.

“Bagaimana jika kita pergi minum kopi?” tanya Leonel. “Maksudku... kau terlalu lama mengurung diri di dalam kamar, sebelum kita kembali bagaimana jika kita....” Suara Leonel terdengar ragu-ragu tetapi ia tidak bermaksud apa-apa selain membuat Violeta keluar dari rasa dukanya yang mendalam karena gadis hanya mengurung diri di dalam kamar sepanjang hari sejak kepergian Mark Hubert.

Violeta menghela napasnya, ia sekilas menatap Leonel. “Kau pasti bosan, ya? Aku membuatmu terperangkap di sini.”

Demi Tuhan, ini sudah Leonel duga. Violeta pasti akan mengira jika ia bosan berada di dalam rumah sepanjang hari. Sama sekali tidak seperti itu karena faktanya ia adalah manusia yang paling menyukai tempat yang bernama kamar. Tempatnya bersantai dan bermalas-malasan bermain game.

Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Tidak juga, aku hanya bosan dengan kopi buatan pelayan di rumahmu,” ujarnya berbohong.

Violeta berniat menarik telapak tangannya yang masih di genggam oleh Leonel tetapi merasakan hangatnya kulit pria itu, Violeta mengurungkannya. “Baiklah, ayo kita pergi ke kedai kopi,” katanya.

Leonel melangkah diikuti oleh Violeta menyusuri jalanan kecil di pemakaman. Mereka masih saling menggenggam erat meski sepanjang perjalanan tidak satu pun di antara mereka yang bersuara untuk memecahkan keheningan yang membentang di antara mereka, keduanya baru saja melepaskan genggaman tangan mereka saat hendak memasuki mobil.

“Apa kau masih kedinginan?” tanya Leonel saat mereka berdua telah duduk di kursi penumpang mobil sedan keluaran terbaru yang berharga jutaan Dolar.

“Aku akan baik-baik saja setelah pemanas jok di aktifkan,” jawab Violeta. Wajahnya tampak lebih merona, bibirnya juga terlihat tidak terlalu pucat lagi.

“Baguslah,” gumam Leonel.

“Terima kasih,” ujar Violeta sambil merapikan rambut panjangnya yang di tata lurus. “Omong-omong, bagaimana perusahaanmu? Kau meninggalkannya terlalu lama.”

Leonel tersenyum tipis. “Tidak masalah, Mario mengurus semua.”

“Maksudku, kau telah banyak membantuku beberapa hari ini. Kau tidak perlu iba atau bersimpatik lagi karena sekarang aku benar-benar sendiri,” ucap Violeta dengan nada getir. Ia tidak ingin berhutang apa pun kepada Leonel, apa lagi terlalu dekat dengan pria itu karena urusan mereka sebenarnya telah selesai. Violeta telah mendapatkan apa yang menjadi tujuannya sekarang.

Violeta diam-diam menghela napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan, rasanya dadanya begitu sesak setiap ia mengingat pahitnya kehidupan, menjadi sebatang kara di usia yang masih terlalu muda. Tuhan memberikan begitu banyak harta untuknya tetapi ia tidak tahu harus bersama siapa menikmati harta miliknya itu.

Dulu, setiap hari setelah bekerja ia selalu kembali ke rumah sakit untuk berbicara dengan kakeknya hingga malam merayap ia baru kembali ke tempat tinggalnya. Bahkan tidak jarang jika ia memutuskan untuk menginap di rumah sakit karena di rumahnya selain pelayan tidak satu pun orang yang bisa ia ajak berbincang. Sekarang, entah sampai kapan, ia hanya akan berbicara dengan pelayan dan pegawai di perusahaan.

“Aku akan kembali setelah ulang tahunmu, aku harus memastikan semua berjalan seperti keinginanmu,” ujar Leonel tegas, tetapi lembut.

Ia menatap Violeta dengan perasaan berkecamuk, bukan masalah bonus yang membuatnya resah karena belum ia dapatkan. Tetapi, Violeta adalah gadis yang tampak rapuh, masih terlalu muda dan jelas begitu polos. Bagaimana mungkin ia akan menjalankan perusahaan Hubert sendirian sementara mungkin di luar sana akan banyak orang yang akan memanfaatkan situasi ini, begitu pemberitahuan resmi nanti di umumkan bahwa penerus perusahaan Hubert adalah seorang gadis muda, Leonel yakin jika situasi tidak akan semudah yang Violeta bayangkan.

Ia telah memegang Glamour Entertainment bertahun-tahun saja masih bisa kecolongan, apalagi Violeta? Leonel tiba-tiba merasa terdorong untuk bertahan di Paris sebentar lagi untuk memastikan jika semuanya berjalan seperti yang Violeta inginkan. Ia tidak ingin siapa pun memanfaatkan Violeta apa lagi sampai menyakitinya, gadis yang menjadi istrinya itu bisa saja berakhir buruk jika tidak ada seorang pun yang menemaninya hingga ia benar-benar bisa merelakan kepergian kakeknya dan mampu memegang kendali penuh atas perusahaan yang akan menjadi tanggung jawabnya. Dan untuk masalah keuangan Glamour Entertainment, ia bisa meminta bantuan William kakaknya, Sidney juga bisa menggantikannya duduk di kursi pimpinan Glamour Entertainment selama ia berada di Paris. Memiliki banyak saudara memang menyenangkan.

Ia melirik Violeta yang tampak menatap jalanan melalaui kaca jendela mobil, gadis itu begitu murung. Leonel diam-diam menggeram. Frustrasi.

Untuk apa aku begitu peduli pada Violeta?

Ingin tahu kelanjutannya?
Lanjutkan Membaca
Bab Sebelumnya
Bab selanjutnya

Bagikan buku ke

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Bab terbaru

A Bankrupt Billionaire (Indonesia)   19. Consept

ChapterConsept"Selamat datang, Sayang," sapa Violeta. Ia berdiri untuk menyambut Leonel. "Bagaimana hari ini? Apa menyenangkan?" tanya Leonel sambil mendekati violet dan mendaratkan kecupan manis di pelipis istrinya. Semua itu hanya sandiwara mereka berdua yang dilepas dengan sangat apik, akting mereka bahkan sempurna. Oscar bahkan berhutang piala kepada dua orang tersebut. "Kau harus lebih memprioritaskan keluargamu, Leonel. Kembalilah dari bekerja lebih awal," ucap Alexander, ayahnya. "Daddy-mu benar," sahut Prilly, ibunya. "Baiklah, akan kucoba," kata Leonel pasrah. Tidak ada gunanya membantah orang tuanya. Violeta tersenyum. "Suamiku biasanya kembali lebih awal, ini hanya kebetulan saja banyak pekerjaan," ujarnya seraya bergelayut manja di pinggang Leonel. Prilly mengedikkan bahunya. "

A Bankrupt Billionaire (Indonesia)   18. Fake Family

ChapterFake FamilyRebecca menoleh ke sumber suara, ia mendapati Leonel yang berdiri di ambang pintu, menyandarkan bahunya dengan gayanya yang sangat santai. Seperti biasa, selalu terlihat tampan.Selama ini Leonel belum pernah memasuki ruang khusus yang di peruntukan untuk Rebecca karena mereka selalu menjaga jarak setiap kali berada di Glamour Entertainment. Semua demi menghindari pergunjingan dari rekan sesama artis yang bernaung di bawah label Glamour Entertainment.“Kau....” Rebecca menegakkan punggungnya.“Kenapa?” Leonel menaikkan sebelah alisnya. “Takut jadi bahan gosip?” Tentu saja iya, gosip miring yang menerpa seorang publik figur adalah kutukan. Bagi Rebecca itu adalah hal yang paling ia hindari, ia telah mati-matian menjaga citra dirinya selama membangun karier, ia tidak ingin merasakannya. Apa lagi dengan urusan yang akan melibatkannya dalam skandal b

A Bankrupt Billionaire (Indonesia)   17. Rebecca and Me

Chapter Rebecca and Me“Suamimu ada di ruangannya,” ujar Xaniah yang baru saja memasuki ruang kerja Violeta.“Jadi, dia datang?” Violeta mengembuskan napasnya sedikit kasar, satu telapak tangannya berada di keningnya sedangkan sikunya bertumpu di atas meja.“Ya.”Violeta mengganti posisi tangannya, kali ini ia menyatukan telapak tangannya, membuat kedua telapak tangannya saling menggenggam erat di depan keningnya. Matanya terpejam. Hubungannya dengan Leonel sekarang benar-benar tidak sehat, pria itu bahkan tidak kembali ke rumah selama atau beberapa hari, suaminya juga tidak datang ke perusahaan meski semua pekerjaan ditangani dengan baik olehnya.“Ada beberapa dokumen yang harus ditanda tangani oleh suamimu,&rdqu

A Bankrupt Billionaire (Indonesia)   16. Impossible

Rebecca memejamkan matanya kembali. Alkohol tadi malam adalah sumber dosa terbesarnya tadi malam yang menurutnya tidak bisa dimaafkan. Ia bebas berkencan dengan siapa saja, ia bebas tidur dengan pria mana pun yang ia mau. Tetapi, tidak dengan pria beristri.Sama sekali bukan dirinya.

A Bankrupt Billionaire (Indonesia)   15. De Javu

“Kau masih memikirkannya?” tanya Laura membuyarkan lamunan Rebecca yang sedari tadi tampak tidak berkonsentrasi. Rebecca menghela napas pelan. “Apa terlihat begitu?” “Jelas sekali, wajahmu....” Laura me

A Bankrupt Billionaire (Indonesia)   14. Listen

Violeta menelan ludah. “Tapi, setidaknya bisakah kau menjaga reputasi kita?” “Kau mulai menjadi istri yang pengatur, ya?” Leonel menaikkan sebelah alisnya.Violeta mengembuskan napasnya kasar sambil memejamkan matanya beberapa saat. “Ke mana saja kau tadi malam?” Leonel menopangkan dagunya, ia menatap Violeta dengan tatapan tidak suka. Menurut Leonel, mereka memang terikat pernikahan

A Bankrupt Billionaire (Indonesia)   13. Our Agreement

Leonel menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal. “Untuk apa dia berada di Paris?” tanyanya kepada Mario melalui sambungan telepon.

Bab Lainnya
Unduh Buku
GoodNovel

Unduh Buku Gratis di Aplikasi

Unduh
Cari
Pustaka
Pencarian
RomansayinniHistoricalUrbanMafiaSystemFantasiLGBTQ+aRnoldMM Romancegenre22- 印尼语genre26- IndonesiaNamegenre27-请勿使用印尼语genre28- IndonesiaName
Cerita Pendek
LangitMisteri dan teka-tekiKota modernSurvival akhir duniaFilm aksiFilm fiksi ilmiahFilm romantisKekerasan berdarahRomansaKehidupan SekolahMisteri/ThrillerFantasiReinkarnasiRealistisManusia SerigalaharapanmimpikebahagiaanPerdamaianPersahabatanCerdasBahagiaKekerasanLembutKuat红安Pembantaian berdarahPembunuhanPerang sejarahPetualangan fantasiFiksi ilmiahStasiun kereta
MenulisKeuntungan PenulisLomba
Genre Populer
RomansayinniHistoricalUrbanMafiaSystemFantasi
Hubungi kami
Tentang kamiHelp & SuggestionBisnis
Sumber
Unduh AplikasiKeuntungan PenulisKebijakan KontenKata kunciPencarian PopulerUlasan bukuFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Komunitas
Facebook Group
Ikuti kami
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Syarat Penggunaan|Kebijakan Privasi